Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, STORY-OPINION

MIND-SOMNIA

Om swastyastu, good day good people

Selamat hari raya Nyepi dan Selamat Tahun Baru Caka bagi umat sedharma
🙏😄

Satu tahun Caka sudah berlalu dan sudah dua kali kita tidak menyaksikan pawai ogoh-ogoh. Kan yang bikin Nyepi itu berkesan adalah pawai ogoh-ogohnya, ya kan? #Plakkk *ditampar guru agama dengan filosopi perenunangan makna Nyepi.

Jadi, apakah saya melakukan puasa selama Nyepi? Jawabannya adalah tidak sodara-sodara. #Plakkkk *tamparan kedua karena tidak memberi panutan yang baik. Jangan ditiru, harap dimaklumi bumil busui yang sedang menjalankan amanah mengemban calon penerus bangsa

Awal tahun baru yang dimulai dengan melaksanakan lagi tugas jaga di RS, saya merasa sangat berterima kasih atas bantuan teman-teman sejawat bidan dan perawat yang mendukung kelancaran tugas saya, atas bantuan beberapa konsulen dan TS Dokter yang meringankan beban kerja saya. Pagi yang terasa sedikit mendung karena misua harus kembali ke medan perangnya, menjadi sedikit cerah dan hangat karena banyak bantuan yang saya terima dari banyak orang. Mungkin, ketika ada hal yang membuat hari sedikit tak nyaman, kita hanya perlu menahan diri untuk tidak bereaksi negatif atas hal itu. Tetap tenang, tidak terbawa perasaan, bersikap sedikit realistis dan logis serta menyelami maksud kejadian/orang dengan lebih dalam bahwa kita sama tak sempurna dan tak berhak menjudge, mungkin bisa mengubah sedikit vibrasi-vibrasi di sekitar kita untuk jadi lebih positif.

Dan.. ternyata bukan hanya lagu/musik saja yang bisa menghalau insomnia, mensyukuri hal-hal baik di suatu hari, dan merasa hangat atas kebaikan Tuhan dan semesta (bila perlu menuliskannya), juga bisa menimbulkan kantuk untuk segala pikiran dan rasa yang bergejolak.

Namaste, om shanti shanti shanti om.

Posted in Fav Lyric

#in-song-nia

Insongnia kali ini kita dengarkan lagu random dari Youtube. Lagu Air Mata dari band Dewa.

Mendekap keterbatasan bahwa kita hanya manusia, menangislah bila harus menangis.

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, Throwback Edition

“Say ‘thank you’ for even the bad, as hard as it might be to believe, it could have been much worse.” KhadimulQuran

Om Swastyastu, good day good people

Pernah tidak anda menggerutu karena hujan turun, tetapi kemudian bergembira setelah melihat pelanginya? Tanpa saya sadari ada banyak sebenarnya kejadian-kejadian dalam hidup ini yang serupa. Sesuatu yang tidak menyenangkan di awal, bisa jadi sebaliknya di akhir. Kita tidak suka ada kejadian A, tetapi berbahagia dengan kejadian B padahal B tidak akan terjadi bila tidak dimulai dengan A.

Mungkin memang sifat dasar kita sebagai manusia yang sukanya pada yang enak-enaknya saja, mau yang gampang-gampangnya saja sementara untuk mendapatkan hal itu kita harus melalui proses awalnya yang mungkin sulit dan tidak menyenangkan.

Sangat mudah untuk berterima kasih pada hal-hal yang indah, tapi tidak untuk hal-hal yang bermasalah. Hehe, saya sadari dan mengalami itu. Mungkin karena saya sering kali tenggelam saat berada di situasi yang tidak mengenakkan, tidak menyadari bahwa satu kejadian ini sebenarnya adalah salah satu bab dari berbagai peristiwa dalam sebuah buku cerita.

Saya ingat dulu ketika baru melahirkan anak pertama dan banyak mendapat bantuan dari keluarga dalam mengurus anak, saya sempat merasa sangat tak nyaman. Orang-orang berkata bahwa saya seharusnya berterima kasih dan bersyukur karena ada yang membantu. Setelah berjalan jauh dan setelah semua situasi berubah, saya yang kadang kelelahan ketika pulang kerja jadi sangat berterima kasih saat anak ada yang membantu mengajak bermain, dan sangat berterima kasih anak saya terurus dengan baik selama saya tidak berada di sampingnya.

Saya berhenti untuk menyalahkan orang-orang yang meminta saya untuk bersyukur ketika dulu. Orang-orang yang berkata demikian mungkin sebenarnya orang-orang yang berharap mendapatkan bantuan dalam mengurus anak tetapi harus berjuang sendiri. Dan tentu saja, mereka tak memahami situasi dan perasaan saya di masa yang lalu.

Saya juga berhenti untuk mempertanyakan dan menyalahkan diri saya yang tak mampu bersyukur kala itu, karena situasi sekarang dan saat itu berbeda, kebutuhan saat ini dan saat itu pun berbeda. Saat itu, saya benar-benar ingin menjalankan peran saya sebagai seorang ibu dengan baik, karena itu adalah pengalaman pertama saya sebagai seorang ibu. Ingin memandikan anak dengan tangan sendiri, menidurkan anak dalam pangkuan sendiri, memasakkan anak dan menyuapinya dengan tangan sendiri. Well, mungkin karena sempat lama menunggu kehadiran buah hati dan sempat harus berpisah pasca melahirkan membuat saya ingin memberikan sebanyak-banyaknya cinta yang bisa saya berikan untuknya.

Saat ini, setelah melewati banyak hal, yah meski belum dibilang banyak sekali hehe, belajar untuk mengurangi posesifitas pada anak dan belajar mensyukuri bantuan-bantuan sekitar dalam merawat anak. Meski banyak hal tak menyenangkan yang belum bisa saya syukuri, tapi satu persatu saya belajar untuk menikmati apa yang bisa saya syukuri. Mensyukuri waktu me time saat anak tidak berada di samping dan mencoba untuk menikmati waktu-waktu me time yang diimpikan banyak orang. Hehe.

Ada banyak hal tak menyenangkan di masa lalu yang menjadikannya satu bagian dari sebab saat ini. Saya membiarkan diri yang masa lalu untuk tetap di masa itu dan diri yang sekarang untuk hidup di masa ini.

With 💕

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection

“I want to live a life from a new perspective” Panic at The Disco

Om swastyastu, good day good people.

Entah sudah berapa kali rasanya saya menemui titik ‘I want to live my life from a new perspective’. Apakah ini berarti saya tak pernah berhasil berubah/puas sehingga selalu ingin perspektif yang baru? Atau kah saya memang selalu berubah-ubah? Sepertinya lebih tepat yang kedua. Layaknya kacamata yang bisa saja buram dan perlu diganti, ada hal-hal yang usang dan butuh perbaikan, ada hal-hal yang kendor sehingga perlu dikencangkan.

Rasanya dulu saya pernah berhasil ikhlas melepaskan, tetapi ketika ikatan-ikatan baru mulai terbentuk saya kembali dalam mode yang super posesif dan over protektif. Hahaha. Tentu saja tali itu saya paling ikat kencang terutama pada suami dan anak. 😆 Saya menyadari bahwa saya tipe orang yang lumayan sangat cemburuan. Kalau ada yang menyebut cemburu itu tanda cinta, em.. maybe? Soalnya kita cuma merasa cemburu pada orang yang kita cintai. Tapi, apakah itu memang bentuk cinta atau sebenarnya hanya ego? Because a love should set us free.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan kelak kelok jalan yang saya lalui, membuat saya memahami bahwa cepat atau lambat saya harus belajar melonggarkan ikatan-ikatan yang terbentuk dengan setiap orang. Suami, anak, orang tua dan sahabat. Kelak, suka tidak suka, siap tidak siap, akan tiba masa dimana kita akan terpisah dari orang-orang di sekitar kita. Berusaha memahami bahwa setiap rasa yang muncul sebenarnya hanya rasa ketakutan saya akan kehilangannya. Saya pelan-pelan belajar merangkul setiap rasa takut yang tak lain hanyalah bentuk emosi yang paling dasar sebagai manusia.

Selain pada orangnya, saya juga kadang terikat kuat pada apa yang sudah saya lakukan/berikan pada orang lain. Kadang tanpa disadari ego ikut menyertai perbuatan. Merasa telah berbuat baik, merasa telah memberikan apa yang kita miliki. Padahal, siapa sih diri ini dan apa dari miliknya yang sudah diberikan? Rejeki yang kita bagi hanyalah titipan. Badan dan nafas hanyalah pinjaman. Ah, terkadang saya melupakan hal itu. Belajar melepaskan apa yang telah diberi dan belajar melupakan apa yang telah dilakukan, karena bukan diri ini pelaku sejati melainkan Ia.

Kalau dirinci satu persatu, sifat buruk saya banyak sekali ya? Sifat buruk lainnya, adalah susah melupakan kata-kata dan sikap orang lain yang menyakitkan. Meskipun saya sudah memaafkan, tetapi kadang terasa begitu sulit bagi saya untuk bisa tersenyum atau bertegur sapa seperti sebelumnya. Ada orang yang bisa bergosip jelek di belakang seseorang tapi di depan orang yang bersangkutan, ia mampu berbicara manis tanpa rasa bersalah. Sayangnya, saya tak punya skill seperti itu. Ketika tidak nyaman dengan seseorang, saya cenderung menjauh, berbicara seadanya dan buru-buru pergi. 😅 *Orang yang sangat mudah ditebak*. Saya ingin berpamitan dengan luka-luka di masa lalu. Tidak mudah, sangat tidak mudah ketika harus berhadapan dengan orang yang memberikan ingatan buruk. Namun, saya pelan-pelan belajar mengingatkan diri, bahwa yang tidak saya sukai bukanlah orangnya tapi sikapnya di masa lalu. Menyadari bahwa ketidaksukaan saya hanyalah bentuk rasa kekecewaan, kesedihan, kemarahan, kekesalan dan rasa-rasa tak nyaman lainnya. Namun bila ada sikap yang memang melewati batas, saya tak sungkan lagi untuk meluruskannya agar kelak tidak jadi luka atau kesalahpahaman yang berlarut-larut.

Setiap orang tentu punya caranya sendiri-sendiri untuk move on. Ada yang move on dan tetap bisa santai berhadapan/berhubungan dengan orang-orang di masa lalu. Ada yang move on dan memilih untuk meninggalkan sepenuhnya tanpa perlu bersangkutpaut lagi dengan orang-orang di masa lalu. Yah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing, apapun boleh dipilih yang bisa membuat mereka damai.

Tadinya saya berpikir mungkin berapa orang perlu move on dari masa lalunya, tetapi kemudian saya menyadari saya lah yang perlu move on dari cara berpikir saya yang terlalu sempit. Saya sedang pelan-pelan belajar berpamitan dengan banyak hal, dari ikatan yang kencang, dari rasa bersalah, dari luka-luka masa lalu dan pola pikir yang telah usang. Mengganti fokus dari perbuatan yang telah dilakukan menjadi perbuatan apa yang akan dan mampu dilakukan, tentunya dengan tetap memperhatikan batasan-batasan saya.

Satu hal yang saya sadari, kini saya mulai lebih santai menghadapi orang lain dan sikap-sikapnya. Menyadari bahwa kita manusia hanya makhluk-makhluk menderita yang sama-sama ingin bahagia, menyadari tiap dari kita tidak sempurna dan tak luput dari kesalahan, dan menyadari kadang saya hanya perlu sedikit berwelas asih dan mencoba memahami lebih dalam. Well, orang mungkin tidak bisa seperti itu pada saya. Tugas saya kini melepaskan harapan-harapan kepada orang lain dan berfokus hanya pada pikiran dan tindakan yang akan saya lakukan.

With 💕

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think

“There are two great days in a person’s life, the day when we were born and the day we discover why” William Barclay

Om swastyastu

Good day good people

Januari 2021. Tadinya berpikir mungkin setelah kedatangan vaksin covid, dunia akan sedikit lebih tentram. Namun, belum habis Januari sudah ada berita pesawat jatuh, gempa bumi, tanah longsor dan banjir bandang bahkan ada juga gunung yang naik status siaga.

Dulu kita memperkirakan lamanya seseorang bersama kita kurang lebih sepanjang usia harapan hidupnya. Namun, makin ke sini kita tidak bisa memprediksi apakah kita bisa bersama orang tersebut hingga ia tua atau hingga kita beruban? Tidak ada yang tahu. Selain karena penyakit, bencana tak terduga karena pemanasan global juga menjadi salah satu penyebab kematian. Apakah ini tanda-tanda bahwa kita harus mengerem keserakahan kita sebagai umat manusia? Apakah ini tanda bahwa kita mesti menguatkan doa-doa untuk dipanjatkan?

Hari ini, satu benang telomere saya berkurang. Jam waktu telomere masih terus memutus setitik demi setitik. Sementara yang terlihat: usia bertambah, keriput mulai tampak, benih-benih uban mungkin mulai menunggu giliran untuk timbul di atas. Entah kenapa perayaan ulang tahun jadi seperti selamatan untuk usia yang telah hilang. Pada pikiran itu saya jadi berterima kasih pada orang-orang yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. Hahaha. 😅 Plakkk.

Namun terlepas dari semua bisikan sang iblis, saya juga berterima kasih kepada orang-orang yang mengucapkan selamat dengan tulus. Bukankah lebih baik ucapan selamat yang sedikit tetapi tulus daripada banyak tapi hanya ada di saat kita bersinar? Tentu yang banyak dan tulus juga bagus hehe. Namun, like almost all of capricorn: orang-orang yang kami anggap dekat di hati memang sedikit. 😂 Or maybe only me?

Semakin tua saya menyadari bahwa orang-orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang-orang yang tetap berada di sampingmu ketika kamu jatuh dan terpuruk. Hingar bingar suka cita kini hanya tampak seperti kerlip lampu yang bisa meredup kapanpun. Rasanya seperti tidak sedih tapi juga tidak terlalu bahagia, bahkan seperti sudah tidak terlalu berharap apa-apa pada siapapun dan melepaskan semuanya.

Ketika saya melihat tanggal yang sama di tahun ini, pagi ini saya bersyukur kepada Tuhan. Masih diijinkan melihat tanggal ini lagi di tahun 2021. Hadiah terbesar saya dari Tuhan tahun ini adalah kesehatan orang-orang yang saya cintai dan kesehatan orang-orang yang mencintai saya. Terima kasih ya Tuhan.. that’s all i need and i want. 😭 *nangis terharu menitikkan air mata bahagia*

Tahun ini saya naik ke Kejati (kaum emak jenjang usia tiga puluh) 😂. Selamat ulang tahun ya diriku. Selamat atas berkurangnya sisa usia harapan hidup (serem ih, gila, tapi ini kenyataan. Usia harapan hidup manusia 75 tahun, sisa lagi 45 tahun kalau masih diijinkan. Semoga jadi pengingat bahwa waktu kita tak lama dan sudahkah menabung karma baik untuk bekal di alam baka?). Selamat atas 30 tahun perjuangan di bumi.. I believe that you can go through all of this. Semoga semakin kuat, tabah, sabar dan bertambah bijak. Semoga makin sadar dan menemukan diri yang Engkau cari. Jangan lupa bahagia. 😊❤️