Bukit Hekson

Good day good people

Selamat malam dari Desa Kayuambua, desa kecil dengan hawa sejuk tempat dimana saya kali ini menjalani internship. Refreshing sejenak di kala jeda pasien dengan menulis blog semakin komplit dengan dukungan free wifii di Puskesmas.
Ok, kali ini saya tidak membahas tentang pasien febris yang baru saja ditangani tetapi saya ingin mengangkat cerita kemarin hari yang rasanya sayang untuk dihapus begitu saja dari memori.

Bukit Hekson. Ini bukanlah nama bukit yang ada di desa ini tapi merek sebuah teh herbal. Tulisan inipun tidak mengulas khasiat manfaat teh tersebut, tidak juga ada niat promo. Namun, cerita kecil dibaliknya.

Kemarin siang, saya melihat sekotak teh herbal ini di atas lemari pendingin di dapur. Ia berdampingan dengan satu kotak teh herbal lainnya dari Cina. Cuma satu pikiran saya waktu itu, “Pasti ini ibu yang beli”. Sama seperti jamu-jamu yang ada di rak dalam wadah kaleng dan juga kotak, seperti kapsul-kapsul kulit buah yang ada di depan meja rias dan tablet-tablet obat herbal dari pulau seberang hingga negeri seberang. Ya, ibu mungkin tergolong penggemar obat herbal.

“Bu, beli lagi obat herbal?” Tanya saya ketika beliau lewat saat saya membuka kulkas.
“Iya, ini ibu beli” ucap Ibu.
“Hm..pasti deh terbujuk rayuan dan cerita-cerita keajaiban obat herbal dari dagangnya,”
“Maunya ibu ngga beli lho, Gek.. kamu tahu, itu ada ceritanya kenapa ibu sampai beli..”

Siang yang terik itu, ibu masih bekerja di kantor. Ada seorang pedagang datang membawa tas-tas besar menawarkan obat-obat herbal. Ia menawarkan macam-macam, mulai dari madu, teh, jamu, minyak dan banyak ramuan herbal. Ibu dan temannya yang saat itu ditawari ini dan itu hanya bilang, ‘tidak’, ‘sudah ada’,’lain kali’ tanpa menoleh kearah si penjual karena ibu dan temannya memang sedang fokus memasukkan data. Terakhir si penjual menawarkan koran herbalnya (koran yang isinya keunggulan produk herbal) dan ibu meminta si penjual meletakkannya di atas meja.

Sejenak kemudian, tak terdengar lagi suara si penjual obat herbal. Barangkali ia sudah pergi, pikir ibu. Namun, tidak terdengar suara motor berderu yang mengisyaratkan kepergiaannya.

Jadi, kemana pria itu menghilang?
Ibu dan temannya penasaran dan mengintip keluar. Dilihatnya si penjual sedang mencuci tangan. Ibu semakin heran, mengapa ia masih disana? Ibu dan temannya masih terus mengawasi, takut-takut kalau ada niat yang kurang baik.
Usai mencuci tangan, si penjual yang tampak lelah itu duduk di sudut teras. Perlahan ia merogoh ke dalam tasnya yang besar. Dari dalam tasnya, ia mengeluarkan bungkusan kresek. Ia menyingkap kreseknya dan sebuah bungkusan daun keluar. Dibukanya bungkusan daun tersebut dan di dalamnya berisi nasi beserta sayur dan telur. Begitu daun terbuka, ia merobek daun itu sedikit lalu diisi sejumput nasi dan sedikit sayur dan telurnya untuk dihaturkan. Barulah kemudian ia makan dengan lahapnya.

“Kamu tahu, saat itu ibu dan teman ibu tiba-tiba merasa iba. Ibu berpikir, mungkin saja bekal nasi itu ia bawa dari rumah.” Ucap ibu.

Setelah si penjual obat itu menghabiskan bungkusannya, ibu memanggilnya kembali, menanyakan produk-produk apa saja yang dijual oleh si pedagang. Syukurnya si pedagang tidak mengomel karena sebelumnya penawarannya diacuhkan dan harus mengulangi lagi promosinya. Dan akhirnya, itulah sebab mengapa ada kotak teh bukit Hexon di atas lemari es hari itu.

Saya jadi teringat dengan program acara televisi yang menceritakan tentang perjuangan orang-orang di tengah kerasnya kehidupan.

Sikap ibu mengingatkan saya, terkadang hal kecil yang menurut kita tidak seberapa bisa saja merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi orang lain.

Akhir-akhir ini rasanya saya memang kurang membantu sekitar, bahkan sempat ngambek-ngambekan dengan orang tua, tapi memang bercanda sih. Hahaha.

Stay good beautiful soul.

With love

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s