Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think, TTR

LDR to LDM, How to (I) Deal with It?

Indahnya LDR/LDM

Om swastyastu, namaste.

Caution :

1. Meskipun judulnya English, tapi tulisan ini akan lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia.

2. Tulisan ini sebagian jokes, sebagian curcol. Wkwk.

3. Tulisan ini bakalan panjang, yang matanya perih dan pikiran letih kalau baca tulisan panjang-panjang disarankan untuk bersabar, ini ujian. Wkwkwk.

Besok adalah hari ulang tahun saya. (Yeaaaay * dalam hati penulis udah sorak sorai bergembira). Kemarin suami menelepon menyampaikan permohonan maafnya bahwa untuk tahun ini ia tidak bisa pulang.

“Duh, udah 2 kali aku ngelewatin ulang tahunmu..” ucapnya dengan nada lirih.

Jika anda di posisi saya, bagaimana sikap anda?

a. Ngamuk dan ngedumel lalu nyuekin suami seminggu kalau perlu sampai satu bulan 7 hari.

b. Mengirimkan senjata nuklir. (Biar ga kalah sama Iran).

c. Pesen tiket pesawat dan segera mendarat ke tempat kediaman suami.

d. Menangis tersedu-sedu semalam suntuk sampai mata menghitam seperti panda yang habis begadang nonton bola.

Kalau saya, tidak memilih satu pun diantara option tersebut. Hehe, terserah saya dong, wong saya yang buat soal. Wkwkwk. (Netijen : tolong nuklirnya dikirim ke yang nulis blog ini aja.)

Mari kita bahas kunci jawabannya. Untuk option a. Saya orangnya ga tahan nyuekin suami lama-lama, paling lama itu 20 jam dan itu akhirnya mewek-mewek. Wkwkwk. Cemen.

Option b. Jelas No. Huhu.

Option c. Tiket pesawat mahal cyn. Kasian uangnya. Eh.

Option d. Dulu iya. Awokwkwk. Tapi belakangan udah semacam apa ya? Malas mungkin ya. Eits! Malas di sini bukan malas sama orangnya. Tetapi malas meribetkan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk diribetkan. 🙂

“Ih, sans aja kali. Ya mau gimana lagi.” jawab saya. “Nanti pas pulang aja dirayain, dan jangan lupa hadiahnya yaa..”. Hohoho. Ternyata ada udang dibalik sushi kan pemirsah.

Okay, begitulah secuplik kehidupan suami istri yang long distance marriage. Kali ini saya akan berbagi sedikit tips bagaimana untuk bisa survive dalam LDR (long distance relationship).

Sebagai pejuang LDM yang baru berjalan dalam kurun waktu belum lama (setara lamanya dengan masa penjajahan Jepang di Indonesia) belum pantas rasanya menulis bagaimana untuk survive. (Loh?) Jadi tulisan berikut lebih ke pengalaman saya bagaimana saya menjalaninya. Hehehe.

Sebelum LDR..

1. If you can choose, choose No to LDR.

Jika seandainya anda diberi pilihan untuk LDR atau tinggal bersama, pilihlah untuk tinggal bersama. Mengapa? Karena LDR itu berat, kamu ga akan kuat. Jika masih bisa diusahakan, usahakan untuk tidak berjauhan. Misal pasangan dapat beasiswa ke Australia, kalau bisa kamu nyari juga beasiswa di sana.

2. Jika harus LDR, apakah kamu siap?

Ini adalah pertanyaan penting sebelum menjalani LDR. Siapkah kamu? Untuk tahu apakah kamu mampu atau ngga, coba aja simulasi dulu deh. Emang mau tes CPNS aja yang mesti simulasi? Sebelum LDR juga mesti simulasi.

Coba ngga ketemuan sama pasangan selama sebulan, kuat ngga? Kalau kuat, coba selain ngga ketemuan lalu ngga chat seminggu sekali atau dua kali. Masih kuat? kalau kamu kuat, selamat! kamu boleh LDR tapi belum menjamin bisa mulus LDR-an. Wkwkwk.

Menjalani LDR..

Ketika LDR tak bisa dihindarkan, ketika berpisah jarak dengannya masih lebih melegakan dibandingkan berpisah hati, I will say to all of you “welcome to this world.” Semoga beberapa tips saya dapat menjadi senjata pamungkasmu dalam menjalani hubungan terpisah jarak.

1. Jaga komunikasi.

Untung sekarang ada videocall ya. Bayangin orang tua yang dulu LDR cuma bisa surat-suratan saja kok bisa survive sih? Memang orang jaman dulu itu tangguh, terpisah jarak dan perang tetapi tetap menjaga hati. Apalagi sekarang yang sudah ada telepon, pesan cepat bahkan videocall yang harusnya semakin mempersempit jarak.

Komunikasi itu bukan hanya menyampaikan, tetapi juga memastikan bahwa apa yang kita sampaikan dapat dipahami oleh pasangan. Jadi, saat ingin mengutarakan sesuatu usahakan jangan pakai kode dan jangan kebanyakan gengsi ya.

2. Saling mengerti kondisi satu sama lain.

Komunikasi memang penting ya gaes. Namun jangan demi alasan komunikasi kita mewajibkan pasangan untuk laporan setiap saat. Kita bukan kantor polisi dan dia bukan penjahat meskipun dia sudah mencuri hati kita. (ea ea ea)

Dalam hubungan memang diperlukan pengertian dan dalam LDR, pengertian itu harus jauh lebih dalam.

Mengerti di sini mungkin lebih tepatnya seperti memaklumi dan mengikhlaskan. Saat ia sibuk, tak sempat berkabar, maklumi dan maafkan. Saat ia tak bisa hadir karena suatu hal, maklumi dan ikhlaskan. Ngomong gampang ya? Hahaha. Tapi dengan latihan terus menerus, semoga hati akan semakin melebar. 🙂

3. Percaya dan berpikir positif.

Doi statusnya online tapi kok ga bales wa? Doi katanya ada meeting jadi sementara ga boleh dihubungi.

Mungkin memang benar doi lagi ada rapat penentuan apakah besok harga terasi naik atau ngga. Mungkin doi buka wa di laptop, terus buru-buru ditinggal ke toilet karena salah minum air kobokan dikira infused water, jadi status online terus tapi ngga digubris. Percaya aja dulu dan berpikir positif (meski dalam hati berkecamuk gundah gulana), nanti keraguan itu sebaiknya kita konfirmasi dengan barbar baik-baik. 🙂

4. Ingat untuk mencintai diri sendiri.

Penting! Cintailah dirimu sendiri terlebih dahulu agar kamu tidak menuntut cinta dari pasanganmu.

Loh, bukannya tugas pasangan memang mencintai kita? #plakkk. Saat kita tidak memberi cukup cinta untuk diri kita sendiri, kita akan ‘haus’ untuk dicintai. Haus itu bisa dalam bentuk ingin diperhatikan, ingin dipuji, ingin diberi perlakuan tertentu yang kita anggap sebagai bentuk cinta.

Kalau pasangan ada dekat, mungkin mudah baginya membaca raut wajah kita. Namun, ketika terpisah jarak, komunikasi minim, kita akan gampang baper ketika apa yang pasangan lakukan tidak sesuai harapan.

Dear you, kita tidak bisa memberi cinta ke orang lain tanpa memberi cinta untuk diri sendiri terlebih dahulu. 🙂

5. Pelarian yang tepat.

Ada kalanya suatu hubungan akan mengalami sedikit perbedaan pendapat atau pertengkaran. Saat ada masalah dengan pasangan, pilihlah pelarian yang tepat dan berhati-hatilah memilih tempat curhat. Karena, bisa saja ada yang mengambil kesempatan dalam perdebatan dan saat hati sedang goyah, ia akan mudah sekali bersandar pada siapa pun yang memberi topangan.

If your relationship still matter, curhatlah pada praktisi atau teman yang sama jenis. Kalau lawan jenis, biarpun teman deket lah atau keliatannya lebih pengalaman lah, itu sama saja dengan menunggu negara api menyerang. 🙂

Atau, curhatlah pada Tuhan.

“God is only one prayer away. God will be there to save the day.. Superman got nothing on him. God’s only one prayer away”

Hm, tentang kesetiaan ada baiknya didiskusikan dengan pasangan batasan-batasan apa yang bisa dan tidak bisa ditolerir.

Saya rasa di dunia ini mungkin tidak ada orang yang sangat setia, (kecuali tokoh-tokoh kartun seperti Kaoru Kamiya, Ran Mouri atau Sinichi Kudo) yang ada hanya orang yang pandai-pandai menempatkan diri. Kita harus bisa peka pada apa yang mungkin berpotensi mengganggu hubungan kita nantinya. Hindari, jauhi dan berikan batasan yang jelas pada diri sendiri dan pada potensi itu.

6. Be strong, independent, be your own hero.

Saat menjalani LDR, terkadang kamu akan merasa linglung, setengah kosong setengah berisi. Berisi itu kosong, kosong itu berisi. Punya pacar tapi kok malming ga ada yang ajak keluar.

Bagi saya yang pernah menjalani kehidupan sebagai seorang single sebelum menjalani LDR. Dua kondisi itu terasa tidak jauh berbeda. Kwkwkwk. Kemana-mana berangkat sendiri, ada masalah mau tidak mau mesti usaha dulu sendiri. Jadi seorang pejuang LDR kamu harus kuat fisik dan kuat iman.

Namun, ingatlah biarpun kamu mandiri, di suatu tempat nun jauh di sana ada orang yang merindukanmu dan kamu rindukan. 🙂 So, stay strong ya gaess!

6. Make time.

Tentu kita tidak selamanya LDR kan? Ada waktu dimana kita akhirnya bertemu, melepas berton-ton rindu yang membelenggu hati.

Saat bertemu, hargailah waktu yang ada. Don’t be so busy with your phone (kecuali memang telepon yang penting ya). Waktu kita dengannya hanya sebentar saja, jadi pastikan kita memberikan kehadiran yang berkualitas.

Inilah saat untuk membetulkan retakan-retakan kecil pada hati yang terbengkalai, memupuk rasa pada cinta agar ia semakin tumbuh besar dan lebih kuat untuk perpisahan selanjutnya.

So..

Para pejuang LDR, semoga kita semua bisa menjalani ini sampai akhirnya kita bisa kembali bersama dengan orang yang terkasih.

Semangat untuk kita, para pejuang penikmat LDR. Kita telah memilih cinta kita pada seseorang dibandingkan jarak dan rindu yang menyesakkan dada.

“Distance means so little, when someone means so much”

Saat kita mencintai seseorang ibaratnya kita memberi pisau kepada orang itu dan percaya dia tidak akan menghujamkan pisau itu kepada kita. Namun, apakah orang yang mencintai menjadi orang yang sebodoh itu untuk percaya? Love is blind? Mungkin, sebenarnya kita memberi pisau itu bukan karena kita bodoh lalu percaya. We love because love it self. Because to be in love is to be surrender.

May your love is bigger than anything.

with love,

Posted in BEC, LA LA LA THINGS, Self Reflection

[EF#20] Best Partner in Life

Let’s call this person as E, because we have the same initial name.

Who is E?

E is my friend ever after. I met E since I was child, when I knew how to use my frontal lobe part of brain. We were in the same elementary school, in the same junior high school and then senior high school. E also was in the same university and the same faculty. We are good friends till today and maybe for the rest of my life.

How does this person mean to me?

E is my great savior which help me overcome my life’s problem, but E could become my burden at the same time if I don’t be assertive. I would just hand over all of my matter to E and E will solve it fast and preciously. My friend is not a robot tough work result as good as robot, even better.

E could be a friend to everyone, but E always attach to me. Of course, we’re just like another half and in one soul. But, one thing that I should remember in maintaining our symbiosis is I need to tell E and teach E about everything I’ve learnt trough book or trough our experience together.

Beside God, E is my closest one but also the most forgotten person.

Sometimes I am too busy with my day and forget to talk to E and the next day I’ll feel that I’m losing E. The worst thing I’ve ever did to E is didn’t realize that E has done many things for me. Sometimes I become too hard to E, underestimate E. E usually support me, but I always forget to say thank you to E but this person is never mind with that. I help another person, I praise another friend but seldom talk up to E.  I’m easily to say ‘yes’ to another person, but usually become too hard to E. I fell in love to another person but seldom show some love to E. In the end, I’ll just say sorry and again E is okay with that.

After many thing that we shared together, I know that E is the kindest one to me (beside God, my family and best friend). Tough happy time or the bad times, tough in crowded or in lonely days. But until I realize this person to me, I never feel lonely again.

Beauty is so hard to see. Carried deep in things around us. Surrounding things like you and me. never goes away.

Where ever I go, I am not alone. Cause at the end of the day I always find my way.

Thank you E for every time we’re together. Thank you for becoming my best partner, E.. Eka Cahyani, myself at all. 😀

“Loving yourself is not vanity, it is sanity” – Katrina Mayer

Dear friend, have you love yourself enough?


This post is submitted for the 20th BEC challenge. Come and join Us :))

Posted in LA LA LA THINGS

“Cheers to a new year and another chance for us to get it right.” -Oprah Winfrey

HAPPY NEW YEAR 2015 🙂

This is my first post in this new year. I am wishing to all of you will have a better year in 2015.

In 2014, I got many things. Finally finished my round as co-assistant at December, a bit late but it’s okay. So many memories, good and bad. God always give me time to win or learn sometimes. I also got many new friends from blog. There are so many social media, but when you write and read a blog, you touch their heart, you can feel their heart too by reading their post. I meet great people, adventures, traveler, photographer, movie reviewer, writer all around the world. We have the same things we like : write and post. Some of them here, become my sisters. 🙂

This slideshow requires JavaScript.

And.. 2015. I have big task (big test) : UKMPPD (Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Pendidikan Dokter) a competency based examination for medical student before graduation as a doctor. I wish God will bless me and my friends in Ambidextrous, we can pass the exam in a right time then do our internship process in a right time.Amen, astungkara, svaha.

God, thank you for the last year. Welcome 2015 🙂