Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think

We are (not) Beautiful

Om swastyastu, namaste good people

Hai, pembaca setiaku? Apakah telah lama kau tunggu-tunggu sebait dua bait tulisan receh murah meriah dari blog ini?

(netijen: siapa ya? ga kenal tuh. orang kita cuma lewat aja)

Seperti bumi yang berputar sehingga ada malam dan siang, seperti bulan yang menempuh purnama dan berganti bulan mati. Mungkin begitu juga siklus blog saya ini, lebih tepatnya siklus dalam jiwa saya atau mungkin siklus sebagian orang yang sesekali menemukan ‘periode gelap’. Pernah tidak sesekali anda merasa hilang arah? Merasa tenggelam dalam penatnya dunia dan tidak mampu berenang ke permukaan?

Kira-kira mungkin demikian yang juga saya rasakan. Tidak penting apa yang terjadi dan kenapa, saya malas (dan takut) mengumbar segala kenegatifan saya. Hal itu tak ubahnya seperti menyiramkan debu, niat untuk membuang tapi malah diri sendiri yang kena, kena mata bikin mata sepet, kena hidung bikin sesek. Ya nggak?

Terima kasih kepada sahabat pena kesayangan, Mom Evy yang telah menyediakan ‘flaslight’ (cie, bilang aja senter gitu kan) bagi saya setidaknya mengingatkan saya bahwa saya sudah tersesat dan harus segera kembali mencari jalan pulang.

aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.. aku tenggelam dalam lautan luka dalam~’

(Eaa eaa)

Tersesat dari apa? Huh, netijen tak perlu tahu karena saya perkirakan anda kepo supaya ada bahan untuk nyinyir dan julid kan? (netijen: siapa elo?? *lempar batako)

MONDAY, MUSIC AND MUSE

By the way, selamat hari Senin untuk para budak korporat, budak pendidikan, dan para pejuang mimpi di mana pun kita berada. Hari ini adalah hari favorit kita karena dengan adanya hari Senin kita dibangunkan lagi untuk bersiap menghadapi dunia nyata, membanting tulang menggali bongkah-bongkah emas dan mengarungi kriya demi terwujudnya mimpi-mimpi yang tertunda. Semoga tetap semangat.

(udah kaya narasi radio aja, wkwkw)

Untuk menyemangati diri mari kita budayakan 3M. Memangnya memberantas Demam Berdarah Dengue aja yang perlu 3M? Memberantas rasa malas dan rasa-rasa ga jelas juga perlu strategi 3M, Monday-Music-Muse.

*SFX applause*

Kali ini kita akan mendengarkan lagu dari idola kesayangan saya, Ed Sheeran duet dengan Khalid dalam lagu “Beautiful People”.

https://m.youtube.com/watch?v=mj0XInqZMHY

Dalam video tersebut digambarkan dua orang biasa yang tiba-tiba memasuki dunia para selebritas yang penuh dengan hingar bingar kemewahan, dunia gemerlap, pesta dan segala hal yang konon kalau diposting di IG bakal menuai 10ribu likes.

Saya ingat celetuk anak-anak pasien (ga sengaja denger) yang mempertanyakan ‘kenapa jumlah likes di IGnya belakangan menurun’. Saya tidak ingin mengeneralisir, tapi apakah kini remaja atau anak-anak begitu terobsesi dengan jumlah likes di media sosialnya? Jangankan anak-anak, saya sendiri pun awal-awal bermain IG juga selalu excited kalau dapat banyak likes. Namun, lama tidaknya seseorang bermain media sosial sepertinya tetap tidak akan mampu menghilangkan kecenderungan manusia untuk ‘pamer’. Bukankah wajar? Karena sifat alami ego manusia yang selalu haus akan ‘apresiasi’.

Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial memang sudah mampu menyalurkan kebutuhan ego manusia untuk pamer, memberikan corong bagi kita untuk bersuara lebih keras, sampai-sampai kebutuhan julid dan nyinyir juga tersalurkan lewat media sosial. Sisi baiknya, media sosial menjadi alat bagi kita untuk menciptakan branding diri. Lewat media sosial orang-orang jadi tahu, bagaimana keseharian kita, bagaimana karir kita, kehidupan kita.

Namun, akan menjadi toxic ketika kita terlalu mengagungkan ‘citra diri’ demi keindahan sebuah media sosial. Perlahan, karena kita ingin ‘terapresiasi’ seperti orang lain, kita mulai kehilangan jati diri kita. Ada yang sampai dikejar setan kredit demi tampilan foto ‘gaya hidup cantik’ di media sosial. Bahkan mungkin ada yang mengorbankan lebih dari sekedar harta demi memuaskan ego yang sedang kehausan itu. πŸ™‚

“What d’you do and who d’ you know? Inside the world of ‘beautiful people’.

Champagne and rolled up notes, prenups and broken homes.

Surrounded but still alone.

Let’s leave the party.”

Let’s leave that party. We are not that ‘beautiful people’. Just be true to ourselves. We already beautiful, even no one appreciate it. No, your worth isn’t define by other people’s like nor their comments.

This is reminder to my self too.

See you!

with love,

Posted in BEC, Fav Lyric, LA LA LA THINGS

[EF#28] The Otang

Good day good people,

What is Otang? Is it an animal? a thing? a name of new found planet?

source : http://www.skateslate.com
source : http://www.skateslate.com

When I tried to search in Google, I found it was a brand of a board’s wheel. But, this Otang is different from it. Otang is a word that only knew by my family. It is a secret word and now that word is not a secret again. Why it can be a secret? Is it such a spell? I hate to admit, but yes. It is a magic spell that can throw me back to the past time, many years ago when I was a little girl.

I didn’t remember exactly, how that word can be found. I was about 4 or 5 years old at that time when I learn to sing a song. But, this little girl was not like the other cute girl that sang “Twinkle-twinkle little star”, “Pelangi-pelangi” and another kid song. This little girl sang a bit hard and thoughtful song of Iwan Fals : Bongkar!

It is not a surprise since my father is a big fan of Iwan Fals. So my childhood’s songs are the full collection from Iwan Fals’sΒ song album. So, when my little ears heard the song, and my mouth repeated it, instead of saying “Bongkar”, I said “Otang”. So the song that actually:

“O-o-ya o-ya o ya Bongkar, O o ya o ya o ya Bongkar”

became :

“O-o-ya o ya o ya Otang.. O-o-ya-o-ya-o ya Otang”

That was the true meaning of Otang.

This post is subscribed to BEC’s challenge : A song that..