Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Saturday story, Self Reflection, Throwback Edition

“If Everyday was a sunny day, then all over the world will be covered by desert” Seo Dal Mi.

Om Swastyastu, good day good people.

Welcome to my Blog. Enam bulan telah berlalu sejak postingan terakhir dan kini sudah tahun baru. Akhirnya tahun 2020 berlalu, meski peningkatan kasus baru covid 19 masih tetap meroket.

How Was Your 2020?

Bagaimana kesan anda menjalani tahun 2020? 🙂 Kaget ya? Ga nyangka kalau tahun 2020 kita akan menemui peristiwa langka seperti pandemi yang kemudian benar-benar merubah total hampir semua sendi kehidupan kita. Sekolah, pekerjaan, aktivitas sosial, bahkan ada sebagian orang yang kehilangan keluarga. Bukankah ini seperti sebuah bencana yang tak kasat mata? Barang kali di sana ada jawabnya, mengapa di bumi kita terjadi bencana? Deep condolence to us, who are losing someone, who are losing job, losing hope, losing trust to the government, and losing their humanity because they could corrupted people’s money in the time like this. But, thanks to some people that show their kindness, helping others. Thank you for making the world a little better place. Thank you to everyone who fight as frontliner, and thank you to us for still surviving, hold on, and discipline to health protocol.

My Flashback of 2020

Rasanya beberapa tahun belakangan ini menjadi tahun yang selalu penuh dengan up and down. Hahaha. Mungkin benar kata orang, kita baru memasuki dunia yang sebenarnya setelah kita menikah. Lah kemane aje selama remaja? Maklum pas remaja jarang gahol, cuma tahu dunia itu dari permukaan. Setelah masuk ke dalamnya, barulah saya sadar seluk beluk dunia itu sungguhlah sinetron yang diangkat ke kisah nyata. Kumenangissssss… *Plakkkkkk.

Namun, bukankah memang itu inti dari menjadi manusia? Bertumbuh, belajar dan menjalani kehidupan sampai kita bisa menemukan makna dan apa yang kita cari di dunia? Hidup menyediakan pilihan. Tinggal kita yang memilih dan siap bertanggungjawab atas pilihan itu. Hidup menyediakan cobaan, apakah kita menang atau gagal dari cobaan itu? Apakah saat gagal, kita bisa bangkit atau tetap jatuh terpuruk? Apakah menerima dan menjalani jalan yang di depan atau kemudian memutar dan memilih jalan lain?

Awal 2020 saya sempat frustasi karena saya sudah mengakhiri kontrak tapi belum memiliki cadangan yang pasti untuk melanjutkan kerja. Sempat ada lowongan saat itu, tapi tidak melamar, berpikir mungkin bisa menyusul misua ke Lombok. Mencoba untuk percaya dengan hasil cpns yang kemungkinannya sangat kecil, lalu ternyata gagal. Lalu pandemi datang dan sama sekali tak ada lowongan. Sudah jatuh, tertimpa tangga, dan parahnya lagi jatuh di kubangan. 🙂

Sakit memang dan rasa sakit itu mungkin susah untuk dilupakan. Saya memilih memaafkan, bukan karena saya mentolerir sikap dan perkataan yang menyakitkan hati. Namun, karena hidup saya terlalu berharga bila dijalani dengan tetap membopong luka. Saya tidak akan melupakan masa-masa itu. Karena itu adalah pelajaran yang paling berharga yang saya peroleh. Terima kasih untuk orang-orang yang telah berperan sebagai guru, terima kasih untuk orang-orang yang menjadi penumpu dan terima kasih Tuhan yang menyediakan setiap sandiwara dan membantu saya untuk melewatinya. Ini adalah pedoman agar kelak saya bisa mengambil langkah dan tidak jatuh ke kubangan yang sama.

My Lessons of 2020

Ada beberapa hal yang kemudian saya pahami dari semua kejadian itu.

1. What The Meaning of My Life? What I Want to Do in this Life? Help Others trough becoming a good and professional Doctor.

Setelah menjalani masa-masa itu saya menyadari bahwa saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang dokter terlalu lama. Di sana lah impian masa kecil saya, passion saya dan salah satu penyokong arti hidup saya yang paling besar. Perpaduan antara ilmu, memecahkan masalah dan membantu orang jadi satu dalam pekejaan itu, mungkin itu yang membuat saya bahagia dan senang menjalaninya. Saya mungkin belum sepenuhnya mampu menjadi dokter yang baik dan profesional, tapi saya mau dan akan terus belajar dan berusaha.

Saya berterima kasih karena pertengahan tahun, Tuhan memberi kesempatan bekerja kembali. Meski bimbang saat memutuskan karena tentu ada waktu bersama anak yang harus direlakan, banyak hal telah membuat saya jengah dan bertekad bulat untuk bekerja kembali. Terlepas dari passion dan impian masa kecil, dunia dewasa saya saat ini ternyata adalah dunia dewasa yang keras, yang memandang sebelah mata bila kamu bukan siapa-siapa atau tidak menghasilkan apa-apa. Saya pernah merasa gagal karena seperti tidak mampu menjadi ibu yang baik, jadi ijinkan saya setidaknya berguna bagi orang lain dengan ilmu yang saya peroleh. 🙂

2. The First and The Most Important to Become My Source of Love Is Myself. Don’t depend love and respect from Others.

Saya sadari bahwa satu-satunya orang yang harus saya harapkan cinta dan penghargaannya adalah diri saya sendiri. Berharap cinta dan respek dari orang lain adalah hal yang paling mengecewakan. Cintai dirimu sendiri, hargai dirimu sendiri. Karena saat kamu sudah penuh akan cinta, kamu tak akan mengharapkan apapun dari orang lain. A note to myself: jangan orang lain aja dibeliin ini itu, kamu juga berhak menikmati hasil kerja kerasmu. Okay?

3. Perfection Doesn’t Exist. I am not Perfect and Nobody is Perfect and That’s Okay.

Saya mulai belajar menerima bahwa sungguhlah tak semua hal bisa terjadi secara sempurna. Manusia pun demikian. Sesempurna apapun seseorang kelihatannya, kenyataannya ada hal-hal yang membuatnya tak sempurna. Hanya kita dan orang lain tidak mengetahuinya secara utuh. Saya belajar untuk mengabaikan setiap judgement orang-orang karena saya pahami mereka hanya manusia yang tidak sempurna, sama seperti saya. Kalau semua manusia terlahir sama, kita akan hidup layaknya barisan semut yang hanya tahu bekerja tanpa banyak berkata-kata.

4. You are the One who Own Responsibility of Your Own Life.

Saya belajar bahwa semakin kita dewasa, kita memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Tanggung jawab yang utama tentu tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kebutuhan kita, keperluan kita, sebisa mungkin kita harus bisa mandiri. Dunia yang dewasa bukan lagi dunia anak-anak dimana kita selalu bergantung pada orang tua/orang lain. Kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Hidup kita sepenuhnya tanggung jawab kita. Orang lain boleh memberi saran, tapi saya lah yang paling berhak memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya. Berkaca dari pengalaman di masa lalu, mengikuti saran orang ternyata ujung-ujungnya tetap dipersalahkan. Saya tak mau lagi iya-iya saja dan menuruti bila saya rasa itu tidak tepat untuk saya, karena pada akhirnya saya lah yang akan menanggung pilihan itu bukan orang lain.

5. The only Thing that I can Control are My Thoughts and My Attitude.

Dunia ini penuh dengan banyak hal, tetapi yang hanya dalam kuasa saya hanyalah pikiran saya dan sikap saya. Orang bisa saja bersikap di luar dugaan, cuaca bisa saja berubah-ubah, dunia mungkin hancur atau maju dan berkembang. di tengah semua yang tak pasti itu, melelahkan bila saya berharap semua akan selalu baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Saya hanya bisa mengatur pikiran dan mengatur sikap. Apakah masa bodoh atau mengambil suatu tindakan.

6. Focus on Good Things and Be Grateful for It.

Saya tahu ada banyak hal dalam satu hari yang bisa mengacaukan hati saya, tetapi syukurlah Tuhan masih menyisakan beberapa hal yang baik. Satu hal buruk bisa mempengaruhi lima hal baik bila saya terlalu fokus pada hal buruk itu. Yah, tidak mudah, tetapi terasa lebih menyenangkan bagi hati bila memfokuskan pada hal-hal yang penting dan menyenangkan. Ini juga yang membuat saya memfilter media sosial. Kadang membuka media sosial hanya untuk mencari tahu kabar teman atau kerabat yang saya rindukan. Tak semuanya bisa saya lihat setiap hari dan saya mulai meninggalkan melihat media sosial orang yang tak pernah saya temui sebelumnya seperti artis, mantan, *eh* atau yang kenal cuma lewat obrolan. Hehe. Intinya, saya hanya ingin lebih banyak bersyukur dan berfokus pada hal-hal yang penting.

7. Life is Full of Abundance. Everything is Enough for Everyone. What Goes Around, Comes Around. Do Kindness, It Will Comeback Unexpected Ways.

Saya percaya bahwa hidup itu penuh dengan kelimpahan, semasih saya mampu untuk berbagi, saya akan berbagi. Saya belajar untuk tidak berharap lagi pada orang atau pada apa yang telah pergi karena bisa saja yang akan kembali bukanlah dari orang yang pernah kita beri dan apa yang kita bagi tak selalu kembali dalam bentuk materi. Rejeki bisa saja berbentuk lain; kesehatan orang-orang yang terkasih, kelancaran dalam hidup dan keharmonisan keluarga dan itu sudah lebih dari cukup. Tuhan tahu yang terbaik dan paling tahu apa yang kita butuhkan. 🙂

8. God Teach You to be Kind, but Not to Please Everyone We Meet. Know What is Right For You.

Dulu saya selalu berusaha untuk melakukan apapun yang bisa membantu orang lain, tak peduli apakah saya mampu, apakah saya memiliki waktu, bahkan tak peduli meski saya kelelahan. Saya perlahan belajar untuk mengenali keterbatasan saya dan merelakan bahwa saya tak bisa menjadi unsung hero yang mampu melakukan segalanya. Saya belajar untuk menghormati hak-hak saya sendiri bahwa saya berhak untuk menolak permohonan orang lain bila saya memang tidak mampu melakukannya. Saya belajar untuk membantu dan memberi seikhlasnya saja sebagai ucapan terima kasih, bukan untuk meraih kendali atau respek orang lain. Tidak apa-apa bila saya bukan lagi ibu peri yang dulu. Saya yang sekarang hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan seperti manusia lainnya. 🙂

Akhirnya itulah bekal yang diberikan oleh 2020 kepada saya untuk menjalani masa-masa selanjutnya. Ambil lah bila ada yang sesuai dengan anda dan buang bila tidak, karena setiap orang memiliki tantangannya sendiri dan rumusnya sendiri untuk memecahkan masalahnya. Tentu rumus ini pun mungkin suatu kelak akan usang, tergantung bagaimana hidup memberikan musimnya. Tugas saya sebagai manusia, belajar dari pohon jati yang beradaptasi: ada masa dimana kita harus meranggas dan berdiri kokoh, ada masa dimana kita bisa merimbun dan berbuah lebat. Eh, memangnya pohon jati bisa berbuah? Plakkkk.

Berubah lah bila harus berubah, terutama bila cara-cara yang lama tak mampu lagi memberikanmu kedamaian. Ombak datang menerjang, mengayuhlah lebih keras. Angin berhembus, bentangkan layar agar lebih cepat ke tujuan. Itulah sebab manusia diberi akal budi, agar mampu melewati setiap cobaan yang diberi.

Oya, satu lagu penuh makna dari Nosstress menutup tahun 2020 dan menemani 2021. “Pegang Tanganku”

Thank you God for everything. Meminjam tagar Kakanda Andhika Diskartes “Stay Bold”.

With love,

Posted in LA LA LA THINGS, Saturday story, Self Reflection

“Success is not final, failure is not fatal: it is the courage to continue that counts.” -Winston Churchill

Exam-Results

Dua hari lalu hasil “ujian besar” akhirnya diumumkan. Setelah sebulan lamanya menunggu -dengan perasaan yang cukup waswas- the result finally came out. Awalnya, hasil ujian dikatakan akan keluar tanggal 25 Maret. Namun, sehari sebelum tanggal keramat itu, di group Dxt (grup angkatan saya) sudah ramai teman-teman yang berucap syukur, ada juga yang memberi semangat. Ada apa gerangan?

Ternyata, daftar kelulusan UKMPPD yang kami ikuti Februari lalu telah terupload. Saya mencari per halaman, memperhatikan baik-baik, mencari nama saya. Ketemu. Saya menemukan nama saya di daftar kelulusan itu. Tak terkira lagi perasaan syukur dan langsung mencium kaki ibu yang saat itu duduk disamping saya. Ibu langsung menelepon Aji. Kami berbahagia dan bersyukur. Terima kasih Tuhan, terima kasih telah mengabulkan doa kami. Terima kasih juga kepada sahabat-sahabat dimanapun berada yang telah mendukung dan mendoakan. 🙂 I am nothing without all of you.

Kata “lulus” sungguh seperti sebuah berkah. Dulu saya pernah mengecap kelulusan yang tertunda saat masih kuliah. Hal itu sempat membuat saya jatuh dan kehilangan kepercayaan terhadap diri sendiri. Namun hal itu juga yang kemudian mengajari saya untuk menghargai setiap keberhasilan yang Tuhan berikan, lebih bersyukur, lebih berkerja keras, berusaha, berdoa dan tidak mengeluh. Kegagalan juga yang telah mengajari saya untuk tidak sombong tat kala berhasil. Seperti roda yang terus berputar, kadang di bawah kadang di atas. Jika keberhasilan membuat kita takabur, mungkin kita tak akan diijinkan untuk mengecapnya.

Seorang teman pernah berkata pada saya, “Setiap orang memiliki jatah gagal dan berhasil”. Jika menemui kegagalan, anggaplah sedang menghabiskan jatah gagal. Mungkin di kesempatan lain yang lebih besar kamu akan menemukan keberhasilan. Jika berhasil pun jangan sombong, jangan puas diri dulu. Teruslah berkarya, bekerja, berusaha dan berdoa.

Ini bukanlah akhir, perjalanan baru saja dimulai…

With love,

cahyanidwy

Posted in LA LA LA THINGS, Saturday story, Self Reflection

I remember my mother’s prayers and they have always followed me. They have clung to me all my life. ~Abraham Lincoln

Good day, good people 🙂

Thanks for today. God still give me and my family so much blessings. Today is my Mom’s birthday. Happy birthday Mom, thanks for everything. Thanks for loving me.

Saya tahu bahwa hari valentine baru saja berlalu. Hari Ibu pun masih jauh. Tetapi, hari ini menjadi penting karena hari ini salah satu malaikat saya dilahirkan puluhan tahun yang lalu dan hingga kini masih menjaga saya beserta keluarga kami. Semoga panjang umur ya Bu..

Hari ini saya ingin menulis tentang cinta, cinta dari seorang wanita yang disebut ibu. Setiap manusia yang pernah lahir, tentunya dilahirkan dari seorang ibu. Namun, mungkin tidak semua memiliki kisah yang sama dalam perjalanan hidupnya. Beberapa sahabat mungkin hanya dapat berjumpa dengan ibunya sekejap ketika lahir atau mungkin telah berpisah ketika kecil. Ada atau tidak kenangan dengan ibu, kita tidak memungkiri bahwa kita tidak akan di dunia ini tanpa terlahirnya seorang ibu.

To Ibu,

Thank you for becoming my mother. Thank you for all prayer, support, love and everything.

Forgive if sometimes I make mistakes. Forgive if I had made you feeling bad. But, Mom as always, you never mind with that and love me always.

To everyone, jika masih dapat kita ucapkan ‘terima kasih’ atau ‘sayang ibu’ ucapkanlah.

To all women, may you always have the love like a mother, even you haven’t giving birth.

and.. oneday, if I have a daughter or a son (still far) I hope I can be a good mother and teach them a good lesson so they can be a good person 🙂

with love,

cahyanidwy

namaste, om shanti
Read more quotes at

http://www.brainyquote.com/quotes

http://www.quotegarden.com/mothers.html

Posted in LA LA LA THINGS, Saturday story, Self Reflection

“Surrender your own poverty and acknowledge your nothingness to the Lord. Whether you understand it or not, God loves you, is present in you, lives in you, dwells in you, calls you, saves you and offers you an understanding and compassion which are like nothing you have ever found in a book or heard in a sermon.” ― Thomas Merton, The Hidden Ground Of Love: The Letters Of Thomas Merton On Religious Experience And Social Concerns

click to visit source
click to visit source

Good day dear good People, I have been missing lately and finally I’m home 🙂

Tidak terasa kita sudah berada di awal bulan lagi. Rasanya baru kemarin saya mengucapkan “welcome” di bulan Februari (bahkan belum sempat mengucapkan salam perpisahan untuk februari) dan ternyata sudah bulan Maret.

Waktu cepat sekali berlalu ya? Apalagi bila ada ujian nasional di akhir bulan, jadi jauh-jauh hari sebelumnya waktu dihabiskan dengan membaca buku sebanyak mungkin, menghabiskan soal-soal (yang mungkin sudah ribuan), latihan mandiri dan diskusi kelompok baik tatap muka langsung atau via grup Line (yang membuat chat sampai 999+) bahkan saya pun menjadi penikmat kopi kelas berat yang tetap minum kopi saat malam, tiap dini hari bangun kemudian komat-kamit, mencorat-coret buku, hingga mewarnai satu referensi. 🙂

God, I let You to do the rest..

Satu hal yang saya sadari, ternyata menjadi seorang dokter itu tidak gampang. (dan kemudian heran mengapa banyak anak-anak kecil yang ingin menjadi dokter? Saat melihat itu, di situ terkadang saya merasa sedih.

Menyesal?

Tidak. Karena kemudian saya sadar bahwa semua yang kami jalani ini adalah sebuah proses. Seperti sebuah Mug. Sebelumnya ia hanya tanah liat kotor. Baru setelah ia dibersihkan, dibentuk, dibakar di bara api yang panas, terciptalah mug yang indah. Mungkin, suatu hari inilah yang akan kami kenang, bahwa ternyata kami pernah melalui masa-masa yang sulit. Namun, mungkin nanti disanalah letak kebanggan karena tidak semua orang bersedia memilih jalan yang sulit itu, tetapi kita tetap menjalaninya.

Seorang pendaki ulung, bukan karena seberapa tinggi puncak yang pernah ia capai. Tetapi seberapa dalam jurang yang harus ia daki, seberapa tajam semak belukar yang ia lewati dan seberapa kuat angin yang menerpa ketika pendakiannya ke puncak, dan ia memilih bertahan hingga ia mencapai puncak.

Pada akhirnya, usaha dan doa yang terpanjat, semua kami kembalikan kepada Tuhan kami.

Posted in LA LA LA THINGS, Saturday story, Self Reflection

“Holding on to anger is like grasping a hot coal with the intent of throwing it at someone else; you are the one who gets burned.” Buddha

Saya hampir saja melupakan bahwa hari ini adalah hari Sabtu. Kesibukan dan persiapan UKMPPD ternyata cukup membuat saya disorientasi waktu. Hahaha.

Seperti Sabtu-sabtu sebelumnya, hari ini saya ingin berbagi cerita yang semoga saja dapat menyejukkan. Terutama bagi anda yang mungkin saat ini sedang merasa panas hati. Sebagai seorang manusia yang normal, memiliki rasa marah adalah hal yang wajar. Menurut para ahli psikologi modern, kemarahan adalah sebuah emosi primer, alami dan matang yang dialami oleh semua manusia pada suatu waktu. Kemarahan memiliki nilai fungsional untuk kelangsungan hidup yaitu dengan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Namun, kemarahan akan dapat merusak kualitas hidup dan hubungan sosial apabila kemarahan itu menjadi tidak terkendali.(dalam Raymond W. Novaco, Anger, Encyclopedia of Psychology, Oxford University Press, 2000)

Ada banyak hal yang bisa mencetuskan kemarahan pada diri seseorang. Hal itu terjadi terutama saat terdapat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan atau hal-hal lainnya yang bersifat tidak menyenangkan. Sering kali kita lihat bahwa kemarahan yang berujung pada gangguan hubungan sosial adalah kemarahan yang timbul saat kita berinteraksi dengan orang lain. Hal ini bisa terjadi karena tiap-tiap manusia memiliki pola pikir dan kebiasaan yang berbeda.

Terkadang, kemarahan kita muncul karena sikap, perkataan atau tindakan orang lain yang mungkin “menyakiti” perasaan kita, sengaja atau tanpa disengaja. Ketika kita menanggapi dengan kemarahan, sebenarnya wajar. Namun, lebih sering kita tidak mampu mengendalikan kemarahan sehingga timbul lah kekerasan fisik maupun emosional. Contohnya, memukul, mencerca dan saat ini yang tampaknya sedang tren adalah kemarahan yang diungkapkan melalui jejaring sosial.

Jujur saja, saya pun juga pernah mengalami masa itu. Meskipun teman-teman mengenal saya sebagai pribadi yang tidak bisa marah sesungguhnya mereka salah. 🙂 Kalau saya tidak bisa marah, berarti saya tidak normal dong?  Saya ingat sebuah kalimat dari Pak Mario Teguh,

“Kedewasaanmu dapat dinilai dari caramu marah. Jangan marah, atau marahlah dengan elegan.”

Berikut adalah cara marah ala Pak Mario Teguh..

https://www.youtube.com/watch?v=me4E4rHMaJY

Saat anda ingin marah, ingatlah selalu untuk tetap menghormati diri anda dan orang yang akan anda marahi. Bayangkan bila kita membentak atau mengeluh/menyindir di media sosial, bukan hanya orang lain yang menjadi objek kemarahan tersebut yang akan malu, tetapi diri kita sendiri yang lebih awal mendapat malu.

Seperti halnya yang dikatakan oleh Buddha,

Memiliki amarah sama halnya dengan menggenggam bara yang panas, sebelum bara itu terlempar dari tangan kita, justru tangan kita lah yang lebih dulu terbakar

Ketika kita memberikan kemarahan kepada orang lain, atau bahkan menyimpannya ternyata hanya akan merugikan diri kita sendiri. Ada sebuah cerita yang pernah saya dengar di Radio Phoenix,

Ada seorang anak yang memiliki kebiasaan buruk. anak itu dengan sangat mudahnya melampiaskan kemarahannya kepada orang lain dengan kata-kata yang kasar.

Suatu hari, ayah anak yang mengetahui hal itu ingin menghilangkan sikap buruk anaknya tersebut. Sang ayah memberikannya paku dan palu. Ia berkata, “Nak, bila engkau ingin marah kepada seseorang, gantilah dengan memaku satu batang paku di pagar rumah kita, dan kita akan lihat seberapa banyak paku yang bisa kau tancapkan di pagar ini setiap kali kau marah”

Anak itu patuh dan setiap kali ia ingin memarahi orang lain, ia menahan dirinya lalu menuju pagar dan segera memaku batang paku di pagar. Hari pertama, banyak paku yang bisa ia tancapkan. Saban hari, jumlah paku yang ia tancapkan semakin berkurang. Ia merasa lebih mudah untuk menahan diri daripada memaku batangan-batangan paku pada kayu-kayu pagar. Hingga akhirnya ia berhasil menahan diri sama sekali tanpa perlu menancapkan paku.

Sang ayah yang melihat hal itu, kembali berkata, “Bila engkau berhasil sabar dan menahan diri, cabutlah paku yang sudah kau tancapkan,”

Dan seperti perintah ayahnya, anak itu mencabut setiap paku setiap kali ia berhasil menahan diri. Akhirnya, tiba waktu semua paku berhasil ia cabut. Ia dengan girang mengatakan hal tersebut pada ayahnya. Sang ayah kemudian mengajaknya ke pagar dan menunjuk pada lubang bekas tusukan paku.

“Kau lihat? Seperti inilah bila engkau bertengkar atau berselisih dengan orang lain. Setiap kali engkau bertengkar atau berselisih, kau menciptakan luka di hati mereka. dan meskipun kau sudah memohon dan meminta maaf, mengatakan menyesal, luka itu akan tetap membekas di hati mereka.”

Jadi, aturan pertama adalah ketika kita marah, sedapat mungkin jangan dibalas dengan kata maupun tindakan yang kasar. Mungkin kita ingin membalas, namun bagaimana kalau membalasnya dengan cara yang elegan?

Cerita lainnya adalah cerita yang saya peroleh dari Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, karangan Ajahn Brahm tentang seekor keledai. (Mungkin anda sudah tahu). Kurang lebihnya seperti ini..

Ada seekor keledai yang tengah bermain di hutan. Saat itu ia sedang kehausan dan tepat saat ia haus ia menemukan sebuah sumur. Si keledai yang saking hausnya tidak menyadari bahwa sumur itu dalam dan akhirnya ia terperosok ke sumur. Untunglah sumur itu kering sehingga ia masih selamat.

Namun, jika ia terus terperangkap di sana maka lama kelamaan ia bisa mati kelaparan. Si Keledai ribut, “eo eo eo” berharap ada yang akan menolongnya.

Suara keledai didengar oleh seorang petani. Petani itu sangat membenci si keledai karena keledai sering mencari makan di ladangnya. Timbulah keinginan si petani untuk membunuh keledai dengan menguburnya hidup-hidup di sumur itu.

Petani kemudian mencangkul tanah dan melemparkannya ke sumur. Namun, si keledai cerdik. Setiap tanah yang menimpa tubuhnya, si keledai akan menggoyangkan dan menjatuhkan tanah itu lalu menginjakknya. Petani tidak menyadarinya dan terus melempar tanah ke sumur. Tetapi keledai terus menggoyangkan badannya, menjatuhkan tanah dan menginjaknya. Begitu terus menerus, hingga tanah semakin menumpuk dan meninggi, sehingga keledai bisa melompat keluar dari sumur.

Aturan kedua, jika ada sesuatu hal yang membuat kita marah, lepaskan. Take it easy. Justru gunakanlah setiap pemicu kemarahan sebagai pijakan agar kita menjadi lebih baik.

Oya, dari cerita keledai itu ternyata ada lanjutannya.

sebelum si keledai meninggalkan si petani, si keledai menggigit dulu bokong si petani baru kemudian melompat pergi.

Aturan ketiga, Humor. Akali setiap suasana marah menjadi humor. Jika anda ingin merubah amarah jadi tawa, mungkin anda bisa membaca buku karangan Mas Andrias Harefa “Ubah Amarah Jadi Tawa”. Dalam buku itu ada banyak fakta-fakta tentang amarah plus joke-joke segar yang bisa membuat terpingkal. 🙂

Aturan keempat, maafkan bila ada yang perlu untuk dimaafkan. Kesalahan orang lain bisa membuat kita marah. Namun, siapa di dunia ini yang tak pernah buat salah? So have a big soul. Tuhan saja bisa memaafkan kita, masa kita tidak mau memaafkan orang lain?

Tidak selalu mudah sih, tapi bukan berarti tidak mungkin. 🙂

Okey de, itulah cerita sabtu hari ini. Happy weekend.

Mohon doa para good people untuk saya dan teman-teman agar bisa melaksanakan UKMPPD dengan lancar, lulus tepat waktu dan bisa menjadi dokter yang berguna bagi nusa dan bangsa 🙂

Terima kasih Tuhan atas hari ini, terima kasih Tuhan atas segalanya 🙂

With love,

Cahyanidwy