Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, Throwback Edition

“Say ‘thank you’ for even the bad, as hard as it might be to believe, it could have been much worse.” KhadimulQuran

Om Swastyastu, good day good people

Pernah tidak anda menggerutu karena hujan turun, tetapi kemudian bergembira setelah melihat pelanginya? Tanpa saya sadari ada banyak sebenarnya kejadian-kejadian dalam hidup ini yang serupa. Sesuatu yang tidak menyenangkan di awal, bisa jadi sebaliknya di akhir. Kita tidak suka ada kejadian A, tetapi berbahagia dengan kejadian B padahal B tidak akan terjadi bila tidak dimulai dengan A.

Mungkin memang sifat dasar kita sebagai manusia yang sukanya pada yang enak-enaknya saja, mau yang gampang-gampangnya saja sementara untuk mendapatkan hal itu kita harus melalui proses awalnya yang mungkin sulit dan tidak menyenangkan.

Sangat mudah untuk berterima kasih pada hal-hal yang indah, tapi tidak untuk hal-hal yang bermasalah. Hehe, saya sadari dan mengalami itu. Mungkin karena saya sering kali tenggelam saat berada di situasi yang tidak mengenakkan, tidak menyadari bahwa satu kejadian ini sebenarnya adalah salah satu bab dari berbagai peristiwa dalam sebuah buku cerita.

Saya ingat dulu ketika baru melahirkan anak pertama dan banyak mendapat bantuan dari keluarga dalam mengurus anak, saya sempat merasa sangat tak nyaman. Orang-orang berkata bahwa saya seharusnya berterima kasih dan bersyukur karena ada yang membantu. Setelah berjalan jauh dan setelah semua situasi berubah, saya yang kadang kelelahan ketika pulang kerja jadi sangat berterima kasih saat anak ada yang membantu mengajak bermain, dan sangat berterima kasih anak saya terurus dengan baik selama saya tidak berada di sampingnya.

Saya berhenti untuk menyalahkan orang-orang yang meminta saya untuk bersyukur ketika dulu. Orang-orang yang berkata demikian mungkin sebenarnya orang-orang yang berharap mendapatkan bantuan dalam mengurus anak tetapi harus berjuang sendiri. Dan tentu saja, mereka tak memahami situasi dan perasaan saya di masa yang lalu.

Saya juga berhenti untuk mempertanyakan dan menyalahkan diri saya yang tak mampu bersyukur kala itu, karena situasi sekarang dan saat itu berbeda, kebutuhan saat ini dan saat itu pun berbeda. Saat itu, saya benar-benar ingin menjalankan peran saya sebagai seorang ibu dengan baik, karena itu adalah pengalaman pertama saya sebagai seorang ibu. Ingin memandikan anak dengan tangan sendiri, menidurkan anak dalam pangkuan sendiri, memasakkan anak dan menyuapinya dengan tangan sendiri. Well, mungkin karena sempat lama menunggu kehadiran buah hati dan sempat harus berpisah pasca melahirkan membuat saya ingin memberikan sebanyak-banyaknya cinta yang bisa saya berikan untuknya.

Saat ini, setelah melewati banyak hal, yah meski belum dibilang banyak sekali hehe, belajar untuk mengurangi posesifitas pada anak dan belajar mensyukuri bantuan-bantuan sekitar dalam merawat anak. Meski banyak hal tak menyenangkan yang belum bisa saya syukuri, tapi satu persatu saya belajar untuk menikmati apa yang bisa saya syukuri. Mensyukuri waktu me time saat anak tidak berada di samping dan mencoba untuk menikmati waktu-waktu me time yang diimpikan banyak orang. Hehe.

Ada banyak hal tak menyenangkan di masa lalu yang menjadikannya satu bagian dari sebab saat ini. Saya membiarkan diri yang masa lalu untuk tetap di masa itu dan diri yang sekarang untuk hidup di masa ini.

With 💕

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection

“I want to live a life from a new perspective” Panic at The Disco

Om swastyastu, good day good people.

Entah sudah berapa kali rasanya saya menemui titik ‘I want to live my life from a new perspective’. Apakah ini berarti saya tak pernah berhasil berubah/puas sehingga selalu ingin perspektif yang baru? Atau kah saya memang selalu berubah-ubah? Sepertinya lebih tepat yang kedua. Layaknya kacamata yang bisa saja buram dan perlu diganti, ada hal-hal yang usang dan butuh perbaikan, ada hal-hal yang kendor sehingga perlu dikencangkan.

Rasanya dulu saya pernah berhasil ikhlas melepaskan, tetapi ketika ikatan-ikatan baru mulai terbentuk saya kembali dalam mode yang super posesif dan over protektif. Hahaha. Tentu saja tali itu saya paling ikat kencang terutama pada suami dan anak. 😆 Saya menyadari bahwa saya tipe orang yang lumayan sangat cemburuan. Kalau ada yang menyebut cemburu itu tanda cinta, em.. maybe? Soalnya kita cuma merasa cemburu pada orang yang kita cintai. Tapi, apakah itu memang bentuk cinta atau sebenarnya hanya ego? Because a love should set us free.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan kelak kelok jalan yang saya lalui, membuat saya memahami bahwa cepat atau lambat saya harus belajar melonggarkan ikatan-ikatan yang terbentuk dengan setiap orang. Suami, anak, orang tua dan sahabat. Kelak, suka tidak suka, siap tidak siap, akan tiba masa dimana kita akan terpisah dari orang-orang di sekitar kita. Berusaha memahami bahwa setiap rasa yang muncul sebenarnya hanya rasa ketakutan saya akan kehilangannya. Saya pelan-pelan belajar merangkul setiap rasa takut yang tak lain hanyalah bentuk emosi yang paling dasar sebagai manusia.

Selain pada orangnya, saya juga kadang terikat kuat pada apa yang sudah saya lakukan/berikan pada orang lain. Kadang tanpa disadari ego ikut menyertai perbuatan. Merasa telah berbuat baik, merasa telah memberikan apa yang kita miliki. Padahal, siapa sih diri ini dan apa dari miliknya yang sudah diberikan? Rejeki yang kita bagi hanyalah titipan. Badan dan nafas hanyalah pinjaman. Ah, terkadang saya melupakan hal itu. Belajar melepaskan apa yang telah diberi dan belajar melupakan apa yang telah dilakukan, karena bukan diri ini pelaku sejati melainkan Ia.

Kalau dirinci satu persatu, sifat buruk saya banyak sekali ya? Sifat buruk lainnya, adalah susah melupakan kata-kata dan sikap orang lain yang menyakitkan. Meskipun saya sudah memaafkan, tetapi kadang terasa begitu sulit bagi saya untuk bisa tersenyum atau bertegur sapa seperti sebelumnya. Ada orang yang bisa bergosip jelek di belakang seseorang tapi di depan orang yang bersangkutan, ia mampu berbicara manis tanpa rasa bersalah. Sayangnya, saya tak punya skill seperti itu. Ketika tidak nyaman dengan seseorang, saya cenderung menjauh, berbicara seadanya dan buru-buru pergi. 😅 *Orang yang sangat mudah ditebak*. Saya ingin berpamitan dengan luka-luka di masa lalu. Tidak mudah, sangat tidak mudah ketika harus berhadapan dengan orang yang memberikan ingatan buruk. Namun, saya pelan-pelan belajar mengingatkan diri, bahwa yang tidak saya sukai bukanlah orangnya tapi sikapnya di masa lalu. Menyadari bahwa ketidaksukaan saya hanyalah bentuk rasa kekecewaan, kesedihan, kemarahan, kekesalan dan rasa-rasa tak nyaman lainnya. Namun bila ada sikap yang memang melewati batas, saya tak sungkan lagi untuk meluruskannya agar kelak tidak jadi luka atau kesalahpahaman yang berlarut-larut.

Setiap orang tentu punya caranya sendiri-sendiri untuk move on. Ada yang move on dan tetap bisa santai berhadapan/berhubungan dengan orang-orang di masa lalu. Ada yang move on dan memilih untuk meninggalkan sepenuhnya tanpa perlu bersangkutpaut lagi dengan orang-orang di masa lalu. Yah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing, apapun boleh dipilih yang bisa membuat mereka damai.

Tadinya saya berpikir mungkin berapa orang perlu move on dari masa lalunya, tetapi kemudian saya menyadari saya lah yang perlu move on dari cara berpikir saya yang terlalu sempit. Saya sedang pelan-pelan belajar berpamitan dengan banyak hal, dari ikatan yang kencang, dari rasa bersalah, dari luka-luka masa lalu dan pola pikir yang telah usang. Mengganti fokus dari perbuatan yang telah dilakukan menjadi perbuatan apa yang akan dan mampu dilakukan, tentunya dengan tetap memperhatikan batasan-batasan saya.

Satu hal yang saya sadari, kini saya mulai lebih santai menghadapi orang lain dan sikap-sikapnya. Menyadari bahwa kita manusia hanya makhluk-makhluk menderita yang sama-sama ingin bahagia, menyadari tiap dari kita tidak sempurna dan tak luput dari kesalahan, dan menyadari kadang saya hanya perlu sedikit berwelas asih dan mencoba memahami lebih dalam. Well, orang mungkin tidak bisa seperti itu pada saya. Tugas saya kini melepaskan harapan-harapan kepada orang lain dan berfokus hanya pada pikiran dan tindakan yang akan saya lakukan.

With 💕

Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection, To think

“There are two great days in a person’s life, the day when we were born and the day we discover why” William Barclay

Om swastyastu

Good day good people

Januari 2021. Tadinya berpikir mungkin setelah kedatangan vaksin covid, dunia akan sedikit lebih tentram. Namun, belum habis Januari sudah ada berita pesawat jatuh, gempa bumi, tanah longsor dan banjir bandang bahkan ada juga gunung yang naik status siaga.

Dulu kita memperkirakan lamanya seseorang bersama kita kurang lebih sepanjang usia harapan hidupnya. Namun, makin ke sini kita tidak bisa memprediksi apakah kita bisa bersama orang tersebut hingga ia tua atau hingga kita beruban? Tidak ada yang tahu. Selain karena penyakit, bencana tak terduga karena pemanasan global juga menjadi salah satu penyebab kematian. Apakah ini tanda-tanda bahwa kita harus mengerem keserakahan kita sebagai umat manusia? Apakah ini tanda bahwa kita mesti menguatkan doa-doa untuk dipanjatkan?

Hari ini, satu benang telomere saya berkurang. Jam waktu telomere masih terus memutus setitik demi setitik. Sementara yang terlihat: usia bertambah, keriput mulai tampak, benih-benih uban mungkin mulai menunggu giliran untuk timbul di atas. Entah kenapa perayaan ulang tahun jadi seperti selamatan untuk usia yang telah hilang. Pada pikiran itu saya jadi berterima kasih pada orang-orang yang tidak mengucapkan selamat ulang tahun untuk saya. Hahaha. 😅 Plakkk.

Namun terlepas dari semua bisikan sang iblis, saya juga berterima kasih kepada orang-orang yang mengucapkan selamat dengan tulus. Bukankah lebih baik ucapan selamat yang sedikit tetapi tulus daripada banyak tapi hanya ada di saat kita bersinar? Tentu yang banyak dan tulus juga bagus hehe. Namun, like almost all of capricorn: orang-orang yang kami anggap dekat di hati memang sedikit. 😂 Or maybe only me?

Semakin tua saya menyadari bahwa orang-orang yang benar-benar mencintaimu adalah orang-orang yang tetap berada di sampingmu ketika kamu jatuh dan terpuruk. Hingar bingar suka cita kini hanya tampak seperti kerlip lampu yang bisa meredup kapanpun. Rasanya seperti tidak sedih tapi juga tidak terlalu bahagia, bahkan seperti sudah tidak terlalu berharap apa-apa pada siapapun dan melepaskan semuanya.

Ketika saya melihat tanggal yang sama di tahun ini, pagi ini saya bersyukur kepada Tuhan. Masih diijinkan melihat tanggal ini lagi di tahun 2021. Hadiah terbesar saya dari Tuhan tahun ini adalah kesehatan orang-orang yang saya cintai dan kesehatan orang-orang yang mencintai saya. Terima kasih ya Tuhan.. that’s all i need and i want. 😭 *nangis terharu menitikkan air mata bahagia*

Tahun ini saya naik ke Kejati (kaum emak jenjang usia tiga puluh) 😂. Selamat ulang tahun ya diriku. Selamat atas berkurangnya sisa usia harapan hidup (serem ih, gila, tapi ini kenyataan. Usia harapan hidup manusia 75 tahun, sisa lagi 45 tahun kalau masih diijinkan. Semoga jadi pengingat bahwa waktu kita tak lama dan sudahkah menabung karma baik untuk bekal di alam baka?). Selamat atas 30 tahun perjuangan di bumi.. I believe that you can go through all of this. Semoga semakin kuat, tabah, sabar dan bertambah bijak. Semoga makin sadar dan menemukan diri yang Engkau cari. Jangan lupa bahagia. 😊❤️

Posted in Fav Lyric, LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Saturday story, Self Reflection, Throwback Edition

“If Everyday was a sunny day, then all over the world will be covered by desert” Seo Dal Mi.

Om Swastyastu, good day good people.

Welcome to my Blog. Enam bulan telah berlalu sejak postingan terakhir dan kini sudah tahun baru. Akhirnya tahun 2020 berlalu, meski peningkatan kasus baru covid 19 masih tetap meroket.

How Was Your 2020?

Bagaimana kesan anda menjalani tahun 2020? 🙂 Kaget ya? Ga nyangka kalau tahun 2020 kita akan menemui peristiwa langka seperti pandemi yang kemudian benar-benar merubah total hampir semua sendi kehidupan kita. Sekolah, pekerjaan, aktivitas sosial, bahkan ada sebagian orang yang kehilangan keluarga. Bukankah ini seperti sebuah bencana yang tak kasat mata? Barang kali di sana ada jawabnya, mengapa di bumi kita terjadi bencana? Deep condolence to us, who are losing someone, who are losing job, losing hope, losing trust to the government, and losing their humanity because they could corrupted people’s money in the time like this. But, thanks to some people that show their kindness, helping others. Thank you for making the world a little better place. Thank you to everyone who fight as frontliner, and thank you to us for still surviving, hold on, and discipline to health protocol.

My Flashback of 2020

Rasanya beberapa tahun belakangan ini menjadi tahun yang selalu penuh dengan up and down. Hahaha. Mungkin benar kata orang, kita baru memasuki dunia yang sebenarnya setelah kita menikah. Lah kemane aje selama remaja? Maklum pas remaja jarang gahol, cuma tahu dunia itu dari permukaan. Setelah masuk ke dalamnya, barulah saya sadar seluk beluk dunia itu sungguhlah sinetron yang diangkat ke kisah nyata. Kumenangissssss… *Plakkkkkk.

Namun, bukankah memang itu inti dari menjadi manusia? Bertumbuh, belajar dan menjalani kehidupan sampai kita bisa menemukan makna dan apa yang kita cari di dunia? Hidup menyediakan pilihan. Tinggal kita yang memilih dan siap bertanggungjawab atas pilihan itu. Hidup menyediakan cobaan, apakah kita menang atau gagal dari cobaan itu? Apakah saat gagal, kita bisa bangkit atau tetap jatuh terpuruk? Apakah menerima dan menjalani jalan yang di depan atau kemudian memutar dan memilih jalan lain?

Awal 2020 saya sempat frustasi karena saya sudah mengakhiri kontrak tapi belum memiliki cadangan yang pasti untuk melanjutkan kerja. Sempat ada lowongan saat itu, tapi tidak melamar, berpikir mungkin bisa menyusul misua ke Lombok. Mencoba untuk percaya dengan hasil cpns yang kemungkinannya sangat kecil, lalu ternyata gagal. Lalu pandemi datang dan sama sekali tak ada lowongan. Sudah jatuh, tertimpa tangga, dan parahnya lagi jatuh di kubangan. 🙂

Sakit memang dan rasa sakit itu mungkin susah untuk dilupakan. Saya memilih memaafkan, bukan karena saya mentolerir sikap dan perkataan yang menyakitkan hati. Namun, karena hidup saya terlalu berharga bila dijalani dengan tetap membopong luka. Saya tidak akan melupakan masa-masa itu. Karena itu adalah pelajaran yang paling berharga yang saya peroleh. Terima kasih untuk orang-orang yang telah berperan sebagai guru, terima kasih untuk orang-orang yang menjadi penumpu dan terima kasih Tuhan yang menyediakan setiap sandiwara dan membantu saya untuk melewatinya. Ini adalah pedoman agar kelak saya bisa mengambil langkah dan tidak jatuh ke kubangan yang sama.

My Lessons of 2020

Ada beberapa hal yang kemudian saya pahami dari semua kejadian itu.

1. What The Meaning of My Life? What I Want to Do in this Life? Help Others trough becoming a good and professional Doctor.

Setelah menjalani masa-masa itu saya menyadari bahwa saya tidak bisa meninggalkan pekerjaan saya sebagai seorang dokter terlalu lama. Di sana lah impian masa kecil saya, passion saya dan salah satu penyokong arti hidup saya yang paling besar. Perpaduan antara ilmu, memecahkan masalah dan membantu orang jadi satu dalam pekejaan itu, mungkin itu yang membuat saya bahagia dan senang menjalaninya. Saya mungkin belum sepenuhnya mampu menjadi dokter yang baik dan profesional, tapi saya mau dan akan terus belajar dan berusaha.

Saya berterima kasih karena pertengahan tahun, Tuhan memberi kesempatan bekerja kembali. Meski bimbang saat memutuskan karena tentu ada waktu bersama anak yang harus direlakan, banyak hal telah membuat saya jengah dan bertekad bulat untuk bekerja kembali. Terlepas dari passion dan impian masa kecil, dunia dewasa saya saat ini ternyata adalah dunia dewasa yang keras, yang memandang sebelah mata bila kamu bukan siapa-siapa atau tidak menghasilkan apa-apa. Saya pernah merasa gagal karena seperti tidak mampu menjadi ibu yang baik, jadi ijinkan saya setidaknya berguna bagi orang lain dengan ilmu yang saya peroleh. 🙂

2. The First and The Most Important to Become My Source of Love Is Myself. Don’t depend love and respect from Others.

Saya sadari bahwa satu-satunya orang yang harus saya harapkan cinta dan penghargaannya adalah diri saya sendiri. Berharap cinta dan respek dari orang lain adalah hal yang paling mengecewakan. Cintai dirimu sendiri, hargai dirimu sendiri. Karena saat kamu sudah penuh akan cinta, kamu tak akan mengharapkan apapun dari orang lain. A note to myself: jangan orang lain aja dibeliin ini itu, kamu juga berhak menikmati hasil kerja kerasmu. Okay?

3. Perfection Doesn’t Exist. I am not Perfect and Nobody is Perfect and That’s Okay.

Saya mulai belajar menerima bahwa sungguhlah tak semua hal bisa terjadi secara sempurna. Manusia pun demikian. Sesempurna apapun seseorang kelihatannya, kenyataannya ada hal-hal yang membuatnya tak sempurna. Hanya kita dan orang lain tidak mengetahuinya secara utuh. Saya belajar untuk mengabaikan setiap judgement orang-orang karena saya pahami mereka hanya manusia yang tidak sempurna, sama seperti saya. Kalau semua manusia terlahir sama, kita akan hidup layaknya barisan semut yang hanya tahu bekerja tanpa banyak berkata-kata.

4. You are the One who Own Responsibility of Your Own Life.

Saya belajar bahwa semakin kita dewasa, kita memiliki tanggung jawab yang semakin besar. Tanggung jawab yang utama tentu tanggung jawab terhadap diri sendiri. Kebutuhan kita, keperluan kita, sebisa mungkin kita harus bisa mandiri. Dunia yang dewasa bukan lagi dunia anak-anak dimana kita selalu bergantung pada orang tua/orang lain. Kitalah yang bertanggung jawab atas hidup kita sendiri. Hidup kita sepenuhnya tanggung jawab kita. Orang lain boleh memberi saran, tapi saya lah yang paling berhak memutuskan apa yang terbaik untuk diri saya. Berkaca dari pengalaman di masa lalu, mengikuti saran orang ternyata ujung-ujungnya tetap dipersalahkan. Saya tak mau lagi iya-iya saja dan menuruti bila saya rasa itu tidak tepat untuk saya, karena pada akhirnya saya lah yang akan menanggung pilihan itu bukan orang lain.

5. The only Thing that I can Control are My Thoughts and My Attitude.

Dunia ini penuh dengan banyak hal, tetapi yang hanya dalam kuasa saya hanyalah pikiran saya dan sikap saya. Orang bisa saja bersikap di luar dugaan, cuaca bisa saja berubah-ubah, dunia mungkin hancur atau maju dan berkembang. di tengah semua yang tak pasti itu, melelahkan bila saya berharap semua akan selalu baik-baik saja dan berjalan sesuai rencana. Saya hanya bisa mengatur pikiran dan mengatur sikap. Apakah masa bodoh atau mengambil suatu tindakan.

6. Focus on Good Things and Be Grateful for It.

Saya tahu ada banyak hal dalam satu hari yang bisa mengacaukan hati saya, tetapi syukurlah Tuhan masih menyisakan beberapa hal yang baik. Satu hal buruk bisa mempengaruhi lima hal baik bila saya terlalu fokus pada hal buruk itu. Yah, tidak mudah, tetapi terasa lebih menyenangkan bagi hati bila memfokuskan pada hal-hal yang penting dan menyenangkan. Ini juga yang membuat saya memfilter media sosial. Kadang membuka media sosial hanya untuk mencari tahu kabar teman atau kerabat yang saya rindukan. Tak semuanya bisa saya lihat setiap hari dan saya mulai meninggalkan melihat media sosial orang yang tak pernah saya temui sebelumnya seperti artis, mantan, *eh* atau yang kenal cuma lewat obrolan. Hehe. Intinya, saya hanya ingin lebih banyak bersyukur dan berfokus pada hal-hal yang penting.

7. Life is Full of Abundance. Everything is Enough for Everyone. What Goes Around, Comes Around. Do Kindness, It Will Comeback Unexpected Ways.

Saya percaya bahwa hidup itu penuh dengan kelimpahan, semasih saya mampu untuk berbagi, saya akan berbagi. Saya belajar untuk tidak berharap lagi pada orang atau pada apa yang telah pergi karena bisa saja yang akan kembali bukanlah dari orang yang pernah kita beri dan apa yang kita bagi tak selalu kembali dalam bentuk materi. Rejeki bisa saja berbentuk lain; kesehatan orang-orang yang terkasih, kelancaran dalam hidup dan keharmonisan keluarga dan itu sudah lebih dari cukup. Tuhan tahu yang terbaik dan paling tahu apa yang kita butuhkan. 🙂

8. God Teach You to be Kind, but Not to Please Everyone We Meet. Know What is Right For You.

Dulu saya selalu berusaha untuk melakukan apapun yang bisa membantu orang lain, tak peduli apakah saya mampu, apakah saya memiliki waktu, bahkan tak peduli meski saya kelelahan. Saya perlahan belajar untuk mengenali keterbatasan saya dan merelakan bahwa saya tak bisa menjadi unsung hero yang mampu melakukan segalanya. Saya belajar untuk menghormati hak-hak saya sendiri bahwa saya berhak untuk menolak permohonan orang lain bila saya memang tidak mampu melakukannya. Saya belajar untuk membantu dan memberi seikhlasnya saja sebagai ucapan terima kasih, bukan untuk meraih kendali atau respek orang lain. Tidak apa-apa bila saya bukan lagi ibu peri yang dulu. Saya yang sekarang hanyalah manusia biasa yang memiliki keterbatasan seperti manusia lainnya. 🙂

Akhirnya itulah bekal yang diberikan oleh 2020 kepada saya untuk menjalani masa-masa selanjutnya. Ambil lah bila ada yang sesuai dengan anda dan buang bila tidak, karena setiap orang memiliki tantangannya sendiri dan rumusnya sendiri untuk memecahkan masalahnya. Tentu rumus ini pun mungkin suatu kelak akan usang, tergantung bagaimana hidup memberikan musimnya. Tugas saya sebagai manusia, belajar dari pohon jati yang beradaptasi: ada masa dimana kita harus meranggas dan berdiri kokoh, ada masa dimana kita bisa merimbun dan berbuah lebat. Eh, memangnya pohon jati bisa berbuah? Plakkkk.

Berubah lah bila harus berubah, terutama bila cara-cara yang lama tak mampu lagi memberikanmu kedamaian. Ombak datang menerjang, mengayuhlah lebih keras. Angin berhembus, bentangkan layar agar lebih cepat ke tujuan. Itulah sebab manusia diberi akal budi, agar mampu melewati setiap cobaan yang diberi.

Oya, satu lagu penuh makna dari Nosstress menutup tahun 2020 dan menemani 2021. “Pegang Tanganku”

Thank you God for everything. Meminjam tagar Kakanda Andhika Diskartes “Stay Bold”.

With love,