Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, STORY-OPINION

MIND-SOMNIA

Om swastyastu, good day good people

Selamat hari raya Nyepi dan Selamat Tahun Baru Caka bagi umat sedharma
🙏😄

Satu tahun Caka sudah berlalu dan sudah dua kali kita tidak menyaksikan pawai ogoh-ogoh. Kan yang bikin Nyepi itu berkesan adalah pawai ogoh-ogohnya, ya kan? #Plakkk *ditampar guru agama dengan filosopi perenunangan makna Nyepi.

Jadi, apakah saya melakukan puasa selama Nyepi? Jawabannya adalah tidak sodara-sodara. #Plakkkk *tamparan kedua karena tidak memberi panutan yang baik. Jangan ditiru, harap dimaklumi bumil busui yang sedang menjalankan amanah mengemban calon penerus bangsa

Awal tahun baru yang dimulai dengan melaksanakan lagi tugas jaga di RS, saya merasa sangat berterima kasih atas bantuan teman-teman sejawat bidan dan perawat yang mendukung kelancaran tugas saya, atas bantuan beberapa konsulen dan TS Dokter yang meringankan beban kerja saya. Pagi yang terasa sedikit mendung karena misua harus kembali ke medan perangnya, menjadi sedikit cerah dan hangat karena banyak bantuan yang saya terima dari banyak orang. Mungkin, ketika ada hal yang membuat hari sedikit tak nyaman, kita hanya perlu menahan diri untuk tidak bereaksi negatif atas hal itu. Tetap tenang, tidak terbawa perasaan, bersikap sedikit realistis dan logis serta menyelami maksud kejadian/orang dengan lebih dalam bahwa kita sama tak sempurna dan tak berhak menjudge, mungkin bisa mengubah sedikit vibrasi-vibrasi di sekitar kita untuk jadi lebih positif.

Dan.. ternyata bukan hanya lagu/musik saja yang bisa menghalau insomnia, mensyukuri hal-hal baik di suatu hari, dan merasa hangat atas kebaikan Tuhan dan semesta (bila perlu menuliskannya), juga bisa menimbulkan kantuk untuk segala pikiran dan rasa yang bergejolak.

Namaste, om shanti shanti shanti om.

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think

“There are two great days in a person’s life, the day when we were born and the day we discover why” William Barclay

Om swastyastu

Good day good people

Januari 2021. Tadinya berpikir mungkin setelah kedatangan vaksin covid, dunia akan sedikit lebih tentram. Namun, belum habis Januari sudah ada berita pesawat jatuh, gempa bumi, tanah longsor dan banjir bandang bahkan ada juga gunung yang naik status siaga.

Dulu kita memperkirakan lamanya seseorang bersama kita kurang lebih sepanjang usia harapan hidupnya. Namun, makin ke sini kita tidak bisa memprediksi apakah kita bisa bersama orang tersebut hingga ia tua atau hingga kita beruban? Tidak ada yang tahu. Selain karena penyakit, bencana tak terduga karena pemanasan global juga menjadi salah satu penyebab kematian. Apakah ini tanda-tanda bahwa kita harus mengerem keserakahan kita sebagai umat manusia? Apakah ini tanda bahwa kita mesti menguatkan doa-doa untuk dipanjatkan?

Hari ini, satu benang telomere saya berkurang. Jam waktu telomere masih terus memutus setitik demi setitik. Sementara yang terlihat: usia bertambah, keriput mulai tampak, benih-benih uban mungkin mulai menunggu giliran untuk timbul di atas. Entah kenapa perayaan ulang tahun jadi seperti selamatan untuk usia yang telah hilang. Pada pikiran itu saya jadi berterima kasih pada orang-orang yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. Hahaha. 😅 Plakkk.

Namun terlepas dari semua bisikan sang iblis, saya juga berterima kasih kepada orang-orang yang mengucapkan selamat dengan tulus. Bukankah lebih baik ucapan selamat yang sedikit tetapi tulus daripada banyak tapi hanya ada di saat kita bersinar? Tentu yang banyak dan tulus juga bagus hehe. Namun, like almost all of capricorn: orang-orang yang kami anggap dekat di hati memang sedikit. 😂 Or maybe only me?

Semakin tua saya menyadari bahwa orang-orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang-orang yang tetap berada di sampingmu ketika kamu jatuh dan terpuruk. Hingar bingar suka cita kini hanya tampak seperti kerlip lampu yang bisa meredup kapanpun. Rasanya seperti tidak sedih tapi juga tidak terlalu bahagia, bahkan seperti sudah tidak terlalu berharap apa-apa pada siapapun dan melepaskan semuanya.

Ketika saya melihat tanggal yang sama di tahun ini, pagi ini saya bersyukur kepada Tuhan. Masih diijinkan melihat tanggal ini lagi di tahun 2021. Hadiah terbesar saya dari Tuhan tahun ini adalah kesehatan orang-orang yang saya cintai dan kesehatan orang-orang yang mencintai saya. Terima kasih ya Tuhan.. that’s all i need and i want. 😭 *nangis terharu menitikkan air mata bahagia*

Tahun ini saya naik ke Kejati (kaum emak jenjang usia tiga puluh) 😂. Selamat ulang tahun ya diriku. Selamat atas berkurangnya sisa usia harapan hidup (serem ih, gila, tapi ini kenyataan. Usia harapan hidup manusia 75 tahun, sisa lagi 45 tahun kalau masih diijinkan. Semoga jadi pengingat bahwa waktu kita tak lama dan sudahkah menabung karma baik untuk bekal di alam baka?). Selamat atas 30 tahun perjuangan di bumi.. I believe that you can go through all of this. Semoga semakin kuat, tabah, sabar dan bertambah bijak. Semoga makin sadar dan menemukan diri yang Engkau cari. Jangan lupa bahagia. 😊❤️

Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Saturday story, Self Reflection, Throwback Edition

“If Everyday was a sunny day, then all over the world will be covered by desert” Seo Dal Mi.

Om Swastyastu, good day good people.

Welcome to my Blog. Enam bulan telah berlalu sejak postingan terakhir dan kini sudah tahun baru. Akhirnya tahun 2020 berlalu, meski peningkatan kasus baru covid 19 masih tetap meroket.

How Was Your 2020?

Bagaimana kesan anda menjalani tahun 2020? 🙂 Kaget ya? Ga nyangka kalau tahun 2020 kita akan menemui peristiwa langka seperti pandemi yang kemudian benar-benar merubah total hampir semua sendi kehidupan kita. Sekolah, pekerjaan, aktivitas sosial, bahkan ada sebagian orang yang kehilangan keluarga. Bukankah ini seperti sebuah bencana yang tak kasat mata? Barang kali di sana ada jawabnya, mengapa di bumi kita terjadi bencana? Deep condolence to us, who are losing someone, who are losing job, losing hope, losing trust to the government, and losing their humanity because they could corrupted people’s money in the time like this. But, thanks to some people that show their kindness, helping others. Thank you for making the world a little better place. Thank you to everyone who fight as frontliner, and thank you to us for still surviving, hold on, and discipline to health protocol.

My Flashback of 2020

Rasanya beberapa tahun belakangan ini menjadi tahun yang selalu penuh dengan up and down. Hahaha. Mungkin benar kata orang, kita baru memasuki dunia yang sebenarnya setelah kita menikah. Lah kemane aje selama remaja? Maklum pas remaja jarang gahol, cuma tahu dunia itu dari permukaan. Setelah masuk ke dalamnya, barulah saya sadar seluk beluk dunia itu sungguhlah sinetron yang diangkat ke kisah nyata. Kumenangissssss… *Plakkkkkk.

Namun, bukankah memang itu inti dari menjadi manusia? Bertumbuh, belajar dan menjalani kehidupan sampai kita bisa menemukan makna dan apa yang kita cari di dunia? Hidup menyediakan pilihan. Tinggal kita yang memilih dan siap bertanggungjawab atas pilihan itu. Hidup menyediakan cobaan, apakah kita menang atau gagal dari cobaan itu? Apakah saat gagal, kita bisa bangkit atau tetap jatuh terpuruk? Apakah menerima dan menjalani jalan yang di depan atau kemudian memutar dan memilih jalan lain?

Awal 2020 saya sempat frustasi karena saya sudah mengakhiri kontrak tapi belum memiliki cadangan yang pasti untuk melanjutkan kerja. Sempat ada lowongan saat itu, tapi tidak melamar, berpikir mungkin bisa menyusul misua ke Lombok. Mencoba untuk percaya dengan hasil cpns yang kemungkinannya sangat kecil, lalu ternyata gagal. Lalu pandemi datang dan sama sekali tak ada lowongan. Sudah jatuh, tertimpa tangga, dan parahnya lagi jatuh di kubangan. 🙂

Sakit memang dan rasa sakit itu mungkin susah untuk dilupakan. Saya memilih memaafkan, bukan karena saya mentolerir sikap dan perkataan yang menyakitkan hati. Namun, karena hidup saya terlalu berharga bila dijalani dengan tetap membopong luka. Saya tidak akan melupakan masa-masa itu. Karena itu adalah pelajaran yang paling berharga yang saya peroleh. Terima kasih untuk orang-orang yang telah berperan sebagai guru, terima kasih untuk orang-orang yang menjadi penumpu dan terima kasih Tuhan yang menyediakan setiap sandiwara dan membantu saya untuk melewatinya. Ini adalah pedoman agar kelak saya bisa mengambil langkah dan tidak jatuh ke kubangan yang sama.

My Lessons of 2020

Ada beberapa hal yang kemudian saya pahami dari semua kejadian itu.

1. What The Meaning of My Life? What I Want to Do in this Life? Help Others trough becoming a good and professional Doctor.

Setelah menjalani masa-masa itu saya menyadari bahwa saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang dokter terlalu lama. Di sana lah impian masa kecil saya, passion saya dan salah satu penyokong arti hidup saya yang paling besar. Perpaduan antara ilmu, memecahkan masalah dan membantu orang jadi satu dalam pekejaan itu, mungkin itu yang membuat saya bahagia dan senang menjalaninya. Saya mungkin belum sepenuhnya mampu menjadi dokter yang baik dan profesional, tapi saya mau dan akan terus belajar dan berusaha.

Saya berterima kasih karena pertengahan tahun, Tuhan memberi kesempatan bekerja kembali. Meski bimbang saat memutuskan karena tentu ada waktu bersama anak yang harus direlakan, banyak hal telah membuat saya jengah dan bertekad bulat untuk bekerja kembali. Terlepas dari passion dan impian masa kecil, dunia dewasa saya saat ini ternyata adalah dunia dewasa yang keras, yang memandang sebelah mata bila kamu bukan siapa-siapa atau tidak menghasilkan apa-apa. Saya pernah merasa gagal karena seperti tidak mampu menjadi ibu yang baik, jadi ijinkan saya setidaknya berguna bagi orang lain dengan ilmu yang saya peroleh. 🙂

2. The First and The Most Important to Become My Source of Love Is Myself. Don’t depend love and respect from Others.

Saya sadari bahwa satu-satunya orang yang harus saya harapkan cinta dan penghargaannya adalah diri saya sendiri. Berharap cinta dan respek dari orang lain adalah hal yang paling mengecewakan. Cintai dirimu sendiri, hargai dirimu sendiri. Karena saat kamu sudah penuh akan cinta, kamu tak akan mengharapkan apapun dari orang lain. A note to myself: jangan orang lain aja dibeliin ini itu, kamu juga berhak menikmati hasil kerja kerasmu. Okay?

3. Perfection Doesn’t Exist. I am not Perfect and Nobody is Perfect and That’s Okay.

Saya mulai belajar menerima bahwa sungguhlah tak semua hal bisa terjadi secara sempurna. Manusia pun demikian. Sesempurna apapun seseorang kelihatannya, kenyataannya ada hal-hal yang membuatnya tak sempurna. Hanya kita dan orang lain tidak mengetahuinya secara utuh. Saya belajar untuk mengabaikan setiap judgement orang-orang karena saya pahami mereka hanya manusia yang tidak sempurna, sama seperti saya. Kalau semua manusia terlahir sama, kita akan hidup layaknya barisan semut yang hanya tahu bekerja tanpa banyak berkata-kata.

4. You are the One who Own Responsibility of Your Own Life.

Saya belajar bahwa semakin kita dewasa, kita memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Tanggung jawab yang utama tentu tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kebutuhan kita, keperluan kita, sebisa mungkin kita harus bisa mandiri. Dunia yang dewasa bukan lagi dunia anak-anak dimana kita selalu bergantung pada orang tua/orang lain. Kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Hidup kita sepenuhnya tanggung jawab kita. Orang lain boleh memberi saran, tapi saya lah yang paling berhak memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya. Berkaca dari pengalaman di masa lalu, mengikuti saran orang ternyata ujung-ujungnya tetap dipersalahkan. Saya tak mau lagi iya-iya saja dan menuruti bila saya rasa itu tidak tepat untuk saya, karena pada akhirnya saya lah yang akan menanggung pilihan itu bukan orang lain.

5. The only Thing that I can Control are My Thoughts and My Attitude.

Dunia ini penuh dengan banyak hal, tetapi yang hanya dalam kuasa saya hanyalah pikiran saya dan sikap saya. Orang bisa saja bersikap di luar dugaan, cuaca bisa saja berubah-ubah, dunia mungkin hancur atau maju dan berkembang. di tengah semua yang tak pasti itu, melelahkan bila saya berharap semua akan selalu baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Saya hanya bisa mengatur pikiran dan mengatur sikap. Apakah masa bodoh atau mengambil suatu tindakan.

6. Focus on Good Things and Be Grateful for It.

Saya tahu ada banyak hal dalam satu hari yang bisa mengacaukan hati saya, tetapi syukurlah Tuhan masih menyisakan beberapa hal yang baik. Satu hal buruk bisa mempengaruhi lima hal baik bila saya terlalu fokus pada hal buruk itu. Yah, tidak mudah, tetapi terasa lebih menyenangkan bagi hati bila memfokuskan pada hal-hal yang penting dan menyenangkan. Ini juga yang membuat saya memfilter media sosial. Kadang membuka media sosial hanya untuk mencari tahu kabar teman atau kerabat yang saya rindukan. Tak semuanya bisa saya lihat setiap hari dan saya mulai meninggalkan melihat media sosial orang yang tak pernah saya temui sebelumnya seperti artis, mantan, *eh* atau yang kenal cuma lewat obrolan. Hehe. Intinya, saya hanya ingin lebih banyak bersyukur dan berfokus pada hal-hal yang penting.

7. Life is Full of Abundance. Everything is Enough for Everyone. What Goes Around, Comes Around. Do Kindness, It Will Comeback Unexpected Ways.

Saya percaya bahwa hidup itu penuh dengan kelimpahan, semasih saya mampu untuk berbagi, saya akan berbagi. Saya belajar untuk tidak berharap lagi pada orang atau pada apa yang telah pergi karena bisa saja yang akan kembali bukanlah dari orang yang pernah kita beri dan apa yang kita bagi tak selalu kembali dalam bentuk materi. Rejeki bisa saja berbentuk lain; kesehatan orang-orang yang terkasih, kelancaran dalam hidup dan keharmonisan keluarga dan itu sudah lebih dari cukup. Tuhan tahu yang terbaik dan paling tahu apa yang kita butuhkan. 🙂

8. God Teach You to be Kind, but Not to Please Everyone We Meet. Know What is Right For You.

Dulu saya selalu berusaha untuk melakukan apapun yang bisa membantu orang lain, tak peduli apakah saya mampu, apakah saya memiliki waktu, bahkan tak peduli meski saya kelelahan. Saya perlahan belajar untuk mengenali keterbatasan saya dan merelakan bahwa saya tak bisa menjadi unsung hero yang mampu melakukan segalanya. Saya belajar untuk menghormati hak-hak saya sendiri bahwa saya berhak untuk menolak permohonan orang lain bila saya memang tidak mampu melakukannya. Saya belajar untuk membantu dan memberi seikhlasnya saja sebagai ucapan terima kasih, bukan untuk meraih kendali atau respek orang lain. Tidak apa-apa bila saya bukan lagi ibu peri yang dulu. Saya yang sekarang hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan seperti manusia lainnya. 🙂

Akhirnya itulah bekal yang diberikan oleh 2020 kepada saya untuk menjalani masa-masa selanjutnya. Ambil lah bila ada yang sesuai dengan anda dan buang bila tidak, karena setiap orang memiliki tantangannya sendiri dan rumusnya sendiri untuk memecahkan masalahnya. Tentu rumus ini pun mungkin suatu kelak akan usang, tergantung bagaimana hidup memberikan musimnya. Tugas saya sebagai manusia, belajar dari pohon jati yang beradaptasi: ada masa dimana kita harus meranggas dan berdiri kokoh, ada masa dimana kita bisa merimbun dan berbuah lebat. Eh, memangnya pohon jati bisa berbuah? Plakkkk.

Berubah lah bila harus berubah, terutama bila cara-cara yang lama tak mampu lagi memberikanmu kedamaian. Ombak datang menerjang, mengayuhlah lebih keras. Angin berhembus, bentangkan layar agar lebih cepat ke tujuan. Itulah sebab manusia diberi akal budi, agar mampu melewati setiap cobaan yang diberi.

Oya, satu lagu penuh makna dari Nosstress menutup tahun 2020 dan menemani 2021. “Pegang Tanganku”

Thank you God for everything. Meminjam tagar Kakanda Andhika Diskartes “Stay Bold”.

With love,

Posted in blog competition, Earth and me, To think

Masihkah Ada Air Bersih Tahun 2030?

Good day good people

Air merupakan entitas alamiah yang sangat krusial bagi kelangsungan hidup organisme. Air tersedia melimpah di bumi tetapi hanya 1% yang bisa digunakan secara langsung untuk aktivitas manusia. Jumlah yang sedikit ini diperkirakan akan terus berkurang beberapa tahun mendatang. Data dari WHO memprediksi setengah dari populasi manusia akan hidup dalam kondisi kelangkaan air pada tahun 2025. Bappenas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2020-2024 memperkirakan pada tahun 2030 akan terjadi kelangkaan air bersih pada beberapa wilayah di Indonesia seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Akankah kita yang selanjutnya?

Setiap hari kita sangat mudah memperoleh air bersih. Tinggal buka keran, air keluar. tinggal tekan tombol, air ngecor. Tarif air yang kita bayar perbulan pada PDAM juga rata-rata kurang dari 1% pengeluaran rumah tangga. Akses air yang mudah ini kadang-kadang membuat kita terlena. Hidupin keran sampai luber-luber, air masih mengalir meski lagi sikat gigi. Ibaratnya, “pokoknya ya pakai sesukanya lah. Toh kita masih bisa bayar.”

Saya sendiri mengakui bahwa saya pun kadang suka khilaf kalau pakai air. Apalagi pas mandiin anak. Siapa sih orang tua yang ngga pingin anaknya bisa gembira karena main dan berendam di kolam kecilnya? Sampai akhirnya saya denger obrolan di KBR tentang Ancaman Krisis Air Bersih. Ada beberapa hal yang disampaikan di sana yang membuat saya jadi tersentak, betapa kelalaian dan pemborosan yang telah kita lakukan selama ini terhadap air bersih akan merebut hak-hak air bersih untuk anak-cucu kita kelak.

Indonesia sendiri merupakan negara maritim dan secara geografis berada di daerah khatulistiwa. Ini memungkinkan Indonesia menjadi negara yang kaya akan air. Disampaikan oleh Mohammad Reza pada siaran KBR 22 Mei 2020, jatah air yang dimiliki Indonesia adalah 9 kali lipat jatah air bersih dunia. Namun, faktanya beberapa wilayah di Indonesia sendiri masih kesulitan air bersih. Pengalaman waktu saya pernah tinggal di Maumere, NTT, tidak semua rumah terpasang pipa PDAM. Saya dan suami membeli air bersih tiap 2 atau 3 minggu sekali. Harganya, waktu itu 150 ribu rupiah untuk 1000 liter yang kami pakai bersama 3 keluarga lainnya. Kalau pas air habis di hari minggu, kami baru bisa memesan keesokan harinya. Pernah tuh, malam hari kami ngga mandi karena air habis. Saat-saat seperti itu, baru terasa sekali betapa mahal dan susahnya dapat air bersih.

Data dari WHO menyebutkan di seluruh dunia diperkirakan ada sekitar 340.000 balita meninggal karena diare yang disebabkan oleh krisis air bersih, hampir 1000 anak per hari. Sekitar 161 juta anak menderita stunting dan malnutrisi kronis karena permasalahan sanitasi air. Tidak perlu jauh-jauh, di Indonesia sendiri juga masih memiliki beban kesehatan yang tinggi karena kelangkaan air bersih. Salah satu kecamatan di Flores dilaporkan masih ada kasus stunting dengan salah satu faktor penyebabnya adalah minimnya ketersediaan air bersih. Hal ini tentu akan menjadi semakin parah dengan ancaman kekeringan yang akan melanda wilayah tersebut.

Duh, tiap buang air sisa mandi anak, saya jadi teringat ada anak-anak lainnya yang saat ini mungkin sedang kesulitan memperoleh air bersih untuk sekadar minum.

Bagaimana Bisa Terjadi Kelangkaan Air?

Pasti ada yang nanya, air kita kan banyak dan konstan. Gimana tuh ceritanya bisa langka?

Ada yang masih ingat pelajaran siklus air waktu jaman sekolah? Mari kita refresh kembali. Air yang ada di permukaan bumi (danau, sungai, laut) dan es yang ada di kutub sebagian mengalami penguapan (evaporasi). Uap air juga dihasilkan melalui proses pernafasan makhluk hidup dan proses fotosintesis (transpirasi). Kumpulan dari uap air ini kemudian terkondensasi membentuk awan kemudian jatuh ke bumi (presipitasi) dalam bentuk butiran air atau es. Air yang jatuh ke bumi, sebagian berhasil terserap ke dalam tanah hingga mengisi ruang deposit air dalam tanah, sebagian lagi jatuh ke danau, sungai dan mengalir langsung ke laut.

Siklus Hidrologi

Saat ini, tanah-tanah yang menjadi daerah resapan air hujan telah beralih fungsi menjadi daerah yang didirikan bangunan. Tanah-tanah yang tertutup beton menghalangi proses penyerapan air hujan ke dalam tanah. Hal ini bukan hanya memicu terjadinya banjir tetapi juga menyebabkan cadangan air tanah semakin berkurang. Sumur-sumur harus dikeruk lebih dalam. Pasokan air semakin menurun dari segi kualitas.

Adanya perubahan iklim semakin memperparah kondisi kekeringan yang belum teratasi. Perubahan iklim menyebabkan pola cuaca menjadi tidak tentu. Musim kemarau menjadi semakin panjang di beberapa wilayah sedangkan wilayah lain curah hujan semakin tinggi hingga menyebabkan kebanjiran.

Dampak lebih lanjutnya adalah timbulnya masalah kesehatan seperti diare, kolera, penyakit kulit, malnutrisi dan penyakit lainnya yang mungkin timbul karena kurangnya ketersediaan air bersih.

Bagaimana Mengatasi Kelangkaan Air?

Sayangnya, kelangkaan air bersih tidak sama dengan kelangkaan cabai atau beras yang kalau jumlahnya menurun bisa ditambah produksinya dengan intensifikasi. Salah satu cara untuk menambah pasokan air bersih adalah dengan memperbaiki cara pengolahan air. Negara lain yang memiliki cadangan air yang sedikit entah karena geografis tidak mendukung curah hujan yang tinggi atau sumber air yang kurang, memanfaatkan teknologi untuk mengolah air.

Salah satu contoh teknologi pengolahan air diciptakan oleh ilmuwan dari Politecnico di Torino, Italia. Teknologinya berupa sebuah alat yang melakukan proses desalinisasi, mengubah air laut (saline water) menjadi air bersih yang bisa diminum dengan memanfaatkan energi panas dari matahari.

Kita mungkin bisa bernafas lega mengetahui telah ditemukan teknologi pengolahan air laut agar bisa dikonsumsi. Namun, berapa ya kira-kira harga air hasil pengolahan dengan mesin itu nantinya? Sayangnya, Indonesia saat ini belum memiliki teknologi tersebut. Bahkan di beberapa wilayah yang mengalami kesulitan air bersih pun masih belum ada solusi yang tepat dan mudah untuk membuat Indonesia yang kaya akan air ini bebas dari krisis air bersih.

Sebelum kita merujuk pada apa yang seharusnya pemerintah lakukan, mari kita lakukan pelestarian air bersih sejak dini. Beberapa yang bisa kita lakukan diantaranya,

  • Menggunakan air seperlunya
  • Mematikan air keran bila tidak digunakan atau bila air yang ditampung sudah penuh
  • Memanfaatkan air limbah rumah tangga, misalnya air sisa mencuci pakaian untuk menyiram tanaman
  • Mengalirkan air ke tanah
  • Menampung air hujan untuk bisa digunakan di musim kemarau
  • Mengurangi penggunaan semen atau beton untuk halaman
  • Membuat biopori
  • Melestarikan hutan dan upaya-upaya untuk menghambat perubahan iklim

Hutan yang lestari tak hanya menjadi paru-paru dunia tetapi juga sebagai penjaga dari perubahan iklim. Hutan juga berfungsi dalam membantu penyerapan air ke dalam tanah yang nantinya akan keluar sebagai sumber mata air.

  • Membudayakan hemat air dan mengenalkan pentingnya menjaga kelestarian alam pada anak sejak dini

Semua kegiatan di atas mungkin tidak akan signifikan jika dilakukan perseorangan sehingga perlu adanya komunitas yang mendukung dan menjalankan gerakan pelestarian air. Pengaruh yang lebih besar bisa dilakukan oleh pemerintah selaku pembuat regulasi. Gencarnya pembangunan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi harus dibarengi dengan upaya untuk mempertahankan kelestarian alam. Pemerintah perlu secara aktif bersama lembaga masyarakat mendata daerah-daerah yang krisis air bersih, menyediakan penampung air, mengalirkan air ke rumah-rumah warga dan menjamin setiap warga negara memperoleh haknya atas air bersih.

“Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dikuasai negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.”

Pasal 33 ayat 3 UUD 1945

Jadi, masihkah ada air bersih tahun 2030? Tergantung bagaimana perilaku kita dan pemerintah terhadap air dan lingkungan selama sepuluh tahun ke depan.

“The best way to predict the future is creating it”

Peter Ducker

Referensi:

https://www.antvklik.com/en/headline/krisis-air-bersih-meluas-warga

https://kumparan.com/florespedia/desa-di-ntt-krisis-air-bersih-tak-ada-listrik-24-balitanya-stunting-1smTG8JGwwc

https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/drinking-water

https://www.who.int/water_sanitation_health/monitoring/jmp-2015-key-facts/en/

https://www.who.int/gho/phe/water_sanitation/burden/en/

http://gamapserver.who.int/gho/interactive_charts/phe/wsh_mbd/atlas.html

https://water.org/our-impact/water-crisis/

https://amwater.com/wvaw/water-information/water-learning-center/the-water-cycle

https://www.imnovation-hub.com/water/solar-powered-desalination-system-inspired-plants/

Saya sudah berbagi pengalaman soal perubahan iklim. Anda juga bisa berbagi dengan mengikuti lomba blog “Perubahan Iklim” yang diselenggarakan oleh KBR (Kantor Berita Radio) dan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN). Syaratnya, bisa Anda lihat di sini.

Good luck!

with love,

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think, TTR

LDR to LDM, How to (I) Deal with It?

Indahnya LDR/LDM

Om swastyastu, namaste.

Caution :

1. Meskipun judulnya English, tapi tulisan ini akan lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia.

2. Tulisan ini sebagian jokes, sebagian curcol. Wkwk.

3. Tulisan ini bakalan panjang, yang matanya perih dan pikiran letih kalau baca tulisan panjang-panjang disarankan untuk bersabar, ini ujian. Wkwkwk.

Besok adalah hari ulang tahun saya. (Yeaaaay * dalam hati penulis udah sorak sorai bergembira). Kemarin suami menelepon menyampaikan permohonan maafnya bahwa untuk tahun ini ia tidak bisa pulang.

“Duh, udah 2 kali aku ngelewatin ulang tahunmu..” ucapnya dengan nada lirih.

Jika anda di posisi saya, bagaimana sikap anda?

a. Ngamuk dan ngedumel lalu nyuekin suami seminggu kalau perlu sampai satu bulan 7 hari.

b. Mengirimkan senjata nuklir. (Biar ga kalah sama Iran).

c. Pesen tiket pesawat dan segera mendarat ke tempat kediaman suami.

d. Menangis tersedu-sedu semalam suntuk sampai mata menghitam seperti panda yang habis begadang nonton bola.

Kalau saya, tidak memilih satu pun diantara option tersebut. Hehe, terserah saya dong, wong saya yang buat soal. Wkwkwk. (Netijen : tolong nuklirnya dikirim ke yang nulis blog ini aja.)

Mari kita bahas kunci jawabannya. Untuk option a. Saya orangnya ga tahan nyuekin suami lama-lama, paling lama itu 20 jam dan itu akhirnya mewek-mewek. Wkwkwk. Cemen.

Option b. Jelas No. Huhu.

Option c. Tiket pesawat mahal cyn. Kasian uangnya. Eh.

Option d. Dulu iya. Awokwkwk. Tapi belakangan udah semacam apa ya? Malas mungkin ya. Eits! Malas di sini bukan malas sama orangnya. Tetapi malas meribetkan hal-hal yang tidak terlalu penting untuk diribetkan. 🙂

“Ih, sans aja kali. Ya mau gimana lagi.” jawab saya. “Nanti pas pulang aja dirayain, dan jangan lupa hadiahnya yaa..”. Hohoho. Ternyata ada udang dibalik sushi kan pemirsah.

Okay, begitulah secuplik kehidupan suami istri yang long distance marriage. Kali ini saya akan berbagi sedikit tips bagaimana untuk bisa survive dalam LDR (long distance relationship).

Sebagai pejuang LDM yang baru berjalan dalam kurun waktu belum lama (setara lamanya dengan masa penjajahan Jepang di Indonesia) belum pantas rasanya menulis bagaimana untuk survive. (Loh?) Jadi tulisan berikut lebih ke pengalaman saya bagaimana saya menjalaninya. Hehehe.

Sebelum LDR..

1. If you can choose, choose No to LDR.

Jika seandainya anda diberi pilihan untuk LDR atau tinggal bersama, pilihlah untuk tinggal bersama. Mengapa? Karena LDR itu berat, kamu ga akan kuat. Jika masih bisa diusahakan, usahakan untuk tidak berjauhan. Misal pasangan dapat beasiswa ke Australia, kalau bisa kamu nyari juga beasiswa di sana.

2. Jika harus LDR, apakah kamu siap?

Ini adalah pertanyaan penting sebelum menjalani LDR. Siapkah kamu? Untuk tahu apakah kamu mampu atau ngga, coba aja simulasi dulu deh. Emang mau tes CPNS aja yang mesti simulasi? Sebelum LDR juga mesti simulasi.

Coba ngga ketemuan sama pasangan selama sebulan, kuat ngga? Kalau kuat, coba selain ngga ketemuan lalu ngga chat seminggu sekali atau dua kali. Masih kuat? kalau kamu kuat, selamat! kamu boleh LDR tapi belum menjamin bisa mulus LDR-an. Wkwkwk.

Menjalani LDR..

Ketika LDR tak bisa dihindarkan, ketika berpisah jarak dengannya masih lebih melegakan dibandingkan berpisah hati, I will say to all of you “welcome to this world.” Semoga beberapa tips saya dapat menjadi senjata pamungkasmu dalam menjalani hubungan terpisah jarak.

1. Jaga komunikasi.

Untung sekarang ada videocall ya. Bayangin orang tua yang dulu LDR cuma bisa surat-suratan saja kok bisa survive sih? Memang orang jaman dulu itu tangguh, terpisah jarak dan perang tetapi tetap menjaga hati. Apalagi sekarang yang sudah ada telepon, pesan cepat bahkan videocall yang harusnya semakin mempersempit jarak.

Komunikasi itu bukan hanya menyampaikan, tetapi juga memastikan bahwa apa yang kita sampaikan dapat dipahami oleh pasangan. Jadi, saat ingin mengutarakan sesuatu usahakan jangan pakai kode dan jangan kebanyakan gengsi ya.

2. Saling mengerti kondisi satu sama lain.

Komunikasi memang penting ya gaes. Namun jangan demi alasan komunikasi kita mewajibkan pasangan untuk laporan setiap saat. Kita bukan kantor polisi dan dia bukan penjahat meskipun dia sudah mencuri hati kita. (ea ea ea)

Dalam hubungan memang diperlukan pengertian dan dalam LDR, pengertian itu harus jauh lebih dalam.

Mengerti di sini mungkin lebih tepatnya seperti memaklumi dan mengikhlaskan. Saat ia sibuk, tak sempat berkabar, maklumi dan maafkan. Saat ia tak bisa hadir karena suatu hal, maklumi dan ikhlaskan. Ngomong gampang ya? Hahaha. Tapi dengan latihan terus menerus, semoga hati akan semakin melebar. 🙂

3. Percaya dan berpikir positif.

Doi statusnya online tapi kok ga bales wa? Doi katanya ada meeting jadi sementara ga boleh dihubungi.

Mungkin memang benar doi lagi ada rapat penentuan apakah besok harga terasi naik atau ngga. Mungkin doi buka wa di laptop, terus buru-buru ditinggal ke toilet karena salah minum air kobokan dikira infused water, jadi status online terus tapi ngga digubris. Percaya aja dulu dan berpikir positif (meski dalam hati berkecamuk gundah gulana), nanti keraguan itu sebaiknya kita konfirmasi dengan barbar baik-baik. 🙂

4. Ingat untuk mencintai diri sendiri.

Penting! Cintailah dirimu sendiri terlebih dahulu agar kamu tidak menuntut cinta dari pasanganmu.

Loh, bukannya tugas pasangan memang mencintai kita? #plakkk. Saat kita tidak memberi cukup cinta untuk diri kita sendiri, kita akan ‘haus’ untuk dicintai. Haus itu bisa dalam bentuk ingin diperhatikan, ingin dipuji, ingin diberi perlakuan tertentu yang kita anggap sebagai bentuk cinta.

Kalau pasangan ada dekat, mungkin mudah baginya membaca raut wajah kita. Namun, ketika terpisah jarak, komunikasi minim, kita akan gampang baper ketika apa yang pasangan lakukan tidak sesuai harapan.

Dear you, kita tidak bisa memberi cinta ke orang lain tanpa memberi cinta untuk diri sendiri terlebih dahulu. 🙂

5. Pelarian yang tepat.

Ada kalanya suatu hubungan akan mengalami sedikit perbedaan pendapat atau pertengkaran. Saat ada masalah dengan pasangan, pilihlah pelarian yang tepat dan berhati-hatilah memilih tempat curhat. Karena, bisa saja ada yang mengambil kesempatan dalam perdebatan dan saat hati sedang goyah, ia akan mudah sekali bersandar pada siapa pun yang memberi topangan.

If your relationship still matter, curhatlah pada praktisi atau teman yang sama jenis. Kalau lawan jenis, biarpun teman deket lah atau keliatannya lebih pengalaman lah, itu sama saja dengan menunggu negara api menyerang. 🙂

Atau, curhatlah pada Tuhan.

“God is only one prayer away. God will be there to save the day.. Superman got nothing on him. God’s only one prayer away”

Hm, tentang kesetiaan ada baiknya didiskusikan dengan pasangan batasan-batasan apa yang bisa dan tidak bisa ditolerir.

Saya rasa di dunia ini mungkin tidak ada orang yang sangat setia, (kecuali tokoh-tokoh kartun seperti Kaoru Kamiya, Ran Mouri atau Sinichi Kudo) yang ada hanya orang yang pandai-pandai menempatkan diri. Kita harus bisa peka pada apa yang mungkin berpotensi mengganggu hubungan kita nantinya. Hindari, jauhi dan berikan batasan yang jelas pada diri sendiri dan pada potensi itu.

6. Be strong, independent, be your own hero.

Saat menjalani LDR, terkadang kamu akan merasa linglung, setengah kosong setengah berisi. Berisi itu kosong, kosong itu berisi. Punya pacar tapi kok malming ga ada yang ajak keluar.

Bagi saya yang pernah menjalani kehidupan sebagai seorang single sebelum menjalani LDR. Dua kondisi itu terasa tidak jauh berbeda. Kwkwkwk. Kemana-mana berangkat sendiri, ada masalah mau tidak mau mesti usaha dulu sendiri. Jadi seorang pejuang LDR kamu harus kuat fisik dan kuat iman.

Namun, ingatlah biarpun kamu mandiri, di suatu tempat nun jauh di sana ada orang yang merindukanmu dan kamu rindukan. 🙂 So, stay strong ya gaess!

6. Make time.

Tentu kita tidak selamanya LDR kan? Ada waktu dimana kita akhirnya bertemu, melepas berton-ton rindu yang membelenggu hati.

Saat bertemu, hargailah waktu yang ada. Don’t be so busy with your phone (kecuali memang telepon yang penting ya). Waktu kita dengannya hanya sebentar saja, jadi pastikan kita memberikan kehadiran yang berkualitas.

Inilah saat untuk membetulkan retakan-retakan kecil pada hati yang terbengkalai, memupuk rasa pada cinta agar ia semakin tumbuh besar dan lebih kuat untuk perpisahan selanjutnya.

So..

Para pejuang LDR, semoga kita semua bisa menjalani ini sampai akhirnya kita bisa kembali bersama dengan orang yang terkasih.

Semangat untuk kita, para pejuang penikmat LDR. Kita telah memilih cinta kita pada seseorang dibandingkan jarak dan rindu yang menyesakkan dada.

“Distance means so little, when someone means so much”

Saat kita mencintai seseorang ibaratnya kita memberi pisau kepada orang itu dan percaya dia tidak akan menghujamkan pisau itu kepada kita. Namun, apakah orang yang mencintai menjadi orang yang sebodoh itu untuk percaya? Love is blind? Mungkin, sebenarnya kita memberi pisau itu bukan karena kita bodoh lalu percaya. We love because love it self. Because to be in love is to be surrender.

May your love is bigger than anything.

with love,