Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Saturday story, Self Reflection, Throwback Edition

“If Everyday was a sunny day, then all over the world will be covered by desert” Seo Dal Mi.

Om Swastyastu, good day good people.

Welcome to my Blog. Enam bulan telah berlalu sejak postingan terakhir dan kini sudah tahun baru. Akhirnya tahun 2020 berlalu, meski peningkatan kasus baru covid 19 masih tetap meroket.

How Was Your 2020?

Bagaimana kesan anda menjalani tahun 2020? 🙂 Kaget ya? Ga nyangka kalau tahun 2020 kita akan menemui peristiwa langka seperti pandemi yang kemudian benar-benar merubah total hampir semua sendi kehidupan kita. Sekolah, pekerjaan, aktivitas sosial, bahkan ada sebagian orang yang kehilangan keluarga. Bukankah ini seperti sebuah bencana yang tak kasat mata? Barang kali di sana ada jawabnya, mengapa di bumi kita terjadi bencana? Deep condolence to us, who are losing someone, who are losing job, losing hope, losing trust to the government, and losing their humanity because they could corrupted people’s money in the time like this. But, thanks to some people that show their kindness, helping others. Thank you for making the world a little better place. Thank you to everyone who fight as frontliner, and thank you to us for still surviving, hold on, and discipline to health protocol.

My Flashback of 2020

Rasanya beberapa tahun belakangan ini menjadi tahun yang selalu penuh dengan up and down. Hahaha. Mungkin benar kata orang, kita baru memasuki dunia yang sebenarnya setelah kita menikah. Lah kemane aje selama remaja? Maklum pas remaja jarang gahol, cuma tahu dunia itu dari permukaan. Setelah masuk ke dalamnya, barulah saya sadar seluk beluk dunia itu sungguhlah sinetron yang diangkat ke kisah nyata. Kumenangissssss… *Plakkkkkk.

Namun, bukankah memang itu inti dari menjadi manusia? Bertumbuh, belajar dan menjalani kehidupan sampai kita bisa menemukan makna dan apa yang kita cari di dunia? Hidup menyediakan pilihan. Tinggal kita yang memilih dan siap bertanggungjawab atas pilihan itu. Hidup menyediakan cobaan, apakah kita menang atau gagal dari cobaan itu? Apakah saat gagal, kita bisa bangkit atau tetap jatuh terpuruk? Apakah menerima dan menjalani jalan yang di depan atau kemudian memutar dan memilih jalan lain?

Awal 2020 saya sempat frustasi karena saya sudah mengakhiri kontrak tapi belum memiliki cadangan yang pasti untuk melanjutkan kerja. Sempat ada lowongan saat itu, tapi tidak melamar, berpikir mungkin bisa menyusul misua ke Lombok. Mencoba untuk percaya dengan hasil cpns yang kemungkinannya sangat kecil, lalu ternyata gagal. Lalu pandemi datang dan sama sekali tak ada lowongan. Sudah jatuh, tertimpa tangga, dan parahnya lagi jatuh di kubangan. 🙂

Sakit memang dan rasa sakit itu mungkin susah untuk dilupakan. Saya memilih memaafkan, bukan karena saya mentolerir sikap dan perkataan yang menyakitkan hati. Namun, karena hidup saya terlalu berharga bila dijalani dengan tetap membopong luka. Saya tidak akan melupakan masa-masa itu. Karena itu adalah pelajaran yang paling berharga yang saya peroleh. Terima kasih untuk orang-orang yang telah berperan sebagai guru, terima kasih untuk orang-orang yang menjadi penumpu dan terima kasih Tuhan yang menyediakan setiap sandiwara dan membantu saya untuk melewatinya. Ini adalah pedoman agar kelak saya bisa mengambil langkah dan tidak jatuh ke kubangan yang sama.

My Lessons of 2020

Ada beberapa hal yang kemudian saya pahami dari semua kejadian itu.

1. What The Meaning of My Life? What I Want to Do in this Life? Help Others trough becoming a good and professional Doctor.

Setelah menjalani masa-masa itu saya menyadari bahwa saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang dokter terlalu lama. Di sana lah impian masa kecil saya, passion saya dan salah satu penyokong arti hidup saya yang paling besar. Perpaduan antara ilmu, memecahkan masalah dan membantu orang jadi satu dalam pekejaan itu, mungkin itu yang membuat saya bahagia dan senang menjalaninya. Saya mungkin belum sepenuhnya mampu menjadi dokter yang baik dan profesional, tapi saya mau dan akan terus belajar dan berusaha.

Saya berterima kasih karena pertengahan tahun, Tuhan memberi kesempatan bekerja kembali. Meski bimbang saat memutuskan karena tentu ada waktu bersama anak yang harus direlakan, banyak hal telah membuat saya jengah dan bertekad bulat untuk bekerja kembali. Terlepas dari passion dan impian masa kecil, dunia dewasa saya saat ini ternyata adalah dunia dewasa yang keras, yang memandang sebelah mata bila kamu bukan siapa-siapa atau tidak menghasilkan apa-apa. Saya pernah merasa gagal karena seperti tidak mampu menjadi ibu yang baik, jadi ijinkan saya setidaknya berguna bagi orang lain dengan ilmu yang saya peroleh. 🙂

2. The First and The Most Important to Become My Source of Love Is Myself. Don’t depend love and respect from Others.

Saya sadari bahwa satu-satunya orang yang harus saya harapkan cinta dan penghargaannya adalah diri saya sendiri. Berharap cinta dan respek dari orang lain adalah hal yang paling mengecewakan. Cintai dirimu sendiri, hargai dirimu sendiri. Karena saat kamu sudah penuh akan cinta, kamu tak akan mengharapkan apapun dari orang lain. A note to myself: jangan orang lain aja dibeliin ini itu, kamu juga berhak menikmati hasil kerja kerasmu. Okay?

3. Perfection Doesn’t Exist. I am not Perfect and Nobody is Perfect and That’s Okay.

Saya mulai belajar menerima bahwa sungguhlah tak semua hal bisa terjadi secara sempurna. Manusia pun demikian. Sesempurna apapun seseorang kelihatannya, kenyataannya ada hal-hal yang membuatnya tak sempurna. Hanya kita dan orang lain tidak mengetahuinya secara utuh. Saya belajar untuk mengabaikan setiap judgement orang-orang karena saya pahami mereka hanya manusia yang tidak sempurna, sama seperti saya. Kalau semua manusia terlahir sama, kita akan hidup layaknya barisan semut yang hanya tahu bekerja tanpa banyak berkata-kata.

4. You are the One who Own Responsibility of Your Own Life.

Saya belajar bahwa semakin kita dewasa, kita memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Tanggung jawab yang utama tentu tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kebutuhan kita, keperluan kita, sebisa mungkin kita harus bisa mandiri. Dunia yang dewasa bukan lagi dunia anak-anak dimana kita selalu bergantung pada orang tua/orang lain. Kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Hidup kita sepenuhnya tanggung jawab kita. Orang lain boleh memberi saran, tapi saya lah yang paling berhak memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya. Berkaca dari pengalaman di masa lalu, mengikuti saran orang ternyata ujung-ujungnya tetap dipersalahkan. Saya tak mau lagi iya-iya saja dan menuruti bila saya rasa itu tidak tepat untuk saya, karena pada akhirnya saya lah yang akan menanggung pilihan itu bukan orang lain.

5. The only Thing that I can Control are My Thoughts and My Attitude.

Dunia ini penuh dengan banyak hal, tetapi yang hanya dalam kuasa saya hanyalah pikiran saya dan sikap saya. Orang bisa saja bersikap di luar dugaan, cuaca bisa saja berubah-ubah, dunia mungkin hancur atau maju dan berkembang. di tengah semua yang tak pasti itu, melelahkan bila saya berharap semua akan selalu baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Saya hanya bisa mengatur pikiran dan mengatur sikap. Apakah masa bodoh atau mengambil suatu tindakan.

6. Focus on Good Things and Be Grateful for It.

Saya tahu ada banyak hal dalam satu hari yang bisa mengacaukan hati saya, tetapi syukurlah Tuhan masih menyisakan beberapa hal yang baik. Satu hal buruk bisa mempengaruhi lima hal baik bila saya terlalu fokus pada hal buruk itu. Yah, tidak mudah, tetapi terasa lebih menyenangkan bagi hati bila memfokuskan pada hal-hal yang penting dan menyenangkan. Ini juga yang membuat saya memfilter media sosial. Kadang membuka media sosial hanya untuk mencari tahu kabar teman atau kerabat yang saya rindukan. Tak semuanya bisa saya lihat setiap hari dan saya mulai meninggalkan melihat media sosial orang yang tak pernah saya temui sebelumnya seperti artis, mantan, *eh* atau yang kenal cuma lewat obrolan. Hehe. Intinya, saya hanya ingin lebih banyak bersyukur dan berfokus pada hal-hal yang penting.

7. Life is Full of Abundance. Everything is Enough for Everyone. What Goes Around, Comes Around. Do Kindness, It Will Comeback Unexpected Ways.

Saya percaya bahwa hidup itu penuh dengan kelimpahan, semasih saya mampu untuk berbagi, saya akan berbagi. Saya belajar untuk tidak berharap lagi pada orang atau pada apa yang telah pergi karena bisa saja yang akan kembali bukanlah dari orang yang pernah kita beri dan apa yang kita bagi tak selalu kembali dalam bentuk materi. Rejeki bisa saja berbentuk lain; kesehatan orang-orang yang terkasih, kelancaran dalam hidup dan keharmonisan keluarga dan itu sudah lebih dari cukup. Tuhan tahu yang terbaik dan paling tahu apa yang kita butuhkan. 🙂

8. God Teach You to be Kind, but Not to Please Everyone We Meet. Know What is Right For You.

Dulu saya selalu berusaha untuk melakukan apapun yang bisa membantu orang lain, tak peduli apakah saya mampu, apakah saya memiliki waktu, bahkan tak peduli meski saya kelelahan. Saya perlahan belajar untuk mengenali keterbatasan saya dan merelakan bahwa saya tak bisa menjadi unsung hero yang mampu melakukan segalanya. Saya belajar untuk menghormati hak-hak saya sendiri bahwa saya berhak untuk menolak permohonan orang lain bila saya memang tidak mampu melakukannya. Saya belajar untuk membantu dan memberi seikhlasnya saja sebagai ucapan terima kasih, bukan untuk meraih kendali atau respek orang lain. Tidak apa-apa bila saya bukan lagi ibu peri yang dulu. Saya yang sekarang hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan seperti manusia lainnya. 🙂

Akhirnya itulah bekal yang diberikan oleh 2020 kepada saya untuk menjalani masa-masa selanjutnya. Ambil lah bila ada yang sesuai dengan anda dan buang bila tidak, karena setiap orang memiliki tantangannya sendiri dan rumusnya sendiri untuk memecahkan masalahnya. Tentu rumus ini pun mungkin suatu kelak akan usang, tergantung bagaimana hidup memberikan musimnya. Tugas saya sebagai manusia, belajar dari pohon jati yang beradaptasi: ada masa dimana kita harus meranggas dan berdiri kokoh, ada masa dimana kita bisa merimbun dan berbuah lebat. Eh, memangnya pohon jati bisa berbuah? Plakkkk.

Berubah lah bila harus berubah, terutama bila cara-cara yang lama tak mampu lagi memberikanmu kedamaian. Ombak datang menerjang, mengayuhlah lebih keras. Angin berhembus, bentangkan layar agar lebih cepat ke tujuan. Itulah sebab manusia diberi akal budi, agar mampu melewati setiap cobaan yang diberi.

Oya, satu lagu penuh makna dari Nosstress menutup tahun 2020 dan menemani 2021. “Pegang Tanganku”

Thank you God for everything. Meminjam tagar Kakanda Andhika Diskartes “Stay Bold”.

With love,

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection

Terima kasih, Badai

Good day good people

Tak pernah ada orang yang suka dihantam badai. Termasuk saya. Namun, kehadirannya memang tak pernah bisa kita hindarkan. Ia datang begitu saja tanpa permisi. Meskipun kadang bisa kita prediksi, tapi tak satupun dari kita yang tahu bagaimana kesiapan kita saat badai datang.

Saya tak mau menyebutnya masalah hidup. Saya lebih suka memanggilnya badai, karena masalah hidup selalu ada sementara badai pasti akan berlalu. Hehe, ayo nyanyi dulu.

Anehnya, badai sering kali menyerang hal-hal paling prinsip di hidup saya. Sering kali ia menemukan ruang-ruang yang paling lemah, seolah-olah menguji mampukah saya bertahan pada ruang-ruang itu. Badai seolah memaksa saya untuk memilih: keluar dan berpindah ke ruang yang lebih tamgguh atau bertahan dan membangun ruang yang lebih kokoh.

Saat seperti itu, mungkinkah sebenarnya badai juga bahasa cinta paling unik dari Yang Kuasa? Sayangnya, Sang Pencipta memang tak pernah bisa ditebak maksudnya.

Badai tak hanya melatihmu untuk lebih kuat, badai yang menghantammu juga menghantam orang-orang di sekelilingmu. Siapa yang mampu bertahan? Siapa yang tetap ada menggenggam tanganmu? Siapa yang tetap bersikukuh menopang di belakangmu? Siapa yang pergi? Siapa yang mencibir?

Badai yang terlihat mengambil, ia juga menjernihkan pandanganmu.

Badai menghadirkan sedih agar kita bisa lebih menghayati senang. Badai menghadirkan sepi untuk kita menghargai kebersamaan saat kita berada dengan seseorang. Badai mungkin berwajah garang, tetapi ia menyimpan kelembutan untuk mereka yang memeluknya dengan sabar.

Terima kasih, Badai. Aku masih saja takut bila esok kelak engkau datang kembali. Semoga Tuhan memberikanku kekuatan untuk bisa memelukmu dengan penuh senyuman dan kesabaran.

Posted in LA LA LA THINGS

Dear M

Dear my lovely daughter, Manda..

Hi dear, how are you? What were you eating just now? Did you sleep well? I miss you so much.

I miss you, miss you so bad. But, I am afraid if I call you and then watching you seeking for my hug, it will be so hard for me. I am so sorry.

I just saw your photographs when you were a little baby. Until now, that ‘falling in love’ feeling is always the same. My angel, my everything. You are always be my love.

But, life sometimes get a bit harder. And I have no choice to keep the life go on in a stable phase. I believe that I should be a happy parent so that I can grow you up to become a happy person. I am sorry if that way sometimes isn’t easy for us. But, I also believe that my daughter is a strong girl. Life is tough, but I know you’re tougher.

One day, when you can read and see this letter, I want you to know, that I love you no matter how people say about us. I may not a perfect mother, but my love for you is a real.

You were in my body before, and will always be in my heart forever and that name that always be in my prayer.

I love you.

With love,

Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection

Sumurku yang (hampir saja) Mengering

Good day, good people

Suatu hari saya pernah dihadapkan pada pernyataan, “Pikirkanlah sendiri kenapa orang lain bersikap seperti itu ke kamu. Tanyakan pada dirimu sendiri ‘aku kenapa sehingga orang lain seperti ini padaku’.”

Saya pun bertanya-tanya, saya kenapa? Apakah ada yang salah dengan diri saya? Apakah saya telah membuat kesalahan?

Mungkin itu hal yang paling sulit, mencari kesalahan apa yang telah kita perbuat di saat kita merasa tidak pernah dengan sengaja menyakiti orang lain. Di saat kita telah berusaha yang terbaik dengan sekuat tenaga.

Tidak ada asap, tanpa ada api. Bolehkah saya membalikkan pertanyaan itu, ‘kenapa saya bisa seperti itu pada anda, apakah ada sesuatu yang anda lakukan sehingga orang lain/saya demikian terhadap anda?’

Jika kita mau melihat ke dalam, kekecewaan datang sebenarnya bukan karena orang lain, tetapi karena ekspektasi kita sendiri. Seringkali kita memberi, sadar atau tidak sadar, dengan harapan layaknya investasi. Berbuat baik tanpa sadar kelak akan ditimbal balik dengan kebaikan ‘seperti yang kita harapkan’. Jadi ketika hal yang terjadi tak sesuai ekspektasi, kita akan beranggapan bahwa orang tidak tahu berterima kasih.

Terlambat kita sadari, hidup bukanlah perihal mengambil yang kita tebar. Bukan hanya sebuah tabungan yang kita setorkan untuk kelak bisa kita tarik. Mungkin, hidup adalah sebuah hutang yang perlu kita bayar sepeser demi sepeser hingga lunas.

Bisakah kita tetap memberi walau tak suci?

Bisakah kita terus mengobati walau membiru?

Cukup besar untuk mengampuni? Cukup besar untuk mengasihi? Tanpa memperhitungkan masa yang lalu?

Walau kering bisakah kita tetap membasuh?

Sumurku mungkin mengering, tapi aku tahu akan terisi kembali. Karena aku menemukan makna hidupku di sini.

Semoga damai dimanapun kita berada. Bersama-sama sedikit demi sedikit untuk lebih ikhlas dari waktu ke waktu. Melapangkan hati untuk lebih lebar dari hari ke hari. Menjadi sumur yang lebih besar, yang lebih dalam, yang walaupun mulai mengering tapi tetap membasuh.

Terima kasih untuk lagu “Membasuh” dari Hindia feat Rara Sekar. Lagu yang begitu mendamaikan hati, membasuh hati.

Posted in mindfulness journey, Self Reflection

The Moon Embrace the Journey

Good day, good people

Hidup memang selalu penuh lika-liku yang kadang-kadang kita tak mengerti arahnya kemana dan tujuannya apa. Suatu saat apa yang terjadi seperti sebuah berkah, di kemudian hari tampak seperti musibah, tapi di lain waktu kembali menjadi anugrah. Kita, manusia, hanya bisa menerka-nerka tetapi penentu selanjutnya tetap Yang Maha Kuasa.

Setelah jauh melangkah, baru kita menyadari bahwa kejadian satu dengan kejadian lain seperti sebuah titik-titik yang berhubungan satu sama lain. Titik-titik itu masih akan terus berlanjut membentuk gambar yang lebih besar dari sekedar apa yang mampu kita pandang.

Dulu saya pernah bekerja di klinik kecantikan. Ternyata, banyak hal yang saya pelajari dari orang-orang yang pernah saya temui di sana. Pelajaran-pelajaran kehidupan yang dibagikan langsung atau melalui cerita sambil lalu ketika saya menunggu mereka.

Pelajaran selalu berulang dan akan berulang terus sampai kita memahami apa yang diajarkan dari suatu kejadian. Mungkin juga ada karma yang belum lunas sehingga harus kita cicil berkali-kali. Tidak apa-apa, karena perjalanan hidup adalah sebuah pelajaran hidup.

Semua akan bermuara pada sebuah keseimbangan. Keseimbangan untuk tetap tenang di kala kesedihan atau kebahagiaan datang. Mengambil secukupnya saja diantara suka dan duka. Lingkaran akan terus berputar atas ke bawah dan seterusnya, sehingga tak ada yang selamanya. Tak perlu berkecil hati atau terlalu tinggi hati, suatu kelak kamu akan terbang tinggi atau jatuh yang paling runtuh.

Dalam kesunyian yang paling hening, jawaban tak pernah berputar-putar dalam ribuan pertanyaan. Karena tak semua hal memang perlu penjelasan. Jalani, syukuri apapun itu. Peluk rasa sedih, duka, kecewa, senang dengan kerendahan hati.

Seperti bulan yang berganti siklus, terang penuh hingga gelap mati. Embrace the journey like the moon. It’s still a beautiful moon.

With love

https://youtu.be/lwFzAUNcybI