Posted in LOVELY DOCTOR'S NOTE

Baby Blues Syndrom/Postpartum Psychiatric Disorders, seperti apa?

Hello good people, om swastyastu.

Proses hamil dan melahirkan bagi sebagian besar wanita terutama calon ibu adalah hal yang membahagiakan, seperti iklan-iklan sabun bayi di televisi itu loh. Namun, terkadang dapat terjadi hal-hal yang di luar ekspektasi yang mengganggu moment bahagia tersebut. Salah satunya apabila si ibu mengalami Sindrom Baby Blues.

Pernah baca berita Ibu yang tega menganiaya bayi yang dilahirkannya? Atau Ibu yang nekat mengakhiri hidup sendiri beberapa minggu setelah melahirkan? Jikping, semoga kita dijauhkan dari hal-hal seperti itu ya Ibu-ibu. Ternyata, prilaku-prilaku tersebut disebabkan oleh adanya gangguan psikologis. Baru-baru ini bahkan ada berita istri yang membacok suami, usut punya usut ternyata si ibu sedang mengalami baby blues.

Apa Penyebab dan Faktor Resiko?

Ada beberapa hal yang dapat mendasari seorang ibu mengalami gangguan mental pasca melahirkan, diantaranya perubahan hormon dan faktor sosial.

Ibu yang baru saja melahirkan akan mengalami banyak perubahan. Tidak hanya perubahan di dalam tubuh, tetapi juga fisik dan sosialnya. Pada ibu yang baru melahirkan terjadi perubahan kadar hormon yang begitu cepat, terutama kadar hormon estrogen. Penurunan kadar estrogen yang tiba-tiba ini kemudian mempengaruhi serotonin dan dopamin; sistem monoaminergik yang bertanggungjawab terhadap gejala afektif (mood) dan gejala psikosis.

Selain perubahan hormon, ibu baru juga harus beradaptasi dengan perubahan fisik yang kemudian dapat mempengaruhi body image dan self esteem ibu tersebut. Perubahan bentuk badan, kulit, organ reproduksi serta organ-organ lainnya yang tidak sama seperti saat sebelum ia melahirkan. Ibu baru juga harus bisa beradaptasi dengan keluarga baru dan ‘kehidupan baru’ yang berhubungan dengan tanggung jawab dan tuntutan masyarakat.

Beberapa faktor lain yang juga dikatakan berkaitan dengan gangguan mental postpartum diantaranya primigravida (hamil pertama), single mother, operasi caesar, komplikasi saat melahirkan atau pasca melahirkan, riwayat keluarga atau riwayat terdahulu dengan PPD, kejadian yang stressful sebelum atau saat proses melahirkan, riwayat pelecehan seksual, kepribadian labil, isolasi sosial dan tidak ada dukungan dari pasangan.

Seperti Apa Gejalanya?

Gangguan mental pasca melahirkan yang paling sering ditemukan diantaranya postpartum blues, depresi postpartum dan psikosis postpartum. Ketiganya dibedakan berdasarkan onset dan keparahan gejalanya.

Postpartum blues berlangsung dari sejak melahirkan hingga 2 minggu. Postpartum blues ditunjukkan dengan perasaan sedih yang terus menerus, perubahan suasana hati/mood dengan cepat, merasa gelisah, cemas, putus asa, kesulitan berkonsentrasi hingga sulit tidur.

Apabila gejala tersebut bertahan lebih dari dua minggu, sang ibu perlu diperiksakan ke dokter karena bisa saja ia sampai di tahap yang lebih parah, yaitu Depresi Postpartum.

Secara umum, depresi postpartum juga memiliki gejala yang hampir mirip dengan baby blues diantaranya perasaan sedih yang terus menerus, merasa lelah dan lemas, tidak mood melakukan hobi, tidak tertarik untuk mengurus diri, nafsu makan berkurang, kesulitan tidur, sensitif, merasa bersalah, tidak merasakan ikatan batin dengan anak, berpikiran negatif dan tindakan mencederai bayi/diri sendiri.

Depresi postpartum dapat berlangsung bulanan dan bila sampai lebih parah sampai sang ibu mengalami delusi atau halusinasi akan menjadi Psikosis Postpartum. Serem kan bu-ibu?

Bagaimana Terapinya?

Apabila terdapat gejala-gejala tersebut pada ibu yang baru melahirkan, perlu untuk segera dikonsultasikan ke tenaga kesehatan, seperti psikolog, dokter atau psikiater. Semakin dini ditangani, penyembuhannya juga akan semakin baik.

Manajemen yang diberikan pada penderita gangguan mental postpartum ada yang tanpa obat (nonfarmakologis) dan dengan obat-obatan (farmakologis) tergantung dari keparahan kondisinya.

Secara umum, setiap penderita gangguan mental postpartum memerlukan dukungan terutama dari pasangan dan anggota keluarga. Dukungan yang diberikan dapat berupa dukungan secara mental sampai berupa bantuan dalam mengurus bayi. Hal yang paling penting dalam dukungan mental tersebut adalah meyakinkan dan mendukung ibu agar ia kembali percaya diri baik terhadap dirinya sendiri maupun kepercayaan dirinya untuk menjadi seorang ibu. Psikoterapi dan psikoedukasi juga dapat dipertimbangkan untuk mempercepat kesembuhan ibu. Sementara, pada penderita psikosis postpartum dengan gejala mencederai bayi atau menelantarkan bayi perlu dipertimbangkan untuk dipisah sementara dengan bayinya.

Pada gangguan mental yang tingkat keparahannya menengah sampai parah (Depresi sampai psikosis) dari dokter akan dipertimbangkan pemberian obat yang akan membantu mengurangi gejala-gejalanya. Tentunya ini juga mempertimbangkan status menyusui ibu karena ada beberapa obat yang bisa ikut masuk ke dalam air susu ibu.

Jadi, demikianlah sedikit cerita kita hari ini tentang baby blues dan gangguan mental lainnya pasca melahirkan.

Apabila anda merasakan gejala-gejala tersebut, seek for help! Segera cari bantuan dan jangan dipendam sendirian.

Referensi:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4539865/

Thanks for reading.

With love,

Author:

Cogito Ergo Sum, que sera sera.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s