Posted in STORY-OPINION, To think

[EF#15] GAMES IN BIOPSYCHOSOCIAL ASPECT OF LIFE

Today, our point of view of games has changed recently. Many years ago, games were associated with children, form of playing or sport and sometimes related to outdoor activity. By now, we can see that playing games doesn’t have any age limitation; from child to adult can play games. Games also can be played indoor and even easier. The gadget era today has brought us many games that have much more variation, more interesting and easy to get: just by clicking, downloading and then we can start playing the game.

GAMES IN BIO-PSYCHOLOGICAL ASPECT

Brain Training and Activation

When playing a game, another part of the brain will be activated, according to what type of game that we played. Game that need visual and spatial ability, music games, game that need interpretation will activate your right brain. In another side, game that involve your memory recall, mathematical computation, logic thinking and language will train your left brain.

Muscle Training

Sport is also a kind of game. Do some sports or any playing activity outside home (dance, futsal, badminton, etc) will train our muscle, burn some excess calories, train our cardiovascular organ, detoxifying our body and of course will give us a healthy body. Now, the games that are in our gadget only train the digiti minimi muscle; muscle of our fingers. But, there are some applications that still help us how to exercise well by using exercise track record, calorie burner, any kind of work out application.

Coping with Stress

Playing game is one of many other ways to cope up with stress. Playing games provide us a distraction from stress and some type of games can give us relaxation. The feeling when you win the games can repair your mood. But, it should be noticed that many of games now provide more challenges. Instead of evade us from stress, it can vest us more stress and addiction.

SOCIO-CULTURAL-ECONOMICAL ASPECT

tajog1
(credit for http://blog.baliwww.com) Tajog/egrang/joglagan

Social Aspect

Games can be played in group and solo. Many type of games before were played in a group. I remember when I was child, I would meet my friends to play game. Playing game was one thing that could unite us and made us had the feeling of togetherness among ourselves. Playing game tighten our bond and friendship. Now, some children prefer to play solo. They might connected by internet connection, LAN, and any other sharing tool, but they may lose eye contact, touch, sweat and maybe another thing that they can’t get while playing together.

Cultural Aspect

Game is also one of another pillars of culture in Indonesia. Indonesia has many traditional games and today our children don’t know much about them. When, I was child I used to play cingklak (like marble game, but use small stones, different with congklak), tambak-tambakan (like gobak sodor) and my favorite one is playing joglagan/enggrang. Now, those games only played when independence day, August 17 and the contestant were they who are the same age with me, because maybe our children don’t know how to play it. I’m bit worried, if one day the generation who know how to play them get old, couldn’t play them, the traditional games will be vanished too.

Economical Aspect

The new form of games can be economically worthy if we know how to make online games or games application. According to www.statista.com, in 2014 Indonesian people who use smartphone are about 38 million people and it was estimated that total revenue for online PC games in Indonesia about 136.5 million US dollars. It would become benefit to Indonesian technopreneur. I tried to search some online games, but still many of them were created by people from another country. Only few online games or application were produced by Indonesian people. We should appreciate that Indonesia still have people who are creative and competitive.

SOMETHING TO THINK ABOUT?

Like any other tools in life, games could be benefit for us when we use it in a right manner. Games can train your brain, help you to cope with stress and make you more healthy. Games can be a bell that remind us of our culture. Games can be a site of business, bring you out an income. But, we should also remember too much playing games can destroy our study, our work, our life and put out the money from our pocket. At the end, the balance is the key to avoid the bad influence.

The concern should also focused on children that playing the games. Again, the parents are the one who take the responsibility to manage their children. Choose wisely the game that suitable to your children according to their age. Now many parents use their gadget to calm down their children, but never think what the implication to their children. Our children will depend on gadget, they may addicted to it, they might lose the feeling of togetherness, they might don’t have the sweet memories like we used to when we were child and played our games.

Let us back again to that time, let us play the old games that we had left 🙂 and, be wise to use gadget.

with love, cahyanidwy

————————————————————————

This is the second time for me to submit my post to BEC‘s weekly challenge. Honestly, I would like to submit it at Friday like its name, English Friday weekly challenge. But, I’m afraid on that day I’m on duty and will be late to submit my post. So, to dear admin, it is okay then?

with so much love,

Author:

Cogito Ergo Sum, que sera sera.

26 thoughts on “[EF#15] GAMES IN BIOPSYCHOSOCIAL ASPECT OF LIFE

    1. It is a pleasure for me Mba Indah, lot of thank you 🙂 Oh ya, I miss your monochrome Monday, I want to have a visit then 🙂

  1. Apa itu permainan ? apakah kisah kecil berikut termasuk permainan ?

    Setelah menamatkan makan malam yang terlalu dini (Coelacanth goreng kering dengan sambal lalap ala Perancis), dilanjutkan dengan menyiram tanaman di halaman dalam rumah menggunakan air hasil kondensasi AC yang memenuhi wadah ember cantik berwarna hijau toska , sambil berbisik lirih (agar tidak didengar orang lain) ungkapan harapan untuk kesehatan keluarga palem kuning , wergu , putri dan rekan. Secangkir kopi Americano (tubruk maksud lo ? – tapi kan dari espresso bang….bukan bubuk + gula gitu terus belumpur …terussss) siap menemani aksi petualangan menenganggkan selanjutnya (HEEEH ?)

    Babak selanjutnya adalah bengong di depan layar sambil bibir menyeruput tipis kopi panas robusta (ihhh robusta , kampung…sorry yah arabika gak jantan , gak bikin jantung berdebar-debar) Sidikalang tembak Bremen … dan bertanya “eh tadi mau ngapain yah” sambil membersihkan jari jemari yang sebelumnya memuaskan libido lobang hidung. Aksi memainkan anak tikus hitam berdaki yang kalau dicium bikin pengen cuci tangan, pun dimulai…klik calibre , cari-cari buku yang udah dibaca sebagian namun belum selesai (banyak bangitttttt !! haha) pilihan pun jatuh pada : Inside the Investor’s Brain: The Power of Mind Over Money karya Pram ehhh Richard L. Peterson. Kenapa pilih itu ? salah satunya karena menurut catatan harian si boy sudah setengah jalan , sementara yang lain kebanyakan baru sampai preface dan gue kan investor gitu (pengangguran yang suka judi maksud loe ? ssssstttt) jadi cocok lah , apalagi mengingat sebagai salah satu penyokong (budak ?) Pfizer yang dengan setia selalu menambah revenue mereka dengan memboyong produk-produk antidepresan (iya serius , bukan yang biru itu , bukan…belum butuh pil biru , ditepuk dikit langsung nyalak kok!!!)

    Sambil sedot kopi pake sedotan hello kitty , proses baca pun berjalan dengan aman tenang dan damai sambil sesekali menggaruk kaki yang kurapan. Permasalahannya adalah di kemajuan teknologi , bila di masa lalu ( udah tua ya ? endakkkk…masih pake celana pendek kakak) proses membaca bisa cepat selesai (bukan berarti paham) karena opsi maupun wadah untuk mencari tahu apa yang kita tidak mengerti itu tidak semudah di jaman ini, yang tinggal ketik dan klik bisa kita dapatkan informasinya. Nah tulisan sepanjang ini untuk menceritakan mengapa saya bisa sampai ke blog ini, ringkasannya berikut :

    Pages : 268 , Part 3 , Chapter 19 – Keep Your Eye on the Pills
    “……Commerical medications used to treat ADHD include methylphenidate
    (Ritalin), Adderall, Concerta, and others…….”
    Copy Adderal , Paste and search google , klik klik lanjut Kalxetin, Antiprestin, Lodep lalu nyampe ke blog Prof https://zulliesikawati.wordpress.com , jadi baca NATA DE COCO !!! sempet ngebaca World J Microbiol Biotechnol (2008) yang ada linknya di sana sebelum memukul diri dengan pacul yang diruncingkan ujungnya ke jidat karena kebiasaan orok terulang kembali , konsentrasi yang buyar , perhatian yang menyebar namun pada akhirnya menjadi tenang , karena kebiasaan mengklik apapun yang ada gambarnya menghantarkan saya pada Tab baru yang ketika dibuka dihadiahi Senyum indah nan damai yang cukup menghipnotis (https://en.gravatar.com/ekacahyani10) lalu perhatian berlanjut pada fenomena daun pintu yang membuat pandangan memicing otak berputar dan menciptakan cerita , apakah pintu itu sengaja dibuka demi artistik foto atau sengaja dibuka untuk hal lain ATAU pintu tersebut tidak sengaja dibuka orang , yang tentunya sedikit salah tingkah ketika mengetahui ada yang hendak berfoto …. “EH , sorry”(sambil garuk-garuk kepala dan cengengesan) dan kemudian beringsut mundur atau berlari cepat ke dalam atau tiarap atau merayap di dinding dan bersemayam di langit-langit rumah (dst…..)

    Bagi kebanyakan orang , apa yang saya tuliskan ini bukan permainan , namun bagi saya adalah permainan , karena menyenangkan (buat saya) dan ada unsur diversi (pengalihan) juga fantasi. Permainan dalam pandagan saya adalah sesuatu yang melekat pada setiap individu dan adalah hak prerogatif setiap individu dan atau kelompok dan atau golongan untuk menetapkan persepsi dan konsepsi atas apa yang disebut sebagai permainan. Permainan adalah bagian dari Budaya (temennya bu aya , istri pa aya…kenal toh?) , dalam taraf tertentu ia adalah sederhana dan mudah namun dalam perspektif yang berbeda maka ia bisa komplek dan rumit. Gladiator dalam perspektif para aristokrat , para oligarkh yang ada di panggung arena mungkin hanyalah sebuah permainan , sebuah pergelaran seni , sebuah pertunjukkan kekuatan dan kekuasaan dan tentunya arogansi kasta namun bagi mereka yang bertarung atau ditarungkan adalah hidup dan mati , marah dan takut bercampur aduk menjadi mesin pembunuh …namun tetap saja tidak bisa menihilkan unsur permainan bagi sebagian yang mungkin saja menikmati semburan adrenalin laiknya para gamers ekstrem di jaman modern ini yang tentu bagi sebagian orang bisa disimpulkan dalam satu kata sakti : GILA !

    Persoalannya bukan pada perubahan jaman , kemajuan teknologi , dunia yang semakin konsumtif , kapitalis merkantalis dsb..namun persoalan dari permainan adalah karena sebagian besar umat manusia merasa permainan adalah hal yang tidak perlu dianggap serius , namun bila kita semua menerima bahwa permainan yang sehat (diterima setiap orang sebagai suatu hal yang menyenangkan) adalah baik untuk kesehatan pikiran dan jiwa maka bukankah dunia ini akan jauh lebih indah bila kita membuat segala sesuatu yang serius seperti sebuah permainan ? dengan demikian kita akan mulai menganggap serius permainan , orang-orang tidak akan disibukkan juga didiskriminasi karena tenggelam dalam permainan eksklusifnya karena memang tidak perlu (bila dunia pendidikan dan pekerjaan menyenangkan seperti permainan bukankah kita tidak perlu pelarian dari kejenuhan ?) dan raksasa seperti Pfizer pun akan mulai kekurangan pelanggan , karena setiap orang lebih berbahagia , setiap orang punya obat senang mereka sendiri , yaitu kehidupan.

    Ini komentar pertama dan mungkin terakhir , adalah sebuah kebiasaan bagi saya untuk menulis (nyampah ? :D) sesuatu di blog orang secara random , but who knows ? mungkin suatu saat bisa bertemu kembali entah karena gw kangen ngeliat foto senyum dengan fenomena rahasia pintu-nya atau suatu sebab musabab lainnya.

    Thanks and good luck ….go go go doc !

    best regards,
    e

    1. Terima kasih ya Mr/Mrs E sudah ikut meramaikan 🙂 perlu 3 kali saya baca untuk benar-benar memahami isi komentarnya (karena paragrafnya seolah berasosiasi longgar) dan cukup menimbulkan gelak tawa *hahaha*

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s