“Don’t Cry when It’s over..” -Dr. Seuss

Halo semuanya.. Selamat tahun baru 2018! Meskipun kita sudah di Bulan Februari tetapi masih terasa kan semangat-semangat tahun barunya? Semoga semangat ini akan selalu kita bawa ya sampai nanti di penghujung tahun.

Tulisan ini menjadi tulisan pertama saya di blog tercinta pada tahun 2018. Namun, sebelum saya memulai cerita-cerita petulangan yang akan terjadi, saya ingin berbagi sedikit beberapa kisah haru biru saya di tahun kemarin.

Tahun 2017 kemarin saya tak banyak menulis di blog. Ada beberapa tulisan yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari gorila. Itu pun sebagian terhapus, hiks, karena keteledoran saya saat menekan “delete” pada beberapa draft yang tersimpan di aplikasi wordpress di smartphone. Sungguh ngga smart! Gimana bisa kehapus sih? Mungkin waktu itu saya kurang fokus gara-gara belum minum akua.

Sebenarnya, banyak banget hal yang terjadi di tahun kemarin. Namun alasan tidak sempat update ya lagi-lagi karena ketidakcukupan waktu, kurangnya koneksi internet sampai si laptop hitam kesayangan ini ikut-ikutan ngadat. Saat saya mengetik ini pun, si hitam masih lambat, lebih lambat dari kura-kura yang lagi malas jalan terus terjebak di antrian mobil macet di Jakarta. Syukurlah, hasrat saya menulis yang sudah tak terbendung lagi mengalahkan kelemotan si hitam. Butuh kesabaran ekstra, terutama ketika si hitam ngambek dan di layar dia bilang “not responding”. Si hitam tiba-tiba jadi mirip cewek yang lagi PMS. Untung dia ngga meledak, ngegampar, atau yang paling serem: mengeluarkan pertanyaan yang ambigu. Namun begitu, asalkan si hitam masih hidup dan masih bisa dipakai ngetik saja rasanya sudah bersyukur. Astungkara.

Ok, setelah drama cinta dan benci, benci tapi rindu antara saya dengan si hitam kini saatnya momen terlempar kembali ke tahun 2017, yang orang-orang suka pakai tagar di medsosnya #throwback.

Kisah Pengabdianku

Saat saya jaman kuliah di FK ada satu acara reality show yang saya gemari. Bukan acara “tersedu-sedu” yang mempertemukan dua orang yang terpisah itu ya, bukan! Acara yang saya tunggu-tunggu waktu itu berjudul “Pengabdianku”. Acara tersebut bercerita tentang kisah seseorang entah kah itu tenaga pendidik atau tenaga kesehatan yang mengabdikan dirinya ke daerah terpencil.

Saat saya melihat acara tersebut, jujur ya kesan pertama saya adalah orang yang menjadi tokoh cerita itu sungguh keren sekali. Menurut saya orang-orang itulah yang disebut superhero jaman global. Ok, mereka memang tidak punya sayap atau kekuatan super. Namun kerelaan mereka jauh dari keluarga, kerelaan mereka meninggalkan rasa nyaman demi membantu saudara setanah air yang membutuhkan di luar sana, menurut saya adalah hal yang hebat dan tidak semua orang mampu atau bersedia melakukannya. Sejak itulah saya berkeinginan bila nanti sudah jadi dokter, saya juga ingin mengabdi seperti mereka.

Alhasil, ketika permintaan diucapkan dan semesta mengabulkannya dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Saya menikah dan ikut tinggal dengan suami ke daerah tempat ia bertugas, NTT. Awal di sini sih saya masih liburan, honey moon dan jadi ibu rumah tangga dulu. Sampai akhirnya timbul kerinduan untuk memeriksa pasien lagi dan bertugas sebagai dokter.

Sebelumnya saya tidak tahu bagaimana saya akan memulai karir di sini. Jadi saya membuat surat lamaran dan pergi ke RS terdekat. Saya kemudian diarahkan untuk menghadap Bupati, mengajukan permohonan sebagai Dokter PTT daerah. Saya berangkat pagi-pagi ke kantor Bupati, menemui orang nomor satu di kabupaten ini. Setelah bertemu Pak Bupati, saya kemudian diminta pergi ke Dinas Kesehatan setempat. Di DinKes, saya bertemu dengan Kadis dan Sekretaris Dinas dan dibuatkan surat kontrak. Tampaknya gampang ya prosesnya, tetapi di kehidupan nyata sungguh prosesnya cukup melelahkan karena mondar-mandir sana-sini. Singkatnya, saya kemudian ditempatkan di salah satu Puskesmas di Kecamatan.

Puskesmas ini berjarak kurang lebih sejam dari bandara. Saya dan suami akhirnya pindah dan tinggal di mess yang disediakan. Namun, karena messnya kosongan jadi sebelum saya bertugas, kami beli berbagai barang kebutuhan mulai dari kasur, lemari, meja, perlengkapan dapur dan lain-lain baru kami pindah ke mess. Datang ke mess, kami masih harus bersih-bersih dulu, memasang pintu kamar mandi serta memasang gorden dan lampu. Syukurlah ada beberapa teman kantor suami yang membantu kami beres-beres sehingga rumah dinas tersebut bisa segera ditempati. Syukurnya juga, listrik dan airnya bisa sampai ke mess. Waktu saya tinggal disana, listriknya tidak kuat untuk pasang kulkas dan TV. Beruntung masih bisa pasang ricecooker, jadi terhindar dari kelaparan. Hehe.

Puskesmas tempat saya bertugas adalah puskesmas rawat inap dengan UGD 24 jam. Sudah terakreditasi dasar pula. Sehingga kondisi fisik puskesmasnya bisa dibilang baik. Sistem pelayanannya pun juga sudah tertata, semua poliklinik berfungsi baik. Saat saya pertama datang ke sana, penerimaan yang ditunjukkan oleh masyarakat juga baik. Dan yang paling saya kagumi, konsulen-konsulen serta para dokter senior di sini juga sangat baik dan tidak pelit-pelit berbagi ilmu. Belum lagi pemandangan alam yang masih asri, yang selalu mampu menghilangkan penat dan kembali menyegarkan hati.

Permasalahan kesehatan yang saya temui di sana beragam. Kasus-kasus yang dulu jarang saya temui waktu kepaniteraan rupanya masih banyak di sini. Masalah gizi, penyakit infeksi hingga penyakit degenerative. Kurangnya kebersihan, ekonomi kurang, pendidikan terbatas, kondisi geografis yang kering, hingga adat dan budaya menjadi permasalahan yang fundamental dan berkaitan satu sama lain. Semua permasalahan itu tidak bisa diatasi sendiri, perlu lintas sector dan peran dari banyak pihak. Namun, untuk bisa menjangkau semuanya terkadang saya kewalahan. Sebagai satu-satunya dokter di Puskesmas tersebut, saya harus standby menerima konsul selama 24 jam setiap hari, termasuk hari minggu dan libur. Kini saya memahami, mungkin memang begitu esensi pengabdian.

Memeriksa salah satu Mama peserta Prolanis. Saya cuma bisa bertanya, “Roo lakamba?” Bahasa lio yang artinya “sakit dimana?”. Dan setelah itu si Mama akan menjawab dengan bahasa Lio yang belum saya mengerti. Syukurlah ada adik perawat yang jadi penerjemah.😄
Memberikan penyuluhan kepada masyarakat bertempat di aula gereja 😊
Bersama tim PKPR saat kunjungan ke sekolah untuk penyuluhan KesPro Remaja 😉
Mencoba wefie bersama anak-anak SMA sebelum penyuluhan
Jalan menuju desa tempat saya dan tim akan mengadakan penyuluhan
Salah satu sekolah di kecamatan. Ada di kaki bukit 😄

Selama bertugas di sana, ada banyak pengalaman yang saya peroleh, ada banyak kasus yang bisa dipelajari. Bertemu dengan orang-orang baru dan memiliki teman-teman baru. Sayangnya saat di sana kadang ada hal-hal yang sebenarnya di luar kapasitas saya. Terkadang timbul lelah, stress bahkan emosi, itu pasti. Bertemu berbagai macam karakter pasien merupakan tantangan tersendiri. Adalah kesabaran dan pengertian yang mendalam selalu saya tekankan pada diri. Meskipun, terkadang itu sulit. Lama-lama akhirnya kita mengerti. Syukurlah suami, keluarga di rumah dan teman-teman baik selalu mendukung dan menyemangati.

Terima kasih atas pengalaman yang tidak akan terlupakan.

With love

Advertisements

The Vitamin – Sea

Dear Good People

I have moved from Bali island to Flores island since two months ago. Being far away from the place where you have grown up sometimes arouses the feeling of missing, missing your home town, my parents, brothers, family, even my dog Thomas and all of everything there. But, life will not become happier if I  let myself be overwhelmed by the sad feeling.

A friend said to me, “where ever you are, as long as you be with someone you love, it called home”. She was true. My husband always comfort me if I cry because of missing home. He knows I love to go to the beach, see the aquamarine of sea and having random talking to my Neptunus. So, one day he took me to one of many graceful places in Maumere. 😀

Continue reading

Heading the Great Wall

greatwall

Good day good good people!

Kemarin saya dan J pergi (lagi) ke Cina. Eh, Cinemaxx maksudnya. *Hahaha, ga lucu.

Oke, kami masih di Indonesia tepatnya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Pulang dari kantor, saya dan J kembali dating ala-ala anak muda. *Mumpung weekend dan mumpung masih berdua.*

Kami memutuskan makan lalu nonton di bioskop terdekat. Kemarin itu J udah niat banget buat nonton “Cek Toko Sebelah”, Continue reading

No where, Now Here for Hangout

large

Good day dear people.

Setelah merayakan tahun baru di Bali, sudah saatnya kami kembali ke real life. I mean, J’s real life.

Saat ini saya masih jadi pendamping sekaligus dokter pribadi J saat ia harus bertugas ke luar kota. Yah.. biar mirip Ibu Ainun Habibie gitu ceritanya.

Setelah perjalanan udara selama 1 jam, akhirnya saya menjejakkan kaki mungil ini untuk pertama kalinya di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang.

Di luar dugaan saya, ternyata Kupang sudah memiliki pusat hiburan, pusat perbelanjaan dan pusat hidangan layaknya kota-kota besar metropolitan. Ada Cinemaxx, Pizza Hut, Matahari, Lipo mall dan masih banyak lagi. *gini dah tumben ke Kupang*

Saat senggang, kami coba mengunjungi bioskop di sini. Tadinya J mau nonton “Cek Toko Sebelah” nya Ernest Prakasa, tetapi karena dia tahu saya pingin banget nonton Bang Raditya Dika, jadilah J memesan dua tiket nonton “Hangout”. Aye! *Ini sonde ada pemaksaan lho ya 😂*.

Oke, saya ini sebenernya tipe yang kalau mau nonton mesti tau trailernya dulu. But, because of limited time, saya ngga sempat browsing. Dalam pikiran saya, pasti filmnya komedi-komedi romantis ala-ala Raditya Dika.

Memasuki awal cerita, filmnya berisi adegan preman dan Bang Radit sok jadi pahlawan gitu. Eh..ternyata ini adalah film dalam film. Lanjut. Di sini Bang Radit berperan sebagai dirinya sendiri, seorang sutradara film yang kayanya lagi pailit. Kesulitan dana untuk filmnya, sampai-sampai nunggak bayar kontrakan. *Hadeuh*

Di tengah suasana krisis yang lagi melandanya, tiba-tiba ada undangan dari seseorang yang misterius yang udah DP 50 juta buat janji ketemu sama Bang Radit. Layaknya embun segar di gurun pasir, Bang Radit sempat ragu itu seriusan atau hanya fatamorgana? Akhirnya, dia pun memenuhi undangan tersebut.

Undangannya adalah janji untuk bertemu di sebuah pulau menaiki kapal yang sudah disiapkan oleh si Tuan Misterius ini. Ternyata yang diundang ngga cuma Radit aja. Ada beberapa populer person yang juga diundang yaitu Matias Mucus (senior actor), Surya Saputra, Gading Marteen, Titi Kamal, Prilly Latuconsina, Dinda Kanya Dewi, Soleh Solihun dan Bayu Skak (youtuber).

Ceritanya mereka semua mendapat undangan yang sama dari Tuan misterius, Tonny P. Sacallau untuk datang ke sebuah rumah tua di tengah hutan di suatu pulau terpencil. Ngga jelas siapa itu Mr. Tonny dan untuk apa mereka diundang. Hampir semua berpikir bahwa ia adalah produser yang mau buat film untuk mereka.

Suasana film jadi agak horor ketika satu persatu dari mereka terbunuh dengan cara yang misterius. Iya, kaya di film-film thriller gitu. Mulai dari Matias Mucus yang mati keracunan. Lalu timbul kepanikan dan perpecahan di antara mereka. Next, Prilly yang entah bagaimana kronologisnya jatuh ke jurang, Titi Kamal yang ketusuk tombak jebakan, begitu juga Dinda Kanya Dewi.

Timbulah kecurigaan diantara mereka bahwa satu diantara yang tersisa adalah pembunuhnya. Kecurigaan membawa pada semakin lebarnya jurang perpecahan, hingga akhirnya hanya tinggal Radit dan Soleh yang masih hidup. Di tengah pertengkaran mereka, akhirnya ketahuan siapa si pembunuh asli.

Saya ngga pernah nyangka Bang Radit buat film yang kaya gini. Sumpah! Bagi saya yang bukan penikmat film thriller, film ini cukup membuat saya terkejut tapi level serem dan killernya masih di bawah film-film assasin atau film-film psikopat. So, penikmat thriller atau yang punya sedikit jiwa psikopat:  film ini adalah film komedi berbumbu thriller bukan sebaliknya. So, don’t expect you wil see wajah-wajah yang ketakutan atau menderita kesakitan parah. Namun, karena ada adegan tusuk-tusukan, main senjata tajam dan berdarah-darah, memang sebaiknya yang boleh menonton ini adalah usia 13 tahun ke atas.

Biarpun bisa dibilang agak ngeri, tetapi film ini memang ga lepas dari khasnya Raditya Dika: komedi. Pengemasan komedi di sini dengan menampilkan sifat dan sikap para pemainnya. Dinda yang tampil agak urakan  -ngga cewek banget pokoknya-, Surya Saputra yang tampil metroseksual dan agak aneh serta percakapan-percakapan di antara pemain. Di sini, saya suka banget sama aktingnya Prilly. Keren! You will know when you see😊

Yang menarik dari film ini, kita dibuat jadi penasaran dan bertanya-tanya siapa sih pembunuh keji yang tega membunuh para artis ini satu per satu?

Oya, jaman sekarang kayanya bakalan diprotes kalau film ngga ada pesan moralnya.

The message behind this movie is “never let your friend being alone and face his/her problems by his/herself”.

This movie tell about friendship and the empathy among our friends.

I recomend you to watch this movie!

With love ❤

Starting the New Year

Dear good people, merry christmast and happy new year!

So, how was your new year eve?

Saya dan J merayakan malam tahun baru di rumah orang tua saya, di Desa Tembuku. Desa? Yup. Kami merayakan tahun baru jauh dari hingar bingar kembang api dan petasan. Terima kasih untuk J yang bersedia menemani saya di rumah orang tua saya dan merayakan tahun baru bersama keluarga saya. 🙂

Keesokan paginya, kami pergi melihat air terjun Tukad Cepung yang ada di Desa Penida, Tembuku.

Air terjun ini sebenarnya sudah ada dari lama hanya saja baru-baru dipromosikan. Jadi inilah kali pertama saya main-main ke sana. *Katanya, belum sah jadi local girl kalau belum berkunjung ke tempat wisata deket rumah sendiri. 😂

Untuk mencapai air terjun ini, kami harus berjalan kaki ke bawah dari tempat parkir kendaraan. Oya, sebelum turun ke bawah, ada pos registrasi pengunjung. Di sini tidak (mungkin belum) memakai tiket, jadi sistemnya “dana punia” suka rela mau menyumbang berapa.

Perjalanan kami ke bawah membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Kanan kiri banyak pohon, ya seperti perjalanan turun jurang tetapi aksesnya sudah lumayan bagus.

Begitu sampai di bawah, ternyata air terjun ngga terpampang begitu aja. Kita mesti jalan menyusuri tebing batu. 

Air terjun ada di balik tebing batu
Berfoto ala remaja-remaja kekinian era 2k

Setelah menyusuri tebing batu yang sempit *yang sempat terpikir ngga bisa lewat*, akhirnya kami seperti masuk ke dalam ballroom yang begitu luas dan voilla! Kami takjub melihat cucuran air yang jatuh lepas dan deras dari atas tebing yang tingginya kira-kira 6-8 m. *tidak tahu pasti*.

Untung difoto dari belakang. Foto dari depan aslinya melongo.

Waktu kami datang, sebenarnya ada banyak pengunjung. Ada turis pula. But well, masing-masing dari kami sadar diri kalau ada yang mau ambil foto, ngantri satu-satu biar ngga ada penampakan orang lain.

Airnya fresh banget. Tetapi sayang kami ngga mandi. Hoho. Et causa ga bawa baju ganti n malu aja gitu soalnya tempatnya lumayan sakral. Biasanya orang-orang kesini untuk ‘melukat’. Membasahi diri dengan airnya, bertujuan untuk membersihkan diri secara spiritual dan memakai pakaian adat ringan.

Waktu kami sedang asyik berfoto-foto ria tiba-tiba ada ikan lele yang cukup besar berenang mendekat. *scary*. Sontak, saya segera loncat naik ke batu sekitar, takut dipatil oleh lele yang besarnya selengan saya. Cuma ada satu ikan itu yang kami lihat. Dalam hati saya berpikir, mungkin ini penunggunya air terjun di sini. Mungkin, ini adalah pertanda kebaikan. Astungkara, amin. :))

Setelah puas mengambil beberapa foto dan mengecipakkan kaki kami di air nan jernih dan segar, kami memutuskan untuk naik ke atas dan segera pulang ke rumah.

Yup yup. That’s all phals. Laporan singkat awal tahun baru kami.

May this year will bring more luck, love, health, wealth, abundance and happiness for all of us.

Thanks for reading. 😊 

with love ❤

Photo contributor, Partner in crime, hand holder, walking compass, friend of life, husband also 😁
I was so tiny in front of my almighty God’s

A flower that put in my hair- Lucky. By Jason Mraz ft. Colbie C
Sometimes lover, mostly best friend

Another Sunday at Kelimutu Lake

Good day Good people,

How are you? I am very well. I hope you too.

Yesterday was Sunday (of course! Everyone in Indonesia agree with that). I was so happy because I and J went to the one of the amazing place in Flores : Kelimutu Lake. Honestly, we went there because J will have a meeting in the next day at Ende..so, He took me along and we came by to Kelimutu lake. 😆

Our Preparation

We woke up about 5 o’clock. (1 hour late from our plan before). It was raining in the morning and we thought that we would failed our trip to Kelimutu. I prepared for his coffee and my milk coffee, prepared for a bottle of mineral water and brought our ‘terang bulan’. While we were having our breakfast, the rain stopped. We were so happy that I forgot to bring our umbrella to the car. 😅 ( Thanks god, we didn’t forget to turn off the electricity and lock our home).

Our trip

Along our way to Kelimutu Lake, we heard all songs from my flashdisk. Hahaha. So I could sang all the time while J added the backsound 😂. *Pam pam pam..pam pam pam*. 

We went trough the street from Maumere to Wolowaru. J told about his responsibility for watching and observe the street’s work about 79 km. (I am proud of him 😁).

The street of J and team. So smooth 😃
Hills and local people’s farm field

Because it is located in high lands, the weather here is felt a bit cool yet fresh. It is better to bring your jacket or sweater.

Here We Are

After about 2 hours and 30 minutes car driving, we found the entrance to Taman Nasional Kelimutu area. There, we paid the entrance ticket for two adults and a car total about 25.ooo rupiahs.

From here, we continued our trip for about 20 minutes. Along the way, I saw many big trees, like we were into a forest. (Surely it was).

There is a statue without name before we arrived at the parking area. Maybe it was the statue of the Geologist who did research or who invented Kelimutu (?).

Parking area, the stairways will lead us the way to Kelimutu Lakes

From parking area, we continued our trip by walking to the top of the mountain along the stairway. Don’t worry, the way here is not so extreme and already good. 

There were monkeys that greet us

Beware if you bring some foods because there are monkeys here. When I and J brought our Instant noodle, a monkey starred at us and chased after us. I was so scared 😂. Fortunately, J starred back at that monkey and seems like it scared to J. Thanks god, our noodles were safe.

About Kelimutu Lakes

Near Ata Polo Lake

Mountain Kelimutu was first discovered by a Dutch military officer: B. Van Schutelen at 1915. At 1920, Kelimutu had its first scientific announcement. Kelimutu became more popular after Y. Bouman wrote about it at 1929. Mt. Kelimutu last erupted at 1963. It became Recreation Park since 1982 and became National Park since 1992. It has 3 craters which height of wall crater about 90-150 m.

The Myth About Kelimutu Lakes

Mt. Kelimutu has 3 craters lake with different and changing colour over the time. The exact cause of changing colour still unknown but it is related with the chemical reaction of minerals inside the lake and the weather. The colour changes without clue before its changing.

There is an old myth about Kelimutu lakes. Once upon a time there was a very kind person named Ata Mbupu. There was also a witched that like to eat human named Ata Polo. Both of them were best friend despite of their different character. One day, there was a couple of orphan, named Ana Kalo who asked for protection to Ata Mbupu. 

Ata Polo found that children and want to eat them. Ata Mbupu realized that couldn’t defeat Ata Polo so Ata Mbupu run away to the base of earth. An earthquake happened and buried Ata Polo. The Ana Kalo also died and buried by the earthquake.

From the place where Ata Mbupu died, came out a blue water and it became Ata Bupu Lake (Tiwu Ata Mbupu) the lake of old people. Red water came out from the place of Ata Polo died, became Ata Polo Lake (Tiwu Ata Polo) the lake of bad/bewitched people. Between them, from where Ana Kalo buried, came out green water became Nuwa Muri Koo Fai Lake, the lake for youth.

The people here believed that after human die, their soul will remain in Kelimutu and live at one of Kelimutu Lakes depend on age and how their behaviour in life

 

Ata Polo Lake, Koo Fai Nuwa Muri Lake and Ata Mbupu Lake
When we came there, we saw that reactivity of Koo Fai Nuwa Muri Lake. It seems like it gonna change it turquoise colour into white colour.
Ata Mbupu Lake

At the top of this point, there is a monument with 3 side. I thought they tell about The People, the Culture and the Nature of Kelimutu.

After taking so many pictures and satisfied by the view, we decided to back. It was already 13.00, the strong wind, the hot day and our hungry stomach made us back to parking area.

But, we were not go home that easily when we found another spot that attracted our curiosity: Remain Dutch Houses.

He got call from his friend about his job, so I didn’t want to bother him 😂
Remain Dutch Houses

We didn’t find any informations about this old building, when it was built? what the story behind it? If you going there and want to know, you may come to the information centre at the south of the parking area.

Kelimutu Information centre

There were some local people selling snacks and local coffee.

Because the day before, we watched Filosofi Coffee, we got influence and then we tried black coffee by the local people. J said they put ginger in the coffee which made this coffee has unique taste. Me: Its taste..hm..hm.. like a coffee 😅 *LOL*

After took a break for a while, we back to the car and headed to the hotel where we will stay. I was still amaze with the view. On the way to hotel, we found a hot pool. This pool is still free so we didn’t have to pay to place our feet here 😄

The water is pure and warmth!

—————————–

Ok good people, thats all story about our Sunday. 

Thank you God for his generousity and kindness, for this chance, for all amazing nature and for everything that I couldn’t say one by one. Thanks to J for all jokes that made me laugh along the way, for every silly backing vocal, for saving me and my noddle from monkey attact, for holding my hands while walking, for contributing photos to my blog, and of course for this journey. 😁

With love from me and J at Ende

Another New Couple Story

Good day good people, how do yo do?

Here I am so fine, I hope so you are. Saat ini di Maumere tengah dilanda hujan yang sangat deras disertai gemuruh di langit. Bagi sebagian orang (termasuk saya tentunya) cuaca seperti ini memang enaknya tidur dibawah selimut yang tebal atau makan mie rebus isi telur ceplok. 😫 *mulai ngiler*

Biarpun langit gelap gulita karena hujan, rasanya ngga produktif banget kalau siang-siang gini tidur-tiduran, so I prefer to write in my hommy blog. (Ngga menghasilkan uang sih..tapi setidaknya ini ga akan menumpuk kalori pada bagian-bagian tubuh yang sudah berlemak and at least, saya membuat sebuah karya meskipun ecek-ecek.

Kali ini saya ingin bercerita tentang kehidupan baru saya sebagai seorang Ibu rumah tangga. *uhuk*. Untuk Aji yang mungkin sengaja membaca blog saya, so now your little daughter become a house wife 😂. 

Entahkah memang mainstream atau naluri keiburumahtanggaan, setiap wanita yang baru saja menikah atau yang ingin segera menikah pasti mulai wara-wiri soal masak memasak. Senyorita saya, Kak Sangayu yang terkenal paling tegas saat di TBM, ketika menikah mulai meng-upload foto-foto masakannya. Putu Manda, teman seangkatan yang baru saja menikah ke Kalimantan juga rajin menunjukkan hasil olahan-olahan ala-ala chef. Begitu juga ipar saya ayu dan masih banyak lagi wanita-wanita lainnya, including me

Sebenarnya, sebelum menikah saya sering  memasak di kala libur jaga dan pas Ibu lagi ke kantor. Namun, entah kenapa memasak di kala itu tidak se-excited seperti sekarang. Mungkin karena ortu dulu mbok ya nrimo-nrimo aja hasil racikan tangan kecil putrinya. Jadi biarpun keasinan, kepedesan, hambar, tetap aja dilahap..meskipun disertai komentar dan saran dari kritikus masakan paling cetar di rumah: Ibu 😂.

Menu-menu saya sekarang memang tak jauh beda sih dengan menu yang dulu, cuma bedanya kini saya harus menyesuaikan rasa masakan sesuai lidah suami. Ada sih yang laziz, tapi ada juga yang failed. Nah..pas failed itu yang buat saya jadi down. Ngerasa ga bisa masak ditengah banyak wanita yang masaknya udah setara chef Marinka. Hal yang lainnya, karena saya seorang lakto ovo vegetarian, saya dulu jarang banget masak olahan daging. Jadi, J melarang saya memasak daging. Kata J daging di sini mahal dan lebih baik kalau beli yang sudah jadi. Mungkin J takut juga kalau nanti saya masak daging terus rasanya gak karuan karena saya ngga nyicip 😂. *hanya pikiran saya aja sih*

Huhu, untunglah Mom and my mother in law selalu menyemangati balada IRT kecil ini dan mewariskan tips beserta ilmu memasak mereka yang sudah malang melintang dalam hal masakan.

Adalah bukan seorang cahyani kalau down terus terpuruk di pojokan. Saya segera cus download aplikasi Cookpad yang sarat dengan resep-resep masakan rumah yang easy cooking. Dengan aplikasi ini ditambah bekal ilmu dari guru-guru memasak (mom n mother in law) saya semangat memasak demi tercipta masakan yang aldente and perfecto! 😤

Alhasil.. J  kini menjadi korban penikmat masakan saya. Kata J sih enak (enak kalau udah habis ya J? 😂).  *Plak*

bahkan..menggoreng kentang sampai berbusa membuat saya begitu excited 😂

Salam hangat-hangat teh manis dari saya dan J di MoF.

With love,

Another Part of My Life Phase

Good day good people, how are you?

Saat ini saya sedang mengirimkan kabar saya live dari Maumere. Sejak kapan saya di Maumere? Ceritanya cukup panjang dan inilah alasan kemana saya menghilang belakangan ini dari perblogingan.

Harap sediakan popcorn, kacang atau camilan agar reader ngga merasa bosan saat membacanya.

FAREWELL..

Post saya yg terakhir masih berkutat tentang segudang cerita dari UGD. Ada seorang sutradara yang membacanya dan ingin menjadikannya film. Sehingga saat ini saya lagi syuting dengan setting RS di Maumere.

Ternyata, itu semua adalah.. Mimpi! 😂 hahaha. Sorry, I am kidding.

Jadi, awal November lalu adalah minggu terakhir saya sebagai dokter internship. Setelah satu tahun menunaikan tugas dari Kemenkes (dan digaji Kemenkeu) akhirnya saya dan teman-teman lengser (dan resmi jadi pengangguran 😂). 

Tebak saya yang mana?
Di mana ada pertemuan di situ ada perpisahan

Akhirnya sebagai kenang-kenangan terakhir, kami mengadakan perpisahan kecil-kecilan di Puskesmas 1 Susut dan di RS Bangli. Thank you to all of my friends, teman seperjuangan, sejaga, sekocil dan apalah itu; terima kasih atas kerja sama satu tahun ini. Terima kasih yang sudah mau tukeran jaga atau gantiin jaga, yang ngasi operan brankar kosong ataupun opran pasien gawat biar kita lebih pinter 😂 gonna miss ya all. 

Dan.. terima kasih pula untuk para dokter pembimbing, dr. Arka prof UGD, dr. Sagung bunda peri, dr. Arnatha dan dr. Kur, senyo senyorita UGD yang paling kece, pembawa badai, tutor harrison berjalan, sampai yang hilang-hilang.. 😂 staf puskesmas dan bli-bli mbok-mbok yang sangat-sangat membantu kami selama jaga. :’). Thank you for assissting us.

Setelah perpisahan itu akhirnya kami kembali ke habitat kami masing-masing dan bersiap mengarumi arus kehidupan selanjutnya. Dari Medan kembali ke Medan, dari Jakarta kembali ke Jakarta, yang dari Bali..tetap di Bali dong 😂.

SURPRISED!

Lepas internship, ada yang liburan, ada yang magang mau nyari spesialis, ada yang jaga-jaga. And what about me? I am.. married.

 This is seriously 😂. I am sorry I didn’t make announcement here.. I was preparing for my wedding. Sibuk, sibuk-sibuk galau 😂. Ternyata masih banyak yang belum kami kerjakan meskipun sudah merencanakannya jauh-jauh hari.

Kami dua orang yang ditengah 😂

Berhubung softcopy foto-foto acara belum sampai ditangan saya jadi saya screenshoot dari salah satu teman di instagram.

Yah..setelah sekian masa kami berjalan bersama, kami memutuskan untuk mengakhiri drama cinta ini menjadi sebuah ikatan suci cinta untuk membangun biduk rumah tangga. (ciee)

Saya rasa keputusan untuk menikah adalah keputusan yang paling besar yang diambil setiap wanita. Melepaskan keluarga yang membesarkannya menuju keluarga baru bersama orang yang dicintainya. 🙂

Dan… karena suami (cie suami) saya bertugas di luar Bali, saya pun ikut diboyong ke sini, Maumere of Flores. 🙂

Yah..mumpung di Maumere, kami menyempatkan diri mengunjungi Tanjung Salib.. A beautiful view.. a beautiful God’s creature..

Song: Love on Me by Galantis Hook n Sling.

Thank You for Thank You

Good day good people,

Today, I want to thank you to an old man who was wearing green t-shirt two days ago. I know it is late to say it. I should thank him on that day, but at that moment, I was too hectic that I didn’t have time to say “thank you”.

It was a busy day, as usual, emergency room was about accident and acute pain. I was on duty and my patient on that day was a victim from traffic accident. (do i use the correct word/grammar?). He was a senior doctor’s relative. When he came, he said that he felt numbness in both of his leg, he couldn’t move them. While he still could move his arm. After about 4 hour, senior doctor came to examine him. Now.. he couldn’t move his arm.

And.. yah.. We had different arguments.

Suddenly, another old man, I didn’t know.. said, “Doctor, thank you very much. The pain is gone”, he said with smiley to me and my friend. we didn’t know him, maybe we forgot because of too many patients on that day.

Simple word. But it so relieving..

As a doctor, you maybe can’t save all patient. Some had bad ending, but some are become better.

And to myself, you maybe lost, you maybe broke, you maybe feeling down, but everytime you fall, stand up! Get Up!

And to an old man wearing green t-shirt, thank you for saving my day 🙂