Resensi Buku #2

Om swastyastu, good day good people

Masih dalam marathon membaca buku satu minggu kemarin, inilah buku kedua yang saya beli di toko buku. Berangkat dari setiap permasalahan seputar hubungan manusia yang sering dicurhatkan sahabat kepada saya, saya merasa perlu membeli sebuah buku yang bisa menceritakan tentang sebuah hubungan.

Seharusnya saya mencari sebuah buku psikologi atau humaniora, tetapi isi kantong ini masih belum cukup untuk membeli buku tebal milik Carl Jung atau Sigmun Freud. Alhasil, saya hanya membaca novel karangan Oka Dara Prayoga.

2. BACK TO YOU karangan Oka Dara Prayoga (ODP)

2015-06-18 08.42.15

Buku ini adalah buku Oka yang ketiga setelah Analogi Cinta Sendiri dan Analogi Cinta Berdua. Sayang sekali saya belum membaca dua buku sebelumnya sehingga, begitu saya melihat buku ketiga ini di Grame*ia saya segera menyambetnya.

Tadinya saya berpikir ‘buku’ ini seperti buku ‘tips-tips’ atau ‘how to’-‘how to’ yang bisa memudahkan saya mencari cara praktis bila menemukan masalah yang dikeluhkan teman. Buku ini masih terbungkus rapi diantara buku-buku yang lain. Maunya saya robek bungkusnya sedikit untuk mengintip isinya, namun seorang Mba petugas toko sudah mengawasi saya sejak sepuluh menit saya berdiri melihat-lihat buku, membuat saya sungkan untuk melakukan perilaku yang kurang terpuji itu. Akhirnya saya membeli tanpa pikir panjang lagi.

Setelah merobek dengan gerakan mencakar, buku ini pun seketika mendapat definisi yang lebih jelas sebagai sebuah novel perjalanan asmara seorang Oka. Oka menceritakan bagaimana masa-masa PDKT yang hanya berlangsung via sms dengan seorang gadis yang dikenalkan oleh temannya-Mia. Hingga kegetiran dalam menjalani hubungan yang berbataskan jarak dan berakhir karena keadaan yang tidak memungkinkan.

Putus dari Mia, tetapi masih tetap terjalin hubungan yang baik, seorang Oka kembali menjalin hubungan yang baru dengan seorang gadis digambarkan super sibuk dan perfeksionis. -Ah, saya jadi teringat dengan diri saya ketika masih sekolah yang memang mengabdikan hidup hanya untuk belajar, belajar, belajar dan belajar. Jika orang lain melihat itu kesibukan, kami sebenarnya hanyalah pemimpi yang dengan rendah hati ingin mewujudkan mimpi. Loh, kok curcol ya. LOL-

Mungkin Oka tidak menemukan kenyamanan dalam hubungan itu dan di saat yang sama, Mia hadir kembali tanpa disengaja. Firasat wanita itu kuat, terlalu kuat hingga mereka bisa menjadi detektif yang bisa tahu apa saja. Windi mengetahui kebenaran dan akhirnya melepaskan Oka.

-di sini ada part ketika Oka men-skip pesan dari pacarnya tetapi langsung membalas pesan dari Mia, mantannya. Hal ini sempat membuat saya mengalami phase of negative thinking to man. Namun, saya percaya masih ada pria-pria baik yang akan menghargai pasangannya saat ini, menjaga perasaan wanitanya dan tidak akan membiarkan masa lalu mengganggu keharmonisan hubungannya. Ya, masih ada pria yang hanya mengijinkan satu wanita-yaitu wanitanya saat ini sebagai satu-satunya wanita yang ia cintai. Contoh yang saya temui: my father dan Pak Mario Teguh. Eh, kok jadi salah fokus?

Kembali ke novel. Ada beberapa hal yang menarik dari novel ini. Penyajian cerita dengan pikiran-pikiran yang absurd cukup membuat saya ketawa-ketiwi saat membacanya. Konsep perasaan yang digambarkan Oka disini cukup sederhana, tetapi pas. Pada akhirnya setiap manusia yang pernah berjumpa konflik akan sampai pada tahap pemahaman atas pelajaran hidup yang ia dapatkan.

Berikut ini beberapa yang indah:

“Kita pasti ingin hidup dengan seseorang yang cukup dengan menatap matanya saja sudah seperti di rumah”

“Kita hanya ingin terlelap di pelukan seseorang yang bermata teduh yang melenyapkan segala jenuh, menggantikan semua peluh.”

“Pada akhirnya, kita hanya ingin terjatuh pada ia yang sama penuh luka, tapi dipertemukan untuk saling menyembuhkan”

“Kadang kita tidak sadar, sudah menunggu beberapa lama untuk bertemu orang yang tepat.”

“Aku tidak pernah mengerti bagaimana seseorang bisa jatuh cinta. Hal itu bisa semudah melempar senyum, berjabat tangan dan bertukar nama. Ada juga yang tidak berdaya membendung cinta yang masuk perlahan lewat dinding hati akibat kebiasaan yang tidak sengaja dilakukan bersama.

Bahkan, ada yang bersusah payah jatuh cinta dengan menunggu…entah berapa lama akhirnya masing-masing dari diri mereka menyadari kalau itu adalah cinta.”

Buku ini terbitan Bukune, 2015.

with love,

Advertisements

6 thoughts on “Resensi Buku #2

  1. Kata-katanya membuat diri melambung tinggi ke angkasa ya… cuma mesti hati-hati kalau nanti terjatuh, biasanya rasanya agak sakit :hehe.
    Quote-quotenya bagus, kalau menurut saya. Mungkin begini kali ya kalau sedang jatuh cinta. Cuma dalam kasus saya, kok kayaknya nggak applicable. Yah, semua orang punya pandangan yang beda-beda :hehe :peace. Saya lebih suka yang sederhana tanpa semua bumbu yang tak berarti. Lagi pula, cinta kan bukan bumbu, tapi bahan dasar untuk memulai kehidupan bersama :hehe.

    1. Yah. namanya juga novel bli Gar, itu quotation dari novelnya sendiri jadi ya pasnya sama jalan cerita novelnya. wkwkw. Sama juga pepatah bilang, “baju orang lain,tdk bisa diukurkan ke diri sendiri”. Ah mungkin lebih baik saya ditanya tentang penyakit aja deh Bli Gar wkwkwk

      1. Oh iya ya Mbok :hehe, apa yang dialami orang lain belum tentu cocok untuk kita, kan semua orang punya kisah yang berbeda :hehe. Tapi paling tidak kita bisa belajar sesuatu dari kisah orang lain itu ya :hehe.

        Sip, nanti kalau saya mau tanya-tanya tentang penyakit, saya ribut-ribut boleh dong ya :haha.

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s