Posted in Fav Movie, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, STORY-OPINION, Throwback Edition, To think, TTR

FAST FORWARDED LIFE

Om Swastyastu, Namaste good people.

Apakah anda pernah berharap bisa pergi ke suatu masa? Masa depan atau masa lalu.

Sepertinya hampir semua orang pernah memiliki keinginan untuk pergi ke suatu masa yang bukan masanya. Keinginan itu tampaknya masih menjadi mimpi sebagian besar orang hingga banyak ada film yang bertema ‘time traveller’, mesin waktu, kotak pandora, pintu ke mana saja dan sejenisnya.

Salah satu film yang bertema serupa adalah film CLICK. Ada yang pernah nonton?

TUESDAY TIME REVERSE

TTR kali ini dipersembahkan oleh sebuah film lawas yang sudah tayang tahun 2006 silam. (Wow, sudah 13 tahun yang lalu ya, haha dan kemarin tayang lagi di HBO.

Film ini dibintangi oleh Adam Sandler yang berperan sebagai Michael Newman. Michael diceritakan sebagai seorang arsitek yang super sibuk. Ceritanya, si Michael ini dapat sebuah remote ajaib yang bisa berfungsi untuk mengontrol hidupnya layaknya remote tv. Ga suka sama scene hari ini, tinggal ‘klik’ tombol forward ke masa yang diinginkan. Seru ya.. Kalau saya punya remote ini, saya mau skip saat-saat saya mesti dicukit pas SD. Huahaha.

Kemarin saya nontonnya udah di pertengahan film saat si Michael bangun setelah menjalani operasi liposuction. Saat ia sadar, ternyata ia sudah dibawa ke masa dimana ia sudah bercerai dari istrinya, anak-anaknya sudah besar dan ayahnya sudah meninggal. Mengetahui fakta yang terakhir, Michael benar-benar terpukul. Ia berharap bisa kembali ke masa sebelum ayahnya meninggal, sayang hal tersebut tidak bisa dilakukan. Morty, sang malaikat maut yang juga pemberi remote ajaib hanya bisa membawa Michael ke saat di mana Michael terakhir bertemu ayahnya. Itu adalah waktu dimana si ayah berusaha membujuk Michael untuk datang ke rumah. Namun, sedikit pun Michael tidak menggubris ayahnya. Michael yang hanya bisa melihat scene itu, marah kepada dirinya yang terlalu sibuk, bahkan ia juga tidak menatap ayahnya. Mulai part ini, saya sudah tidak bisa membendung air mata, saudara-saudara. Hiks, teringat ayah dan ibu di rumah.

Michael kemudian mem-fast forward kembali hidupnya. Ia dibawa ke saat yang membahagiakan yaitu saat anak laki-lakinya, Ben menikah. Namun kemudian, hal tak menyenangkan yang lainnya muncul; Samantha memanggil Bill (ayah tirinya) sebagai ‘ayah’. Seketika Michael terkena serangan jantung. Ia terbangun di rumah sakit saat Ben dan Samantha menjenguknya. Ben mengatakan bahwa ia menunda bulan madunya karena pekerjaan yang harus diselesaikan.

Michael menyadari bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini salah dan ia tak ingin terulang pada Ben. Part berikutnya yang menguras air mata adalah saat Michael dengan sisa-sia tenaganya, terseok-seok dan tertatih, memanggil-manggil Ben dengan suara serak yang tenggelam dalam derasnya hujan di malam itu. Ben sudah memasuki mobil ketika Michael yang sudah lemah kemudian tersungkur tak mampu menahan sakitnya. Bersyukur Ben dipanggil sang Sutradara, sehingga ia berlari setelah melihat ayahnya yang sudah terbaring di jalanan.

Seperti mengucapkan kata-kata wasiat sebelum ajal menjemputnya, Michael dengan terbata-bata berkata pada Ben, “Family comes first.” Setelah kalimat terakhir itu terucap, Michael terbangun dari tidurnya dan bersuka cita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah mimpi.

Michael layaknya mendapat hidup yang baru, ia segera mencari ayah dan ibunya, istrinya, anaknya, dan anjing kesayangannya. Sejak saat itu ia berjanji untuk lebih menghargai keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Pesan Moral Film:

Harta yang paling berharga, adalah keluarga~

Something to Think :

Dalam hidup ini kita akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang tak mengenakkan dan hal yang menyenangkan secara silih berganti. Kata Guruji, bila kita berjumpa kebahagiaan di ruang tamu, di pintu belakang kesedihan sudah menunggu.

Terkadang, memang ada hal-hal yang ingin kita skip ke masa-masa yang tampaknya lebih menyenangkan. Namun, sebera jauh akan kita skip hingga melewatkan hal yang penting di dalamnya?

Setelah saya pikir-pikir, meskipun saya punya remote untuk mem-forward hidup, saya tidak mau mem-forward masa-masa SD yang menyenangkan hanya karena takut dicukit. Hahaha.

Ah, pada akhirnya masa-masa ini seberapa pun buruknya mungkin akan kita rindukan di masa yang akan datang, bukan?

Jadi seburuk apapun itu, mari kita hadapi dengan lapang dada dan bersyukur.

This is reminder to my self too.

Jadi, apakah kita lebih baik memilih mesin lorong waktu Doraemon saja ya? Hahaha.

with love,

Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think

We are (not) Beautiful

Om swastyastu, namaste good people

Hai, pembaca setiaku? Apakah telah lama kau tunggu-tunggu sebait dua bait tulisan receh murah meriah dari blog ini?

(netijen: siapa ya? ga kenal tuh. orang kita cuma lewat aja)

Seperti bumi yang berputar sehingga ada malam dan siang, seperti bulan yang menempuh purnama dan berganti bulan mati. Mungkin begitu juga siklus blog saya ini, lebih tepatnya siklus dalam jiwa saya atau mungkin siklus sebagian orang yang sesekali menemukan ‘periode gelap’. Pernah tidak sesekali anda merasa hilang arah? Merasa tenggelam dalam penatnya dunia dan tidak mampu berenang ke permukaan?

Kira-kira mungkin demikian yang juga saya rasakan. Tidak penting apa yang terjadi dan kenapa, saya malas (dan takut) mengumbar segala kenegatifan saya. Hal itu tak ubahnya seperti menyiramkan debu, niat untuk membuang tapi malah diri sendiri yang kena, kena mata bikin mata sepet, kena hidung bikin sesek. Ya nggak?

Terima kasih kepada sahabat pena kesayangan, Mom Evy yang telah menyediakan ‘flaslight’ (cie, bilang aja senter gitu kan) bagi saya setidaknya mengingatkan saya bahwa saya sudah tersesat dan harus segera kembali mencari jalan pulang.

aku tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.. aku tenggelam dalam lautan luka dalam~’

(Eaa eaa)

Tersesat dari apa? Huh, netijen tak perlu tahu karena saya perkirakan anda kepo supaya ada bahan untuk nyinyir dan julid kan? (netijen: siapa elo?? *lempar batako)

MONDAY, MUSIC AND MUSE

By the way, selamat hari Senin untuk para budak korporat, budak pendidikan, dan para pejuang mimpi di mana pun kita berada. Hari ini adalah hari favorit kita karena dengan adanya hari Senin kita dibangunkan lagi untuk bersiap menghadapi dunia nyata, membanting tulang menggali bongkah-bongkah emas dan mengarungi kriya demi terwujudnya mimpi-mimpi yang tertunda. Semoga tetap semangat.

(udah kaya narasi radio aja, wkwkw)

Untuk menyemangati diri mari kita budayakan 3M. Memangnya memberantas Demam Berdarah Dengue aja yang perlu 3M? Memberantas rasa malas dan rasa-rasa ga jelas juga perlu strategi 3M, Monday-Music-Muse.

*SFX applause*

Kali ini kita akan mendengarkan lagu dari idola kesayangan saya, Ed Sheeran duet dengan Khalid dalam lagu “Beautiful People”.

https://m.youtube.com/watch?v=mj0XInqZMHY

Dalam video tersebut digambarkan dua orang biasa yang tiba-tiba memasuki dunia para selebritas yang penuh dengan hingar bingar kemewahan, dunia gemerlap, pesta dan segala hal yang konon kalau diposting di IG bakal menuai 10ribu likes.

Saya ingat celetuk anak-anak pasien (ga sengaja denger) yang mempertanyakan ‘kenapa jumlah likes di IGnya belakangan menurun’. Saya tidak ingin mengeneralisir, tapi apakah kini remaja atau anak-anak begitu terobsesi dengan jumlah likes di media sosialnya? Jangankan anak-anak, saya sendiri pun awal-awal bermain IG juga selalu excited kalau dapat banyak likes. Namun, lama tidaknya seseorang bermain media sosial sepertinya tetap tidak akan mampu menghilangkan kecenderungan manusia untuk ‘pamer’. Bukankah wajar? Karena sifat alami ego manusia yang selalu haus akan ‘apresiasi’.

Tak dapat dipungkiri bahwa media sosial memang sudah mampu menyalurkan kebutuhan ego manusia untuk pamer, memberikan corong bagi kita untuk bersuara lebih keras, sampai-sampai kebutuhan julid dan nyinyir juga tersalurkan lewat media sosial. Sisi baiknya, media sosial menjadi alat bagi kita untuk menciptakan branding diri. Lewat media sosial orang-orang jadi tahu, bagaimana keseharian kita, bagaimana karir kita, kehidupan kita.

Namun, akan menjadi toxic ketika kita terlalu mengagungkan ‘citra diri’ demi keindahan sebuah media sosial. Perlahan, karena kita ingin ‘terapresiasi’ seperti orang lain, kita mulai kehilangan jati diri kita. Ada yang sampai dikejar setan kredit demi tampilan foto ‘gaya hidup cantik’ di media sosial. Bahkan mungkin ada yang mengorbankan lebih dari sekedar harta demi memuaskan ego yang sedang kehausan itu. 🙂

“What d’you do and who d’ you know? Inside the world of ‘beautiful people’.

Champagne and rolled up notes, prenups and broken homes.

Surrounded but still alone.

Let’s leave the party.”

Let’s leave that party. We are not that ‘beautiful people’. Just be true to ourselves. We already beautiful, even no one appreciate it. No, your worth isn’t define by other people’s like nor their comments.

This is reminder to my self too.

See you!

with love,

Posted in LA LA LA THINGS, To think

Tips Zero Waste Life Style, No 3 Mau Anda Coba?

Om Swastyastu, Namaste…

Suatu peraturan baru memang selalu akan menuai pro dan kontra. Sebijak apapun suatu kebijakan akan tetap ada yang merasa bahwa kebijakan itu tidak bijak terhadap segelintir orang.

Begitulah yang saya rasakan saat itu ketika saya secara tidak sengaja mencuri dengar obrolan dua orang ibu di pasar tentang Peraturan Walikota Denpasar No.36 Tahun 2018 tentang larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Ibu A : “Susah, kalau mau nerapin. Gimana kita para pedagang canang? Bungkus canang pakai apa?

Ibu B: “Iya, kenapa harus ada peraturan kaya gini. Dari dulu-dulu biasa pakai kantong plastik, tidak ada masalah kan?”

Hm. Sepertinya Ibu B belum baca artikel National Geographic yang Plastic or Planet nih, batin saya. Intinya, dari pembicaraan itu, ibu-ibu tersebut menyatakan kesulitan dengan larangan penggunaan kantong plastik sekali pakai.

Sering kali bukan peraturannya yang mempersulit, tetapi kemalasan kita untuk berubah lah yang membuatnya terasa sulit. Jika melihat permasalahan yang dikeluhkan ibu-ibu tersebut, sebenarnya pedagang diuntungkan karena mengurangi biaya untuk pembelian kantong plastik. Ibu pedagang bisa saja menggunakan wadah yang besar untuk menyimpan canang (satu kantong plastik yang besar untuk dipakai berkali-kali sampai ga bisa dipakai, atau pakai keranjang bambu) dan ibu pembeli bisa membawa kantong reusable khusus canang.

Namun, memang susah ya mencabut kebiasaan yang sudah mengakar sejak lama. Bukan hanya ibu-ibu tersebut, saya pun masih pakai plastik sesekali *lalu timbul pergolakan batin antara save the world but I need this, huhu. Semoga kedepannya saya beserta ibu-ibu tersebut bisa bener-bener lepas dari jeratan plastik.

Zero Waste/Minimalist Lifestyle

Beberapa waktu lalu saya lihat di akun Mashable tentang seseorang yang menerapkan zero waste life style.

Zero Waste lifestyle adalah gaya hidup dengan minim atau tanpa produk sisa sama sekali. Seperti beli kopi setarbak gitu, trus dimakan sampai ke cupnya biar ga bersisa. Wkwk. *Ditabok netijen.

Gaya hidup zero waste memungkinkan kita untuk menghasilkan limbah yang lebih sedikit dibanding orang-orang yang tidak menerapkan zero waste.

Seperti yang kita tahu, sampah dan limbah yang dihasilkan manusia tiap harinya semakin menumpuk dari waktu ke waktu. Belum lagi sampah plastiknya yang perlu waktu ratusan tahun untuk terdegradasi. Belum pula dampak lingkungan dan gangguan kesehatan karena gas beracun yang dihasilkan selama proses penguraian.

Konsep Zero Waste, gambar dicopot dari google.

Gaya hidup Zero waste ini seperti rada-rada mustahil ya untuk dilakukan tetapi sudah ada lho seorang warga New York yang menerapkan zero waste life style bahkan memiliki toko yang menyediakan segala perlengkapan dan kebutuhan untuk orang-orang yang juga ingin menerapkan zero waste.

https://twitter.com/mashable/status/1163195614303141888?s=09

Sebenarnya, gaya hidup zero waste bisa menjadi salah satu solusi untuk mengurangi jumlah sampah di dunia ini. Namun, hal ini sepertinya masih susah diterapkan di Indonesia ya berhubung kita masih memerlukan produk-produk rumah tangga yang tempat produksinya nun jauh di sana.

Yup, kita terkendala distribusi produk. Produk-produk yang cair, yang berupa serbuk, yang tidak tahan panas, yang tidak boleh terkontaminasi, tentunya memerlukan packaging yang khusus. Paling tidak packagingnya mesti logam (jika tidak mau menggunakan plastik), tetapi hal tersebut tentu tidak efisien yang berujung pada pembengkakan biaya produksi dan meningkatkan harga barang.

Namun, bukan tidak mungkin juga sih. Kalau konsep tokonya seperti toko Lauren Singer dan menjamur seperti toko Indomaret, zero waste life style pasti bisa diterapkan oleh semua rumah tangga. Jadi, orang-orang tinggal yang mau belanja membawa serta botol/kotak sendiri dari rumah. Tampaknya ribet ya? Tetapi ribet sedikit demi kehidupan yang lebih baik kenapa nggak ya kan? Kita udah terlalu manja dengan keberadaan plastik.

Mensiasati Agar Bisa Zero Waste Life Style.

Memang sih, kita tidak akan bisa langsung drastis apa-apanya jadi zero waste, no. Tetapi bisa dilakukan pelan-pelan. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan dalam upaya zero waste life style.

1. Membawa Bekal Makan Sendiri

Ini saya sadari setelah beberapa kali pesen makanan via gofood atau grabfood. Beberapa makanan packagingnya kotak kertas tetapi ada juga yang styrofoam. 😦 Alangkah bagusnya kalau bawa bekal home made dengan kotak makan sendiri ya. Oke, bagi yang protes nanti mengurangi rezeki orang, mungkin bisa dibuatkan inovasi si abang ojol bawa kotak makan reusable. Eh tapi ribet juga ya dan ga terjamin kehigienisannya. 😦 Ada ide?

2. Bawa Kotak Makan Sendiri/ Tumblr sendiri kalau mau Take Home

Jadi, dalam zero waste itu hukum pertamanya adalah menolak pemberian packaging baik plastik non plastik. So, mesti bawa piring dan tumblr kalau mau makanannya dibungkus bawa pulang.

3. Membuat Bahan-bahan Sendiri

Tips ini bagi yang sudah zero wastenya sudah sampai di level Buddha mungkin ya. Jadi, pasta gigi diganti garam dan sirih, deterjen diganti daun lerak, bedak diganti beras tumbuk, pokoknya semua alami. Bahkan kalau bisa sayur, buah, dan bumbu-bumbu dapur ditanam dan dipetik sendiri. Wah, jadi mirip Liziqi dong ya.

4. Mengganti Sekali pakai dengan Reusable

Diapers sekali pakai diganti dengan clothes diaper (diaper dari kain), pembalut sekali pakai diganti dengan pembalut kain atau tampon, kapas sekali pakai diganti dengan wash lap/ sponge yang bisa dicuci dan dipakai kembali. Jika ini diterapkan, sepertinya kita juga butuh satu alat sterilisator.

5. Membeli dalam Ukuran Yang Besar

Jika kita memang masih sangat tergantung dengan produk-produk rumah tangga yang terbungkus plastik, lebih baik membeli dalam ukuran yang besar. Selain lebih ekonomis dari segi harga, juga mengurangi kemasan plastiknya.

6. “Ambil favoritmu secukupnya, habiskan yang kamu ambil”

Kalau tidak salah saya dapat kata-kata itu di restoran Hanamasa. Untuk bisa zero waste, paling tidak kita harus menghabiskan yang kita pakai dan akan lebih mudah menghabiskan sesuatu kala itu memang kesukaan atau favorit kita kan? Yang pasti, suka tidak suka ambil secukupnya saja dan habiskan. Hehe. Tapi jangan dimakan sampai ke bungkusnya juga ya.

Yah, saya sendiri belum sepenuhnya bisa menerapkan semua itu. Mudah-mudahan seiring berjalan waktu dan pelan-pelan bisa seminimal mungkin menggunakan plastik dan mengurangi sampah dari kebutuhan diri sendiri.


Maafkan judulnya yang sudah kaya judul-judul konten di media berita online ya. Hahaha.

Let’s save the world.

with love ❤

Posted in To think

Profesi Kita terganti Mesin dan Aplikasi, Serius?

Om Swastyastu, hai good people!

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan “Selamat hari raya Galungan dan Kuningan untuk teman-teman umat sedharma yang merayakan”. 🙂

Berbicara soal hari raya, rasanya hari raya terasa kurang lengkap kalau tanpa baju baru. Ada ngga sih di sini yang tiap deket hari raya mesti rempong nyari pakaian anyar? Biasanya, kalau hari raya Galungan akan segera tiba, saya dan ibu dari jauh-jauh hari sudah wara-wiri beli kain kamen, kebaya dan nyari penjahit kebaya. Tujuannya tak lain dan tak bukan supaya kami punya baju baru untuk maturan ke pura. Hati udah brand new, pakaian juga ikut brand new kan, demi menyemarakkan kemenangan dharma melawan adharma. Plakkkk! *alesan maneh*

Namun, itu dulu. Semenjak punya anak, tradisi itu sebisa mungkin saya batasi dan nyari alternatif yang lebih ekonomis: beli baju yang udah jadi. *SMH, ternyata tetep beli baju baru* Sekarang banyak toko-toko yang menjual baju kebaya yang sudah siap pakai dan harganya pun lebih murah bila dibanding beli kain plus jarit ke penjahit. Saya jadi berpikir, kalau baju-baju tersebut dicetak jadi oleh mesin, bagaimana nasib para tukang jarit? Hm, kecuali si penjahit bisa berekpansi usaha sebagai penjahit dan penjual pakaian jadi.

Kali ini kita akan membahas sedikit tentang hal tersebut. Selebihnya kita akan membahas topik utama kita yang masih berhubungan dengan mesin dan kawan-kawannya. Seiring kemajuan jaman, beberapa profesi mulai perlahan bisa tergantikan oleh mesin atau lebih kerennya, terganti oleh kecerdasan artifisial.

GGR ganteng ganteng robot 🙄

Sekilas tentang Kecerdasan Artifisial

Oke, kita bahas dulu apa yang disebut dengan kecerdasan? Bagaimana mendefinisikan dan mengukur kecerdasan, apakah dengan suatu tes baru bisa menentukan kecerdasan? Atau berdasarkan kemampuannya dalam menalar sesuatu? Hm.

Menurut Andreas Kaplan dan M. Haenlein, kecerdasan artifisial adalah kemampuan suatu sistem untuk menafsirkan data dari luar (eksternal) dengan benar, menggunakan data tersebut dan mempelajarinya kemudian menggunakan hasil belajarnya untuk beradaptasi dan menyelesaikan suatu tugas dengan benar.

Kecerdasan artifisial disebut sebagai kecerdasan entitas ilmiah, sering juga disebut intelegensi artifisial secara umum terbagi menjadi dua, yaitu IA konvensional dan Kecerdasan komputasional. IA konvensional dalam prosesnya menggunakan metode-metode seperti sistem pakar (memproses data dalam jumlah yang besar lalu memberikan kesimpulan berdasarkan data yang ada), pertimbangan berdasarkan kasus, jaringan Bayesian (suatu model statistik yang memuat variabel dan hubungan bersyaratnya; untuk menentukan probabilitas munculnya suatu keadaan karena ada faktor yang bersangkutan) dan IA berdasarkan tingkah laku.

Sedangkan kecerdasan komputasional di dalam prosesnya menggunakan melibatkan data empiris yang diasosiasikan dengan IA non simbolis, IA yang tak teratur dan perhitungan lunak. Metode yang digunakan diantaranya jaringan saraf, sistem fuzzy, dan komputasi evolusioner.

Udah pada keblinger belum?

Intinya…semua metode-metode tersebut adalah yang melatarbelakangi bagaimana suatu kecerdasan artifisial mampu bekerja sesuai fungsinya. Semacam program-program komputer atau aplikasi yang entah bagaimana dibuat sama programmer mampu mempermudah kehidupan manusia.

Sungguh menarik ya? Manusia bisa membuat ‘makhluk lain’ yang kecerdasannya hampir bisa menyamai kecerdasan manusia bahkan dengan ketelitian yang lebih presisi.

Profesi yang Bisa Digantikan Oleh IA

Pesatnya kemajuan teknologi dan internet telah membawa dunia ke dalam genggaman tangan kita. Semua hanya tinggal cari di apps store. Dari makanan, minuman, baju dan segala keperluan rumah tangga bisa dipesan lewat gawai. Bahkan, jodoh pun kayanya udah ngga di tangan Tuhan lagi, tapi bisa ditemukan di T*ntan, T*nder dan aplikasi sejenis. Sepertinya Tuhan juga pindah ke aplikasi ya? Wong orang berdoa aja lewat sosial media. Eh!

Jadi, profesi apa saja yang bisa digantikan oleh IA?

  • Tenaga Medis: Dokter digantikan oleh Babylon, Alodokter; Psikolog digantikan oleh Ellie.
  • Staf Finansial: akuntan digantikan oleh Smacc
  • Asisten Pribadi: digantikan oleh google assisstant, todolist, dan aplikasi lain yang dapat mengatur jadwal, reminder, pencatat.
  • Customer Service dan Human Resource, digantikan oleh chatbot FlatPi dan Mya.
  • Editor digantikan oleh Bold dan Jurnalis digantikan oleh Wordsmith.
  • Pengacara digantikan oleh Ross.
  • Supir Taksi digantikan oleh mobil autopilot dari Tesla.

Waduh, profesi saya sebagai dokter terancam punah. Apakah profesi anda juga?

To Think:

Ternyata, ada banyak profesi ya yang bisa digantikan oleh kecerdasan artifisial. Tampaknya profesi-profesi yang dalam kesehariannya menggunakan logika, matematika dan ‘kecerdasan otak kiri lainnya’ perlahan akan menemukan saingannya dalam bentuk program, aplikasi, robot dan mesin.

Sementara, profesi-profesi yang mengutamakan kecerdasan otak kanan (seperti pelukis, komposer musik, designer) yang berhubungan dengan abstrak, imajinasi dan kreasi masih jauh dari ancaman tergilas intelejensi artifisial.

Lalu, bagaimana dengan kita, orang-orang yang telah memilih jalan sebagai orang yang berprofesi dengan mengandalkan kecerdasan otak kiri? Apa nilai unggul kita yang mampu melebihi mesin yang bahkan jauh lebih akurat dari kita?

Jawabannya, hati.

Jangan pernah lupa, bahwa kita berhadapan dengan manusia. Setiap manusia akan terkoneksi oleh ‘hati’ dan terkadang hanya itu yang dibutuhkan oleh manusia: dihargai dan disentuh hatinya. 🙂

Klise ya. Tapi, di jaman semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing, mungkin masih ada orang-orang yang lebih berharap dilayani oleh kasir yang ramah, dokter yang empati, ah.. who knows.

Thanks for reading, with love 😊

Referensi:

Bagi yang tertarik lebih dalam soal kecerdasan artisial boleh cus ke link-link di bawah ini ya.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_buatan

https://www.technologyreview.com/artificial-intelligence/

https://www.qerja.com/journal/view/830-10-profesi-ini-diprediksi-akan-digantikan-kecerdasan-buatan/

The Portal Combat

source : http://milkthefranchise.com
source : http://milkthefranchise.com

Today, September 29, I and many post-graduate doctors In Indonesia were sitting in front of our PC. Anxiously looking at the web page “internship online” that still buffering, waiting for logging in and decided where will we spend a year of internship. It seemed very simply, right? But the truth, we felt it as a combat, a Portal Combat!

Since it would be like a combat, many of my friends have prepared the fastest internet device, some went to airport in order to get better internet connection, some went to cafe that provide hot spot wi-fi.

I and all of my friends were informed since a month ago about this web online based registration. Yesterday, we were reminded again that the time to log in is 07.55 (server time). Like many others, I already standby from 05.00 but we just sat and waited for the log in time. We afraid to start first or start before it’s time, because there is a sanction that we’ll be blocked if we log in before the 07.55

When the clock already was 07.55, we started to log in. But, the thing that we were afraid to happen, finally show up. Instead of log in, while trying to open the web page, the buffering stopped and showed “Web Page is not available”. I was not the only one person that got this problem, some of my friends found the same difficulty to log in. The Line Group became so noisy of our complains and it became worse when we knew the other friends already finished the registration process. We just anxious, afraid that the quota for doctor of hospital that we want to be in will be closed before we enter it.

The time was running and it already 10.30, and I was still in the page “web page is not available”. I went to internet cafe near my mansion, but it was closed. Still not open yet. I went back to my PC, but still the same. I asked the other friends who finished the registration, but they also found the same problem went try to re-log in. I cried, oh my god, I was a cry baby who didn’t know what to do. Then I called my father, the only superhero of a daughter right now. My father also tried to log in, but it was failed. Seemed like the server was down because of too many people tried to log in. On that losing-hope phase, I refreshed the page, again and again and prayed to God and leave to Him. I opened new tab and read another thing while waiting the refreshed page.

Suddenly, the portal was opened and my name was appeared. I could access the page and choose the hospital that I want. Thank you God. So much thank you.. Thank you to every friend I was asking for help, thank you to father that also helped, thank you for all of you that have prayed for me.

The Portal Combat was finished.