Posted in LA LA LA THINGS

“Don’t Cry when It’s over..” -Dr. Seuss

Halo semuanya.. Selamat tahun baru 2018! Meskipun kita sudah di Bulan Februari tetapi masih terasa kan semangat-semangat tahun barunya? Semoga semangat ini akan selalu kita bawa ya sampai nanti di penghujung tahun.

Tulisan ini menjadi tulisan pertama saya di blog tercinta pada tahun 2018. Namun, sebelum saya memulai cerita-cerita petulangan yang akan terjadi, saya ingin berbagi sedikit beberapa kisah haru biru saya di tahun kemarin.

Tahun 2017 kemarin saya tak banyak menulis di blog. Ada beberapa tulisan yang jumlahnya bisa dihitung dengan jari gorila. Itu pun sebagian terhapus, hiks, karena keteledoran saya saat menekan “delete” pada beberapa draft yang tersimpan di aplikasi wordpress di smartphone. Sungguh ngga smart! Gimana bisa kehapus sih? Mungkin waktu itu saya kurang fokus gara-gara belum minum akua.

Sebenarnya, banyak banget hal yang terjadi di tahun kemarin. Namun alasan tidak sempat update ya lagi-lagi karena ketidakcukupan waktu, kurangnya koneksi internet sampai si laptop hitam kesayangan ini ikut-ikutan ngadat. Saat saya mengetik ini pun, si hitam masih lambat, lebih lambat dari kura-kura yang lagi malas jalan terus terjebak di antrian mobil macet di Jakarta. Syukurlah, hasrat saya menulis yang sudah tak terbendung lagi mengalahkan kelemotan si hitam. Butuh kesabaran ekstra, terutama ketika si hitam ngambek dan di layar dia bilang “not responding”. Si hitam tiba-tiba jadi mirip cewek yang lagi PMS. Untung dia ngga meledak, ngegampar, atau yang paling serem: mengeluarkan pertanyaan yang ambigu. Namun begitu, asalkan si hitam masih hidup dan masih bisa dipakai ngetik saja rasanya sudah bersyukur. Astungkara.

Ok, setelah drama cinta dan benci, benci tapi rindu antara saya dengan si hitam kini saatnya momen terlempar kembali ke tahun 2017, yang orang-orang suka pakai tagar di medsosnya #throwback.

Kisah Pengabdianku

Saat saya jaman kuliah di FK ada satu acara reality show yang saya gemari. Bukan acara “tersedu-sedu” yang mempertemukan dua orang yang terpisah itu ya, bukan! Acara yang saya tunggu-tunggu waktu itu berjudul “Pengabdianku”. Acara tersebut bercerita tentang kisah seseorang entah kah itu tenaga pendidik atau tenaga kesehatan yang mengabdikan dirinya ke daerah terpencil.

Saat saya melihat acara tersebut, jujur ya kesan pertama saya adalah orang yang menjadi tokoh cerita itu sungguh keren sekali. Menurut saya orang-orang itulah yang disebut superhero jaman global. Ok, mereka memang tidak punya sayap atau kekuatan super. Namun kerelaan mereka jauh dari keluarga, kerelaan mereka meninggalkan rasa nyaman demi membantu saudara setanah air yang membutuhkan di luar sana, menurut saya adalah hal yang hebat dan tidak semua orang mampu atau bersedia melakukannya. Sejak itulah saya berkeinginan bila nanti sudah jadi dokter, saya juga ingin mengabdi seperti mereka.

Alhasil, ketika permintaan diucapkan dan semesta mengabulkannya dalam jangka waktu yang sudah ditentukan. Saya menikah dan ikut tinggal dengan suami ke daerah tempat ia bertugas, NTT. Awal di sini sih saya masih liburan, honey moon dan jadi ibu rumah tangga dulu. Sampai akhirnya timbul kerinduan untuk memeriksa pasien lagi dan bertugas sebagai dokter.

Sebelumnya saya tidak tahu bagaimana saya akan memulai karir di sini. Jadi saya membuat surat lamaran dan pergi ke RS terdekat. Saya kemudian diarahkan untuk menghadap Bupati, mengajukan permohonan sebagai Dokter PTT daerah. Saya berangkat pagi-pagi ke kantor Bupati, menemui orang nomor satu di kabupaten ini. Setelah bertemu Pak Bupati, saya kemudian diminta pergi ke Dinas Kesehatan setempat. Di DinKes, saya bertemu dengan Kadis dan Sekretaris Dinas dan dibuatkan surat kontrak. Tampaknya gampang ya prosesnya, tetapi di kehidupan nyata sungguh prosesnya cukup melelahkan karena mondar-mandir sana-sini. Singkatnya, saya kemudian ditempatkan di salah satu Puskesmas di Kecamatan.

Puskesmas ini berjarak kurang lebih sejam dari bandara. Saya dan suami akhirnya pindah dan tinggal di mess yang disediakan. Namun, karena messnya kosongan jadi sebelum saya bertugas, kami beli berbagai barang kebutuhan mulai dari kasur, lemari, meja, perlengkapan dapur dan lain-lain baru kami pindah ke mess. Datang ke mess, kami masih harus bersih-bersih dulu, memasang pintu kamar mandi serta memasang gorden dan lampu. Syukurlah ada beberapa teman kantor suami yang membantu kami beres-beres sehingga rumah dinas tersebut bisa segera ditempati. Syukurnya juga, listrik dan airnya bisa sampai ke mess. Waktu saya tinggal disana, listriknya tidak kuat untuk pasang kulkas dan TV. Beruntung masih bisa pasang ricecooker, jadi terhindar dari kelaparan. Hehe.

Puskesmas tempat saya bertugas adalah puskesmas rawat inap dengan UGD 24 jam. Sudah terakreditasi dasar pula. Sehingga kondisi fisik puskesmasnya bisa dibilang baik. Sistem pelayanannya pun juga sudah tertata, semua poliklinik berfungsi baik. Saat saya pertama datang ke sana, penerimaan yang ditunjukkan oleh masyarakat juga baik. Dan yang paling saya kagumi, konsulen-konsulen serta para dokter senior di sini juga sangat baik dan tidak pelit-pelit berbagi ilmu. Belum lagi pemandangan alam yang masih asri, yang selalu mampu menghilangkan penat dan kembali menyegarkan hati.

Permasalahan kesehatan yang saya temui di sana beragam. Kasus-kasus yang dulu jarang saya temui waktu kepaniteraan rupanya masih banyak di sini. Masalah gizi, penyakit infeksi hingga penyakit degenerative. Kurangnya kebersihan, ekonomi kurang, pendidikan terbatas, kondisi geografis yang kering, hingga adat dan budaya menjadi permasalahan yang fundamental dan berkaitan satu sama lain. Semua permasalahan itu tidak bisa diatasi sendiri, perlu lintas sector dan peran dari banyak pihak. Namun, untuk bisa menjangkau semuanya terkadang saya kewalahan. Sebagai satu-satunya dokter di Puskesmas tersebut, saya harus standby menerima konsul selama 24 jam setiap hari, termasuk hari minggu dan libur. Kini saya memahami, mungkin memang begitu esensi pengabdian.

Memeriksa salah satu Mama peserta Prolanis. Saya cuma bisa bertanya, “Roo lakamba?” Bahasa lio yang artinya “sakit dimana?”. Dan setelah itu si Mama akan menjawab dengan bahasa Lio yang belum saya mengerti. Syukurlah ada adik perawat yang jadi penerjemah.😄
Memberikan penyuluhan kepada masyarakat bertempat di aula gereja 😊
Bersama tim PKPR saat kunjungan ke sekolah untuk penyuluhan KesPro Remaja 😉
Mencoba wefie bersama anak-anak SMA sebelum penyuluhan
Jalan menuju desa tempat saya dan tim akan mengadakan penyuluhan
Salah satu sekolah di kecamatan. Ada di kaki bukit 😄

Selama bertugas di sana, ada banyak pengalaman yang saya peroleh, ada banyak kasus yang bisa dipelajari. Bertemu dengan orang-orang baru dan memiliki teman-teman baru. Sayangnya saat di sana kadang ada hal-hal yang sebenarnya di luar kapasitas saya. Terkadang timbul lelah, stress bahkan emosi, itu pasti. Bertemu berbagai macam karakter pasien merupakan tantangan tersendiri. Adalah kesabaran dan pengertian yang mendalam selalu saya tekankan pada diri. Meskipun, terkadang itu sulit. Lama-lama akhirnya kita mengerti. Syukurlah suami, keluarga di rumah dan teman-teman baik selalu mendukung dan menyemangati.

Terima kasih atas pengalaman yang tidak akan terlupakan.

With love

Advertisements

Author:

Loving God, family, friends, pet | General Physician | Occasionally Blogger | love to write and read | heal the world : )

2 thoughts on ““Don’t Cry when It’s over..” -Dr. Seuss

  1. there you go ! finally ! after so long … ha-ha … you’re right, those who choose to live their ” comfort zone ” and taking risks to serve others are the real hero. I always give my high respect to those kind of people. for me, they’re 4 thumbs up ! not all of us dare to do that. and hats off to you for taking the risks, dear. I hope your presence brings all good things to the people you serve and meet there. but most importantly, I hope you enjoy your time and what you’re doing there.

    by the way, my son J is already in sikka. in his photos I can see how beautiful the place is. I think he’s gonna be fine there 🙂 .

    1. Hi Mommy, how are you? Thanks to you so I could have the courage to write again. haha.
      Ah, I also saw in his IGstory. Of course, you don’t have to worry 🙂

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s