My PregGo Story

Lanjutan dari post sebelumnya.

Dear Good People, minggu-minggu ini saya akan marathon menyelesaikan hutang daily curhatan jurnal saya saat hamil lalu. Untung diingetin sama Kak Yustisia, kalau ngga bisa-bisa update-an berikutnya baru lahir tahun depan. πŸ˜‚

Pregnancy Story-Trimester 3

Setelah bertolak dari Maumere, saya tinggal

di pondok mertua indah bersama keluarga Husbae, tapi tanpa Husbae. ☺️ Kami kembali LDM (long distance marriage). Syedih sih.. Tapi mau bagaimana lagi. Husbae mesti balik ke sana karena tidak bisa lama-lama meninggalkan pekerjaannya. Syukurlah ya ada perangkat yang namanya telepon seluler, bisa daring dan bisa videocall. Setidaknya mampu mengobati demam malarindu. Sesekali saya juga diantar ke rumah ibu kandung. Entahlah, mungkin karena hormon, bumil ini kadang kala jadi menye dan ingin berada di samping ibunya. Hahaha.

Foto pas ibu dateng ke Maumere

Back to topic. Saat memasuki trimester 3, saya mulai didera banyak kebingungan dan kegalauan. Mau lahiran di RS atau klinik bersalin? Dokter atau bidan? Bisa normal atau operasi? Dokter siapa yang pro normal? Pakai bpjs atau umum? Gimana perlengkapan bayi? Husbae gimana di sana di Maumere, udah makan atau belum? masih ingat aku atau ngga? Ehhhh. Wkwkw. Pokoknya banyak.

Saya kemudian membuat list satu-satu mana yang mesti dipikirkan dan urgent untuk dilaksanakan.

1. Memilih Dokter Obgyn

Andai dr. Chris juga praktek di Bali, mungkin saya tidak perlu bingung lagi. Tapi kelamaan kan nunggu beliau buka praktek di Bali, ini baby udah keburu brojol dong ya. Ya sudah, saya bertanya-tanya dokter Obgyn siapa ya yang bagus dan terutama pro normal!

Dari awal saya kekeh banget sama Husbae. Poko e aku mau lahiran normal yo Mas. Titik! Tanpa koma, tanpa spasi. (Loh kok jadi Jowo). Seringnya melihat pasien puskesmas yang baru habis lahiran normal udah bisa jalan, nyanyi dan ngangkat ember isi air membuat saya bertekad juga pingin normal. Selain itu ya karena pertimbangan keilmuan, tidak beresiko kan.. jadi tidak ada indikasi untuk SC. Alasan sejujurnya, saya takut dibedah πŸ˜‚.

Atas rekomendasi dari ipar, saya periksa di dr. Sudiarta, Sp.OG. Saya sempat periksa beberapa kali pada beliau. Beliau ramah, penjelasannya lengkap bahkan sering kali free consultation. Namun, akhirnya saya pindah ke dr. Hariyasa, Sp.OG. Kebetulan beliau ini dosen favorit saya waktu kuliah. Wkwkw. Selain itu ya karena beliau salah satu spesialis obgyn yang pro normal juga penggagas lotus birth. Saya prefer periksa di tempat praktek beliau di Klinik Kasih Medika. Tempatnya bersih, ramai sama ibu hamil saja (kalau di RS pasiennya beragam kan πŸ˜‚) dan suasananya ramah juga motivating banget.

2. Memilih Tempat Bersalin

Awalnya saya ingin melahirkan di bidan saja, dibantu Mama Rini atau Mama Tin atau Kak Bidan Bety (Bidan-bidan Magepanda) karena saya tahu bagaimana cara mereka memperlakukan ibu-ibu yang mau lahiran: sabar dan skillnya oke dan mereka perempuan. Tetapi, balik lagi. Mereka di Flores sana, saya di Bali. Kurang tahu bagaimana dan dimana ada Bidan yang bisa saya percaya, dan tak berani ambil resiko, kami memutuskan lahiran dibantu dokter kandungan. Toh dokter yang saya pilih juga pro normal kan.

Saat itu dr. Hariyasa praktek di dua RS, RS A dan RS B. (Maaf tidak mencantumkan nama RS, takut kena UU ITE dan pencemaran nama baik kaya ibu Pritha). Pilihan kami jatuh pada RS A karena berpikir ruangannya lebih luas supaya bisa mengakomodasi kerabat yang datang. Maklum cucu pertama, yang jenguk nanti pasti ramai, hehehe.

3. Antara BPJS atau Umum

Kami sempat survey lokasi dulu ke RS A sekalian nanya-nanya harga. RS A menyediakan pilihan dengan BPJS atau umum tergantung kelas perawatan. Berhubung yang umum lebih private dan masih affordable sama isi dompet kami, akhirnya kami memilih pakai yang umum.

4. Perlengkapan Bayi

Ini adalah kehamilan pertama saya jadi masih nol gede banget sama yang namanya per-bayi-an. Hanya tahu secuil karena pernah lihat dan denger dari pengalaman di puskesmas. So, sebagai ibu di zaman global, siapa lagi gurunya kalau bukan Youtube, instagram dan para blogger yang berbagi kisahnya tentang hamil dan persalinan.

Ternyata perlengkapan bayi itu banyak banget. Setelah me-list segala keperluannya si baby, pas Husbae pulang kami berbelanja ke toko perlengkapan bayi sekaligus buat member. Waktu itu gender-nya si baby belum jelas nih, jadi beli pakaiannya yg warna netral yaitu warna putih, hijau, kuning. Sedikit sharing perlengkapan baby yang kami beli berupa: tas baby yang besar dan banyak kantong (untuk dibawa ke RS), baju kaos oblong, baju lengan pendek dan panjang, popok kain, kain bedong, topi, sarung tangan dan kaki, perlak, selimut, selimut bertopi, handuk, wash lap, minyak telon, sabun bayi yang cair, diaper cream, kapas untuk bersihin poop, sisir bayi, gunting kuku, kasur + bantal bayi, lemari bayi, bak mandi bayi. Itu yang esensial. Kedepannya bisa beli sambil nyicil. Hehehe.

5. Persiapan Ibu

Nah, ini yang hampir terlupakan. Ibu hamil yang mau melahirkan juga mesti siap-siap. Siap barang, siap fisik dan siap mental.

Untuk barang-barang yang perlu dibawa saat mau lahiran diantaranya: kain panjang/sarung, baju kancing depan, bra menyusui, celana dalam, pembalut, perlengkapan mandi, make up, sisir, charger, dompet, hp. Apa lagi ya? Yang jelas, surat-surat berharga seperti ktp, kartu atm, uang, surat pengantar dari dokter mesti di bawa. Oke, barang-barang sudah ready dalam tas dan tinggal angkut pas kontraksi.

Semakin bertambah usia kehamilan, bertambah pula berat si dedek bayi sebanding dengan pertambahan ukuran perut dan size baju-baju. Baju-baju pada ngga muat. Sesekali pakai bajunya Husbae ternyata enak juga wkwkwk. Sangat nyaman dipakai di tengah suhu yang jadi lebih terasa ekstrem. Maklum, bumil bawaannya gerah terus.

Memang ya, jadi bumil itu berkutat dengan ketidaknyamanan. Mau duduk lama, pinggang pegel. Mau berdiri, kaki pegel. Paling enak memang tiduran, tapi suka kesemutan di satu sisi tangan karena tidur mesti miring kiri/kanan. Namun, tiap inget dalam perut ini ada si baby, jadi lupa sama semua pegel-pegel itu. πŸ˜„

Demi menunjang hasrat dan tekad supaya bisa lahiran normal, saya mulai rajin jalan-jalan. Saya lebih sering ditemani ibu mertua, yah maklum lagi temporary LDM kan. Selain jalan-jalan, naik turun tangga dan tetap aktif melakukan pekerjaan rumah, saya ikutan yoga ibu hamil. Berangkat dari postingan instagram seorang teman yang lahiran normal, usut punya usut ternyata sebelumnya dia rajin ikutan yoga. Saya pun mendaftarkan diri ikut di kelas yoga bidan Emi Sulasmini, Love Me Bali.

Ada banyak hal yang saya dapatkan dengan mengikuti kelas yoga tersebut. Banyak gerakan yang tadinya saya pikir mustahil, eh ternyata bisa dilakukan. Saya tidak menyangka bagaimana badan bisa tetap lentur meskipun dalam kondisi hamil. Di kelas ini juga ada kelas edukasi untuk menambah wawasan bumil tentang badannya dan kehamilannya. Akhir sesi yoga juga diisi dengan relaksasi. Ini sangat membantu mendamaikan hati ibu hamil agar bisa ikhlas dan tetap semangat menyambut persalinannya nanti. Bertemu dan berkumpul dengan ibu-ibu hamil lainnya, membuat kita merasa ngga sendirian. Di sana kami saling support satu sama lain. πŸ˜ƒ

Begitulah. Trimester 3 yang cukup menegangkan karena akan menghadapi proses persalinan yang konon kata orang-orang menyakitkan perlahan menjadi penantian yang membahagiakan. Karena tidak lama lagi, kami akan bertemu dengan buah hati kesayangan kami.

Preggo with love.

Advertisements

2 thoughts on “My PregGo Story

  1. it’s good to know you came back to Bali and be with your mom and mom-in-law during your pregnancy. although I’ve never been pregnant, I’m sure we don’t want to face the process alone as being together with our loved ones can give us extra power. I remember my cousin sister who has no parents anymore and when she wanted to give her-first-birth, she asked my mom to come just to accompany her. yes, the presence of mother is always needed and helped. be healthy always. for you, your husbae, daughter and family πŸ™‚

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s