Posted in LA LA LA THINGS, To think

Tips Zero Waste Life Style, No 3 Mau Anda Coba?

Om Swastyastu, Namaste…

Suatu peraturan baru memang selalu akan menuai pro dan kontra. Sebijak apapun suatu kebijakan akan tetap ada yang merasa bahwa kebijakan itu tidak bijak terhadap segelintir orang.

Begitulah yang saya rasakan saat itu ketika saya secara tidak sengaja mencuri dengar obrolan dua orang ibu di pasar tentang Peraturan Walikota Denpasar No.36 Tahun 2018 tentang larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Ibu A : “Susah, kalau mau nerapin. Gimana kita para pedagang canang? Bungkus canang pakai apa?

Ibu B: “Iya, kenapa harus ada peraturan kaya gini. Dari dulu-dulu biasa pakai kantong plastik, tidak ada masalah kan?”

Hm. Sepertinya Ibu B belum baca artikel National Geographic yang Plastic or Planet nih, batin saya. Intinya, dari pembicaraan itu, ibu-ibu tersebut menyatakan kesulitan dengan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Sering kali bukan peraturannya yang mempersulit, tetapi kemalasan kita untuk berubah lah yang membuatnya terasa sulit. Jika melihat permasalahan yang dikeluhkan ibu-ibu tersebut, sebenarnya pedagang diuntungkan karena mengurangi biaya untuk pembelian kantong plastik. Ibu pedagang bisa saja menggunakan wadah yang besar untuk menyimpan canang (satu kantong plastik yang besar untuk dipakai berkali-kali sampai ga bisa dipakai, atau pakai keranjang bambu) dan ibu pembeli bisa membawa kantong reusable khusus canang.

Namun, memang susah ya mencabut kebiasaan yang sudah mengakar sejak lama. Bukan hanya ibu-ibu tersebut, saya pun masih pakai plastik sesekali *lalu timbul pergolakan batin antara save the world but I need this, huhu. Semoga kedepannya saya beserta ibu-ibu tersebut bisa bener-bener lepas dari jeratan plastik.

Zero Waste/Minimalist Lifestyle

Beberapa waktu lalu saya lihat di akun Mashable tentang seseorang yang menerapkan zero waste life style.

Zero Waste lifestyle adalah gaya hidup dengan minim atau tanpa produk sisa sama sekali. Seperti beli kopi setarbak gitu, trus dimakan sampai ke cupnya biar ga bersisa. Wkwk. *Ditabok netijen.

Gaya hidup zero waste memungkinkan kita untuk menghasilkan limbah yang lebih sedikit dibanding orang-orang yang tidak menerapkan zero waste.

Seperti yang kita tahu, sampah dan limbah yang dihasilkan manusia tiap harinya semakin menumpuk dari waktu ke waktu. Belum lagi sampah plastiknya yang perlu waktu ratusan tahun untuk terdegradasi. Belum pula dampak lingkungan dan gangguan kesehatan karena gas beracun yang dihasilkan selama proses penguraian.

Konsep Zero Waste, gambar dicopot dari google.

Gaya hidup Zero waste ini seperti rada-rada mustahil ya untuk dilakukan tetapi sudah ada lho seorang warga New York yang menerapkan zero waste life style bahkan memiliki toko yang menyediakan segala perlengkapan dan kebutuhan untuk orang-orang yang juga ingin menerapkan zero waste.

https://twitter.com/mashable/status/1163195614303141888?s=09

Sebenarnya, gaya hidup zero waste bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi jumlah sampah di dunia ini. Namun, hal ini sepertinya masih susah diterapkan di Indonesia ya berhubung kita masih memerlukan produk-produk rumah tangga yang tempat produksinya nun jauh di sana.

Yup, kita terkendala distribusi produk. Produk-produk yang cair, yang berupa serbuk, yang tidak tahan panas, yang tidak boleh terkontaminasi, tentunya memerlukan packaging yang khusus. Paling tidak packagingnya mesti logam (jika tidak mau menggunakan plastik), tetapi hal tersebut tentu tidak efisien yang berujung pada pembengkakan biaya produksi dan meningkatkan harga barang.

Namun, bukan tidak mungkin juga sih. Kalau konsep tokonya seperti toko Lauren Singer dan menjamur seperti toko Indomaret, zero waste life style pasti bisa diterapkan oleh semua rumah tangga. Jadi, orang-orang tinggal yang mau belanja membawa serta botol/kotak sendiri dari rumah. Tampaknya ribet ya? Tetapi ribet sedikit demi kehidupan yang lebih baik kenapa nggak ya kan? Kita udah terlalu manja dengan keberadaan plastik.

Mensiasati Agar Bisa Zero Waste Life Style.

Memang sih, kita tidak akan bisa langsung drastis apa-apanya jadi zero waste, no. Tetapi bisa dilakukan pelan-pelan. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan dalam upaya zero waste life style.

1. Membawa Bekal Makan Sendiri

Ini saya sadari setelah beberapa kali pesen makanan via gofood atau grabfood. Beberapa makanan packagingnya kotak kertas tetapi ada juga yang styrofoam. 😦 Alangkah bagusnya kalau bawa bekal home made dengan kotak makan sendiri ya. Oke, bagi yang protes nanti mengurangi rezeki orang, mungkin bisa dibuatkan inovasi si abang ojol bawa kotak makan reusable. Eh tapi ribet juga ya dan ga terjamin kehigienisannya. 😦 Ada ide?

2. Bawa Kotak Makan Sendiri/ Tumblr sendiri kalau mau Take Home

Jadi, dalam zero waste itu hukum pertamanya adalah menolak pemberian packaging baik plastik non plastik. So, mesti bawa piring dan tumblr kalau mau makanannya dibungkus bawa pulang.

3. Membuat Bahan-bahan Sendiri

Tips ini bagi yang sudah zero wastenya sudah sampai di level Buddha mungkin ya. Jadi, pasta gigi diganti garam dan sirih, deterjen diganti daun lerak, bedak diganti beras tumbuk, pokoknya semua alami. Bahkan kalau bisa sayur, buah, dan bumbu-bumbu dapur ditanam dan dipetik sendiri. Wah, jadi mirip Liziqi dong ya.

4. Mengganti Sekali pakai dengan Reusable

Diapers sekali pakai diganti dengan clothes diaper (diaper dari kain), pembalut sekali pakai diganti dengan pembalut kain atau tampon, kapas sekali pakai diganti dengan wash lap/ sponge yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Jika ini diterapkan, sepertinya kita juga butuh satu alat sterilisator.

5. Membeli dalam Ukuran Yang Besar

Jika kita memang masih sangat tergantung dengan produk-produk rumah tangga yang terbungkus plastik, lebih baik membeli dalam ukuran yang besar. Selain lebih ekonomis dari segi harga, juga mengurangi kemasan plastiknya.

6. “Ambil favoritmu secukupnya, habiskan yang kamu ambil”

Kalau tidak salah saya dapat kata-kata itu di restoran Hanamasa. Untuk bisa zero waste, paling tidak kita harus menghabiskan yang kita pakai dan akan lebih mudah menghabiskan sesuatu kala itu memang kesukaan atau favorit kita kan? Yang pasti, suka tidak suka ambil secukupnya saja dan habiskan. Hehe. Tapi jangan dimakan sampai ke bungkusnya juga ya.

Yah, saya sendiri belum sepenuhnya bisa menerapkan semua itu. Mudah-mudahan seiring berjalan waktu dan pelan-pelan bisa seminimal mungkin menggunakan plastik dan mengurangi sampah dari kebutuhan diri sendiri.


Maafkan judulnya yang sudah kaya judul-judul konten di media berita online ya. Hahaha.

Let’s save the world.

with love ❤

Posted in To think

Profesi Kita terganti Mesin dan Aplikasi, Serius?

Om Swastyastu, hai good people!

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan “Selamat hari raya Galungan dan Kuningan untuk teman-teman umat sedharma yang merayakan”. 🙂

Berbicara soal hari raya, rasanya hari raya terasa kurang lengkap kalau tanpa baju baru. Ada ngga sih di sini yang tiap deket hari raya mesti rempong nyari pakaian anyar? Biasanya, kalau hari raya Galungan akan segera tiba, saya dan ibu dari jauh-jauh hari sudah wara-wiri beli kain kamen, kebaya dan nyari penjahit kebaya. Tujuannya tak lain dan tak bukan supaya kami punya baju baru untuk maturan ke pura. Hati udah brand new, pakaian juga ikut brand new kan, demi menyemarakkan kemenangan dharma melawan adharma. Plakkkk! *alesan maneh*

Namun, itu dulu. Semenjak punya anak, tradisi itu sebisa mungkin saya batasi dan nyari alternatif yang lebih ekonomis: beli baju yang udah jadi. *SMH, ternyata tetep beli baju baru* Sekarang banyak toko-toko yang menjual baju kebaya yang sudah siap pakai dan harganya pun lebih murah bila dibanding beli kain plus jarit ke penjahit. Saya jadi berpikir, kalau baju-baju tersebut dicetak jadi oleh mesin, bagaimana nasib para tukang jarit? Hm, kecuali si penjahit bisa berekpansi usaha sebagai penjahit dan penjual pakaian jadi.

Kali ini kita akan membahas sedikit tentang hal tersebut. Selebihnya kita akan membahas topik utama kita yang masih berhubungan dengan mesin dan kawan-kawannya. Seiring kemajuan jaman, beberapa profesi mulai perlahan bisa tergantikan oleh mesin atau lebih kerennya, terganti oleh kecerdasan artifisial.

GGR ganteng ganteng robot 🙄

Sekilas tentang Kecerdasan Artifisial

Oke, kita bahas dulu apa yang disebut dengan kecerdasan? Bagaimana mendefinisikan dan mengukur kecerdasan, apakah dengan suatu tes baru bisa menentukan kecerdasan? Atau berdasarkan kemampuannya dalam menalar sesuatu? Hm.

Menurut Andreas Kaplan dan M. Haenlein, kecerdasan artifisial adalah kemampuan suatu sistem untuk menafsirkan data dari luar (eksternal) dengan benar, menggunakan data tersebut dan mempelajarinya kemudian menggunakan hasil belajarnya untuk beradaptasi dan menyelesaikan suatu tugas dengan benar.

Kecerdasan artifisial disebut sebagai kecerdasan entitas ilmiah, sering juga disebut intelegensi artifisial secara umum terbagi menjadi dua, yaitu IA konvensional dan Kecerdasan komputasional. IA konvensional dalam prosesnya menggunakan metode-metode seperti sistem pakar (memproses data dalam jumlah yang besar lalu memberikan kesimpulan berdasarkan data yang ada), pertimbangan berdasarkan kasus, jaringan Bayesian (suatu model statistik yang memuat variabel dan hubungan bersyaratnya; untuk menentukan probabilitas munculnya suatu keadaan karena ada faktor yang bersangkutan) dan IA berdasarkan tingkah laku.

Sedangkan kecerdasan komputasional di dalam prosesnya menggunakan melibatkan data empiris yang diasosiasikan dengan IA non simbolis, IA yang tak teratur dan perhitungan lunak. Metode yang digunakan diantaranya jaringan saraf, sistem fuzzy, dan komputasi evolusioner.

Udah pada keblinger belum?

Intinya…semua metode-metode tersebut adalah yang melatarbelakangi bagaimana suatu kecerdasan artifisial mampu bekerja sesuai fungsinya. Semacam program-program komputer atau aplikasi yang entah bagaimana dibuat sama programmer mampu mempermudah kehidupan manusia.

Sungguh menarik ya? Manusia bisa membuat ‘makhluk lain’ yang kecerdasannya hampir bisa menyamai kecerdasan manusia bahkan dengan ketelitian yang lebih presisi.

Profesi yang Bisa Digantikan Oleh IA

Pesatnya kemajuan teknologi dan internet telah membawa dunia ke dalam genggaman tangan kita. Semua hanya tinggal cari di apps store. Dari makanan, minuman, baju dan segala keperluan rumah tangga bisa dipesan lewat gawai. Bahkan, jodoh pun kayanya udah ngga di tangan Tuhan lagi, tapi bisa ditemukan di T*ntan, T*nder dan aplikasi sejenis. Sepertinya Tuhan juga pindah ke aplikasi ya? Wong orang berdoa aja lewat sosial media. Eh!

Jadi, profesi apa saja yang bisa digantikan oleh IA?

  • Tenaga Medis: Dokter digantikan oleh Babylon, Alodokter; Psikolog digantikan oleh Ellie.
  • Staf Finansial: akuntan digantikan oleh Smacc
  • Asisten Pribadi: digantikan oleh google assisstant, todolist, dan aplikasi lain yang dapat mengatur jadwal, reminder, pencatat.
  • Customer Service dan Human Resource, digantikan oleh chatbot FlatPi dan Mya.
  • Editor digantikan oleh Bold dan Jurnalis digantikan oleh Wordsmith.
  • Pengacara digantikan oleh Ross.
  • Supir Taksi digantikan oleh mobil autopilot dari Tesla.

Waduh, profesi saya sebagai dokter terancam punah. Apakah profesi anda juga?

To Think:

Ternyata, ada banyak profesi ya yang bisa digantikan oleh kecerdasan artifisial. Tampaknya profesi-profesi yang dalam kesehariannya menggunakan logika, matematika dan ‘kecerdasan otak kiri lainnya’ perlahan akan menemukan saingannya dalam bentuk program, aplikasi, robot dan mesin.

Sementara, profesi-profesi yang mengutamakan kecerdasan otak kanan (seperti pelukis, komposer musik, designer) yang berhubungan dengan abstrak, imajinasi dan kreasi masih jauh dari ancaman tergilas intelejensi artifisial.

Lalu, bagaimana dengan kita, orang-orang yang telah memilih jalan sebagai orang yang berprofesi dengan mengandalkan kecerdasan otak kiri? Apa nilai unggul kita yang mampu melebihi mesin yang bahkan jauh lebih akurat dari kita?

Jawabannya, hati.

Jangan pernah lupa, bahwa kita berhadapan dengan manusia. Setiap manusia akan terkoneksi oleh ‘hati’ dan terkadang hanya itu yang dibutuhkan oleh manusia: dihargai dan disentuh hatinya. 🙂

Klise ya. Tapi, di jaman semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing, mungkin masih ada orang-orang yang lebih berharap dilayani oleh kasir yang ramah, dokter yang empati, ah.. who knows.

Thanks for reading, with love 😊

Referensi:

Bagi yang tertarik lebih dalam soal kecerdasan artisial boleh cus ke link-link di bawah ini ya.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_buatan

https://www.technologyreview.com/artificial-intelligence/

https://www.qerja.com/journal/view/830-10-profesi-ini-diprediksi-akan-digantikan-kecerdasan-buatan/

Posted in Self Reflection, To think

The Month of Independency

I walked down the street this afternoon and realized that there was a different view from usual day. There were many national flags with various size decorated the street. Red and white flags spread the atmosphere of Indonesian’s independence day that will be celebrated on August 17th.

It has been 70 years, already. The rumor of this country is still the same : not all Indonesian people have got “the real independence”, the real freedom. In some places, there are many children who can’t get education, there are many people who live in poverty, without good home and good food. Ah, it is easy to criticize, isn’t it?

Although all of that imperfection, this is the country where I was born twenty and something years ago. A place where I have eat their rice, drink their water, breath the air. I LOVE INDONESIA, and still love till the time comes to close my eyes.

“Don’t ask what your country can do for you, but ask yourself what you can do for your country” – JF Kennedy

Posted in STORY-OPINION, To think

[EF#15] GAMES IN BIOPSYCHOSOCIAL ASPECT OF LIFE

Today, our point of view of games has changed recently. Many years ago, games were associated with children, form of playing or sport and sometimes related to outdoor activity. By now, we can see that playing games doesn’t have any age limitation; from child to adult can play games. Games also can be played indoor and even easier. The gadget era today has brought us many games that have much more variation, more interesting and easy to get: just by clicking, downloading and then we can start playing the game.

GAMES IN BIO-PSYCHOLOGICAL ASPECT

Brain Training and Activation

When playing a game, another part of the brain will be activated, according to what type of game that we played. Game that need visual and spatial ability, music games, game that need interpretation will activate your right brain. In another side, game that involve your memory recall, mathematical computation, logic thinking and language will train your left brain.

Muscle Training

Sport is also a kind of game. Do some sports or any playing activity outside home (dance, futsal, badminton, etc) will train our muscle, burn some excess calories, train our cardiovascular organ, detoxifying our body and of course will give us a healthy body. Now, the games that are in our gadget only train the digiti minimi muscle; muscle of our fingers. But, there are some applications that still help us how to exercise well by using exercise track record, calorie burner, any kind of work out application.

Coping with Stress

Playing game is one of many other ways to cope up with stress. Playing games provide us a distraction from stress and some type of games can give us relaxation. The feeling when you win the games can repair your mood. But, it should be noticed that many of games now provide more challenges. Instead of evade us from stress, it can vest us more stress and addiction.

SOCIO-CULTURAL-ECONOMICAL ASPECT

tajog1
(credit for http://blog.baliwww.com) Tajog/egrang/joglagan

Social Aspect

Games can be played in group and solo. Many type of games before were played in a group. I remember when I was child, I would meet my friends to play game. Playing game was one thing that could unite us and made us had the feeling of togetherness among ourselves. Playing game tighten our bond and friendship. Now, some children prefer to play solo. They might connected by internet connection, LAN, and any other sharing tool, but they may lose eye contact, touch, sweat and maybe another thing that they can’t get while playing together.

Cultural Aspect

Game is also one of another pillars of culture in Indonesia. Indonesia has many traditional games and today our children don’t know much about them. When, I was child I used to play cingklak (like marble game, but use small stones, different with congklak), tambak-tambakan (like gobak sodor) and my favorite one is playing joglagan/enggrang. Now, those games only played when independence day, August 17 and the contestant were they who are the same age with me, because maybe our children don’t know how to play it. I’m bit worried, if one day the generation who know how to play them get old, couldn’t play them, the traditional games will be vanished too.

Economical Aspect

The new form of games can be economically worthy if we know how to make online games or games application. According to www.statista.com, in 2014 Indonesian people who use smartphone are about 38 million people and it was estimated that total revenue for online PC games in Indonesia about 136.5 million US dollars. It would become benefit to Indonesian technopreneur. I tried to search some online games, but still many of them were created by people from another country. Only few online games or application were produced by Indonesian people. We should appreciate that Indonesia still have people who are creative and competitive.

SOMETHING TO THINK ABOUT?

Like any other tools in life, games could be benefit for us when we use it in a right manner. Games can train your brain, help you to cope with stress and make you more healthy. Games can be a bell that remind us of our culture. Games can be a site of business, bring you out an income. But, we should also remember too much playing games can destroy our study, our work, our life and put out the money from our pocket. At the end, the balance is the key to avoid the bad influence.

The concern should also focused on children that playing the games. Again, the parents are the one who take the responsibility to manage their children. Choose wisely the game that suitable to your children according to their age. Now many parents use their gadget to calm down their children, but never think what the implication to their children. Our children will depend on gadget, they may addicted to it, they might lose the feeling of togetherness, they might don’t have the sweet memories like we used to when we were child and played our games.

Let us back again to that time, let us play the old games that we had left 🙂 and, be wise to use gadget.

with love, cahyanidwy

————————————————————————

This is the second time for me to submit my post to BEC‘s weekly challenge. Honestly, I would like to submit it at Friday like its name, English Friday weekly challenge. But, I’m afraid on that day I’m on duty and will be late to submit my post. So, to dear admin, it is okay then?

with so much love,

Posted in LA LA LA THINGS, To think

“We need silence to be able to touch souls” Mother Teresa

FSSlarge7
soul.sanctuary.com

 

 

Good day Good People 🙂 HAPPY NEW YEAR !

You might ask why I said “happy new year” while now we are still on March. But, yesterday was a Happy New Year in Bali. According to Gregorian Calender, we celebrate new year every first January. But, some culture or religion has their own calender therefore they also have their own new year and different ways to celebrate it. Such as Nava Varsa in India, Moslem’s Muharam, Chinese New year’s Imlek, and many others. In Bali, especially Balinese Hindus use Saka system calender for holy days or ceremonial purposes.

And, yes. Yesterday is our New Year first of Saka 1937. We called it “Nyepi” day. Have you heard about it?

Pengrupukan Day

This is the day before Nyepi day (It is like December 31 maybe). On that day, I prayed to the temple and in front of the crossroad. It is believed that crossroad is the rendezvous of some energy, between the good and bad. We have to clean and purify that bad energy into positive energy by offering “caru” as a “Bhuta Yadnya”. That the essence of Pengrupukan day.

By the time, Pengrupukan day become more varied with some people’s creativity called “Ogoh-ogoh”. Ogoh-ogoh is a personification of Bhuta Kala. That’s why if you see Ogoh-ogoh, they will look like Gigantic Scary Monster. But, lately the people more creative and the Ogoh-ogoh can resemble famous person or some public figures..just to quip and another method of some people to say their critique. Ogoh-ogoh even become a competition event and that makes Ogoh-ogoh’s parade are so interesting to see.  The ogoh-ogoh were paraded around the village or town.

ogohogoh
Ogoh-ogoh by kadekrusnadi83.blogspot.com

Nyepi Day

Horay..it is New Year! But, be silent please. 🙂 Nyepi, Balinese language means Silent. In this day, we do Catur Brata Penyepian means four rule of Nyepi there are Amati Geni (not starting fire), Amati Lelungan (don’t go outside home), Amati Lelanguan (fasting and not having entertain) Amati Karya (do not work).  You will find no car, motorcycle even human at the street in Bali on Nyepi day, and at night, most of Balinese turn off the light. It will be like a ghost town. Hahaha.

Anyway, the real meaning of that Catur Brata Penyepian is controlling the anger, controlling desire, a day of self introspecting. Like Mother Theresa said, “by silent you can touch your soul.”

By silent we do the self introspection, and by self introspection we reach consciousness. By consciousness, we know the truth, the good, and leave the bad ones. So we are not just going older, but also wiser.

Ngembak Geni

The day after Nyepi is Ngembak Geni. Start the good fire, the spirit to start a new year. Now, everyone can begin to work again. 🙂

Hm.. Such a good way to define new year. Not only for our soul but also for our environment.  On Nyepi Day, Nation Electrical Company conserved energy until 50% about 8-11 billion rupiah. 🙂 Beside, because no one use their car and motorcycle, we can reduce the polution.

May the peace of Nyepi will come to your soul, your family.

with love,

cahyanidwy