Posted in blog competition, DiscoverWP, foodie, LA LA LA THINGS

Jadi Chef ala Yummy App

Good day good people,

Apa pekerjaan Anda sekarang? Seorang ibu rumah tangga? karyawan perusahaan? guru? Mahasiswa atau pelajar yang baru lulus jalur korona?

Atau mungkin ada yang baru saja kehilangan pekerjaan karena terdampak virus kokoronotomo COVID 19 ini?

Ada yang terpikir buat buka usaha baru, jualan masakan Indonesia yang endang bambang gurindang supaya bisa di-endorse di media sosial. Tetapi ragu, jangankan mau buat masakan, mau pegang penggorengan panas aja itu bingung mau pegang apanya. Hehehe, ya pegang lap dulu dong ya, gimana sih yang buat pertanyaan. Plakkk.

Tapi, kali ini ngga perlu cemas ya, Sis, Bro, Mums, Dads, Opa dan Oma! Dengan Yummy App, anyone can become a chef!

Q : Eh, serius? Segampang itu?

Yup. Coba deh download aplikasi Yummy App. Saya saja waktu pertama kali download aplikasi ini kaget, tiba-tiba dapat salam “Selamat pagi, Chef Dewa”. Serasa membuka sebuah kotak pandora yang tiba-tiba bersinar terang hingga menyilaukan mata *Brb ngecilin brightness hp yang maksimal.

 Kenapa Harus Yummy App?

Aplikasi resep masakan memang banyak bertebaran di Google Play maupun App store bagai jamur di musim hujan. Namun, dari sekian aplikasi memasak yang ada, Yummy app wajib kamu coba. Oke, kita bahas dari segi tampilannya dulu.

Tampilan aplikasi ini menggunakan background putih bersih dan ikon-ikon lucu berwarna jingga yang memberi kesan hangat, bersemangat, kegembiraan dan kreatifitas. Seperti proses memasak itu sendiri yang relatif bernuansa hangat, semangat dan penuh cipta kreasi.

Aplikasi ini terdiri dilengkapi berbagai fitur yang akan memudahkan kita mencari resep masakan, yaitu Home, Komunitas, Masak, Notifikasi dan Akun.

Home

Home ini adalah fitur pertama yang muncul tiap kali kita buka aplikasinya. Seperti biasa, bagian atas ada sapaan hangat layaknya kita baru masuk ke minimarket. Namun, kali ini berbeda karena kita akan berasa masuk ke kitchen dari suatu restoran, “Pagi, Chef!”. Awww, sungguh aku tersandung. Belum juga masak apa. Wkwkwk.

Selanjutnya, terserah kita. Mau langsung cari resep menu MPASI buat si anak bayi kesayangan? Tinggal ketik di ‘Pencarian‘. Atau lagi bosen sama tahu tempe goreng, pingin mencoba cara membuat masakan yang lagi hits kaya Dulche de Leche? Ada di ‘Trending’.

Hmm. Maunya sih resep yang langsung dari Chef Arnold Poernomo. Eits, ada kok! Cari aja di ‘Akun Official’ ada banyak chef yang membagikan resep-resepnya secara gratis.

Mengikuti Akun Official Chef Arnold adalah jalan ninjaku menjadi chef ala Yummy app

Mau belajar dulu masak yang gampang-gampang, bisa! Cari saja di bagian ‘Kategori‘ di sana ada resep-resep dasar sebagai bekal pengetahuan memasak. Mau tahu gimana caranya menguliti telur ala Chef Yummy app? Tinggal klik di bagian Yummy tips. Lah, ngupas telur kan gampang, emang siapa yang mau belajar ngupas telur? Who knows. Ngupas salak pun tidak semua orang bisa melakukannya kok. Jangan berkecil hati, Anda tidak sendiri.

Masih kurang juga? Jangan khawatir. Yummy app menyediakan berbagai resep yang pasti udah teruji enak oleh para chef Yummy app. Mau lihat-lihat dulu mau masak yang mana? Boleh. Ada tampilan video cara masaknya juga lho. Jadi pas masak, ngga pakai ribet memicingkan mata buat nyari udah sampai step mana. Tinggal klik videonya, paham cara masaknya terus eksekusi deh.

Komunitas

Lanjut ke fitur ‘Komunitas’. Pada fitur ini kita bisa melihat resep-resep masakan yang baru saja diupload oleh para pengguna Yummy app. Kalau Anda memiliki resep rahasia Krabby paty masakan yang unik, misalnya ‘sup ayam jahe anti mual untuk ibu hamil’ atau ‘jus daun kelor pelancar ASI’, bisa diupload di komunitas. Siapa tahu ada ibu hamil atau ibu menyusui yang sedang mencari masakan Anda. Jangan lupa klik bintangnya kalau Anda suka resepnya, mungkin besok-besok akan jadi resep favorit Anda sekeluarga.

Masak

Kadang kita bingung ketika di kulkas cuma tinggal sisa-sisa bahan dari resep-resep sebelumnya. Ayam cuma tinggal cekernya, daun bawang cuma sebatang, kubis cuma seperempat, bisa dibuat apa? Nah, kita tinggal klik aja sesuai bahan yang tersisa lalu terapkan. Kita akan mendapat rekomendasi resep-resep masakan yang bisa dibuat berdasarkan bahan-bahan tersebut. Mau yang masaknya cepet, mau yang porsinya buat 10 orang, mau yang budgetnya pas di kantong? Tinggal pilih aja di pengaturan. Barangkali, ada rekomendasi resep yang sesuai di hati.

Notifikasi

Pada fitur Notifikasi, kita akan lagi-lagi disuguhi resep masakan. Ya iyalah, namanya juga aplikasi resep masakan. Kalau resep menghindari pelakor bisa cek di aplikasi-aplikasi rohani ya. Eh, tapi kalau bisa buat makanan enak, siapa tahu suami jadi lebih betah di rumah kan?

Pada fitur ini akan muncul rekomendasi resep masakan dari para editor Yummy app. Siapa tahu bisa membangkitkan jiwa-jiwa yang suka challenge, mungkin tertarik mencoba resepnya. Daripada ikutan challenge buka-buka isi ATM (yang berujung pada riya atau ngenes karena cuma satu digitnya) mending buka resep di Yummy app, masak, lalu jual.  Pasti akan lebih berfaedah menambah isi ATM.

Akun

Pada fitur ini terdapat profil kita, yaitu foto, nama, jumlah resep yang sudah dibuat, pengikut berapa dan mengikuti siapa saja. Oya, di sini juga ada informasi Yummy pointnya.

Yummy point ini bisa dikumpulkan dengan cara mengajak teman untuk download Yummy app melalui kode referal dan bisa didapatkan pula melalui resep yang kita upload. Selain memudahkan resep kita dikenal oleh para pencinta memasak, kita juga dapat poin yang nantinya bisa ditukar dengan uang. Wahhh, berfaedah banget kan. *Syarat dan ketentuan berlaku ya.

Pada fitur ini,  ternyata resep kita ada direvisi juga lho. Kaya skripsian aja. Namun, itulah yang nantinya membuat resep kita jadi lebih ‘layak tayang’ di khalayak pencari resep. Tentunya berkat ini pula, resep-resep dari pengguna lain pastinya adalah resep yang sudah lewat revisi dan persetujuan. Berasa ikut ajang Mister Chef gitu ga sih? Pantas saja penggunanya dipanggil ‘Chef’. Hohoho.

So, tunggu apa lagi? Download Yummy app di Google Playstore dan App Store dan jadilah Chef ala Yummy app.

Selamat memasak, Chef! #Masakitugampang dengan Yummy app.

“Anyone can cook, but only the fearless can be great”

Gusteau, Ratatouille movie.

Post ini dibuat dalam rangka Blog Competition yang diselenggarakan Yummy app X PopMama. Yuk ikutan, siapa tahu kamu jadi juaranya. Good luck!

with love,

Posted in foodie, LA LA LA THINGS, Throwback Edition, TTR

Banyu Pinaruh Day

Om swastyastu good people, namaste.

Today, let me tell you one kind of Balinese tradition according to Puri Bangli’s custom that was held on Banyu Pinaruh day. I think it’s special because in Puri, the old tradition is still run by every generation. So let’s check it out.

Banyu Pinaruh day is the day after Saraswati Day. Saraswati day comes every six months on Saniscara (Saturday) Umanis Watugunung so as Banyu Pinaruh day comes twice a year on Redite (Sunday) pahing Sintha (Balinese calendar). Banyu means water, Pinaruh means knowledge. So Banyu Pinaruh means the holy water that the same like good/holy knowledge or wisdom to clean our mind and soul.

In the morning, on Banyu Pinaruh Day, Balinese will have melukat before we pray in the temple. When we do melukat, we splatter the holy water or kumkuman (a water with flower soaked in it until it become a fragrant water) to our head and body. Some people go to the beach, river, lake or spring water to wash all over the body, that are the same like melukat. This procession mean to clean our soul with the Banyu Pinaruh.

After cleaning our body (and mind) we pray at our family temple and offer banten (offerings) to our God, Sang Hyang Widhi Wasa. Beside, we also bring labaan to be offered to the atma (God in our body/soul).

Labaan is an offering consist of rice (usually yellow rice), shrimp, fish, meat, eggplant, bittermelon, egg, beans, etc., all cooked and be served like this:

After praying and offered the labaan, then we eat the labaan, ginemule, bantal and drink loloh. Ginemule and bantal are Balinese special cake (?). Hm, I don’t find the proper word for this kind of food. Those are like snack that made from sticky rice mixed with sugar or brown sugar, coconut, wrapped up by banana leaf or coconut leaf and then steamed until it ready to be served.

I am sorry I forgot to capture them. T.T. Don’t worry next time (maybe six month later) I will provide the picture for you. You must try them. >_<

Happy Saraswati and Banyu Pinaruh Day,

may the wisdom be with you!

with love,

Posted in foodie

Chocolate, anyone?

Good day good people, Om Swastyastu.
Saya dan coklat mungkin bisa diibaratkan seperti perokok dengan rokoknya atau seperti peminum dengan alkoholnya. Semacam candu? Em, bisa dikatakan kurang lebih demikian. Namun, lebih tepatnya cokelat seperti penenang di kala saya terjangkit segala ketidakwarasan perasaan.Seperti beberapa saat yang lalu. Memang, yang namanya hidup tidak akan selalu mulus seperti kulit bayi, sesekali ada saja hal-hal yang menyentil kesabaran, mengusik ketenangan dan segala hal yang membuat kita terpaksa melakukan ekspirasi yang lebih panjang supaya tidak hanya karbondioksida saja yang keluar dari paru- pikiran negatif juga.Tidak perlu dibeberkan apa saja hal-hal itu, karena hal itu tidak penting sama sekali untuk diumbar ke khalayak ramai. Sama tidak pentingnya bagai ketombe di kepala, gatel sih pingin digaruk. Tapi ya malu kan kalau digaruk terus ketombenya berterbangan di atmosfer. Ewkwkwk.Syukurnya, di kantong tas yang sudah seperti kantong doraemon-saking banyaknya isinya- saya menemukan Silverqueen Milk Chocolate Almond, cokelat susu dengan kacang Almond. Sebelum cokelat itu jadi barang purba yang terlupakan, akan lebih bijak bila segera dimakan. Setuju? * dan kemudian penulis bersorak sorai gembira.Cokelat di hadapan saya ini adalah cokelat batangan dengan netto 30g. (Sengaja beli yang kecil supaya ga khilaf kalau ukuran yang gede.) Dari bungkusnya saja, silverqueen almond ini digambarkan dengan kacang almond bejubel, berdekatan satu sama lain, dan semakin ke kanan, kacang-kacang almond itu tenggelam di lautan coklat. Udah kaya kumpulan orang-orang yang mau demo gitu terus diterjang oleh air bah kecoklatan.Oya, setiap kali mengkonsumsi yang manis-manis, kita perlu waspada dengan informasi nilai gizinya. Jumlah kalori persatu batang coklat ini dikatakan sebesar 170kkal. Setara dengan jumlah energi yang diperlukan orang dengan berat 56kg untuk jogging selama 10 menit lho. Waduh, pantas lemak-lemak bergelayutan di tubuh saya. Wong habis makan coklat, tidak ada pergerakan sih. Ewkwkwk.Saat bungkusnya dibuka, cokelat ini masih juga terbungkus dengan kertas aluminium warna keemasan, menyiratkan kudapan ini adalah bangsawannya dari kudapan-kudapan. Sudut-sudut persegi dari batangan cokelat sudah menggoda untuk dikuliti. Then, look what we’ve found: cokelat dengan kepingan ujung almond yang menyembul dari permukaannya yang padat namun halus itu. Aromanya khas wangi coklat yang memanggil saliva keluar dari belakang lidah, tak sabar untuk dikunyah.Oke, cara menikmati cokelat batangan ini ada beberapa versi. Seperti Oreo, ada tim yang dijilat dulu baru dicelupin dan ada tim yang langsung melibas sekali hap. Untuk cokelat ini, ada yang suka mengunyah ada juga yang suka membiarkannya larut perlahan di dalam mulut. Saya sendiri lebih suka mengunyahnya dulu sampai tercipta akulturasi antara rasa cokelat dan almondnya. Saat dirasa sudah cukup lumat baru kemudian mencecapnya perlahan, merasakan getir pahit cokelat yang larut dalam rasa susu yang manis serta gurihnya kacang almond. Rasa yang tercipta bagai kembang api warna-warni yang meledak-ledak dalam mulut. Delicious!Menurut penelitian, dark chocolate mengandung flavonol, semacam antioksidan yang bermanfaat bagi tubuh, terutama otak. Namun, bukan berarti mengkonsumsi berkilo-kilogram coklat akan baik ya. Faktanya, cokelat di pasaran tidak hanya murni dark chocolate, tapi sudah tercampur dengan tambahan lain seperti perasa, garam dan gula.Garam, gula dan lemak (GGL) ini bisa jadi sillent killer. Bukan sexy killer, karena ketika kebanyakan GGL, tubuh jadinya malah ngga sexy. GGL yang berlebihan bisa memicu diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung koroner. Pastikan asupannya tidak melebihi angka kecukupan gizi dan akan lebih baik lagi bila dibarengi aktivitas fisik yang mampu membakar kalori.Sekali lagi quote favorit sepanjang masa:
Money can’t buy happiness, but you can buy chocolate and that’s kind a same thing.with love,
Posted in foodie

Koberkan Semangatmu!

Good day good people, om swastyastuMakanan yang enak katanya bisa membuat kita merasa bahagia. Bener ngga sih? Bener kok, kalau dimakan. Hehe. Kalau dilihatin aja cuma bikin ngiler dan sakit hati cuy.

Faktanya, berdasarkan ilmu Psikiatri Nutrisi, memang terdapat hubungan antara mood dengan sistem pencernaan kita lho. Oke, kita dongeng ilmiah dulu dikit ya.

Jadi, di sistem pencernaan atau sering disebut gut environtment kita terdapat berbagai macam bakteri/mikrobiotik yang hidup sejahtera damai aman sentosa. Apapun yang kita makan akan berdampak pada keharmonisan hidup bakteri-bakteri dalam sistem pencernaan kita.

Makanan-makanan yang sudah diolah dengan multiproses sebelumnya (soda, makanan kaleng, cepat saji), makanan dengan zat tambahan (perasa, pewarna, pemanis dan sejenisnya) biasanya memang sangat nikmat di lidah. Namun ternyata, makanan-makanan tersebut justru mengganggu keseimbangan si bakteri baik dan buruk yang berakibat menimbulkan penyakit. Nah lho, jadi benarkah makanan enak membuat kita bahagia?

Mahaguru Hippocrates pernah bersabda, “Let your food thy your medicine and medicine be thy food”. Kalau diterjemahkan jadinya ‘biarkan makanan menjadi obatmu dan obat menjadi makananmu’. Bukan berarti Promag bisa dijadikan pengganti nasi di kala tiada makanan di tanggal tua ya, bukan! Artinya adalah jadikan makanan itu sebagai obat yang bisa menyembuhkan sekaligus menjaga kesehatan.

Namun, enak ngga-nya suatu makanan kembali lagi pada selera masing-masing orang. Selera orang berbeda-beda tergantung dari kebiasaan dan lingkungannya. Sebagai contoh: sebagian besar orang Jepang suka Sushi, tapi bagi orang-orang yang tak biasa memakannya mungkin akan bilang ngga enak atau ngga suka. Begitu juga dengan makanan yang pedas. Sebagian orang bilang enak dan suka, sebagian lagi menganggap makanan pedas adalah a BIG NO.

Penikmat makanan pedas hampir bisa ditemukan di mana saja di Indonesia. Mungkin, peluang inilah yang dilirik oleh para pebisnis kuliner yang menyuguhkan hidangan pedas dengan berbagai level sebagai menu utama. Salah satu restoran dengan tema makanan pedas yang populer di Denpasar adalah Mie Kober.

Sore itu, teman saya, Dwik mengajak saya untuk memesan Mie Kober via Gojek. Awalnya enggan sih, soalnya saya termasuk orang yang ngga bisa makan pedas.Kalau level kecemenan seseorang ditentukan berdasarkan level cabai saat memesan Mie Kober, saya pasti pesan mie yang paling cemen. Aduh, malu-maluin kan? Mending ngga usah pesan sekalian. Syukurnya, di sana ngga pakai level cemen-cemenan. Bahkan, mie yang ngga pakai cabai namanya mie Angel. Wah, tiba-tiba berasa jadi malaikat kan? Sepertinya pemilik Mie Kober masih memperhitungkan keberadaan kaum-kaum yang ngga bisa pedas. Kami bukannya cemen ya saudara-saudara, tapi kaum yang cinta damai pada kondisi sistem pencernaan saat makan dan after effect-nya setelah makan. Hiyaaaaa. *Penulis membela diri dari dakwaan kecemenan.

Saat itu ada voucher diskon sepuluh ribu dari Gojek, kami pun tidak melewatkannya lalu segera memesan. Pilihan Dwik jatuh pada Mie Iblis S cabe 5 dan saya- masih galau, sesekali coba mie Iblis cabe satu sepertinya tidak apa-apa. Demi menyokong kehidupan para petani cabai dengan sesekali memesan mie yang isi cabainya, meskipun cabainya sebuah saja.Sekitar 20 menit, pesanan kami pun tiba dengan selamat diantar oleh Abang Gojek yang telah berjuang di bawah terik matahari Ubung yang panas. Setelah membayar pesanan, saya dan Dwik segera duduk manis menghadap kotak Mie Kober yang hangat itu.

Begitu dibuka, aroma mie goreng dan bawang goreng menguar memasuki hidung. Tampak mie goreng berpilin satu sama lain, warnanya kecoklatan karena kecap. Taburan bawang goreng kriuk dan butiran-butiran putih sebesar kacang yang mungkin tumbukan halus daging ayam menyemarakkan mie. Tak lupa ada satu sosis dengan baluran kecap dan satu siomay goreng di sela-sela mie. Tampak beberapa biji cabai dan kulit cabai yang merah berkelebat diantara mie. Aromanya bercampur jadi satu menciptakan satu kata: sedap.

Setelah berdoa, saya segera memunguti sosis, siomay dan butiran daging ayam kemudian saya hibahkan pada Dwik. Hehe. Saya membuka sumpit dan menjepit mie yang tergulung lalu segera melahap dan menyeruput hingga ujung mie terakhir. Saat sampai di lidah, mie yang kenyal dengan rasa kecap yang kental diselingi percikan rasa pedas sungguh menciptakan paduan rasa yang menggoda untuk terus mengunyah dan melahap mie lagi dan lagi. Bagaikan lingkaran setan yang membuat adiksi. Sungguh, beginikah cara Iblis menjerat umat manusia ke dalam dosa? Dosa untuk terus makan saat sudah ikhtiar untuk diet karbo?

Tak terasa satu kotak Mie Kober cabe satu sudah ludes, hanya menyisakan biji-biji cabai yang telah menunaikan tugasnya. Ternyata, Iblis cabai satu sudah cukup membuat mata terasa panas dan hidung saya berair. Mulut pun terasa tebal dan nafas seolah mampu menyemburkan api. Yah, sepertinya saya akan kembali memesan mie Angel di lain hari. Wkwkwk. Azab menantang Iblis.

Jadi, apakah makanan enak membuat kita merasa bahagia?Tergantung. Tergantung apa bahan dan bagaimana proses masaknya. Tak melulu makanan lezat nan penuh zat aditif itu ‘membahagiakan’ perut dan usus. Makanan sehat yang diolah dengan cinta, mungkin lebih nikmat dan menyehatkan. Aseeek.

Money can’t buy happiness, but you can buy an ice cream and that is kind of same thing.

Stay happy, stay healthy ya!

With love, nyam nyam nyam~

Posted in foodie

Engage with Mr. Bread

Good day good people

Pertama-tama ijinkan saya untuk mengucapkan : Selamat menunaikan ibadah puasa bagi sahabat yang menjalankan.😃

Memasuki bulan Ramadhan, toko-toko, swalayan sampai online shop berlomba-lomba mengadakan Diskon. Di berbagai tempat sering kita lihat tulisan kapital besar-besar seperti Sale, Beli satu gratis satu, cashback dan sebangsanya. Kedua mata ini seakan enggan berpaling ya ketika melihat kata-kata itu. Ada yang seperti saya? 😃

Terkadang saya berpikir, apa perusahaan tidak rugi ya dengan promo-promo tersebut? Mungkin keuntungannya sudah berlimpah jadi bisa memangkas harga barang jadi sekian persen. Atau harga barang aslinya memang segitu dan dikembalikan ke harga normalnya tanpa mengambil keuntungan. Bisa juga yang promo 90% cuma satu item, yang lain harganya tetap. Namanya juga promosi, tujuannya kan menjaring pembeli. 😃

Siapa sih yang tidak tergiur dengan promo-promo itu. Seolah-olah jadi hemat belanjanya. Kenapa seolah-olah? Karena kita belanja barang lebih murah dari harga aslinya. Padahal, karena terjebak dengan pemikiran ini, sering kali kita justru beli barang-barang yang kadang ga penting dengan alasan lagi diskon. Padahal, bisa aja kemudian kita beli barang yang ga kepakai. Akhirnya, terjadi kebocoran halus dalam keuangan. 😃

Jadi, bagaimana caranya menangkal jeratan setan promo tersebut? Hal utama yang harus selalu ditekankan dalam mindset kita dalam berbelanja adalah KEBUTUHAN. Beli barang ya karena memang lagi butuh barang itu, bukan karena mumpung murah, mumpung diskon, mumpung lucu dan mumpung-mumpung lainnya.

Weleh-weleh ini kok jadi bicara keuangan. Maklum, sejak follow akun IG Kakanda Andhika Diskartes, saya lumayan tertampol dengan fakta-fakta konsumerisme. 😃

Balik ke Mr. Bread.

Suatu pagi saya sedang melintas di Indomaret, berburu roti untuk sarapan. *Berburu, karena kalau ga diburu bisa telat.

Saat itu terpampang nyata promo beli satu gratis satu untuk Mr. Bread. Sesuai ajaran Kanda Diskartes, saya menelisik dulu apakah saya perlu atau tidak? Ya, saya perlu Roti. Eh, tapi biasanya kan saya beli Sari Roti. *Tiba-tiba loyalitas sebagai konsumen saya diuji. Apa beli Sari Roti dan Mr. Bread aja sekalian?

Akhirnya sebagai emak-emak yang menerapkan prinsip smart spender, jadilah saya beli Mr. Bread. Sejak 2 minggu lalu, akhirnya saya beli Mr. Bread yang lagi promo itu. Sampai-sampai karyawannya tertawa. Tapi, so what. Toh, saya beli pakai uang, bukan pakai daun dan saya tidak merugikan siapapun jadi saya masa bodo saja. 😃

Ternyata, 2 minggu mengkonsumsi Mr. Bread telah membangun kebiasaan dan cinta saya untuk Mr. Bread. Akhirnya setelah promo itu berakhir, saya tetap memilih Mr. Bread sebagai roti saya untuk sarapan. Ngga tahu besok. Kalau sari roti yang promo, mungkin saya beli Sari Roti lagi. 😃 *Keloyalan konsumen kembali dipertanyakan.

Mr. Bread vs. Sari Roti

Rasanya kurang lengkap jika tidak membandingkan kedua brand Roti yang bersaing ketat di Indomaret depan rumah. Mari kita bedah satu persatu. Variabel yang akan saya bandingkan adalah kemasan, tampilan roti, rasa dan kelembutan, serta harga dan ukuran.

Karena yang sering saya beli adalah varian roti kasur, jadi kita akan membandingkan antara Mr. Bread Roti Kasur dan Sari Roti Roti Kasur Susu.

Dari segi kemasan, Mr. Bread tampil dengan nuansa putih disertai gambar mata dengan kumis yang memperjelas bahwa dia lah Mr. Bread. Soalnya kalau mata dengan bibir berlipstick sudah pasti Mrs. Bread. 😃 Sari roti Roti Kasur Susu tampil dengan nuansa biru langit yang bikin adem. Untuk keduanya, sama-sama mencantumkan keterangan nutrition fact, komposisi, expired date dan harga. Kalau diperhatikan, pada Sari Roti untuk membedakan varian selain dengan warna, juga dengan tulisan. Nah, kalau Mr. Bread, tiap-tiap varian dibedakan dengan gambar kumisnya lho. Ada kumis pisang untuk varian rasa pisang dan kumis coklat untuk selai coklat. 😄

Kedua roti sama-sama dikemas dalam kondisi plastik yang penuh udara sehingga tekanan tidak membuat roti jadi penyok dan kusut. Sehingga tampilan roti ketika dibuka layaknya roti yang baru keluar dari oven. Penyok dikit ada sih beberapa tapi tampilannya yang coklat muda dan harum khas roti tetap menggugah selera. 😄

Rasa dan kelembutan. Hm, kalau masalah kelembutan, Sari Roti memang masih lebih unggul. Namun rasa dari Mr. Bread juga tidak kalah kok. Apalagi dari namanya juga sudah tercantum roti manis. 😃

Dari segi harga dan ukuran, Mr. Bread lebih unggul. Dengan harga yang sama, isian lebih banyak. Nah, ini lah yang sering menjadi perhatian emak-emak super ekonomis. Harga terjangkau, isi banyak dan mengenyangka dan rasa yang tidak kalah. 😃

So, demikianlah kisah cinta saya dengan Mr. Bread berawal dari promo beli satu gratis satu.

With Love, 😃