Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, Throwback Edition

“Say ‘thank you’ for even the bad, as hard as it might be to believe, it could have been much worse.” KhadimulQuran

Om Swastyastu, good day good people

Pernah tidak anda menggerutu karena hujan turun, tetapi kemudian bergembira setelah melihat pelanginya? Tanpa saya sadari ada banyak sebenarnya kejadian-kejadian dalam hidup ini yang serupa. Sesuatu yang tidak menyenangkan di awal, bisa jadi sebaliknya di akhir. Kita tidak suka ada kejadian A, tetapi berbahagia dengan kejadian B padahal B tidak akan terjadi bila tidak dimulai dengan A.

Mungkin memang sifat dasar kita sebagai manusia yang sukanya pada yang enak-enaknya saja, mau yang gampang-gampangnya saja sementara untuk mendapatkan hal itu kita harus melalui proses awalnya yang mungkin sulit dan tidak menyenangkan.

Sangat mudah untuk berterima kasih pada hal-hal yang indah, tapi tidak untuk hal-hal yang bermasalah. Hehe, saya sadari dan mengalami itu. Mungkin karena saya sering kali tenggelam saat berada di situasi yang tidak mengenakkan, tidak menyadari bahwa satu kejadian ini sebenarnya adalah salah satu bab dari berbagai peristiwa dalam sebuah buku cerita.

Saya ingat dulu ketika baru melahirkan anak pertama dan banyak mendapat bantuan dari keluarga dalam mengurus anak, saya sempat merasa sangat tak nyaman. Orang-orang berkata bahwa saya seharusnya berterima kasih dan bersyukur karena ada yang membantu. Setelah berjalan jauh dan setelah semua situasi berubah, saya yang kadang kelelahan ketika pulang kerja jadi sangat berterima kasih saat anak ada yang membantu mengajak bermain, dan sangat berterima kasih anak saya terurus dengan baik selama saya tidak berada di sampingnya.

Saya berhenti untuk menyalahkan orang-orang yang meminta saya untuk bersyukur ketika dulu. Orang-orang yang berkata demikian mungkin sebenarnya orang-orang yang berharap mendapatkan bantuan dalam mengurus anak tetapi harus berjuang sendiri. Dan tentu saja, mereka tak memahami situasi dan perasaan saya di masa yang lalu.

Saya juga berhenti untuk mempertanyakan dan menyalahkan diri saya yang tak mampu bersyukur kala itu, karena situasi sekarang dan saat itu berbeda, kebutuhan saat ini dan saat itu pun berbeda. Saat itu, saya benar-benar ingin menjalankan peran saya sebagai seorang ibu dengan baik, karena itu adalah pengalaman pertama saya sebagai seorang ibu. Ingin memandikan anak dengan tangan sendiri, menidurkan anak dalam pangkuan sendiri, memasakkan anak dan menyuapinya dengan tangan sendiri. Well, mungkin karena sempat lama menunggu kehadiran buah hati dan sempat harus berpisah pasca melahirkan membuat saya ingin memberikan sebanyak-banyaknya cinta yang bisa saya berikan untuknya.

Saat ini, setelah melewati banyak hal, yah meski belum dibilang banyak sekali hehe, belajar untuk mengurangi posesifitas pada anak dan belajar mensyukuri bantuan-bantuan sekitar dalam merawat anak. Meski banyak hal tak menyenangkan yang belum bisa saya syukuri, tapi satu persatu saya belajar untuk menikmati apa yang bisa saya syukuri. Mensyukuri waktu me time saat anak tidak berada di samping dan mencoba untuk menikmati waktu-waktu me time yang diimpikan banyak orang. Hehe.

Ada banyak hal tak menyenangkan di masa lalu yang menjadikannya satu bagian dari sebab saat ini. Saya membiarkan diri yang masa lalu untuk tetap di masa itu dan diri yang sekarang untuk hidup di masa ini.

With πŸ’•

Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Saturday story, Self Reflection, Throwback Edition

“If Everyday was a sunny day, then all over the world will be covered by desert” Seo Dal Mi.

Om Swastyastu, good day good people.

Welcome to my Blog. Enam bulan telah berlalu sejak postingan terakhir dan kini sudah tahun baru. Akhirnya tahun 2020 berlalu, meski peningkatan kasus baru covid 19 masih tetap meroket.

How Was Your 2020?

Bagaimana kesan anda menjalani tahun 2020? πŸ™‚ Kaget ya? Ga nyangka kalau tahun 2020 kita akan menemui peristiwa langka seperti pandemi yang kemudian benar-benar merubah total hampir semua sendi kehidupan kita. Sekolah, pekerjaan, aktivitas sosial, bahkan ada sebagian orang yang kehilangan keluarga. Bukankah ini seperti sebuah bencana yang tak kasat mata? Barang kali di sana ada jawabnya, mengapa di bumi kita terjadi bencana? Deep condolence to us, who are losing someone, who are losing job, losing hope, losing trust to the government, and losing their humanity because they could corrupted people’s money in the time like this. But, thanks to some people that show their kindness, helping others. Thank you for making the world a little better place. Thank you to everyone who fight as frontliner, and thank you to us for still surviving, hold on, and discipline to health protocol.

My Flashback of 2020

Rasanya beberapa tahun belakangan ini menjadi tahun yang selalu penuh dengan up and down. Hahaha. Mungkin benar kata orang, kita baru memasuki dunia yang sebenarnya setelah kita menikah. Lah kemane aje selama remaja? Maklum pas remaja jarang gahol, cuma tahu dunia itu dari permukaan. Setelah masuk ke dalamnya, barulah saya sadar seluk beluk dunia itu sungguhlah sinetron yang diangkat ke kisah nyata. Kumenangissssss… *Plakkkkkk.

Namun, bukankah memang itu inti dari menjadi manusia? Bertumbuh, belajar dan menjalani kehidupan sampai kita bisa menemukan makna dan apa yang kita cari di dunia? Hidup menyediakan pilihan. Tinggal kita yang memilih dan siap bertanggungjawab atas pilihan itu. Hidup menyediakan cobaan, apakah kita menang atau gagal dari cobaan itu? Apakah saat gagal, kita bisa bangkit atau tetap jatuh terpuruk? Apakah menerima dan menjalani jalan yang di depan atau kemudian memutar dan memilih jalan lain?

Awal 2020 saya sempat frustasi karena saya sudah mengakhiri kontrak tapi belum memiliki cadangan yang pasti untuk melanjutkan kerja. Sempat ada lowongan saat itu, tapi tidak melamar, berpikir mungkin bisa menyusul misua ke Lombok. Mencoba untuk percaya dengan hasil cpns yang kemungkinannya sangat kecil, lalu ternyata gagal. Lalu pandemi datang dan sama sekali tak ada lowongan. Sudah jatuh, tertimpa tangga, dan parahnya lagi jatuh di kubangan. πŸ™‚

Sakit memang dan rasa sakit itu mungkin susah untuk dilupakan. Saya memilih memaafkan, bukan karena saya mentolerir sikap dan perkataan yang menyakitkan hati. Namun, karena hidup saya terlalu berharga bila dijalani dengan tetap membopong luka. Saya tidak akan melupakan masa-masa itu. Karena itu adalah pelajaran yang paling berharga yang saya peroleh. Terima kasih untuk orang-orang yang telah berperan sebagai guru, terima kasih untuk orang-orang yang menjadi penumpu dan terima kasih Tuhan yang menyediakan setiap sandiwara dan membantu saya untuk melewatinya. Ini adalah pedoman agar kelak saya bisa mengambil langkah dan tidak jatuh ke kubangan yang sama.

My Lessons of 2020

Ada beberapa hal yang kemudian saya pahami dari semua kejadian itu.

1. What The Meaning of My Life? What I Want to Do in this Life? Help Others trough becoming a good and professional Doctor.

Setelah menjalani masa-masa itu saya menyadari bahwa saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang dokter terlalu lama. Di sana lah impian masa kecil saya, passion saya dan salah satu penyokong arti hidup saya yang paling besar. Perpaduan antara ilmu, memecahkan masalah dan membantu orang jadi satu dalam pekejaan itu, mungkin itu yang membuat saya bahagia dan senang menjalaninya. Saya mungkin belum sepenuhnya mampu menjadi dokter yang baik dan profesional, tapi saya mau dan akan terus belajar dan berusaha.

Saya berterima kasih karena pertengahan tahun, Tuhan memberi kesempatan bekerja kembali. Meski bimbang saat memutuskan karena tentu ada waktu bersama anak yang harus direlakan, banyak hal telah membuat saya jengah dan bertekad bulat untuk bekerja kembali. Terlepas dari passion dan impian masa kecil, dunia dewasa saya saat ini ternyata adalah dunia dewasa yang keras, yang memandang sebelah mata bila kamu bukan siapa-siapa atau tidak menghasilkan apa-apa. Saya pernah merasa gagal karena seperti tidak mampu menjadi ibu yang baik, jadi ijinkan saya setidaknya berguna bagi orang lain dengan ilmu yang saya peroleh. πŸ™‚

2. The First and The Most Important to Become My Source of Love Is Myself. Don’t depend love and respect from Others.

Saya sadari bahwa satu-satunya orang yang harus saya harapkan cinta dan penghargaannya adalah diri saya sendiri. Berharap cinta dan respek dari orang lain adalah hal yang paling mengecewakan. Cintai dirimu sendiri, hargai dirimu sendiri. Karena saat kamu sudah penuh akan cinta, kamu tak akan mengharapkan apapun dari orang lain. A note to myself: jangan orang lain aja dibeliin ini itu, kamu juga berhak menikmati hasil kerja kerasmu. Okay?

3. Perfection Doesn’t Exist. I am not Perfect and Nobody is Perfect and That’s Okay.

Saya mulai belajar menerima bahwa sungguhlah tak semua hal bisa terjadi secara sempurna. Manusia pun demikian. Sesempurna apapun seseorang kelihatannya, kenyataannya ada hal-hal yang membuatnya tak sempurna. Hanya kita dan orang lain tidak mengetahuinya secara utuh. Saya belajar untuk mengabaikan setiap judgement orang-orang karena saya pahami mereka hanya manusia yang tidak sempurna, sama seperti saya. Kalau semua manusia terlahir sama, kita akan hidup layaknya barisan semut yang hanya tahu bekerja tanpa banyak berkata-kata.

4. You are the One who Own Responsibility of Your Own Life.

Saya belajar bahwa semakin kita dewasa, kita memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Tanggung jawab yang utama tentu tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kebutuhan kita, keperluan kita, sebisa mungkin kita harus bisa mandiri. Dunia yang dewasa bukan lagi dunia anak-anak dimana kita selalu bergantung pada orang tua/orang lain. Kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Hidup kita sepenuhnya tanggung jawab kita. Orang lain boleh memberi saran, tapi saya lah yang paling berhak memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya. Berkaca dari pengalaman di masa lalu, mengikuti saran orang ternyata ujung-ujungnya tetap dipersalahkan. Saya tak mau lagi iya-iya saja dan menuruti bila saya rasa itu tidak tepat untuk saya, karena pada akhirnya saya lah yang akan menanggung pilihan itu bukan orang lain.

5. The only Thing that I can Control are My Thoughts and My Attitude.

Dunia ini penuh dengan banyak hal, tetapi yang hanya dalam kuasa saya hanyalah pikiran saya dan sikap saya. Orang bisa saja bersikap di luar dugaan, cuaca bisa saja berubah-ubah, dunia mungkin hancur atau maju dan berkembang. di tengah semua yang tak pasti itu, melelahkan bila saya berharap semua akan selalu baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Saya hanya bisa mengatur pikiran dan mengatur sikap. Apakah masa bodoh atau mengambil suatu tindakan.

6. Focus on Good Things and Be Grateful for It.

Saya tahu ada banyak hal dalam satu hari yang bisa mengacaukan hati saya, tetapi syukurlah Tuhan masih menyisakan beberapa hal yang baik. Satu hal buruk bisa mempengaruhi lima hal baik bila saya terlalu fokus pada hal buruk itu. Yah, tidak mudah, tetapi terasa lebih menyenangkan bagi hati bila memfokuskan pada hal-hal yang penting dan menyenangkan. Ini juga yang membuat saya memfilter media sosial. Kadang membuka media sosial hanya untuk mencari tahu kabar teman atau kerabat yang saya rindukan. Tak semuanya bisa saya lihat setiap hari dan saya mulai meninggalkan melihat media sosial orang yang tak pernah saya temui sebelumnya seperti artis, mantan, *eh* atau yang kenal cuma lewat obrolan. Hehe. Intinya, saya hanya ingin lebih banyak bersyukur dan berfokus pada hal-hal yang penting.

7. Life is Full of Abundance. Everything is Enough for Everyone. What Goes Around, Comes Around. Do Kindness, It Will Comeback Unexpected Ways.

Saya percaya bahwa hidup itu penuh dengan kelimpahan, semasih saya mampu untuk berbagi, saya akan berbagi. Saya belajar untuk tidak berharap lagi pada orang atau pada apa yang telah pergi karena bisa saja yang akan kembali bukanlah dari orang yang pernah kita beri dan apa yang kita bagi tak selalu kembali dalam bentuk materi. Rejeki bisa saja berbentuk lain; kesehatan orang-orang yang terkasih, kelancaran dalam hidup dan keharmonisan keluarga dan itu sudah lebih dari cukup. Tuhan tahu yang terbaik dan paling tahu apa yang kita butuhkan. πŸ™‚

8. God Teach You to be Kind, but Not to Please Everyone We Meet. Know What is Right For You.

Dulu saya selalu berusaha untuk melakukan apapun yang bisa membantu orang lain, tak peduli apakah saya mampu, apakah saya memiliki waktu, bahkan tak peduli meski saya kelelahan. Saya perlahan belajar untuk mengenali keterbatasan saya dan merelakan bahwa saya tak bisa menjadi unsung hero yang mampu melakukan segalanya. Saya belajar untuk menghormati hak-hak saya sendiri bahwa saya berhak untuk menolak permohonan orang lain bila saya memang tidak mampu melakukannya. Saya belajar untuk membantu dan memberi seikhlasnya saja sebagai ucapan terima kasih, bukan untuk meraih kendali atau respek orang lain. Tidak apa-apa bila saya bukan lagi ibu peri yang dulu. Saya yang sekarang hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan seperti manusia lainnya. πŸ™‚

Akhirnya itulah bekal yang diberikan oleh 2020 kepada saya untuk menjalani masa-masa selanjutnya. Ambil lah bila ada yang sesuai dengan anda dan buang bila tidak, karena setiap orang memiliki tantangannya sendiri dan rumusnya sendiri untuk memecahkan masalahnya. Tentu rumus ini pun mungkin suatu kelak akan usang, tergantung bagaimana hidup memberikan musimnya. Tugas saya sebagai manusia, belajar dari pohon jati yang beradaptasi: ada masa dimana kita harus meranggas dan berdiri kokoh, ada masa dimana kita bisa merimbun dan berbuah lebat. Eh, memangnya pohon jati bisa berbuah? Plakkkk.

Berubah lah bila harus berubah, terutama bila cara-cara yang lama tak mampu lagi memberikanmu kedamaian. Ombak datang menerjang, mengayuhlah lebih keras. Angin berhembus, bentangkan layar agar lebih cepat ke tujuan. Itulah sebab manusia diberi akal budi, agar mampu melewati setiap cobaan yang diberi.

Oya, satu lagu penuh makna dari Nosstress menutup tahun 2020 dan menemani 2021. “Pegang Tanganku”

Thank you God for everything. Meminjam tagar Kakanda Andhika Diskartes “Stay Bold”.

With love,

Posted in foodie, LA LA LA THINGS, Throwback Edition, TTR

Banyu Pinaruh Day

Om swastyastu good people, namaste.

Today, let me tell you one kind of Balinese tradition according to Puri Bangli’s custom that was held on Banyu Pinaruh day. I think it’s special because in Puri, the old tradition is still run by every generation. So let’s check it out.

Banyu Pinaruh day is the day after Saraswati Day. Saraswati day comes every six months on Saniscara (Saturday) Umanis Watugunung so as Banyu Pinaruh day comes twice a year on Redite (Sunday) pahing Sintha (Balinese calendar). Banyu means water, Pinaruh means knowledge. So Banyu Pinaruh means the holy water that the same like good/holy knowledge or wisdom to clean our mind and soul.

In the morning, on Banyu Pinaruh Day, Balinese will have melukat before we pray in the temple. When we do melukat, we splatter the holy water or kumkuman (a water with flower soaked in it until it become a fragrant water) to our head and body. Some people go to the beach, river, lake or spring water to wash all over the body, that are the same like melukat. This procession mean to clean our soul with the Banyu Pinaruh.

After cleaning our body (and mind) we pray at our family temple and offer banten (offerings) to our God, Sang Hyang Widhi Wasa. Beside, we also bring labaan to be offered to the atma (God in our body/soul).

Labaan is an offering consist of rice (usually yellow rice), shrimp, fish, meat, eggplant, bittermelon, egg, beans, etc., all cooked and be served like this:

After praying and offered the labaan, then we eat the labaan, ginemule, bantal and drink loloh. Ginemule and bantal are Balinese special cake (?). Hm, I don’t find the proper word for this kind of food. Those are like snack that made from sticky rice mixed with sugar or brown sugar, coconut, wrapped up by banana leaf or coconut leaf and then steamed until it ready to be served.

I am sorry I forgot to capture them. T.T. Don’t worry next time (maybe six month later) I will provide the picture for you. You must try them. >_<

Happy Saraswati and Banyu Pinaruh Day,

may the wisdom be with you!

with love,

Posted in Fav Movie, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, STORY-OPINION, Throwback Edition, To think, TTR

FAST FORWARDED LIFE

Om Swastyastu, Namaste good people.

Apakah anda pernah berharap bisa pergi ke suatu masa? Masa depan atau masa lalu.

Sepertinya hampir semua orang pernah memiliki keinginan untuk pergi ke suatu masa yang bukan masanya. Keinginan itu tampaknya masih menjadi mimpi sebagian besar orang hingga banyak ada film yang bertema ‘time traveller’, mesin waktu, kotak pandora, pintu ke mana saja dan sejenisnya.

Salah satu film yang bertema serupa adalah film CLICK. Ada yang pernah nonton?

TUESDAY TIME REVERSE

TTR kali ini dipersembahkan oleh sebuah film lawas yang sudah tayang tahun 2006 silam. (Wow, sudah 13 tahun yang lalu ya, haha dan kemarin tayang lagi di HBO.

Film ini dibintangi oleh Adam Sandler yang berperan sebagai Michael Newman. Michael diceritakan sebagai seorang arsitek yang super sibuk. Ceritanya, si Michael ini dapat sebuah remote ajaib yang bisa berfungsi untuk mengontrol hidupnya layaknya remote tv. Ga suka sama scene hari ini, tinggal ‘klik’ tombol forward ke masa yang diinginkan. Seru ya.. Kalau saya punya remote ini, saya mau skip saat-saat saya mesti dicukit pas SD. Huahaha.

Kemarin saya nontonnya udah di pertengahan film saat si Michael bangun setelah menjalani operasi liposuction. Saat ia sadar, ternyata ia sudah dibawa ke masa dimana ia sudah bercerai dari istrinya, anak-anaknya sudah besar dan ayahnya sudah meninggal. Mengetahui fakta yang terakhir, Michael benar-benar terpukul. Ia berharap bisa kembali ke masa sebelum ayahnya meninggal, sayang hal tersebut tidak bisa dilakukan. Morty, sang malaikat maut yang juga pemberi remote ajaib hanya bisa membawa Michael ke saat di mana Michael terakhir bertemu ayahnya. Itu adalah waktu dimana si ayah berusaha membujuk Michael untuk datang ke rumah. Namun, sedikit pun Michael tidak menggubris ayahnya. Michael yang hanya bisa melihat scene itu, marah kepada dirinya yang terlalu sibuk, bahkan ia juga tidak menatap ayahnya. Mulai part ini, saya sudah tidak bisa membendung air mata, saudara-saudara. Hiks, teringat ayah dan ibu di rumah.

Michael kemudian mem-fast forward kembali hidupnya. Ia dibawa ke saat yang membahagiakan yaitu saat anak laki-lakinya, Ben menikah. Namun kemudian, hal tak menyenangkan yang lainnya muncul; Samantha memanggil Bill (ayah tirinya) sebagai ‘ayah’. Seketika Michael terkena serangan jantung. Ia terbangun di rumah sakit saat Ben dan Samantha menjenguknya. Ben mengatakan bahwa ia menunda bulan madunya karena pekerjaan yang harus diselesaikan.

Michael menyadari bahwa apa yang sudah ia lakukan selama ini salah dan ia tak ingin terulang pada Ben. Part berikutnya yang menguras air mata adalah saat Michael dengan sisa-sia tenaganya, terseok-seok dan tertatih, memanggil-manggil Ben dengan suara serak yang tenggelam dalam derasnya hujan di malam itu. Ben sudah memasuki mobil ketika Michael yang sudah lemah kemudian tersungkur tak mampu menahan sakitnya. Bersyukur Ben dipanggil sang Sutradara, sehingga ia berlari setelah melihat ayahnya yang sudah terbaring di jalanan.

Seperti mengucapkan kata-kata wasiat sebelum ajal menjemputnya, Michael dengan terbata-bata berkata pada Ben, “Family comes first.” Setelah kalimat terakhir itu terucap, Michael terbangun dari tidurnya dan bersuka cita bahwa apa yang baru saja terjadi adalah mimpi.

Michael layaknya mendapat hidup yang baru, ia segera mencari ayah dan ibunya, istrinya, anaknya, dan anjing kesayangannya. Sejak saat itu ia berjanji untuk lebih menghargai keberadaan orang-orang di sekitarnya.

Pesan Moral Film:

Harta yang paling berharga, adalah keluarga~

Something to Think :

Dalam hidup ini kita akan selalu dihadapkan pada hal-hal yang tak mengenakkan dan hal yang menyenangkan secara silih berganti. Kata Guruji, bila kita berjumpa kebahagiaan di ruang tamu, di pintu belakang kesedihan sudah menunggu.

Terkadang, memang ada hal-hal yang ingin kita skip ke masa-masa yang tampaknya lebih menyenangkan. Namun, sebera jauh akan kita skip hingga melewatkan hal yang penting di dalamnya?

Setelah saya pikir-pikir, meskipun saya punya remote untuk mem-forward hidup, saya tidak mau mem-forward masa-masa SD yang menyenangkan hanya karena takut dicukit. Hahaha.

Ah, pada akhirnya masa-masa ini seberapa pun buruknya mungkin akan kita rindukan di masa yang akan datang, bukan?

Jadi seburuk apapun itu, mari kita hadapi dengan lapang dada dan bersyukur.

This is reminder to my self too.

Jadi, apakah kita lebih baik memilih mesin lorong waktu Doraemon saja ya? Hahaha.

with love,

Posted in Self Reflection, Throwback Edition

The Yogurt of Life #1

Om swastyastu, good day good people πŸ™‚

Hari ini saya tersadar sesuatu. Lebih tepatnya, teringat sesuatu. Masa ketika saya masih koas dengan segala jadwal yang sibuk dan tak beraturan. Ketika itu, Aji (ayah) dan Ibu saya masih dengan kebiasaan kasih sayang mereka : menelepon di sore hari untuk bertanya apakah anaknya sudah maka atau belum?

Coba pikirkan, Aji dan Ibu tentu tahu bahwa anaknya sudah cukup dewasa masa itu. Ya setidaknya, anaknya tentu tahu aturan “kalau lapar, ya makan”. Namun, mengapa mereka selalu bertanya itu setiap hari?

Waktu itu, saya masih sangat bodoh untuk menyadari kasih sayang mereka sehingga saya kadang jengkel bila saat bertugas ada telepon masuk. Terkadang saya menjawab singkat, bahkan terkadang tidak menjawab. (Duh, durhaka sekali ya saya waktu itu? 😦

Keesokan harinya, Ibu dan Aji kembali menelepon dengan nada marah-marah.

“Kenapa kemarin tidak angkat telepon?”

“Nggih, Bu. Pasiennya rame.”

“Jawab sebentar kenapa? Kamu tahu Ibu khawatir?”

“Nggih, nggih. Tapi kan anak ibu sudah gede, sudah mengerti dan bisa makan sendiri..”

“Ya. Nanti rasakan kalau nanti kamu sudah jadi orang tua!”

Jeder! Apakah saya dikutuk ibu T.T ? (Untung tidak dikutuk jadi batu seperti Malin Kundang)

“Nggih Bu. Ampura…ampura (maaf)”

Apakah ampunan maaf dari Ibu mampu membatalkan kutukan? Ataukah tetap berjalan seperti kutukan Maham Anga pada Raja Jalal?

Seiring waktu, hubungan LDR antara anak dan orang tua mengalami perbaikan. Masing-masing dari kami sudah mulai mengerti. Bila saya jaga dan ada telepon, sedapat mungkin saya angkat, walaupun saya jawab singkat.”Ampura (maaf) Bu/Ji, tiyang (saya) masih jaga” lalu ditutup.Β Atau kalau tidak sempat saya angkat, semalam apapun itu, bila ada jeda tugas saya mengirim pesan singkat agar bisa dibaca oleh Ibu dan Aji keesokan harinya.

Terkadang karena terlalu sibuk, lelah, bahkan di saat yang bersamaan pulsa habis dan tidak bisa kirim SMS, keesokan harinya Aji dan Ibu akan menelepon kembali. Namun, tidak seperti sebelumnya, nadanya sudah tidak dipenuhi nuansa kemarahan. Mereka bahkan menelepon dengan sangat lembut. Seolah paham, bahwa anaknya yang usai jaga tentu dalam kondisi lelah. Dibandingkan marah, anak ini justru lebih perlu perhatian dan dukungan. πŸ™‚

“Sebuah kasih sayang yang terlalu berlebihan kadang berujung pada kekhawatiran”

“Namun ketika kasih sayang itu mampu melampaui kekhawatiran dan kemarahan dengan doa dan percaya, yang tersisa hanya bentuk kasih : kelembutan”

Untuk bisa saling mengerti dan memahami, masing-masing manusia perlu belajar. Untuk bisa belajar, manusia perlu kemauan, waktu dan kesempatan.

Meskipun terkadang waktu bersama keluarga harus terbatas karena tugas saya, tetapi Ibu dan Aji telah mengerti itu. Terima kasih, Aji dan Ibu.

Pada akhirnya, telepon dari orang tua akan menjadi telepon yang paling ditunggu anaknya. Semasih mereka bisa menelepon, saya ingin selalu mendengarkannya. Topik apapun itu tidaklah penting, karena yang terpenting adalah waktu bersama mereka.

with love,