Posted in LA LA LA THINGS, mindfulness journey, Self Reflection

“I want to live a life from a new perspective” Panic at The Disco

Om swastyastu, good day good people.

Entah sudah berapa kali rasanya saya menemui titik ‘I want to live my life from a new perspective’. Apakah ini berarti saya tak pernah berhasil berubah/puas sehingga selalu ingin perspektif yang baru? Atau kah saya memang selalu berubah-ubah? Sepertinya lebih tepat yang kedua. Layaknya kacamata yang bisa saja buram dan perlu diganti, ada hal-hal yang usang dan butuh perbaikan, ada hal-hal yang kendor sehingga perlu dikencangkan.

Rasanya dulu saya pernah berhasil ikhlas melepaskan, tetapi ketika ikatan-ikatan baru mulai terbentuk saya kembali dalam mode yang super posesif dan over protektif. Hahaha. Tentu saja tali itu saya paling ikat kencang terutama pada suami dan anak. πŸ˜† Saya menyadari bahwa saya tipe orang yang lumayan sangat cemburuan. Kalau ada yang menyebut cemburu itu tanda cinta, em.. maybe? Soalnya kita cuma merasa cemburu pada orang yang kita cintai. Tapi, apakah itu memang bentuk cinta atau sebenarnya hanya ego? Because a love should set us free.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu dan kelak kelok jalan yang saya lalui, membuat saya memahami bahwa cepat atau lambat saya harus belajar melonggarkan ikatan-ikatan yang terbentuk dengan setiap orang. Suami, anak, orang tua dan sahabat. Kelak, suka tidak suka, siap tidak siap, akan tiba masa dimana kita akan terpisah dari orang-orang di sekitar kita. Berusaha memahami bahwa setiap rasa yang muncul sebenarnya hanya rasa ketakutan saya akan kehilangannya. Saya pelan-pelan belajar merangkul setiap rasa takut yang tak lain hanyalah bentuk emosi yang paling dasar sebagai manusia.

Selain pada orangnya, saya juga kadang terikat kuat pada apa yang sudah saya lakukan/berikan pada orang lain. Kadang tanpa disadari ego ikut menyertai perbuatan. Merasa telah berbuat baik, merasa telah memberikan apa yang kita miliki. Padahal, siapa sih diri ini dan apa dari miliknya yang sudah diberikan? Rejeki yang kita bagi hanyalah titipan. Badan dan nafas hanyalah pinjaman. Ah, terkadang saya melupakan hal itu. Belajar melepaskan apa yang telah diberi dan belajar melupakan apa yang telah dilakukan, karena bukan diri ini pelaku sejati melainkan Ia.

Kalau dirinci satu persatu, sifat buruk saya banyak sekali ya? Sifat buruk lainnya, adalah susah melupakan kata-kata dan sikap orang lain yang menyakitkan. Meskipun saya sudah memaafkan, tetapi kadang terasa begitu sulit bagi saya untuk bisa tersenyum atau bertegur sapa seperti sebelumnya. Ada orang yang bisa bergosip jelek di belakang seseorang tapi di depan orang yang bersangkutan, ia mampu berbicara manis tanpa rasa bersalah. Sayangnya, saya tak punya skill seperti itu. Ketika tidak nyaman dengan seseorang, saya cenderung menjauh, berbicara seadanya dan buru-buru pergi. πŸ˜… *Orang yang sangat mudah ditebak*. Saya ingin berpamitan dengan luka-luka di masa lalu. Tidak mudah, sangat tidak mudah ketika harus berhadapan dengan orang yang memberikan ingatan buruk. Namun, saya pelan-pelan belajar mengingatkan diri, bahwa yang tidak saya sukai bukanlah orangnya tapi sikapnya di masa lalu. Menyadari bahwa ketidaksukaan saya hanyalah bentuk rasa kekecewaan, kesedihan, kemarahan, kekesalan dan rasa-rasa tak nyaman lainnya. Namun bila ada sikap yang memang melewati batas, saya tak sungkan lagi untuk meluruskannya agar kelak tidak jadi luka atau kesalahpahaman yang berlarut-larut.

Setiap orang tentu punya caranya sendiri-sendiri untuk move on. Ada yang move on dan tetap bisa santai berhadapan/berhubungan dengan orang-orang di masa lalu. Ada yang move on dan memilih untuk meninggalkan sepenuhnya tanpa perlu bersangkutpaut lagi dengan orang-orang di masa lalu. Yah, setiap orang memiliki jalannya masing-masing, apapun boleh dipilih yang bisa membuat mereka damai.

Tadinya saya berpikir mungkin berapa orang perlu move on dari masa lalunya, tetapi kemudian saya menyadari saya lah yang perlu move on dari cara berpikir saya yang terlalu sempit. Saya sedang pelan-pelan belajar berpamitan dengan banyak hal, dari ikatan yang kencang, dari rasa bersalah, dari luka-luka masa lalu dan pola pikir yang telah usang. Mengganti fokus dari perbuatan yang telah dilakukan menjadi perbuatan apa yang akan dan mampu dilakukan, tentunya dengan tetap memperhatikan batasan-batasan saya.

Satu hal yang saya sadari, kini saya mulai lebih santai menghadapi orang lain dan sikap-sikapnya. Menyadari bahwa kita manusia hanya makhluk-makhluk menderita yang sama-sama ingin bahagia, menyadari tiap dari kita tidak sempurna dan tak luput dari kesalahan, dan menyadari kadang saya hanya perlu sedikit berwelas asih dan mencoba memahami lebih dalam. Well, orang mungkin tidak bisa seperti itu pada saya. Tugas saya kini melepaskan harapan-harapan kepada orang lain dan berfokus hanya pada pikiran dan tindakan yang akan saya lakukan.

With πŸ’•

Author:

Cogito Ergo Sum, que sera sera.

One thought on ““I want to live a life from a new perspective” Panic at The Disco

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s