Only Human

Banyak orang berpikir bahwa seorang dokter tentu sudah belajar bagaimana mencegah dirinya agar terhindar dari penyakit. Terkadang, meskipun kami tahu cara mencegahnya ada hal-hal yang membuat kami juga tak mampu mengelak dari penyakit. Pada dasarnya kami juga sama, manusia biasa.

Setelah proses persalinan, saya sebenarnya sudah diperbolehkan pulang. Namun, saya masih sering datang ke RS karena si baby masih harus nginep beberapa hari di sana.

Jangan bertanya. Hati ibu mana yang rela terpisah dari anaknya. Saya bahkan sering kali menyalahkan diri sendiri dengan semua what if.. andai ini,

andai itu. Syukurlah ada Husbae. Ia sering kali mengingatkan saya, dan menyemangati saya. Termasuk ketika saya dihadapkan persoalan-persoalan baru seputar menyusui.

New Busui

Kini saya sudah naik kelas, dari sebelumnya ibu hamil menjadi ibu menyusui. Namun, rasanya belum resmi jadi busui yee kan kalau baby belum nenen langsung di ibunya ini.

Mungkin karena stress pasca lahiran kemarin, sampai 3 hari post partum ASI saya belum keluar. Beragam cara dan saran kami ikuti. Makan sayur daun kelor, daun katup dan air titisan beras. Adik ipar juga sampai beliin segala macam booster ASI supaya si ASI segera ngucur.

Tiap jenguk si baby, cuma bisa pasrah lihat si baby minum sufor. Biarpun ASI baru keluar setetes dua tetes, si baby tetep saya tempelin supaya ASInya terstimulasi. Syukurlah di hari ke-5 ASInya udah mulai lancar, tapi paling banter dapetnya 30-50ml. Sempet ga pede kok ngga bisa seperti ibu-ibu di instagram yang produksinya udah kaya mata air pegunungan, melimpah ruah dan tumpeh-tumpeh. Gimana sih caranya itu 2 PD menghasilkan puluhan kantong ASI perah (ASIP)? Jangan-jangan itu cuma editan. #Plakk.

Berbekalkan akun-akun IG tentang ASIP dan tanya-tanya temen yang sudah senior dalam hal per’nenenan’, akhirnya misteri ASIP segudang itu terpecahkan. Prinsipnya pemenuhan ASI mengikuti supply and demand, semakin banyak demand semakin banyak supply-nya. Semakin sering dinenen/dipompa, maka tubuh juga semakin sering distimulasi untuk memproduksi hormon prolaktin, hormon yang memproduksi ASI. Supaya ASI keluarnya lancar, ia perlu hormon oksitosin.

Masalah ASI ternyata juga bukan cuma seputar produksi saja lho, ada masalah perlekatan, bingung puting dan segala macam. πŸ˜‚ Ternyata ilmu tentang ASI itu lebih dalam dari sekedar yang saya dapatkan waktu perkuliahan dulu. Pantesan ada dokter khusus laktasi dan konselor laktasi.

Para Penunggu Bayi

Bayi saya dirawat selama 7 hari di RS. Tumben, selama hari-hari itu waktu rasanya berjalan sangat-sangat lambat. Bayi saya berada di ruang NICU bersama bayi-bayi lainnya. Di umurnya yang belum genap 1 minggu ia tidur sendiri di dalam inkubator. Hati saya terenyuh saat menjenguknya dan ia menangis ketika saya hendak pergi. πŸ˜₯ Husbae lah yang selalu menguatkan saya, “Anak kita adalah anak yang kuat.”

Selama baby di ruang perawatan, hanya ibu yang boleh masuk. Ayahnya ngga :(, padahal Husbae juga sama rindunya melihat wajah putri kecilnya. Karena di ruang perawatan hanya ada box tempat tidur bayi. Saya dan ibu-ibu lain yang sama-sama jadi penunggu tidur di lantai samping box. Sebenarnya ngga dibolehin sih, tapi kami para ibu nekat aja. Yang penting sebelum dokter anaknya visite, semua udah bersih seperti sedia kala.

Setelah merasakan bagaimana rasanya jadi pasien, saya kemudian merasakan rasanya jadi penunggu pasien yang tidur di lantai, ditegur satpam wkwkw. Di sana saya bertemu ibu-ibu lain yang juga menunggu anaknya, ada yang sudah 2 bulan bahkan 3 bulan di sana. Malu. Saya seminggu aja udah down, nangis-nangis, sementara ibu-ibu itu sabar, tegar. Entahlah, apakah di awal mereka juga sama dan mungkin karena telah terbiasa akhirnya menerima? Bertemu dengan mereka banyak hal yang saya dapatkan, pertemanan, dukungan dan kisah-kisah pengalaman mereka.

Akhirnya, tujuh hari berlalu dan putri kecil kami diperbolehkan pulang. Kami sekeluarga merasa bahagia, sebahagia seperti ia baru saja dilahirkan. Welcome home, dear. ☺️

It Happened to me, too.

Kebahagiaan kami terasa lengkap dengan kedatangan si baby. Ia bagai piala yang diperjuangkan dan akhirnya bisa kami bawa pulang dengan haru dan bangga. Bukan hanya ayah dan ibunya saja yang bahagia, kakek, nenek, paman dan keluarga besar menyambutnya dengan suka cita.

Mulailah malam-malam dengan mata terjaga di rumah. Hati saya lebih tenang karena ada Husbae yang ikut membantu mengganti popok dek bayi. Namun, 2 minggu setelahnya Husbae pun mesti kembali ke Flores untuk menyelesaikan proyek yang tertunda selama ia tak bertugas.

Selama Husbae pergi, saya dibantu oleh ibu mertua. Mulai dari memandikan, mengganti popok, menenangkan si baby ketika menangis dan menidurkannya. Tugas saya hanya nenen si baby.

I should be grateful for those assistances, but i was feeling the other way. It was not a feeling like envy or jealous but such a feeling of ‘why I am so useless’ and the feeling that I was a bad mother that incompetent to raise my baby. I was crying for no reasons, almost everyday, every night. At night, I couldn’t sleep even though I was sleepy.

I talked to Husbae and he said, it just my negative thoughts. So, I did many homework to overcome that thoughts. But, the more I did things, the more useless I felt and tired. Exhausted, emotionally drained. Like that wasn’t me. At that time, I felt anger to him, for no reason and didn’t want to talk to him. I realized, I was having a Post Partum Depression.

Cukup lama saya menyadarinya. Meskipun sadar, entah kenapa rasanya tidak ada yang bisa saya lakukan saat itu. Berbicara dengan sahabat lumayan mampu mengurangi tetapi tiap waktu perasaan dan pikiran itu kembali muncul. Mungkin saya perlu bekerja lagi, tetapi rasanya belum tega untuk meninggalkan si baby. Sampai akhirnya suatu pagi si baby nangis dan saya tak mampu menenangkannya dan ia sudah mampu tidur tanpa harus nenen seperti biasanya. Saat itulah, saya bertekad untuk bekerja lagi.

Reconnect to My Old Soul

So before I save someone else, I’ve got to save my self- Ed Sheeran.

Sepertinya Tuhan mendengar doa, semesta membantu mewujudkan. Lowongan CPNS dibuka dan saya mengikutinya. Kesibukan belajar dan mempersiapkannya membuat pikiran saya teralih. Namun, belum tahu nih rejeki apa ngga.

Karena sudah bertekad mesti kerja, selain ikutan CPNS saya juga mengajukan lamaran di salah satu klinik kecantikan yang lagi buka lowongan.

Eits..klinik kecantikan? Ngga salah Ca? Kok kayanya bukan kamu banget. Itulah salah satu komentar teman saya. So what? Selama pekerjaannya halal, saya akan bekerja keras.

Awal bekerja, muncul permasalahan yang lain: bingung puting, produksi menurun, si baby rewel dan sebagainya. Sedih rasanya pas si Baby ngga mau ngenyot PD kaya biasanya, tambah merasa bersalah ketika si baby menangis histeris saat saya tidak ada. Saya sempat bimbang dan menyesal (lagi). Apa saya sudah terlalu egois? Apa yang saya pilih sudah benar? Namun Husbae tetap menyemangati dan mendukung saya, meyakinkan bahwa kami pasti bisa melalui ini semua. Apalagi sudah teken kontrak kan, bisa kena pinalty kalau resign tiba-tiba. Baru juga training.

Saya juga mulai belajar untuk terbuka lagi pada Husbae. After all my ‘door slam’, saya mengutarakan semua unek-unek yang sudah buat hati nyesek dan keselek.

Perlahan, masing-masing dari kami (saya dan si baby) mulai menyesuaikan diri. Baby sudah mulai jarang rewel, anteng di rumah sama neneknya. Seiring saya bekerja bertemu pasien, teman-teman baru, I gained my self again. Being trusted by my patients makes me feel that my life is worthy. Waktu bersama si baby juga lebih berkualitas. I take care of my baby and that makes me even happier.

A kid doesn’t need a perfect mother, she need a happy mother.

Now, I know this is the real life. The storm may comes sometimes, but it also has rainbow after it. Thank you for all the people beside me. Thank you God and thank you my self.

With love

Advertisements

2 thoughts on “Only Human

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s