Posted in blog competition, Earth and me, To think

Masihkah Ada Air Bersih Tahun 2030?

Good day good people

Air merupakan entitas alamiah yang sangat krusial bagi kelangsungan hidup organisme. Air tersedia melimpah di bumi tetapi hanya 1% yang bisa digunakan secara langsung untuk aktivitas manusia. Jumlah yang sedikit ini diperkirakan akan terus berkurang beberapa tahun mendatang. Data dari WHO memprediksi setengah dari populasi manusia akan hidup dalam kondisi kelangkaan air pada tahun 2025. Bappenas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 memperkirakan pada tahun 2030 akan terjadi kelangkaan air bersih pada beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Akankah kita yang selanjutnya?

Setiap hari kita sangat mudah memperoleh air bersih. Tinggal buka keran, air keluar. tinggal tekan tombol, air ngecor. Tarif air yang kita bayar perbulan pada PDAM juga rata-rata kurang dari 1% pengeluaran rumah tangga. Akses air yang mudah ini kadang-kadang membuat kita terlena. Hidupin keran sampai luber-luber, air masih mengalir meski lagi sikat gigi. Ibaratnya, “pokoknya ya pakai sesukanya lah. Toh kita masih bisa bayar.”

Saya sendiri mengakui bahwa saya pun kadang suka khilaf kalau pakai air. Apalagi pas mandiin anak. Siapa sih orang tua yang ngga pingin anaknya bisa gembira karena main dan berendam di kolam kecilnya? Sampai akhirnya saya denger obrolan di KBR tentang Ancaman Krisis Air Bersih. Ada beberapa hal yang disampaikan di sana yang membuat saya jadi tersentak, betapa kelalaian dan pemborosan yang telah kita lakukan selama ini terhadap air bersih akan merebut hak-hak air bersih untuk anak-cucu kita kelak.

Indonesia sendiri merupakan negara maritim dan secara geografis berada di daerah khatulistiwa. Ini memungkinkan Indonesia menjadi negara yang kaya akan air. Disampaikan oleh Mohammad Reza pada siaran KBR 22 Mei 2020, jatah air yang dimiliki Indonesia adalah 9 kali lipat jatah air bersih dunia. Namun, faktanya beberapa wilayah di Indonesia sendiri masih kesulitan air bersih. Pengalaman waktu saya pernah tinggal di Maumere, NTT, tidak semua rumah terpasang pipa PDAM. Saya dan suami membeli air bersih tiap 2 atau 3 minggu sekali. Harganya, waktu itu 150 ribu rupiah untuk 1000 liter yang kami pakai bersama 3 keluarga lainnya. Kalau pas air habis di hari minggu, kami baru bisa memesan keesokan harinya. Pernah tuh, malam hari kami ngga mandi karena air habis. Saat-saat seperti itu, baru terasa sekali betapa mahal dan susahnya dapat air bersih.

Data dari WHO menyebutkan di seluruh dunia diperkirakan ada sekitar 340.000 balita meninggal karena diare yang disebabkan oleh krisis air bersih, hampir 1000 anak per hari. Sekitar 161 juta anak menderita stunting dan malnutrisi kronis karena permasalahan sanitasi air. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia sendiri juga masih memiliki beban kesehatan yang tinggi karena kelangkaan air bersih. Salah satu kecamatan di Flores dilaporkan masih ada kasus stunting dengan salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya ketersediaan air bersih. Hal ini tentu akan menjadi semakin parah dengan ancaman kekeringan yang akan melanda wilayah tersebut.

Duh, tiap buang air sisa mandi anak, saya jadi teringat ada anak-anak lainnya yang saat ini mungkin sedang kesulitan memperoleh air bersih untuk sekadar minum.

Bagaimana Bisa Terjadi Kelangkaan Air?

Pasti ada yang nanya, air kita kan banyak dan konstan. Gimana tuh ceritanya bisa langka?

Ada yang masih ingat pelajaran siklus air waktu jaman sekolah? Mari kita refresh kembali. Air yang ada di permukaan bumi (danau, sungai, laut) dan es yang ada di kutub sebagian mengalami penguapan (evaporasi). Uap air juga dihasilkan melalui proses pernafasan makhluk hidup dan proses fotosintesis (transpirasi). Kumpulan dari uap air ini kemudian terkondensasi membentuk awan kemudian jatuh ke bumi (presipitasi) dalam bentuk butiran air atau es. Air yang jatuh ke bumi, sebagian berhasil terserap ke dalam tanah hingga mengisi ruang deposit air dalam tanah, sebagian lagi jatuh ke danau, sungai dan mengalir langsung ke laut.

Siklus Hidrologi

Saat ini, tanah-tanah yang menjadi daerah resapan air hujan telah beralih fungsi menjadi daerah yang didirikan bangunan. Tanah-tanah yang tertutup beton menghalangi proses penyerapan air hujan ke dalam tanah. Hal ini bukan hanya memicu terjadinya banjir tetapi juga menyebabkan cadangan air tanah semakin berkurang. Sumur-sumur harus dikeruk lebih dalam. Pasokan air semakin menurun dari segi kualitas.

Adanya perubahan iklim semakin memperparah kondisi kekeringan yang belum teratasi. Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca menjadi tidak tentu. Musim kemarau menjadi semakin panjang di beberapa wilayah sedangkan wilayah lain curah hujan semakin tinggi hingga menyebabkan kebanjiran.

Dampak lebih lanjutnya adalah timbulnya masalah kesehatan seperti diare, kolera, penyakit kulit, malnutrisi dan penyakit lainnya yang mungkin timbul karena kurangnya ketersediaan air bersih.

Bagaimana Mengatasi Kelangkaan Air?

Sayangnya, kelangkaan air bersih tidak sama dengan kelangkaan cabai atau beras yang kalau jumlahnya menurun bisa ditambah produksinya dengan intensifikasi. Salah satu cara untuk menambah pasokan air bersih adalah dengan memperbaiki cara pengolahan air. Negara lain yang memiliki cadangan air yang sedikit entah karena geografis tidak mendukung curah hujan yang tinggi atau sumber air yang kurang, memanfaatkan teknologi untuk mengolah air.

Salah satu contoh teknologi pengolahan air diciptakan oleh ilmuwan dari Politecnico di Torino, Italia. Teknologinya berupa sebuah alat yang melakukan proses desalinisasi, mengubah air laut (saline water) menjadi air bersih yang bisa diminum dengan memanfaatkan energi panas dari matahari.

Kita mungkin bisa bernafas lega mengetahui telah ditemukan teknologi pengolahan air laut agar bisa dikonsumsi. Namun, berapa ya kira-kira harga air hasil pengolahan dengan mesin itu nantinya? Sayangnya, Indonesia saat ini belum memiliki teknologi tersebut. Bahkan di beberapa wilayah yang mengalami kesulitan air bersih pun masih belum ada solusi yang tepat dan mudah untuk membuat Indonesia yang kaya akan air ini bebas dari krisis air bersih.

Sebelum kita merujuk pada apa yang seharusnya pemerintah lakukan, mari kita lakukan pelestarian air bersih sejak dini. Beberapa yang bisa kita lakukan diantaranya,

  • Menggunakan air seperlunya
  • Mematikan air keran bila tidak digunakan atau bila air yang ditampung sudah penuh
  • Memanfaatkan air limbah rumah tangga, misalnya air sisa mencuci pakaian untuk menyiram tanaman
  • Mengalirkan air ke tanah
  • Menampung air hujan untuk bisa digunakan di musim kemarau
  • Mengurangi penggunaan semen atau beton untuk halaman
  • Membuat biopori
  • Melestarikan hutan dan upaya-upaya untuk menghambat perubahan iklim

Hutan yang lestari tak hanya menjadi paru-paru dunia tetapi juga sebagai penjaga dari perubahan iklim. Hutan juga berfungsi dalam membantu penyerapan air ke dalam tanah yang nantinya akan keluar sebagai sumber mata air.

  • Membudayakan hemat air dan mengenalkan pentingnya menjaga kelestarian alam pada anak sejak dini

Semua kegiatan di atas mungkin tidak akan signifikan jika dilakukan perseorangan sehingga perlu adanya komunitas yang mendukung dan menjalankan gerakan pelestarian air. Pengaruh yang lebih besar bisa dilakukan oleh pemerintah selaku pembuat regulasi. Gencarnya pembangunan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan upaya untuk mempertahankan kelestarian alam. Pemerintah perlu secara aktif bersama lembaga masyarakat mendata daerah-daerah yang krisis air bersih, menyediakan penampung air, mengalirkan air ke rumah-rumah warga dan menjamin setiap warga negara memperoleh haknya atas air bersih.

“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Pasal 33 ayat 3 UUD 1945

Jadi, masihkah ada air bersih tahun 2030? Tergantung bagaimana perilaku kita dan pemerintah terhadap air dan lingkungan selama sepuluh tahun ke depan.

“The best way to predict the future is creating it”

Peter Ducker

Referensi:

https://www.antvklik.com/en/headline/krisis-air-bersih-meluas-warga

https://kumparan.com/florespedia/desa-di-ntt-krisis-air-bersih-tak-ada-listrik-24-balitanya-stunting-1smTG8JGwwc

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/drinking-water

https://www.who.int/water_sanitation_health/monitoring/jmp-2015-key-facts/en/

https://www.who.int/gho/phe/water_sanitation/burden/en/

http://gamapserver.who.int/gho/interactive_charts/phe/wsh_mbd/atlas.html

https://water.org/our-impact/water-crisis/

https://amwater.com/wvaw/water-information/water-learning-center/the-water-cycle

https://www.imnovation-hub.com/water/solar-powered-desalination-system-inspired-plants/

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Good luck!

with love,