Dibalik Bilik Ruang Resus

Hari ini saya ingin menyatakan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya untuk keluarga pasien yang hari ini ditinggalkan.. Ditinggalkan oleh seorang istri, ditinggalkan oleh seorang menantu.. dan untuk anaknya yang masih belum satu tahun: ditinggalkan seorang ibu.

Sore ini saya bertugas di UGD. Cuaca mendung disertai gerimis tipis sedari siang namun tidak membuat surut kedatangan pasien-pasien ke unit gawat darurat hari ini.

Bahkan ada yang batuk, pilek, yang sebenarnya bisa ditunda sampai besok di poli, tetap tak bisa terbantah untuk meramaikan UGD. Apadaya.. tentu isi pikir saya tak berbeda dengan pasien-pasien saya. Siapa sih yang mau menunda untuk sembuh? So, welcome to our emergency unit eventough your problem is not too emergency anyway. ☺

Saya tengah memilah hasil pemeriksaan lab ketika tiba-tiba terdengar klakson motor dari depan pintu UGD disertai teriakan, “Pak Dokter! Bu Dokter! TOLONG!!”. Kami segera menghampiri suara itu, segera memindahkan seorang wanita yang dibopong ke brankar. Ketika melihat pasien ini, kami tahu bahwa kami harus segera mendorong brankarnya ke bilik resusitasi.

Tiada nadi, tanpa nafas. Kami bergegas melakukan RJP, memasang oksigen, memasang monitor, memasang infus. Asistol, tidak ada gelombang yang timbul pada monitor. Saya dan senior segera melakukan tatalaksana sesuai ACLS, yang sudah kami ikuti bulan lalu. 

Saya tidak tahu bagaimana rasanya menolong orang yang tenggelam, tetapi saat itu saya merasa ikut sesak, berusaha berpikir dengan cepat, melakukan semua yamg bisa dilakukan hanya untuk satu tujuan: pasien selamat.

Berkali-kali kami melakukan pijat jantung, memasukkan obat, namun.. tubuh pasien ini tidak memberi respon. Hingga akhirnya senior kami menyatakan bahwa refleks batang otak sudah tidak ada, yang artinya nyawa pasien ini sudah tidak dapat tertolong.

We have tried our best..all efforts that we can, but God may have a different way.

Disana, di samping brankar ada suaminya yang sudah sedari tadi memegang tangan pasien. Di belakang ada mertua dan ipar-iparnya.

Sebagai seorang yang pernah berada di posisi keluarga pasien, saya tahu betapa berat untuk mendengar sebuah kenyataan yang tidak pernah ingin kita dengar. Namun, di saat itu adalah kewajiban kami untuk memberitahukan kenyataan bahwa pasien sudah berpulang.

Isak tangis teriak terdengar dari laki-laki yang sejak awal terlihat cemas di samping pasien. Mereka adalah orang tua dari seorang bayi yang belum genap setahun.

Saat menulis kembali catatan medis pasien, saya melihat bahwa pasien sebaya saya. Saya hanya bisa terdiam menyadari bahwa kehidupan tak pernah memilih waktu untuk meninggalkan.

Pikiran saya kembali terbang pada keluarga yang ditinggalkan. Langit mungkin sudah tidak turun hujan, tapi entah bisakah wajah-wajah para keluarga dan orang terdekat menyingkirkan mendung yang baru saja hinggap?

Semoga keluarga diberi ketabahan..

Hari ini saya teringat dengan kata-kata yang pernah diucapkan oleh sepupu saya

Kita tidak pernah tahu bagaimana hari esok.

Jadi lakukanlah yang terbaik hari ini juga

With deep condolence.
Hari ini 24 Oktober 2016, Hari dokter nasional.

Kami tahu kami bukan Tuhan, bukan penentu hidup mati seseorang. Terkadang, diantara pertarungan hidup dan mati itu kami ingin menang: membawa pasien kembali pulang, sembuh, siuman.

Namun keadaan kembali mengingatkan bahwa dokter tak lebih hanya manusia, yang kadang kecewa saat kami harus kalah di depan kematian pasien kami. Hanya usaha terbaik yang telah kami lakukan dan permakluman keluarga menjadi obat pereda rasa pahit itu.

Untuk TS dimanapun berada: tetap semangat melayani sesama!

Advertisements

11 thoughts on “Dibalik Bilik Ruang Resus

  1. Innalillahiwainnalilaihirojiun… semoga alhamarhumah dterima di sisi allah Swt dan kluarga yg ditinggalkan diberi ketabahan. Itu gara2 tenggelam apa gmn mbak? Nggak disebutin pnyebabnya

    1. Terima kasih Mbak Pradita.. Penyebabnya kematian belum bisa dipastikan karena tidak dilakukan otopsi. Pasien datang ke ugd sudah dalam kondisi yang sangat buruk.

    1. Terima kasih Mas. Bukan, penyebabnya bukan tenggelam. Itu hanya kiasan. Kan kalau menolong orang tenggelam kita mesti masuk ke air dan nahan nafas (sesak).

  2. Dalam bahasa yang sudah sangat sering didengar orang banyak: manusia boleh berusaha, namun Tuhan jua yang menentukan ya Mbok… eh ya, tapi para dokter itu bagi saya insan-insan yang kuat, lho. Pernah suatu waktu saya dibawa ke UGD karena demam tinggi berhari-hari, di Bali. Pas pertama masuk itu yang saya dengar itu isak tangis keluarga karena ada seorang pria meninggal karena kecelakaan bermotor. Duh, saya kalau bisa nggak masuk deh itu ke UGD… tapi harus masuk sana karena saya sendiri sudah demam dan mimisan. Langsung stres jiwa juga saya.

    1. Yah..begitulah bli gara, bagi yang belum terbiasa, pasti agak stress jiwa melihat semua itu. Ini karena sudah terbiasa bli. Wah..semoga besok-besok ga sampai ke ugd lagi ya

  3. I trust you’ve tried your best. you and your team. but as you said, God has His own decision. He choae to take her back. we never know His plan, but we can trust that what He’s doing is never bad. I hope they are strengthen by God for it’s never easy to let go the ones we love.

    thanks for sharing this, dear. to make us see that doctors are only human. they have their limitation. though they know they’re limited, yet they will always try to give the best.

    happy doctors day ! may you always be God’s hands, dear. remember, your profession is your calling. therefore, do fulfill your calling. by doing that, you respect Him, the one who calls you.

    1. Thank you Mom… 😙 and..your son is also a doctor. Ya Mom, by thinking this profession is God’s calling, it make me remember that my hands are only God’s instrument. 😊

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s