Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think

“There are two great days in a person’s life, the day when we were born and the day we discover why” William Barclay

Om swastyastu

Good day good people

Januari 2021. Tadinya berpikir mungkin setelah kedatangan vaksin covid, dunia akan sedikit lebih tentram. Namun, belum habis Januari sudah ada berita pesawat jatuh, gempa bumi, tanah longsor dan banjir bandang bahkan ada juga gunung yang naik status siaga.

Dulu kita memperkirakan lamanya seseorang bersama kita kurang lebih sepanjang usia harapan hidupnya. Namun, makin ke sini kita tidak bisa memprediksi apakah kita bisa bersama orang tersebut hingga ia tua atau hingga kita beruban? Tidak ada yang tahu. Selain karena penyakit, bencana tak terduga karena pemanasan global juga menjadi salah satu penyebab kematian. Apakah ini tanda-tanda bahwa kita harus mengerem keserakahan kita sebagai umat manusia? Apakah ini tanda bahwa kita mesti menguatkan doa-doa untuk dipanjatkan?

Hari ini, satu benang telomere saya berkurang. Jam waktu telomere masih terus memutus setitik demi setitik. Sementara yang terlihat: usia bertambah, keriput mulai tampak, benih-benih uban mungkin mulai menunggu giliran untuk timbul di atas. Entah kenapa perayaan ulang tahun jadi seperti selamatan untuk usia yang telah hilang. Pada pikiran itu saya jadi berterima kasih pada orang-orang yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. Hahaha. 😅 Plakkk.

Namun terlepas dari semua bisikan sang iblis, saya juga berterima kasih kepada orang-orang yang mengucapkan selamat dengan tulus. Bukankah lebih baik ucapan selamat yang sedikit tetapi tulus daripada banyak tapi hanya ada di saat kita bersinar? Tentu yang banyak dan tulus juga bagus hehe. Namun, like almost all of capricorn: orang-orang yang kami anggap dekat di hati memang sedikit. 😂 Or maybe only me?

Semakin tua saya menyadari bahwa orang-orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang-orang yang tetap berada di sampingmu ketika kamu jatuh dan terpuruk. Hingar bingar suka cita kini hanya tampak seperti kerlip lampu yang bisa meredup kapanpun. Rasanya seperti tidak sedih tapi juga tidak terlalu bahagia, bahkan seperti sudah tidak terlalu berharap apa-apa pada siapapun dan melepaskan semuanya.

Ketika saya melihat tanggal yang sama di tahun ini, pagi ini saya bersyukur kepada Tuhan. Masih diijinkan melihat tanggal ini lagi di tahun 2021. Hadiah terbesar saya dari Tuhan tahun ini adalah kesehatan orang-orang yang saya cintai dan kesehatan orang-orang yang mencintai saya. Terima kasih ya Tuhan.. that’s all i need and i want. 😭 *nangis terharu menitikkan air mata bahagia*

Tahun ini saya naik ke Kejati (kaum emak jenjang usia tiga puluh) 😂. Selamat ulang tahun ya diriku. Selamat atas berkurangnya sisa usia harapan hidup (serem ih, gila, tapi ini kenyataan. Usia harapan hidup manusia 75 tahun, sisa lagi 45 tahun kalau masih diijinkan. Semoga jadi pengingat bahwa waktu kita tak lama dan sudahkah menabung karma baik untuk bekal di alam baka?). Selamat atas 30 tahun perjuangan di bumi.. I believe that you can go through all of this. Semoga semakin kuat, tabah, sabar dan bertambah bijak. Semoga makin sadar dan menemukan diri yang Engkau cari. Jangan lupa bahagia. 😊❤️

Posted in blog competition, Earth and me, To think

Masihkah Ada Air Bersih Tahun 2030?

Good day good people

Air merupakan entitas alamiah yang sangat krusial bagi kelangsungan hidup organisme. Air tersedia melimpah di bumi tetapi hanya 1% yang bisa digunakan secara langsung untuk aktivitas manusia. Jumlah yang sedikit ini diperkirakan akan terus berkurang beberapa tahun mendatang. Data dari WHO memprediksi setengah dari populasi manusia akan hidup dalam kondisi kelangkaan air pada tahun 2025. Bappenas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 memperkirakan pada tahun 2030 akan terjadi kelangkaan air bersih pada beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Akankah kita yang selanjutnya?

Setiap hari kita sangat mudah memperoleh air bersih. Tinggal buka keran, air keluar. tinggal tekan tombol, air ngecor. Tarif air yang kita bayar perbulan pada PDAM juga rata-rata kurang dari 1% pengeluaran rumah tangga. Akses air yang mudah ini kadang-kadang membuat kita terlena. Hidupin keran sampai luber-luber, air masih mengalir meski lagi sikat gigi. Ibaratnya, “pokoknya ya pakai sesukanya lah. Toh kita masih bisa bayar.”

Saya sendiri mengakui bahwa saya pun kadang suka khilaf kalau pakai air. Apalagi pas mandiin anak. Siapa sih orang tua yang ngga pingin anaknya bisa gembira karena main dan berendam di kolam kecilnya? Sampai akhirnya saya denger obrolan di KBR tentang Ancaman Krisis Air Bersih. Ada beberapa hal yang disampaikan di sana yang membuat saya jadi tersentak, betapa kelalaian dan pemborosan yang telah kita lakukan selama ini terhadap air bersih akan merebut hak-hak air bersih untuk anak-cucu kita kelak.

Indonesia sendiri merupakan negara maritim dan secara geografis berada di daerah khatulistiwa. Ini memungkinkan Indonesia menjadi negara yang kaya akan air. Disampaikan oleh Mohammad Reza pada siaran KBR 22 Mei 2020, jatah air yang dimiliki Indonesia adalah 9 kali lipat jatah air bersih dunia. Namun, faktanya beberapa wilayah di Indonesia sendiri masih kesulitan air bersih. Pengalaman waktu saya pernah tinggal di Maumere, NTT, tidak semua rumah terpasang pipa PDAM. Saya dan suami membeli air bersih tiap 2 atau 3 minggu sekali. Harganya, waktu itu 150 ribu rupiah untuk 1000 liter yang kami pakai bersama 3 keluarga lainnya. Kalau pas air habis di hari minggu, kami baru bisa memesan keesokan harinya. Pernah tuh, malam hari kami ngga mandi karena air habis. Saat-saat seperti itu, baru terasa sekali betapa mahal dan susahnya dapat air bersih.

Data dari WHO menyebutkan di seluruh dunia diperkirakan ada sekitar 340.000 balita meninggal karena diare yang disebabkan oleh krisis air bersih, hampir 1000 anak per hari. Sekitar 161 juta anak menderita stunting dan malnutrisi kronis karena permasalahan sanitasi air. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia sendiri juga masih memiliki beban kesehatan yang tinggi karena kelangkaan air bersih. Salah satu kecamatan di Flores dilaporkan masih ada kasus stunting dengan salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya ketersediaan air bersih. Hal ini tentu akan menjadi semakin parah dengan ancaman kekeringan yang akan melanda wilayah tersebut.

Duh, tiap buang air sisa mandi anak, saya jadi teringat ada anak-anak lainnya yang saat ini mungkin sedang kesulitan memperoleh air bersih untuk sekadar minum.

Bagaimana Bisa Terjadi Kelangkaan Air?

Pasti ada yang nanya, air kita kan banyak dan konstan. Gimana tuh ceritanya bisa langka?

Ada yang masih ingat pelajaran siklus air waktu jaman sekolah? Mari kita refresh kembali. Air yang ada di permukaan bumi (danau, sungai, laut) dan es yang ada di kutub sebagian mengalami penguapan (evaporasi). Uap air juga dihasilkan melalui proses pernafasan makhluk hidup dan proses fotosintesis (transpirasi). Kumpulan dari uap air ini kemudian terkondensasi membentuk awan kemudian jatuh ke bumi (presipitasi) dalam bentuk butiran air atau es. Air yang jatuh ke bumi, sebagian berhasil terserap ke dalam tanah hingga mengisi ruang deposit air dalam tanah, sebagian lagi jatuh ke danau, sungai dan mengalir langsung ke laut.

Siklus Hidrologi

Saat ini, tanah-tanah yang menjadi daerah resapan air hujan telah beralih fungsi menjadi daerah yang didirikan bangunan. Tanah-tanah yang tertutup beton menghalangi proses penyerapan air hujan ke dalam tanah. Hal ini bukan hanya memicu terjadinya banjir tetapi juga menyebabkan cadangan air tanah semakin berkurang. Sumur-sumur harus dikeruk lebih dalam. Pasokan air semakin menurun dari segi kualitas.

Adanya perubahan iklim semakin memperparah kondisi kekeringan yang belum teratasi. Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca menjadi tidak tentu. Musim kemarau menjadi semakin panjang di beberapa wilayah sedangkan wilayah lain curah hujan semakin tinggi hingga menyebabkan kebanjiran.

Dampak lebih lanjutnya adalah timbulnya masalah kesehatan seperti diare, kolera, penyakit kulit, malnutrisi dan penyakit lainnya yang mungkin timbul karena kurangnya ketersediaan air bersih.

Bagaimana Mengatasi Kelangkaan Air?

Sayangnya, kelangkaan air bersih tidak sama dengan kelangkaan cabai atau beras yang kalau jumlahnya menurun bisa ditambah produksinya dengan intensifikasi. Salah satu cara untuk menambah pasokan air bersih adalah dengan memperbaiki cara pengolahan air. Negara lain yang memiliki cadangan air yang sedikit entah karena geografis tidak mendukung curah hujan yang tinggi atau sumber air yang kurang, memanfaatkan teknologi untuk mengolah air.

Salah satu contoh teknologi pengolahan air diciptakan oleh ilmuwan dari Politecnico di Torino, Italia. Teknologinya berupa sebuah alat yang melakukan proses desalinisasi, mengubah air laut (saline water) menjadi air bersih yang bisa diminum dengan memanfaatkan energi panas dari matahari.

Kita mungkin bisa bernafas lega mengetahui telah ditemukan teknologi pengolahan air laut agar bisa dikonsumsi. Namun, berapa ya kira-kira harga air hasil pengolahan dengan mesin itu nantinya? Sayangnya, Indonesia saat ini belum memiliki teknologi tersebut. Bahkan di beberapa wilayah yang mengalami kesulitan air bersih pun masih belum ada solusi yang tepat dan mudah untuk membuat Indonesia yang kaya akan air ini bebas dari krisis air bersih.

Sebelum kita merujuk pada apa yang seharusnya pemerintah lakukan, mari kita lakukan pelestarian air bersih sejak dini. Beberapa yang bisa kita lakukan diantaranya,

  • Menggunakan air seperlunya
  • Mematikan air keran bila tidak digunakan atau bila air yang ditampung sudah penuh
  • Memanfaatkan air limbah rumah tangga, misalnya air sisa mencuci pakaian untuk menyiram tanaman
  • Mengalirkan air ke tanah
  • Menampung air hujan untuk bisa digunakan di musim kemarau
  • Mengurangi penggunaan semen atau beton untuk halaman
  • Membuat biopori
  • Melestarikan hutan dan upaya-upaya untuk menghambat perubahan iklim

Hutan yang lestari tak hanya menjadi paru-paru dunia tetapi juga sebagai penjaga dari perubahan iklim. Hutan juga berfungsi dalam membantu penyerapan air ke dalam tanah yang nantinya akan keluar sebagai sumber mata air.

  • Membudayakan hemat air dan mengenalkan pentingnya menjaga kelestarian alam pada anak sejak dini

Semua kegiatan di atas mungkin tidak akan signifikan jika dilakukan perseorangan sehingga perlu adanya komunitas yang mendukung dan menjalankan gerakan pelestarian air. Pengaruh yang lebih besar bisa dilakukan oleh pemerintah selaku pembuat regulasi. Gencarnya pembangunan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan upaya untuk mempertahankan kelestarian alam. Pemerintah perlu secara aktif bersama lembaga masyarakat mendata daerah-daerah yang krisis air bersih, menyediakan penampung air, mengalirkan air ke rumah-rumah warga dan menjamin setiap warga negara memperoleh haknya atas air bersih.

“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Pasal 33 ayat 3 UUD 1945

Jadi, masihkah ada air bersih tahun 2030? Tergantung bagaimana perilaku kita dan pemerintah terhadap air dan lingkungan selama sepuluh tahun ke depan.

“The best way to predict the future is creating it”

Peter Ducker

Referensi:

https://www.antvklik.com/en/headline/krisis-air-bersih-meluas-warga

https://kumparan.com/florespedia/desa-di-ntt-krisis-air-bersih-tak-ada-listrik-24-balitanya-stunting-1smTG8JGwwc

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/drinking-water

https://www.who.int/water_sanitation_health/monitoring/jmp-2015-key-facts/en/

https://www.who.int/gho/phe/water_sanitation/burden/en/

http://gamapserver.who.int/gho/interactive_charts/phe/wsh_mbd/atlas.html

https://water.org/our-impact/water-crisis/

https://amwater.com/wvaw/water-information/water-learning-center/the-water-cycle

https://www.imnovation-hub.com/water/solar-powered-desalination-system-inspired-plants/

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Good luck!

with love,

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think, TTR

LDR to LDM, How to (I) Deal with It?

Indahnya LDR/LDM

Om swastyastu, namaste.

Caution :

1. Meskipun judulnya English, tapi tulisan ini akan lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia.

2. Tulisan ini sebagian jokes, sebagian curcol. Wkwk.

3. Tulisan ini bakalan panjang, yang matanya perih dan pikiran letih kalau baca tulisan panjang-panjang disarankan untuk bersabar, ini ujian. Wkwkwk.

Besok adalah hari ulang tahun saya. (Yeaaaay * dalam hati penulis udah sorak sorai bergembira). Kemarin suami menelepon menyampaikan permohonan maafnya bahwa untuk tahun ini ia tidak bisa pulang.

“Duh, udah 2 kali aku ngelewatin ulang tahunmu..” ucapnya dengan nada lirih.

Jika anda di posisi saya, bagaimana sikap anda?

a. Ngamuk dan ngedumel lalu nyuekin suami seminggu kalau perlu sampai satu bulan 7 hari.

b. Mengirimkan senjata nuklir. (Biar ga kalah sama Iran).

c. Pesen tiket pesawat dan segera mendarat ke tempat kediaman suami.

d. Menangis tersedu-sedu semalam suntuk sampai mata menghitam seperti panda yang habis begadang nonton bola.

Kalau saya, tidak memilih satu pun diantara option tersebut. Hehe, terserah saya dong, wong saya yang buat soal. Wkwkwk. (Netijen : tolong nuklirnya dikirim ke yang nulis blog ini aja.)

Mari kita bahas kunci jawabannya. Untuk option a. Saya orangnya ga tahan nyuekin suami lama-lama, paling lama itu 20 jam dan itu akhirnya mewek-mewek. Wkwkwk. Cemen.

Option b. Jelas No. Huhu.

Option c. Tiket pesawat mahal cyn. Kasian uangnya. Eh.

Option d. Dulu iya. Awokwkwk. Tapi belakangan udah semacam apa ya? Malas mungkin ya. Eits! Malas di sini bukan malas sama orangnya. Tetapi malas meribetkan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk diribetkan. 🙂

“Ih, sans aja kali. Ya mau gimana lagi.” jawab saya. “Nanti pas pulang aja dirayain, dan jangan lupa hadiahnya yaa..”. Hohoho. Ternyata ada udang dibalik sushi kan pemirsah.

Okay, begitulah secuplik kehidupan suami istri yang long distance marriage. Kali ini saya akan berbagi sedikit tips bagaimana untuk bisa survive dalam LDR (long distance relationship).

Sebagai pejuang LDM yang baru berjalan dalam kurun waktu belum lama (setara lamanya dengan masa penjajahan Jepang di Indonesia) belum pantas rasanya menulis bagaimana untuk survive. (Loh?) Jadi tulisan berikut lebih ke pengalaman saya bagaimana saya menjalaninya. Hehehe.

Sebelum LDR..

1. If you can choose, choose No to LDR.

Jika seandainya anda diberi pilihan untuk LDR atau tinggal bersama, pilihlah untuk tinggal bersama. Mengapa? Karena LDR itu berat, kamu ga akan kuat. Jika masih bisa diusahakan, usahakan untuk tidak berjauhan. Misal pasangan dapat beasiswa ke Australia, kalau bisa kamu nyari juga beasiswa di sana.

2. Jika harus LDR, apakah kamu siap?

Ini adalah pertanyaan penting sebelum menjalani LDR. Siapkah kamu? Untuk tahu apakah kamu mampu atau ngga, coba aja simulasi dulu deh. Emang mau tes CPNS aja yang mesti simulasi? Sebelum LDR juga mesti simulasi.

Coba ngga ketemuan sama pasangan selama sebulan, kuat ngga? Kalau kuat, coba selain ngga ketemuan lalu ngga chat seminggu sekali atau dua kali. Masih kuat? kalau kamu kuat, selamat! kamu boleh LDR tapi belum menjamin bisa mulus LDR-an. Wkwkwk.

Menjalani LDR..

Ketika LDR tak bisa dihindarkan, ketika berpisah jarak dengannya masih lebih melegakan dibandingkan berpisah hati, I will say to all of you “welcome to this world.” Semoga beberapa tips saya dapat menjadi senjata pamungkasmu dalam menjalani hubungan terpisah jarak.

1. Jaga komunikasi.

Untung sekarang ada videocall ya. Bayangin orang tua yang dulu LDR cuma bisa surat-suratan saja kok bisa survive sih? Memang orang jaman dulu itu tangguh, terpisah jarak dan perang tetapi tetap menjaga hati. Apalagi sekarang yang sudah ada telepon, pesan cepat bahkan videocall yang harusnya semakin mempersempit jarak.

Komunikasi itu bukan hanya menyampaikan, tetapi juga memastikan bahwa apa yang kita sampaikan dapat dipahami oleh pasangan. Jadi, saat ingin mengutarakan sesuatu usahakan jangan pakai kode dan jangan kebanyakan gengsi ya.

2. Saling mengerti kondisi satu sama lain.

Komunikasi memang penting ya gaes. Namun jangan demi alasan komunikasi kita mewajibkan pasangan untuk laporan setiap saat. Kita bukan kantor polisi dan dia bukan penjahat meskipun dia sudah mencuri hati kita. (ea ea ea)

Dalam hubungan memang diperlukan pengertian dan dalam LDR, pengertian itu harus jauh lebih dalam.

Mengerti di sini mungkin lebih tepatnya seperti memaklumi dan mengikhlaskan. Saat ia sibuk, tak sempat berkabar, maklumi dan maafkan. Saat ia tak bisa hadir karena suatu hal, maklumi dan ikhlaskan. Ngomong gampang ya? Hahaha. Tapi dengan latihan terus menerus, semoga hati akan semakin melebar. 🙂

3. Percaya dan berpikir positif.

Doi statusnya online tapi kok ga bales wa? Doi katanya ada meeting jadi sementara ga boleh dihubungi.

Mungkin memang benar doi lagi ada rapat penentuan apakah besok harga terasi naik atau ngga. Mungkin doi buka wa di laptop, terus buru-buru ditinggal ke toilet karena salah minum air kobokan dikira infused water, jadi status online terus tapi ngga digubris. Percaya aja dulu dan berpikir positif (meski dalam hati berkecamuk gundah gulana), nanti keraguan itu sebaiknya kita konfirmasi dengan barbar baik-baik. 🙂

4. Ingat untuk mencintai diri sendiri.

Penting! Cintailah dirimu sendiri terlebih dahulu agar kamu tidak menuntut cinta dari pasanganmu.

Loh, bukannya tugas pasangan memang mencintai kita? #plakkk. Saat kita tidak memberi cukup cinta untuk diri kita sendiri, kita akan ‘haus’ untuk dicintai. Haus itu bisa dalam bentuk ingin diperhatikan, ingin dipuji, ingin diberi perlakuan tertentu yang kita anggap sebagai bentuk cinta.

Kalau pasangan ada dekat, mungkin mudah baginya membaca raut wajah kita. Namun, ketika terpisah jarak, komunikasi minim, kita akan gampang baper ketika apa yang pasangan lakukan tidak sesuai harapan.

Dear you, kita tidak bisa memberi cinta ke orang lain tanpa memberi cinta untuk diri sendiri terlebih dahulu. 🙂

5. Pelarian yang tepat.

Ada kalanya suatu hubungan akan mengalami sedikit perbedaan pendapat atau pertengkaran. Saat ada masalah dengan pasangan, pilihlah pelarian yang tepat dan berhati-hatilah memilih tempat curhat. Karena, bisa saja ada yang mengambil kesempatan dalam perdebatan dan saat hati sedang goyah, ia akan mudah sekali bersandar pada siapa pun yang memberi topangan.

If your relationship still matter, curhatlah pada praktisi atau teman yang sama jenis. Kalau lawan jenis, biarpun teman deket lah atau keliatannya lebih pengalaman lah, itu sama saja dengan menunggu negara api menyerang. 🙂

Atau, curhatlah pada Tuhan.

“God is only one prayer away. God will be there to save the day.. Superman got nothing on him. God’s only one prayer away”

Hm, tentang kesetiaan ada baiknya didiskusikan dengan pasangan batasan-batasan apa yang bisa dan tidak bisa ditolerir.

Saya rasa di dunia ini mungkin tidak ada orang yang sangat setia, (kecuali tokoh-tokoh kartun seperti Kaoru Kamiya, Ran Mouri atau Sinichi Kudo) yang ada hanya orang yang pandai-pandai menempatkan diri. Kita harus bisa peka pada apa yang mungkin berpotensi mengganggu hubungan kita nantinya. Hindari, jauhi dan berikan batasan yang jelas pada diri sendiri dan pada potensi itu.

6. Be strong, independent, be your own hero.

Saat menjalani LDR, terkadang kamu akan merasa linglung, setengah kosong setengah berisi. Berisi itu kosong, kosong itu berisi. Punya pacar tapi kok malming ga ada yang ajak keluar.

Bagi saya yang pernah menjalani kehidupan sebagai seorang single sebelum menjalani LDR. Dua kondisi itu terasa tidak jauh berbeda. Kwkwkwk. Kemana-mana berangkat sendiri, ada masalah mau tidak mau mesti usaha dulu sendiri. Jadi seorang pejuang LDR kamu harus kuat fisik dan kuat iman.

Namun, ingatlah biarpun kamu mandiri, di suatu tempat nun jauh di sana ada orang yang merindukanmu dan kamu rindukan. 🙂 So, stay strong ya gaess!

6. Make time.

Tentu kita tidak selamanya LDR kan? Ada waktu dimana kita akhirnya bertemu, melepas berton-ton rindu yang membelenggu hati.

Saat bertemu, hargailah waktu yang ada. Don’t be so busy with your phone (kecuali memang telepon yang penting ya). Waktu kita dengannya hanya sebentar saja, jadi pastikan kita memberikan kehadiran yang berkualitas.

Inilah saat untuk membetulkan retakan-retakan kecil pada hati yang terbengkalai, memupuk rasa pada cinta agar ia semakin tumbuh besar dan lebih kuat untuk perpisahan selanjutnya.

So..

Para pejuang LDR, semoga kita semua bisa menjalani ini sampai akhirnya kita bisa kembali bersama dengan orang yang terkasih.

Semangat untuk kita, para pejuang penikmat LDR. Kita telah memilih cinta kita pada seseorang dibandingkan jarak dan rindu yang menyesakkan dada.

“Distance means so little, when someone means so much”

Saat kita mencintai seseorang ibaratnya kita memberi pisau kepada orang itu dan percaya dia tidak akan menghujamkan pisau itu kepada kita. Namun, apakah orang yang mencintai menjadi orang yang sebodoh itu untuk percaya? Love is blind? Mungkin, sebenarnya kita memberi pisau itu bukan karena kita bodoh lalu percaya. We love because love it self. Because to be in love is to be surrender.

May your love is bigger than anything.

with love,

Posted in Fav Movie, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, STORY-OPINION, Throwback Edition, To think, TTR

FAST FORWARDED LIFE

Om Swastyastu, Namaste good people.

Apakah anda pernah berharap bisa pergi ke suatu masa? Masa depan atau masa lalu.

Sepertinya hampir semua orang pernah memiliki keinginan untuk pergi ke suatu masa yang bukan masanya. Keinginan itu tampaknya masih menjadi mimpi sebagian besar orang hingga banyak ada film yang bertema ‘time traveller’, mesin waktu, kotak pandora, pintu ke mana saja dan sejenisnya.

Salah satu film yang bertema serupa adalah film CLICK. Ada yang pernah nonton?

TUESDAY TIME REVERSE

TTR kali ini dipersembahkan oleh sebuah film lawas yang sudah tayang tahun 2006 silam. (Wow, sudah 13 tahun yang lalu ya, haha dan kemarin tayang lagi di HBO.

Film ini dibintangi oleh Adam Sandler yang berperan sebagai Michael Newman. Michael diceritakan sebagai seorang arsitek yang super sibuk. Ceritanya, si Michael ini dapat sebuah remote ajaib yang bisa berfungsi untuk mengontrol hidupnya layaknya remote tv. Ga suka sama scene hari ini, tinggal ‘klik’ tombol forward ke masa yang diinginkan. Seru ya.. Kalau saya punya remote ini, saya mau skip saat-saat saya mesti dicukit pas SD. Huahaha.

Kemarin saya nontonnya udah di pertengahan film saat si Michael bangun setelah menjalani operasi liposuction. Saat ia sadar, ternyata ia sudah dibawa ke masa dimana ia sudah bercerai dari istrinya, anak-anaknya sudah besar dan ayahnya sudah meninggal. Mengetahui fakta yang terakhir, Michael benar-benar terpukul. Ia berharap bisa kembali ke masa sebelum ayahnya meninggal, sayang hal tersebut tidak bisa dilakukan. Morty, sang malaikat maut yang juga pemberi remote ajaib hanya bisa membawa Michael ke saat di mana Michael terakhir bertemu ayahnya. Itu adalah waktu dimana si ayah berusaha membujuk Michael untuk datang ke rumah. Namun, sedikit pun Michael tidak menggubris ayahnya. Michael yang hanya bisa melihat scene itu, marah kepada dirinya yang terlalu sibuk, bahkan ia juga tidak menatap ayahnya. Mulai part ini, saya sudah tidak bisa membendung air mata, saudara-saudara. Hiks, teringat ayah dan ibu di rumah.

Michael kemudian mem-fast forward kembali hidupnya. Ia dibawa ke saat yang membahagiakan yaitu saat anak laki-lakinya, Ben menikah. Namun kemudian, hal tak menyenangkan yang lainnya muncul; Samantha memanggil Bill (ayah tirinya) sebagai ‘ayah’. Seketika Michael terkena serangan jantung. Ia terbangun di rumah sakit saat Ben dan Samantha menjenguknya. Ben mengatakan bahwa ia menunda bulan madunya karena pekerjaan yang harus diselesaikan.

Michael menyadari bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini salah dan ia tak ingin terulang pada Ben. Part berikutnya yang menguras air mata adalah saat Michael dengan sisa-sia tenaganya, terseok-seok dan tertatih, memanggil-manggil Ben dengan suara serak yang tenggelam dalam derasnya hujan di malam itu. Ben sudah memasuki mobil ketika Michael yang sudah lemah kemudian tersungkur tak mampu menahan sakitnya. Bersyukur Ben dipanggil sang Sutradara, sehingga ia berlari setelah melihat ayahnya yang sudah terbaring di jalanan.

Seperti mengucapkan kata-kata wasiat sebelum ajal menjemputnya, Michael dengan terbata-bata berkata pada Ben, “Family comes first.” Setelah kalimat terakhir itu terucap, Michael terbangun dari tidurnya dan bersuka cita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah mimpi.

Michael layaknya mendapat hidup yang baru, ia segera mencari ayah dan ibunya, istrinya, anaknya, dan anjing kesayangannya. Sejak saat itu ia berjanji untuk lebih menghargai keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Pesan Moral Film:

Harta yang paling berharga, adalah keluarga~

Something to Think :

Dalam hidup ini kita akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang tak mengenakkan dan hal yang menyenangkan secara silih berganti. Kata Guruji, bila kita berjumpa kebahagiaan di ruang tamu, di pintu belakang kesedihan sudah menunggu.

Terkadang, memang ada hal-hal yang ingin kita skip ke masa-masa yang tampaknya lebih menyenangkan. Namun, sebera jauh akan kita skip hingga melewatkan hal yang penting di dalamnya?

Setelah saya pikir-pikir, meskipun saya punya remote untuk mem-forward hidup, saya tidak mau mem-forward masa-masa SD yang menyenangkan hanya karena takut dicukit. Hahaha.

Ah, pada akhirnya masa-masa ini seberapa pun buruknya mungkin akan kita rindukan di masa yang akan datang, bukan?

Jadi seburuk apapun itu, mari kita hadapi dengan lapang dada dan bersyukur.

This is reminder to my self too.

Jadi, apakah kita lebih baik memilih mesin lorong waktu Doraemon saja ya? Hahaha.

with love,

Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think

We are (not) Beautiful

Om swastyastu, namaste good people

Hai, pembaca setiaku? Apakah telah lama kau tunggu-tunggu sebait dua bait tulisan receh murah meriah dari blog ini?

(netijen: siapa ya? ga kenal tuh. orang kita cuma lewat aja)

Seperti bumi yang berputar sehingga ada malam dan siang, seperti bulan yang menempuh purnama dan berganti bulan mati. Mungkin begitu juga siklus blog saya ini, lebih tepatnya siklus dalam jiwa saya atau mungkin siklus sebagian orang yang sesekali menemukan ‘periode gelap’. Pernah tidak sesekali anda merasa hilang arah? Merasa tenggelam dalam penatnya dunia dan tidak mampu berenang ke permukaan?

Kira-kira mungkin demikian yang juga saya rasakan. Tidak penting apa yang terjadi dan kenapa, saya malas (dan takut) mengumbar segala kenegatifan saya. Hal itu tak ubahnya seperti menyiramkan debu, niat untuk membuang tapi malah diri sendiri yang kena, kena mata bikin mata sepet, kena hidung bikin sesek. Ya nggak?

Terima kasih kepada sahabat pena kesayangan, Mom Evy yang telah menyediakan ‘flaslight’ (cie, bilang aja senter gitu kan) bagi saya setidaknya mengingatkan saya bahwa saya sudah tersesat dan harus segera kembali mencari jalan pulang.

aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.. aku tenggelam dalam lautan luka dalam~’

(Eaa eaa)

Tersesat dari apa? Huh, netijen tak perlu tahu karena saya perkirakan anda kepo supaya ada bahan untuk nyinyir dan julid kan? (netijen: siapa elo?? *lempar batako)

MONDAY, MUSIC AND MUSE

By the way, selamat hari Senin untuk para budak korporat, budak pendidikan, dan para pejuang mimpi di mana pun kita berada. Hari ini adalah hari favorit kita karena dengan adanya hari Senin kita dibangunkan lagi untuk bersiap menghadapi dunia nyata, membanting tulang menggali bongkah-bongkah emas dan mengarungi kriya demi terwujudnya mimpi-mimpi yang tertunda. Semoga tetap semangat.

(udah kaya narasi radio aja, wkwkw)

Untuk menyemangati diri mari kita budayakan 3M. Memangnya memberantas Demam Berdarah Dengue aja yang perlu 3M? Memberantas rasa malas dan rasa-rasa ga jelas juga perlu strategi 3M, Monday-Music-Muse.

*SFX applause*

Kali ini kita akan mendengarkan lagu dari idola kesayangan saya, Ed Sheeran duet dengan Khalid dalam lagu “Beautiful People”.

https://m.youtube.com/watch?v=mj0XInqZMHY

Dalam video tersebut digambarkan dua orang biasa yang tiba-tiba memasuki dunia para selebritas yang penuh dengan hingar bingar kemewahan, dunia gemerlap, pesta dan segala hal yang konon kalau diposting di IG bakal menuai 10ribu likes.

Saya ingat celetuk anak-anak pasien (ga sengaja denger) yang mempertanyakan ‘kenapa jumlah likes di IGnya belakangan menurun’. Saya tidak ingin mengeneralisir, tapi apakah kini remaja atau anak-anak begitu terobsesi dengan jumlah likes di media sosialnya? Jangankan anak-anak, saya sendiri pun awal-awal bermain IG juga selalu excited kalau dapat banyak likes. Namun, lama tidaknya seseorang bermain media sosial sepertinya tetap tidak akan mampu menghilangkan kecenderungan manusia untuk ‘pamer’. Bukankah wajar? Karena sifat alami ego manusia yang selalu haus akan ‘apresiasi’.

Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial memang sudah mampu menyalurkan kebutuhan ego manusia untuk pamer, memberikan corong bagi kita untuk bersuara lebih keras, sampai-sampai kebutuhan julid dan nyinyir juga tersalurkan lewat media sosial. Sisi baiknya, media sosial menjadi alat bagi kita untuk menciptakan branding diri. Lewat media sosial orang-orang jadi tahu, bagaimana keseharian kita, bagaimana karir kita, kehidupan kita.

Namun, akan menjadi toxic ketika kita terlalu mengagungkan ‘citra diri’ demi keindahan sebuah media sosial. Perlahan, karena kita ingin ‘terapresiasi’ seperti orang lain, kita mulai kehilangan jati diri kita. Ada yang sampai dikejar setan kredit demi tampilan foto ‘gaya hidup cantik’ di media sosial. Bahkan mungkin ada yang mengorbankan lebih dari sekedar harta demi memuaskan ego yang sedang kehausan itu. 🙂

“What d’you do and who d’ you know? Inside the world of ‘beautiful people’.

Champagne and rolled up notes, prenups and broken homes.

Surrounded but still alone.

Let’s leave the party.”

Let’s leave that party. We are not that ‘beautiful people’. Just be true to ourselves. We already beautiful, even no one appreciate it. No, your worth isn’t define by other people’s like nor their comments.

This is reminder to my self too.

See you!

with love,