Thank You for Thank You

Good day good people,

Today, I want to thank you to an old man who was wearing green t-shirt two days ago. I know it is late to say it. I should thank him on that day, but at that moment, I was too hectic that I didn’t have time to say “thank you”.

It was a busy day, as usual, emergency room was about accident and acute pain. I was on duty and my patient on that day was a victim from traffic accident. (do i use the correct word/grammar?). He was a senior doctor’s relative. When he came, he said that he felt numbness in both of his leg, he couldn’t move them. While he still could move his arm. After about 4 hour, senior doctor came to examine him. Now.. he couldn’t move his arm.

And.. yah.. We had different arguments.

Suddenly, another old man, I didn’t know.. said, “Doctor, thank you very much. The pain is gone”, he said with smiley to me and my friend. we didn’t know him, maybe we forgot because of too many patients on that day.

Simple word. But it so relieving..

As a doctor, you maybe can’t save all patient. Some had bad ending, but some are become better.

And to myself, you maybe lost, you maybe broke, you maybe feeling down, but everytime you fall, stand up! Get Up!

And to an old man wearing green t-shirt, thank you for saving my day 🙂


 

 

Advertisements

NRUT KCAB EMIRC

Pagi itu tidak secerah biasanya. Matahari yang baru terbit masih bersembunyi dibalik awan mendung abu-abu. Hari seolah masih pagi padahal jarum jam sudah menunjuk pukul 7.20. Hanya tinggal 10 menit waktu yang tersisa agar saya sampai tepat waktu. 

Saya lupa hari itu harusnya saya datang lebih awal karena ada apel mingguan. Namun, sudah telat mau bagaimana lagi. Tinggal siap-siap dapat teguran (lagi) dari Pak Waka karena tidak ikut apel. 😂 Sampai di UGD, para tenaga medis sudah mulai bubar dari halaman. Saya cuma bisa senyum-senyum aja, padahal malu juga rasanya ngga ikut apel. 

Pagi itu UGD agak sepi. Pasien datang satu per satu. Pasien yang poliklinis kami sarankan ke poli saja. Memang jadinya mereka harus menunggu. But, it is worth the wait, they will meet specialist! Doesn’t it better than meet general physician and then have to wait our consultation to specialist? Namun, tak semuanya yang datang kami tolak dan bawa ke poli. Pasien yang memang gawat dan perlu penanganan segera, as soon as possible: we treat you first!

Seperti hari itu. Suara mobil pick up yang berhenti usai melaju kencang, berdenyit keras di depan UGD. Perawat-perawat kami yang handal dengan sigap mengambil brankar dan memasukkan ke ruang UGD. Saya baru selesai memeriksa satu pasien dan segera menghampiri pasien baru itu.

Seorang pria dengan luka di kepala. Darah merah segar merembes dan menetes sampai ke lantai. Dari suaranya yang mengerang kacau, mata terpejam dan tangan yang gelisah, dapat disimpulkan ia mengalami cedera yang berat di kepala. Sesaat pasien muntah dan terdengar suara kumur di tenggorokannya.

Suction! Kami segera menyedot muntahan yang bisa menyumbat jalur nafasnya. Darah dan liur tampak melewati selang suction. Bersamaan, kami pasangkan oksigen memeriksa nadi, tekanan darah, pemeriksaan fisik cepat dan memasang infus. Tiba-tiba pasien kejang. Kami segera memberi obat anti kejang.

“Ia kami dapatkan di bawah, jatuh terpeleset dan kepalanya terbentur di tanah”, seseorang anggota keluarga memberi saksi.

Terpeleset dan membentur tanah? Saya merasa ada yang aneh. Sudah berkali-kali saya menemukan pasien jatuh di tanah, tetapi tidak dalam kondisi seburuk ini. Benjolan yang cukup besar di kepala dengan luka yang terus mengucur lebih sering dihasilkan oleh benturan yang keras.

Setelah pasien cukup stabil, luka dijahit luar, hanya agar jumlah darah yang keluar bisa diperkecil. Perlu ct scan untuk memastikan apakah terdapat perdarahan dalam kepalanya.

Kami segera memberitahu keluarga bahwa kondisi pasien dalam keadaan yang serius. Benarkah hanya jatuh di tanah? 

Dan keluarga akhirnya mengakui, bahwa pasien adalah korban pemukulan dengan besi. It make sense. This is a criminal case!

Memang, bekerja di UGD tak akan terlepas dari pasien-pasien yang memiliki latar belakang kasus kriminal. Baik itu korban maupun pelaku. Kondisi korban saat awal ditemukan akan menjadi bukti penting yang nantinya diperlukan oleh kepolisian. 

Saya segera menelepon dokter konsultan saya. Meminta instruksi selanjutnya. Jawaban beliau: Pasien perlu diintubasi dan segera dirujuk. 

Segera saya menghubungi dokter anastesi, mengkonsulkan pasien untuk diintubasi. Sesaat kemudian, beliau datang. Kami menyiapkan segala peralatan intubasi. Begitu pasien terintubasi, saya membantu bagging- memompakan udara ke saluran nafas pasien. Saturasi oksigen yang sebelumnya 88 mulai naik perlahan.. 90.. 92.. 96.. 98. 

Fuh…Baru sedikit longgar rasanya nafas ini ketika saturasi-kadar oksigen darah pasien naik, yang artinya perfusi-peredaran oksigen di darah kembali baik. 

Pasien segera kami kirim untuk ct-scan. Di dalam ruang radiologi, pasien harus tetap dipompakan udara. Namun, tak mungkin hal vital ini kami serahkan pada keluarga yang sama sekali bukanlah orang kesehatan. Mau tidak mau, saya harus tetap disana membagging pasien, menjaga agar oksigen tetap masuk ke paru-parunya.

Selama pasien di ct scan, otak saya memutarkan slide kuliah radiologi tentang efek-efek radiasi. Ah, saya hanya bisa tersenyum menyadari diri saya di dalam ruang radiasi hanya berlindung dengan rompi yang hanya menutupi dada perut dan setengah kaki. 

Saat itu, saya bertanya pada diri sendiri. Do I have a super power that can protect myself from radiation? Or am I a superhero that invulnerable to every dangerous things?

Satu-satunya hal yang saya tahu, saya hanya seorang dokter dan dokter adalah sama: manusia yang tidak memiliki kekuatan super. Mungkin hanya dengan niat yang sama seperti dokter lainnya : menyelamatkan pasien, seorang dokter akan tetap berada disana terlepas dari segala risiko yang bisa menimpa kami.

Setelah kurang lebih 5 menit, proses ct selesai. Ternyata benar terdapat tulang kepala yang patah, perdarahan di bawah tulang kepala yang luas hingga mendorong sebagian otak ke sisi satunya. Pasien ini harus segera dirujuk!

Ambulan melaju kencang, suara sirine menderu. Saya dan seorang perawat bersama dua orang anggota keluarga pasien berada di dalam ambulance. Genting. Kami berpacu dengan jarak dan waktu. Bisakah kami sampai di rumah sakit tujuan dengan pasien kami? Sanggupkah ia bertahan? Pak…bertahanlah! 

Sepanjang jalan saya melihat ke alat pengukur saturasi. Lamat-lamat berdoa, jangan sampai saturasi turun. Perjalanan satu jam itu terasa sangat lama.

Ketika kami sampai di rumah sakit pusat rujukan, kami segera mendorong pasien ke ruang UGD. Dokter-dokter bedah segera mengevaluasi pasien kami. Seorang dokter menanyai saya mekanisme cedera pasien ini. Usai memberikan segala informasi, kami pun kembali ke ambulance. Bersiap-siap untuk kembali pulang setelah hari yang cukup menegangkan.

Selamat hari sumpah pemuda!

Semoga, siapapun diri kita, apapun profesi kita, kita tetap berjuang dengan segala kemampuan kita untuk negeri kita Indonesia. 

Indonesia mungkin tidak sempurna, tetapi Indonesia layak untuk diperjuangkan – Panji Pragiwaksono

Karena satu hal yang bisa kita lakukan untuk memajukan negeri adalah dengan melakukan usaha terbaik dalam setiap tindakan kita. Ok.. selanjutnya, mungkin saya perlu memperbaiki time management saya agar tidak telat lagi untuk ikut apel. 😂 Forgive me

With love,

 

Dibalik Bilik Ruang Resus

Hari ini saya ingin menyatakan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk keluarga pasien yang hari ini ditinggalkan.. Ditinggalkan oleh seorang istri, ditinggalkan oleh seorang menantu.. dan untuk anaknya yang masih belum satu tahun: ditinggalkan seorang ibu.

Sore ini saya bertugas di UGD. Cuaca mendung disertai gerimis tipis sedari siang namun tidak membuat surut kedatangan pasien-pasien ke unit gawat darurat hari ini.

Bahkan ada yang batuk, pilek, yang sebenarnya bisa ditunda sampai besok di poli, tetap tak bisa terbantah untuk meramaikan UGD. Apadaya.. tentu isi pikir saya tak berbeda dengan pasien-pasien saya. Siapa sih yang mau menunda untuk sembuh? So, welcome to our emergency unit eventough your problem is not too emergency anyway. ☺

Saya tengah memilah hasil pemeriksaan lab ketika tiba-tiba terdengar klakson motor dari depan pintu UGD disertai teriakan, “Pak Dokter! Bu Dokter! TOLONG!!”. Kami segera menghampiri suara itu, segera memindahkan seorang wanita yang dibopong ke brankar. Ketika melihat pasien ini, kami tahu bahwa kami harus segera mendorong brankarnya ke bilik resusitasi.

Tiada nadi, tanpa nafas. Kami bergegas melakukan RJP, memasang oksigen, memasang monitor, memasang infus. Asistol, tidak ada gelombang yang timbul pada monitor. Saya dan senior segera melakukan tatalaksana sesuai ACLS, yang sudah kami ikuti bulan lalu. 

Saya tidak tahu bagaimana rasanya menolong orang yang tenggelam, tetapi saat itu saya merasa ikut sesak, berusaha berpikir dengan cepat, melakukan semua yamg bisa dilakukan hanya untuk satu tujuan: pasien selamat.

Berkali-kali kami melakukan pijat jantung, memasukkan obat, namun.. tubuh pasien ini tidak memberi respon. Hingga akhirnya senior kami menyatakan bahwa refleks batang otak sudah tidak ada, yang artinya nyawa pasien ini sudah tidak dapat tertolong.

We have tried our best..all efforts that we can, but God may have a different way.

Disana, di samping brankar ada suaminya yang sudah sedari tadi memegang tangan pasien. Di belakang ada mertua dan ipar-iparnya.

Sebagai seorang yang pernah berada di posisi keluarga pasien, saya tahu betapa berat untuk mendengar sebuah kenyataan yang tidak pernah ingin kita dengar. Namun, di saat itu adalah kewajiban kami untuk memberitahukan kenyataan bahwa pasien sudah berpulang.

Isak tangis teriak terdengar dari laki-laki yang sejak awal terlihat cemas di samping pasien. Mereka adalah orang tua dari seorang bayi yang belum genap setahun.

Saat menulis kembali catatan medis pasien, saya melihat bahwa pasien sebaya saya. Saya hanya bisa terdiam menyadari bahwa kehidupan tak pernah memilih waktu untuk meninggalkan.

Pikiran saya kembali terbang pada keluarga yang ditinggalkan. Langit mungkin sudah tidak turun hujan, tapi entah bisakah wajah-wajah para keluarga dan orang terdekat menyingkirkan mendung yang baru saja hinggap?

Semoga keluarga diberi ketabahan..

Hari ini saya teringat dengan kata-kata yang pernah diucapkan oleh sepupu saya

Kita tidak pernah tahu bagaimana hari esok.

Jadi lakukanlah yang terbaik hari ini juga

With deep condolence.
Hari ini 24 Oktober 2016, Hari dokter nasional.

Kami tahu kami bukan Tuhan, bukan penentu hidup mati seseorang. Terkadang, diantara pertarungan hidup dan mati itu kami ingin menang: membawa pasien kembali pulang, sembuh, siuman.

Namun keadaan kembali mengingatkan bahwa dokter tak lebih hanya manusia, yang kadang kecewa saat kami harus kalah di depan kematian pasien kami. Hanya usaha terbaik yang telah kami lakukan dan permakluman keluarga menjadi obat pereda rasa pahit itu.

Untuk TS dimanapun berada: tetap semangat melayani sesama!

A piece of Betel leaf

Good day good people

Ah.. beginilah kalau lama jari jemari ini tak pernah menyentuh keyboard: beku.. Bahkan untuk membuat satu paragraf saja rasanya seperti memeras lemon dengan jari kaki. Jangankan ngetik bahasa Inggris kaya dulu..buat paragraf dalam bahasa Indonesia saja sudah mirip jalannya bajaj kehabisan solar. Hiks..

Lebih tepatnya, bukan jari yang beku. Bukan. Ini bukan osteoartritis atau frozen finger. But, my brain especially my language part of my brain: oh My precious Wernicke and Brocca… Hypotrofi? Oh No no no!. T.T (nangis guling-guling). I have to warm up again and start to learn writing, because I feel like losing my self when I lose my ability to write and also my english world. (BIG NO)

I few days ago, father asked me to translate a student’s school task “write your story in English”. A student came to our internet cafe, she wrote her story in Indonesian language and brought it to our warnet. Yah, I was the person in charge in our internet cafe as the Indonesian-English translater so dad gave those person’s task to me. I wondered, why student now don’t use dictionary and do their homework by themselve instead of bring it to translater? Okay.. it may become the source of our income but, how will be the future of Indonesian generation if they always choose instant problem solution?

 

 

My Sweet Home

Good day good people

Tak terasa kita sudah di bulan September. Oh ya, hari ini adalah hari Manis Galungan. Satu hari setelah hari raya Galungan. Galungan kali ini menjadi Galungan yang spesial, yang akan saya kenang di Galungan-galungan berikutnya. Sebenarnya tidak ada yang berbeda perayaan Galungan kini dengan Galungan yang sebelumnya, hanya saja mungkin Galungan berikutnya akan berbeda. (Hahaha, apa sih.)

Sepertinya feeling ini pun juga dirasakan adik saya semata wayang: Dwi. Sehingga untuk pertama kalinya si bungsu ini mau berfoto dengan saya. Dan eh.. kami akhirnya membuat sebuah foto keluarga, saya, adik, dan kedua orang tua kami. Kenapa ngga dari dulu sih kaya gini? Hahaha, jadi makin berat kan..


Hm..oh ya, ini bangunan baru di rumah kami. Aji dan ibu benar-benar mengusahakan agar kami memiliki bangunan ini. Yah.. biar jadi tempat duduk untuk para tetua kalau ada acara-acara di rumah. Dulunya, tempat dimana kami berdiri ini adalah lapangan basket. Duh.. jadi kembali teringat dengan masa-masa kecil dulu.

Di sini, di rumah ini saya tumbuh besar. Di halaman rumah inilah dulu little me berlari dari ibu yang memaksa mandi, di halaman ini pula Aji dulu mengajari saya naik sepeda, halaman tempat saya dulu menanam tomat lalu sok jadi ilmuwan mengukur besarnya tomat, halaman tempat saya dan teman-teman bercucuran keringat main bola basket, dan.. so many things that across my mind about my childhood here.. :’)

Inilah tempat yang menjadi saksi diri saya bertumbuh besar (meskipun masih tetap kecil sih, hahaha), tempat inilah yang menaungi saya ketika panas dan hujan, tempat yang menyaksikan betapa kasih sayang dan cinta sejati kedua orangtua itu ada dan nyata.. :’)

In the end, home is not just a place where you live but people you live with. :’)

 

 

The Painful Truth

Good day good people

It was the day after my crowded night shift. I felt like my body was wrecked, stood and walked around all night long and only had 1 hour slept. I had waiting my friend that would subtitute me on that morning. 7.30 am She came on time. It was a blessing for me that It was mean the end of my shift.

But, eventough she came, I still had job to copy some of symposium’s things. So, I couldn’t go home but went outside to copy.

I cameback to ER after copying to collect it to my friend, but suddenly I saw my uncle in resusitation room. My heart beat fast; I knew it was mean bad thing. I went closer and saw my friends, my senior was trying hard to do cardiopulmonary resuscitation. Aunty said, uncle has a history of cardiovascular disease.

I knew..it wasn’t good.

Then one by one, my senior stopped. I knew.. It wasn’t good.

And when they said, they had tried their best. I knew..

And when they showed me the flat ecg.. 

My heart begged, please.. Please don’t say. Please don’t say it!

– I wasn’t ready to hear that word to someone that I know-

“The time of death is.. Confirmed by the flat ecg..”

It was after a night shift. I hope it was only a nightmare because I felt asleep and when I wake up, everything just fine like before…

But, it was not. It was real and it is painful.

***

After uncle’s cremation 4 days later, my feeling got better. Still sad but to think that uncle’s procession was a half finisihed, it would be easier. I couldn’t attend all of the cremation ceremony’s procession because I had to go to hospital, for a night shift duty.

The night shift was the same as usual: crowded. But, I and seniors managed ourself so we could sleep in a different time. Although, in the morning, I still got dark circle in both of my eyes.

I arrived at home and got unconscious: hibernation lika a bear till the sun set in the evening. What a girl..

Suddenly, someone came and told me to examine another uncle because he was sick. I took my equipments like steto, spigmo and some medicine. I thought, it wouldn’t take so much time.

When I arrived, I saw uncle just like a confuse person. He didn’t replied to my question. The others person who was there said that uncle was had a convulsion before.

He should be good after a convulsion, but he still like a confuse person. I said to them that we need to took him to ER, so at least he could get oxygen or normal saline.

My senior examined him. After all of examination, she gave me her diagnosis that it was a cerebrovascular accident due to AF. I knew.. It was a bad news..

I was not ready, to hear such a word. My logic was collide. At that time I couldn’t think like a medical person. I denied anything I knew about it. Now I know, that was the feeling of patient’s family that can not accept a bad prognosis. As a doctor I know that however bad the prognosis should be told, but in the deep of heart, I still hope for a miracle.

I and my aunty and my cousin were stayed beside my uncle. I saw how his condition was deteriorated, but with his condition all we can do is waiting for uncle’s response. All medicine was already injected. Through his prognosis, I keeped hope.

That night was raining, a heavy rain. I got a call from my cousin. He said that uncle’s condition was worse. I was at home at that time. I called my friend in ER to come first while I in my father were heading to hospital. My friend was already there, said that my uncle’s was no response.

I am scared. I didn’t wanna hear again..

I arrived in hurry in hospital. I was late.. 

I heard them were crying, I saw all of medical device were detached from uncle’s body. 

“Cah, I am sorry, just now your uncle was apneu (didn’t breath). We already did cardiopulmonary resuscitation but it couldn’t help” my friend said.

And, this painful truth asked our patient, to be patiently accept the truth.

Life asked death,

Why do people love me but hate you?

Death responded, 

Because you are a beautiful lie and I am a painful truth.

Embrace The Journey

“So often, we become so focused on the finish line, that we fail to enjoy the journey”-Dieter F. Uchtdorf

Good day Good people,

Here we are, August 2016. I almost get lost from my blog about two months. Where was I? I have been in Emergency Unit as an emergency doctor.

I had transferred from a community health center to emergency unit since a month ago, from a slowly life (I mean, stabilize patients, can talk fluently) to the atmosphere where blood easily be found, naked wound, bone exposed, to unconscious patient with no heartbeat, where all of patients’ family stressed in worry, in hurry and sometimes hysteria. To say in a sentence: lot of tension.

I got ‘jet lag’ at the first week. maybe it just the phase of denial, hahaha. I almost stressed out and got sick. I had my body’s temperature 38 degree Celsius. You know, I had worried that I get dengue fever and have to check my full blood count (No! I don’t want!! I don’t want to be sick.. Who will help the patient then? *Honestly, I don’t want to be injected. hahaha)

The other thing that also got my time was my job as a secretary of a symposium. Hah, I forgot to share the pamphlet here. It was about Diabetes Mellitus and we got 8 speakers! Amazing right!

Dear J

love-letters1
(source)

Dear J,

How are you now? I hope you are doing fine. Long time  no see, I don’t know where are you right now, exactly. (Even we just met 2 days ago, but it feel so long and even I know you are in Jkt right now, hahaha).

I know you will laugh at me because of this letter. (I can hear you lough loudly there. –“). But it is okay. laugh is always good for our health. I want to write a letter for you. As you know, this is one thing that I am good at.

It has been one year since we knew each other for the first time. Many things happened in my life. Sometimes I become mad, sometimes my behavior just like a 5 years old girl. Angry, crying, jealous and all unreasonable things of me, Thank you for always listening and always understanding.

Sometimes, we had an argument and that hurt us, hurt each other. I am so sorry for all the bad thing I did. :(. Thank you, that you never give up on me, on us. When everyone see me as an angel, you are someone who know that I am still human that have imperfection, know all my bad side. Know that I can be mad, sometimes. But, you always say that it is okay and cheer me up when I feel sad. :’).

You know that I am not good at cooking, you know that I am not good at dress up. But you always say that I am a beautiful woman, (Hey, J..let’s go to check your vision, hahaha),say that I am a woman that you can live with, build a home together. :’) (I promise, I will learn how to cook. 😉

Thank you for making me laugh and make me smile everyday. You always try to make a joke to brighten up my day, to lift up my mood, throw away the black cloud above my head. :’). Hey J.. now, I can smile and show up my teeth). 😀

For all this time together, thank you. Thank you for becoming such a good person for me :). Thank you for loving me with all of my perfect imperfection. Thank you to make me feel that I am deserved to be loved. :). Hey J.. You are mean so much for me too.

(Thank you God, for sending him to save me:) )

I wrote this letter to celebrate our first year togetherness. 🙂

with so much love, ❤

 

your chococo:D

Deal with Insecurity

Good day good people,

What is insecurity? Insecurity is a feeling of uncertainty, lack of confidence or anxiety about yourself. Have you ever feel insecure? Everyone once feel it, me too. Sometimes, because of some reasons, we feel insecure, feel incapable and feel that we are inferior compare to any other person. The other person seems like do better than us, more talented, more beautiful and soon.

But, hey. When you think you have many reasons to say that you are inferior, please stop for a while and look deep inside to yourself. We born to this world, because of important reasons.

Do you know, even the small bolt has important role in a big car.

Here are some good and inspiring video that I found in Youtube that can alleviate that insecure feeling. 🙂 Hope it helpful.

Something to think.. Sometimes we forget that we were born with our talent that different to others. Everyone has their flawless beside their imperfection. Nobody is totally perfect, but they are perfect just the way they are, and we are too.

If we compare our self to the other, we’ll find so much thing that we don’t have, but we forget that they, she or he also didn’t have what we already have. That is the thing that we never realize.

Maybe, you are not confidence to yourself. Please, Don’t do it. Be confidence to yourself.believe that you are enough. You are loved. 🙂

You are perfectly imperfect- Michelle Phan

Then.. How to build your confidence by Michelle Phan 🙂

 

because we are amazing, just the way we are.

with love,