Heading the Great Wall

greatwall

Good day good good people!

Kemarin saya dan J pergi (lagi) ke Cina. Eh, Cinemaxx maksudnya. *Hahaha, ga lucu.

Oke, kami masih di Indonesia tepatnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pulang dari kantor, saya dan J kembali dating ala-ala anak muda. *Mumpung weekend dan mumpung masih berdua.*

Kami memutuskan makan lalu nonton di bioskop terdekat. Kemarin itu J udah niat banget buat nonton “Cek Toko Sebelah”, tapi apa daya Waktu Indonesia Tengah sudah menunjukkan pukul 21.35 ketika kami hendak memesan tiket. Sementara film tersebut udah mulai dari 21.20. Poor us. Finally, daripada batal nonton, kami memesan dua tiket ke Cina nonton “The Great Wall”.

Sembari menunggu filmnya mulai, kami mengisi perut dulu di warung makan sekitar. *Cah, please, kerenan dikit apa bilang food corner*. Karena terlalu menghayati menyantap makanan, kami telat masuk ke dalam bioskop.(T.T). Lampu sudah dimatikan, film udah tayang di layar. Kami berdua terpaksa jalan mengendap-endap layaknya ninja menyusuri dan mencari tempat duduk kami. *Misi, misii…*

Saat kami duduk, filmnya sudah mulai šŸ˜¢ dan kami sudah sampai saat ada dua orang bule yang ditangkap oleh pasukan Cina. Di saat yang sama para pasukan ini tengah mempersiapkan diri untuk perang. Ada ribuan pasukanĀ mengisiĀ sepanjangĀ tembok besar Cina. Mereka dibagi dalam beberapa kelompok sesuai tugas mereka dan dibedakan menurut warna yang dikenakan. Ada prajurit dengan warna merah, hijau dan biru. Masing-masing memiliki tugas yang berbeda sesuai dengan senjata yang mereka gunakan.

I was amazed. Persiapan perang prajurit-prajurit ini tampak megah ditambah iringan tabuh genderang perang. Ada pula prajurit-prajurit perempuan dengan warna biru. Mereka semua tampak sangat gagah!

Suasana tegang dimulai ketika musuh yang dihadapi para prajurit ini datang. Tadinya saya berpikir musuhnya adalah penjajah kolonial asing, tapi ternyata musuh mereka adalah makhluk-makhluk buas berukuran besar setinggi 3 m, berkaki empat, berkulit sisik layaknya reptil, berwarna hijau, bermulut dan gigi besar seperti T-Rex dengan dua mata seperti mata buaya yang ada di bahunya. Pokoknya bagi saya ini menyeramkan šŸ˜£.

Suasana semakin tegang ketika makhluk-makhluk itu berhasil memangsa prajurit-prajurit yang berusaha melawan mereka.Duh gusti, ini kali kedua saya nonton tanpa trailer dan rasanya jantung mau copot. Rasanya mau keluar dari bioskop, tapi malu kan ya. Alhasil cuma bisa sembunyi dibalik popcorn jumbo yang saya rebut dari J. Ngga kebayang kalau ini 3D, mungkin saya ngumpet beneran di bawah kolong kursi.šŸ˜¬

Film ini dibintangi oleh Matt Damon as William dan Pedro Pascal as Tovar. Aksi heroik dan gaya bertarung keduanya keren! Namun, yang paling membuat saya terkesima adalah sosok wanita yang kuatĀ JenderalĀ Lin Mei yang diperankan oleh Jing Tian. Aktor lainnya yang juga tampil di film ini adalah Andy Lau yang berperan sebagai Penasehat Perang Wang.

Film ini secara garis bercerita tentang perang perlawanan terhadap monster Tao Tie dan pencarian bubuk hitam. Terselip kebijaksanaan filosofi Cina di film ini. Para prajurit bersedia berperang demi Xin Ren (kepercayaan). Tao Tie, monster yang muncul 60 tahun sekali ini menggambarkan kerakusan/ketamakan manusia. Kehancuran manusia akan terjadi ketika mereka dikuasai oleh ketamakan. Film ini disutradarai oleh Zhang Yimou. Visual effect yang ditampilkan tampak asli dan cetar!Ā 

Penasaran sama filmnya? Segera tonton di bioskop terdekat šŸ˜‰

With love ā¤

Me & J at Kupang


Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s