NRUT KCAB EMIRC

Pagi itu tidak secerah biasanya. Matahari yang baru terbit masih bersembunyi dibalik awan mendung abu-abu. Hari seolah masih pagi padahal jarum jam sudah menunjuk pukul 7.20. Hanya tinggal 10 menit waktu yang tersisa agar saya sampai tepat waktu. 

Saya lupa hari itu harusnya saya datang lebih awal karena ada apel mingguan. Namun, sudah telat mau bagaimana lagi. Tinggal siap-siap dapat teguran (lagi) dari Pak Waka karena tidak ikut apel. 😂 Sampai di UGD, para tenaga medis sudah mulai bubar dari halaman. Saya cuma bisa senyum-senyum aja, padahal malu juga rasanya ngga ikut apel. 

Pagi itu UGD agak sepi. Pasien datang satu per satu. Pasien yang poliklinis kami sarankan ke poli saja. Memang jadinya mereka harus menunggu. But, it is worth the wait, they will meet specialist! Doesn’t it better than meet general physician and then have to wait our consultation to specialist? Namun, tak semuanya yang datang kami tolak dan bawa ke poli. Pasien yang memang gawat dan perlu penanganan segera, as soon as possible: we treat you first!

Seperti hari itu. Suara mobil pick up yang berhenti usai melaju kencang, berdenyit keras di depan UGD. Perawat-perawat kami yang handal dengan sigap mengambil brankar dan memasukkan ke ruang UGD. Saya baru selesai memeriksa satu pasien dan segera menghampiri pasien baru itu.

Seorang pria dengan luka di kepala. Darah merah segar merembes dan menetes sampai ke lantai. Dari suaranya yang mengerang kacau, mata terpejam dan tangan yang gelisah, dapat disimpulkan ia mengalami cedera yang berat di kepala. Sesaat pasien muntah dan terdengar suara kumur di tenggorokannya.

Suction! Kami segera menyedot muntahan yang bisa menyumbat jalur nafasnya. Darah dan liur tampak melewati selang suction. Bersamaan, kami pasangkan oksigen memeriksa nadi, tekanan darah, pemeriksaan fisik cepat dan memasang infus. Tiba-tiba pasien kejang. Kami segera memberi obat anti kejang.

“Ia kami dapatkan di bawah, jatuh terpeleset dan kepalanya terbentur di tanah”, seseorang anggota keluarga memberi saksi.

Terpeleset dan membentur tanah? Saya merasa ada yang aneh. Sudah berkali-kali saya menemukan pasien jatuh di tanah, tetapi tidak dalam kondisi seburuk ini. Benjolan yang cukup besar di kepala dengan luka yang terus mengucur lebih sering dihasilkan oleh benturan yang keras.

Setelah pasien cukup stabil, luka dijahit luar, hanya agar jumlah darah yang keluar bisa diperkecil. Perlu ct scan untuk memastikan apakah terdapat perdarahan dalam kepalanya.

Kami segera memberitahu keluarga bahwa kondisi pasien dalam keadaan yang serius. Benarkah hanya jatuh di tanah? 

Dan keluarga akhirnya mengakui, bahwa pasien adalah korban pemukulan dengan besi. It make sense. This is a criminal case!

Memang, bekerja di UGD tak akan terlepas dari pasien-pasien yang memiliki latar belakang kasus kriminal. Baik itu korban maupun pelaku. Kondisi korban saat awal ditemukan akan menjadi bukti penting yang nantinya diperlukan oleh kepolisian. 

Saya segera menelepon dokter konsultan saya. Meminta instruksi selanjutnya. Jawaban beliau: Pasien perlu diintubasi dan segera dirujuk. 

Segera saya menghubungi dokter anastesi, mengkonsulkan pasien untuk diintubasi. Sesaat kemudian, beliau datang. Kami menyiapkan segala peralatan intubasi. Begitu pasien terintubasi, saya membantu bagging- memompakan udara ke saluran nafas pasien. Saturasi oksigen yang sebelumnya 88 mulai naik perlahan.. 90.. 92.. 96.. 98. 

Fuh…Baru sedikit longgar rasanya nafas ini ketika saturasi-kadar oksigen darah pasien naik, yang artinya perfusi-peredaran oksigen di darah kembali baik. 

Pasien segera kami kirim untuk ct-scan. Di dalam ruang radiologi, pasien harus tetap dipompakan udara. Namun, tak mungkin hal vital ini kami serahkan pada keluarga yang sama sekali bukanlah orang kesehatan. Mau tidak mau, saya harus tetap disana membagging pasien, menjaga agar oksigen tetap masuk ke paru-parunya.

Selama pasien di ct scan, otak saya memutarkan slide kuliah radiologi tentang efek-efek radiasi. Ah, saya hanya bisa tersenyum menyadari diri saya di dalam ruang radiasi hanya berlindung dengan rompi yang hanya menutupi dada perut dan setengah kaki. 

Saat itu, saya bertanya pada diri sendiri. Do I have a super power that can protect myself from radiation? Or am I a superhero that invulnerable to every dangerous things?

Satu-satunya hal yang saya tahu, saya hanya seorang dokter dan dokter adalah sama: manusia yang tidak memiliki kekuatan super. Mungkin hanya dengan niat yang sama seperti dokter lainnya : menyelamatkan pasien, seorang dokter akan tetap berada disana terlepas dari segala risiko yang bisa menimpa kami.

Setelah kurang lebih 5 menit, proses ct selesai. Ternyata benar terdapat tulang kepala yang patah, perdarahan di bawah tulang kepala yang luas hingga mendorong sebagian otak ke sisi satunya. Pasien ini harus segera dirujuk!

Ambulan melaju kencang, suara sirine menderu. Saya dan seorang perawat bersama dua orang anggota keluarga pasien berada di dalam ambulance. Genting. Kami berpacu dengan jarak dan waktu. Bisakah kami sampai di rumah sakit tujuan dengan pasien kami? Sanggupkah ia bertahan? Pak…bertahanlah! 

Sepanjang jalan saya melihat ke alat pengukur saturasi. Lamat-lamat berdoa, jangan sampai saturasi turun. Perjalanan satu jam itu terasa sangat lama.

Ketika kami sampai di rumah sakit pusat rujukan, kami segera mendorong pasien ke ruang UGD. Dokter-dokter bedah segera mengevaluasi pasien kami. Seorang dokter menanyai saya mekanisme cedera pasien ini. Usai memberikan segala informasi, kami pun kembali ke ambulance. Bersiap-siap untuk kembali pulang setelah hari yang cukup menegangkan.

Selamat hari sumpah pemuda!

Semoga, siapapun diri kita, apapun profesi kita, kita tetap berjuang dengan segala kemampuan kita untuk negeri kita Indonesia. 

Indonesia mungkin tidak sempurna, tetapi Indonesia layak untuk diperjuangkan – Panji Pragiwaksono

Karena satu hal yang bisa kita lakukan untuk memajukan negeri adalah dengan melakukan usaha terbaik dalam setiap tindakan kita. Ok.. selanjutnya, mungkin saya perlu memperbaiki time management saya agar tidak telat lagi untuk ikut apel. 😂 Forgive me

With love,

 

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s