Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection

Random Thoughts

Om Swastiastu, good day good people

Semakin tua, rasanya Tuhan terlalu percaya bahwa saya orang yang kuat. Semakin berumur, Ia semakin gencar mengajari bahwa:

Apa yang Kuberikan mungkin bukan yang kau inginkan, tapi apa yang pasti kau butuhkan

Apa yang terjadi di hidupmu adalah sesuatu yang Kuijinkan terjadi demi kebaikanmu

Jika saya melangkah dengan dua pemahaman itu, maka saya tidak berhak merasa sedih, menyesal, marah atau emosi-emosi negatif lainnya atas kehidupan. Seperti sekolah, semakin tinggi kelasnya, ujiannya semakin kompleks. Semua ujian sebenarnya cobaan yang diulang-ulang agar kita manusia menjadi sabar, ikhlas, bersyukur dan tidak berputus asa.

Dan dari semua itu, inti pelajaran utamanya : penerimaan.

With love

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, Throwback Edition

“Say ‘thank you’ for even the bad, as hard as it might be to believe, it could have been much worse.” KhadimulQuran

Om Swastyastu, good day good people

Pernah tidak anda menggerutu karena hujan turun, tetapi kemudian bergembira setelah melihat pelanginya? Tanpa saya sadari ada banyak sebenarnya kejadian-kejadian dalam hidup ini yang serupa. Sesuatu yang tidak menyenangkan di awal, bisa jadi sebaliknya di akhir. Kita tidak suka ada kejadian A, tetapi berbahagia dengan kejadian B padahal B tidak akan terjadi bila tidak dimulai dengan A.

Mungkin memang sifat dasar kita sebagai manusia yang sukanya pada yang enak-enaknya saja, mau yang gampang-gampangnya saja sementara untuk mendapatkan hal itu kita harus melalui proses awalnya yang mungkin sulit dan tidak menyenangkan.

Sangat mudah untuk berterima kasih pada hal-hal yang indah, tapi tidak untuk hal-hal yang bermasalah. Hehe, saya sadari dan mengalami itu. Mungkin karena saya sering kali tenggelam saat berada di situasi yang tidak mengenakkan, tidak menyadari bahwa satu kejadian ini sebenarnya adalah salah satu bab dari berbagai peristiwa dalam sebuah buku cerita.

Saya ingat dulu ketika baru melahirkan anak pertama dan banyak mendapat bantuan dari keluarga dalam mengurus anak, saya sempat merasa sangat tak nyaman. Orang-orang berkata bahwa saya seharusnya berterima kasih dan bersyukur karena ada yang membantu. Setelah berjalan jauh dan setelah semua situasi berubah, saya yang kadang kelelahan ketika pulang kerja jadi sangat berterima kasih saat anak ada yang membantu mengajak bermain, dan sangat berterima kasih anak saya terurus dengan baik selama saya tidak berada di sampingnya.

Saya berhenti untuk menyalahkan orang-orang yang meminta saya untuk bersyukur ketika dulu. Orang-orang yang berkata demikian mungkin sebenarnya orang-orang yang berharap mendapatkan bantuan dalam mengurus anak tetapi harus berjuang sendiri. Dan tentu saja, mereka tak memahami situasi dan perasaan saya di masa yang lalu.

Saya juga berhenti untuk mempertanyakan dan menyalahkan diri saya yang tak mampu bersyukur kala itu, karena situasi sekarang dan saat itu berbeda, kebutuhan saat ini dan saat itu pun berbeda. Saat itu, saya benar-benar ingin menjalankan peran saya sebagai seorang ibu dengan baik, karena itu adalah pengalaman pertama saya sebagai seorang ibu. Ingin memandikan anak dengan tangan sendiri, menidurkan anak dalam pangkuan sendiri, memasakkan anak dan menyuapinya dengan tangan sendiri. Well, mungkin karena sempat lama menunggu kehadiran buah hati dan sempat harus berpisah pasca melahirkan membuat saya ingin memberikan sebanyak-banyaknya cinta yang bisa saya berikan untuknya.

Saat ini, setelah melewati banyak hal, yah meski belum dibilang banyak sekali hehe, belajar untuk mengurangi posesifitas pada anak dan belajar mensyukuri bantuan-bantuan sekitar dalam merawat anak. Meski banyak hal tak menyenangkan yang belum bisa saya syukuri, tapi satu persatu saya belajar untuk menikmati apa yang bisa saya syukuri. Mensyukuri waktu me time saat anak tidak berada di samping dan mencoba untuk menikmati waktu-waktu me time yang diimpikan banyak orang. Hehe.

Ada banyak hal tak menyenangkan di masa lalu yang menjadikannya satu bagian dari sebab saat ini. Saya membiarkan diri yang masa lalu untuk tetap di masa itu dan diri yang sekarang untuk hidup di masa ini.

With 💕

Posted in Fav Movie, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, STORY-OPINION, Throwback Edition, To think, TTR

FAST FORWARDED LIFE

Om Swastyastu, Namaste good people.

Apakah anda pernah berharap bisa pergi ke suatu masa? Masa depan atau masa lalu.

Sepertinya hampir semua orang pernah memiliki keinginan untuk pergi ke suatu masa yang bukan masanya. Keinginan itu tampaknya masih menjadi mimpi sebagian besar orang hingga banyak ada film yang bertema ‘time traveller’, mesin waktu, kotak pandora, pintu ke mana saja dan sejenisnya.

Salah satu film yang bertema serupa adalah film CLICK. Ada yang pernah nonton?

TUESDAY TIME REVERSE

TTR kali ini dipersembahkan oleh sebuah film lawas yang sudah tayang tahun 2006 silam. (Wow, sudah 13 tahun yang lalu ya, haha dan kemarin tayang lagi di HBO.

Film ini dibintangi oleh Adam Sandler yang berperan sebagai Michael Newman. Michael diceritakan sebagai seorang arsitek yang super sibuk. Ceritanya, si Michael ini dapat sebuah remote ajaib yang bisa berfungsi untuk mengontrol hidupnya layaknya remote tv. Ga suka sama scene hari ini, tinggal ‘klik’ tombol forward ke masa yang diinginkan. Seru ya.. Kalau saya punya remote ini, saya mau skip saat-saat saya mesti dicukit pas SD. Huahaha.

Kemarin saya nontonnya udah di pertengahan film saat si Michael bangun setelah menjalani operasi liposuction. Saat ia sadar, ternyata ia sudah dibawa ke masa dimana ia sudah bercerai dari istrinya, anak-anaknya sudah besar dan ayahnya sudah meninggal. Mengetahui fakta yang terakhir, Michael benar-benar terpukul. Ia berharap bisa kembali ke masa sebelum ayahnya meninggal, sayang hal tersebut tidak bisa dilakukan. Morty, sang malaikat maut yang juga pemberi remote ajaib hanya bisa membawa Michael ke saat di mana Michael terakhir bertemu ayahnya. Itu adalah waktu dimana si ayah berusaha membujuk Michael untuk datang ke rumah. Namun, sedikit pun Michael tidak menggubris ayahnya. Michael yang hanya bisa melihat scene itu, marah kepada dirinya yang terlalu sibuk, bahkan ia juga tidak menatap ayahnya. Mulai part ini, saya sudah tidak bisa membendung air mata, saudara-saudara. Hiks, teringat ayah dan ibu di rumah.

Michael kemudian mem-fast forward kembali hidupnya. Ia dibawa ke saat yang membahagiakan yaitu saat anak laki-lakinya, Ben menikah. Namun kemudian, hal tak menyenangkan yang lainnya muncul; Samantha memanggil Bill (ayah tirinya) sebagai ‘ayah’. Seketika Michael terkena serangan jantung. Ia terbangun di rumah sakit saat Ben dan Samantha menjenguknya. Ben mengatakan bahwa ia menunda bulan madunya karena pekerjaan yang harus diselesaikan.

Michael menyadari bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini salah dan ia tak ingin terulang pada Ben. Part berikutnya yang menguras air mata adalah saat Michael dengan sisa-sia tenaganya, terseok-seok dan tertatih, memanggil-manggil Ben dengan suara serak yang tenggelam dalam derasnya hujan di malam itu. Ben sudah memasuki mobil ketika Michael yang sudah lemah kemudian tersungkur tak mampu menahan sakitnya. Bersyukur Ben dipanggil sang Sutradara, sehingga ia berlari setelah melihat ayahnya yang sudah terbaring di jalanan.

Seperti mengucapkan kata-kata wasiat sebelum ajal menjemputnya, Michael dengan terbata-bata berkata pada Ben, “Family comes first.” Setelah kalimat terakhir itu terucap, Michael terbangun dari tidurnya dan bersuka cita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah mimpi.

Michael layaknya mendapat hidup yang baru, ia segera mencari ayah dan ibunya, istrinya, anaknya, dan anjing kesayangannya. Sejak saat itu ia berjanji untuk lebih menghargai keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Pesan Moral Film:

Harta yang paling berharga, adalah keluarga~

Something to Think :

Dalam hidup ini kita akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang tak mengenakkan dan hal yang menyenangkan secara silih berganti. Kata Guruji, bila kita berjumpa kebahagiaan di ruang tamu, di pintu belakang kesedihan sudah menunggu.

Terkadang, memang ada hal-hal yang ingin kita skip ke masa-masa yang tampaknya lebih menyenangkan. Namun, sebera jauh akan kita skip hingga melewatkan hal yang penting di dalamnya?

Setelah saya pikir-pikir, meskipun saya punya remote untuk mem-forward hidup, saya tidak mau mem-forward masa-masa SD yang menyenangkan hanya karena takut dicukit. Hahaha.

Ah, pada akhirnya masa-masa ini seberapa pun buruknya mungkin akan kita rindukan di masa yang akan datang, bukan?

Jadi seburuk apapun itu, mari kita hadapi dengan lapang dada dan bersyukur.

This is reminder to my self too.

Jadi, apakah kita lebih baik memilih mesin lorong waktu Doraemon saja ya? Hahaha.

with love,