Posted in To think

Profesi Kita terganti Mesin dan Aplikasi, Serius?

Om Swastyastu, hai good people!

Sebelumnya, saya ingin mengucapkan “Selamat hari raya Galungan dan Kuningan untuk teman-teman umat sedharma yang merayakan”. πŸ™‚

Berbicara soal hari raya, rasanya hari raya terasa kurang lengkap kalau tanpa baju baru. Ada ngga sih di sini yang tiap deket hari raya mesti rempong nyari pakaian anyar? Biasanya, kalau hari raya Galungan akan segera tiba, saya dan ibu dari jauh-jauh hari sudah wara-wiri beli kain kamen, kebaya dan nyari penjahit kebaya. Tujuannya tak lain dan tak bukan supaya kami punya baju baru untuk maturan ke pura. Hati udah brand new, pakaian juga ikut brand new kan, demi menyemarakkan kemenangan dharma melawan adharma. Plakkkk! *alesan maneh*

Namun, itu dulu. Semenjak punya anak, tradisi itu sebisa mungkin saya batasi dan nyari alternatif yang lebih ekonomis: beli baju yang udah jadi. *SMH, ternyata tetep beli baju baru* Sekarang banyak toko-toko yang menjual baju kebaya yang sudah siap pakai dan harganya pun lebih murah bila dibanding beli kain plus jarit ke penjahit. Saya jadi berpikir, kalau baju-baju tersebut dicetak jadi oleh mesin, bagaimana nasib para tukang jarit? Hm, kecuali si penjahit bisa berekpansi usaha sebagai penjahit dan penjual pakaian jadi.

Kali ini kita akan membahas sedikit tentang hal tersebut. Selebihnya kita akan membahas topik utama kita yang masih berhubungan dengan mesin dan kawan-kawannya. Seiring kemajuan jaman, beberapa profesi mulai perlahan bisa tergantikan oleh mesin atau lebih kerennya, terganti oleh kecerdasan artifisial.

GGR ganteng ganteng robot πŸ™„

Sekilas tentang Kecerdasan Artifisial

Oke, kita bahas dulu apa yang disebut dengan kecerdasan? Bagaimana mendefinisikan dan mengukur kecerdasan, apakah dengan suatu tes baru bisa menentukan kecerdasan? Atau berdasarkan kemampuannya dalam menalar sesuatu? Hm.

Menurut Andreas Kaplan dan M. Haenlein, kecerdasan artifisial adalah kemampuan suatu sistem untuk menafsirkan data dari luar (eksternal) dengan benar, menggunakan data tersebut dan mempelajarinya kemudian menggunakan hasil belajarnya untuk beradaptasi dan menyelesaikan suatu tugas dengan benar.

Kecerdasan artifisial disebut sebagai kecerdasan entitas ilmiah, sering juga disebut intelegensi artifisial secara umum terbagi menjadi dua, yaitu IA konvensional dan Kecerdasan komputasional. IA konvensional dalam prosesnya menggunakan metode-metode seperti sistem pakar (memproses data dalam jumlah yang besar lalu memberikan kesimpulan berdasarkan data yang ada), pertimbangan berdasarkan kasus, jaringan Bayesian (suatu model statistik yang memuat variabel dan hubungan bersyaratnya; untuk menentukan probabilitas munculnya suatu keadaan karena ada faktor yang bersangkutan) dan IA berdasarkan tingkah laku.

Sedangkan kecerdasan komputasional di dalam prosesnya menggunakan melibatkan data empiris yang diasosiasikan dengan IA non simbolis, IA yang tak teratur dan perhitungan lunak. Metode yang digunakan diantaranya jaringan saraf, sistem fuzzy, dan komputasi evolusioner.

Udah pada keblinger belum?

Intinya…semua metode-metode tersebut adalah yang melatarbelakangi bagaimana suatu kecerdasan artifisial mampu bekerja sesuai fungsinya. Semacam program-program komputer atau aplikasi yang entah bagaimana dibuat sama programmer mampu mempermudah kehidupan manusia.

Sungguh menarik ya? Manusia bisa membuat ‘makhluk lain’ yang kecerdasannya hampir bisa menyamai kecerdasan manusia bahkan dengan ketelitian yang lebih presisi.

Profesi yang Bisa Digantikan Oleh IA

Pesatnya kemajuan teknologi dan internet telah membawa dunia ke dalam genggaman tangan kita. Semua hanya tinggal cari di apps store. Dari makanan, minuman, baju dan segala keperluan rumah tangga bisa dipesan lewat gawai. Bahkan, jodoh pun kayanya udah ngga di tangan Tuhan lagi, tapi bisa ditemukan di T*ntan, T*nder dan aplikasi sejenis. Sepertinya Tuhan juga pindah ke aplikasi ya? Wong orang berdoa aja lewat sosial media. Eh!

Jadi, profesi apa saja yang bisa digantikan oleh IA?

  • Tenaga Medis: Dokter digantikan oleh Babylon, Alodokter; Psikolog digantikan oleh Ellie.
  • Staf Finansial: akuntan digantikan oleh Smacc
  • Asisten Pribadi: digantikan oleh google assisstant, todolist, dan aplikasi lain yang dapat mengatur jadwal, reminder, pencatat.
  • Customer Service dan Human Resource, digantikan oleh chatbot FlatPi dan Mya.
  • Editor digantikan oleh Bold dan Jurnalis digantikan oleh Wordsmith.
  • Pengacara digantikan oleh Ross.
  • Supir Taksi digantikan oleh mobil autopilot dari Tesla.

Waduh, profesi saya sebagai dokter terancam punah. Apakah profesi anda juga?

To Think:

Ternyata, ada banyak profesi ya yang bisa digantikan oleh kecerdasan artifisial. Tampaknya profesi-profesi yang dalam kesehariannya menggunakan logika, matematika dan ‘kecerdasan otak kiri lainnya’ perlahan akan menemukan saingannya dalam bentuk program, aplikasi, robot dan mesin.

Sementara, profesi-profesi yang mengutamakan kecerdasan otak kanan (seperti pelukis, komposer musik, designer) yang berhubungan dengan abstrak, imajinasi dan kreasi masih jauh dari ancaman tergilas intelejensi artifisial.

Lalu, bagaimana dengan kita, orang-orang yang telah memilih jalan sebagai orang yang berprofesi dengan mengandalkan kecerdasan otak kiri? Apa nilai unggul kita yang mampu melebihi mesin yang bahkan jauh lebih akurat dari kita?

Jawabannya, hati.

Jangan pernah lupa, bahwa kita berhadapan dengan manusia. Setiap manusia akan terkoneksi oleh ‘hati’ dan terkadang hanya itu yang dibutuhkan oleh manusia: dihargai dan disentuh hatinya. πŸ™‚

Klise ya. Tapi, di jaman semua orang sibuk dengan dunianya masing-masing, mungkin masih ada orang-orang yang lebih berharap dilayani oleh kasir yang ramah, dokter yang empati, ah.. who knows.

Thanks for reading, with love 😊

Referensi:

Bagi yang tertarik lebih dalam soal kecerdasan artisial boleh cus ke link-link di bawah ini ya.

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kecerdasan_buatan

https://www.technologyreview.com/artificial-intelligence/

https://www.qerja.com/journal/view/830-10-profesi-ini-diprediksi-akan-digantikan-kecerdasan-buatan/

Author:

Cogito Ergo Sum, que sera sera.

2 thoughts on “Profesi Kita terganti Mesin dan Aplikasi, Serius?

  1. AI is quite helpful. Kalau menilik keadaan sekarang, untuk saat ini pun AI masih banyak kekurangannya. Nggak menutup kemungkinan juga buat berkembang jadi jauh lebih baik dibanding sekarang. Dan, perkembangan ini pun bakal terjadi suka nggak suka. Jadi mesti punya kemampuan untuk beradaptasi dengan perkembangan dan nggak stuck pada cara konvensional.

    Dan, saya setuju kalah AI nggak bakal mengalahkan kreativitas manusia. Lagipula, benar juga kalau pasti masih banyak yang punya preferensi untuk kerja dengan manusia di luar sana karena punya hati walaupun kadang suka khilaf. πŸ˜„

    1. Hai Mba Lin, thank you for stopping by.

      Saya setuju sama Mba Lin, yah, mesti bisa beradaptasi intinya dengan perkembangan global. ☺️ Duh, mudah-mudahaan saya ga sering dan ga parah khilafnya 😣.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s