The Yogurt of Life #1

Om swastyastu, good day good people πŸ™‚

Hari ini saya tersadar sesuatu. Lebih tepatnya, teringat sesuatu. Masa ketika saya masih koas dengan segala jadwal yang sibuk dan tak beraturan. Ketika itu, Aji (ayah) dan Ibu saya masih dengan kebiasaan kasih sayang mereka : menelepon di sore hari untuk bertanya apakah anaknya sudah maka atau belum?

Coba pikirkan, Aji dan Ibu tentu tahu bahwa anaknya sudah cukup dewasa masa itu. Ya setidaknya, anaknya tentu tahu aturan “kalau lapar, ya makan”. Namun, mengapa mereka selalu bertanya itu setiap hari?

Waktu itu, saya masih sangat bodoh untuk menyadari kasih sayang mereka sehingga saya kadang jengkel bila saat bertugas ada telepon masuk. Terkadang saya menjawab singkat, bahkan terkadang tidak menjawab. (Duh, durhaka sekali ya saya waktu itu? 😦

Keesokan harinya, Ibu dan Aji kembali menelepon dengan nada marah-marah.

“Kenapa kemarin tidak angkat telepon?”

“Nggih, Bu. Pasiennya rame.”

“Jawab sebentar kenapa? Kamu tahu Ibu khawatir?”

“Nggih, nggih. Tapi kan anak ibu sudah gede, sudah mengerti dan bisa makan sendiri..”

“Ya. Nanti rasakan kalau nanti kamu sudah jadi orang tua!”

Jeder! Apakah saya dikutuk ibu T.T ? (Untung tidak dikutuk jadi batu seperti Malin Kundang)

“Nggih Bu. Ampura…ampura (maaf)”

Apakah ampunan maaf dari Ibu mampu membatalkan kutukan? Ataukah tetap berjalan seperti kutukan Maham Anga pada Raja Jalal?

Seiring waktu, hubungan LDR antara anak dan orang tua mengalami perbaikan. Masing-masing dari kami sudah mulai mengerti. Bila saya jaga dan ada telepon, sedapat mungkin saya angkat, walaupun saya jawab singkat.”Ampura (maaf) Bu/Ji, tiyang (saya) masih jaga” lalu ditutup.Β Atau kalau tidak sempat saya angkat, semalam apapun itu, bila ada jeda tugas saya mengirim pesan singkat agar bisa dibaca oleh Ibu dan Aji keesokan harinya.

Terkadang karena terlalu sibuk, lelah, bahkan di saat yang bersamaan pulsa habis dan tidak bisa kirim SMS, keesokan harinya Aji dan Ibu akan menelepon kembali. Namun, tidak seperti sebelumnya, nadanya sudah tidak dipenuhi nuansa kemarahan. Mereka bahkan menelepon dengan sangat lembut. Seolah paham, bahwa anaknya yang usai jaga tentu dalam kondisi lelah. Dibandingkan marah, anak ini justru lebih perlu perhatian dan dukungan. πŸ™‚

“Sebuah kasih sayang yang terlalu berlebihan kadang berujung pada kekhawatiran”

“Namun ketika kasih sayang itu mampu melampaui kekhawatiran dan kemarahan dengan doa dan percaya, yang tersisa hanya bentuk kasih : kelembutan”

Untuk bisa saling mengerti dan memahami, masing-masing manusia perlu belajar. Untuk bisa belajar, manusia perlu kemauan, waktu dan kesempatan.

Meskipun terkadang waktu bersama keluarga harus terbatas karena tugas saya, tetapi Ibu dan Aji telah mengerti itu. Terima kasih, Aji dan Ibu.

Pada akhirnya, telepon dari orang tua akan menjadi telepon yang paling ditunggu anaknya. Semasih mereka bisa menelepon, saya ingin selalu mendengarkannya. Topik apapun itu tidaklah penting, karena yang terpenting adalah waktu bersama mereka.

with love,

Advertisements

9 thoughts on “The Yogurt of Life #1

  1. Orangtua memang selalu ingin yang terbaik untuk anak-nya πŸ™‚ Kadang susah juga ya untuk menenangkan mereka bahwa kita baik-baik saja.. πŸ™‚ sabar ya, biasanya perlu waktu juga membiasakan LDR dengan anak..

    1. Sekarang sudah deket kok Mba πŸ™‚ bahkan kalaupun jauh, setiap minggu bisa pulang. πŸ˜€ Memang bener ya Mba ya, hanya perlu waktu untuk membiasakan diri πŸ™‚

  2. Yogurt itu maksudnya cerita tentang asam manis kehidupan cah ya? dan meskipun begitu tetap memberi kebaikan, gitu? dan kebaikannya baru didapat setelah proses fermentasi, makanya judulnya Yogurt, gitu kan ya?

    Maaf salah fokus, sepertinya karena perut lapar hehe… ^ ^”
    Tapi, ya begitulah orang tua menunjukan kasih sayangnya,
    kekhawatiran yang terjadi secara refleks, dan apa adanya.

    1. Yang sebenarnya adalah waktu itu memang pas lagi minum yogurt sih kak Oka. Haha. Namun, filosofinya pas banget. Selanjutnya mungkin pakai tag itu. Ya, Bli. Mungkin setelah jadi orang tua akan lebih mengerti bagaimana perasaan mereka.

  3. Ah ini saya banget soalnya saya suka marah-marah dan dimarah-marah kalau lama tidak menelepon atau mengangkat telepon. Ujungnya juga sama, lebih ke sayanya yang mencoba menempatkan diri sebagai orang tua, bagaimana kalau saya jadi mereka, sekaligus mencoba paham dengan diri sendiri.
    Ya mungkin inilah euforia kebebasan ya, bebas mau ngapa-ngapain, tapi kalau di rumah sana ada yang khawatir… ya kan tidak enak juga. Jadi ya pemecahan saya juga sama: kirim SMS atau WhatsApp. Toh kan kalau orang rumah sudah tahu apa kabar kita, mereka tenang, kita tenang, semua tenang :)).
    Semakin ke sini, pikiran saya kalau menerima telepon orang tua cuma: masih untung ada yang mau peduli. Lha itu kalau orang tuanya sudah tidak ada (amit-amit), mau bagaimana? Dengan pikiran itu biasanya saya berpikir seratus juta kali lagi sih Mbok buat marah-marah :hehe.

    1. Haha. ya begitulah Bli Gar. Dulu memang masih belum sadar sih, jadi seperti itu. Sekarang setelah smuanya terlewati baru sadar Bli Gar. Betul banget! Syukur masih ada mereka yang peduli :’)

  4. hahaha … not exactly the same but I did experience it with my son. thank God I can communicate this thing with him. and thank God he understands my worries. now he has started to let me know his activities. I hope he continues to do it so that I know what he’s up to. and when we meet, I will then ask about his life.

    I like what you write here — β€œNamun ketika kasih sayang itu mampu melampaui kekhawatiran dan kemarahan dengan doa dan percaya, yang tersisa hanya bentuk kasih : kelembutan” — I will keep learning to accept his busy schedule and will always try to treat him with tenderness to let him know that I understand his condition well and I love him.

    Thank you dear for your post here πŸ™‚

    1. Hi Mom, so glad to hear that this post helped you to understand him hihi. Both of you will understand each other too πŸ™‚ You are most welcome Mom πŸ™‚

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s