“Surrender your own poverty and acknowledge your nothingness to the Lord. Whether you understand it or not, God loves you, is present in you, lives in you, dwells in you, calls you, saves you and offers you an understanding and compassion which are like nothing you have ever found in a book or heard in a sermon.” ― Thomas Merton, The Hidden Ground Of Love: The Letters Of Thomas Merton On Religious Experience And Social Concerns

click to visit source
click to visit source

Good day dear good People, I have been missing lately and finally I’m home 🙂

Tidak terasa kita sudah berada di awal bulan lagi. Rasanya baru kemarin saya mengucapkan “welcome” di bulan Februari (bahkan belum sempat mengucapkan salam perpisahan untuk februari) dan ternyata sudah bulan Maret.

Waktu cepat sekali berlalu ya? Apalagi bila ada ujian nasional di akhir bulan, jadi jauh-jauh hari sebelumnya waktu dihabiskan dengan membaca buku sebanyak mungkin, menghabiskan soal-soal (yang mungkin sudah ribuan), latihan mandiri dan diskusi kelompok baik tatap muka langsung atau via grup Line (yang membuat chat sampai 999+) bahkan saya pun menjadi penikmat kopi kelas berat yang tetap minum kopi saat malam, tiap dini hari bangun kemudian komat-kamit, mencorat-coret buku, hingga mewarnai satu referensi. 🙂

God, I let You to do the rest..

Satu hal yang saya sadari, ternyata menjadi seorang dokter itu tidak gampang. (dan kemudian heran mengapa banyak anak-anak kecil yang ingin menjadi dokter? Saat melihat itu, di situ terkadang saya merasa sedih.

Menyesal?

Tidak. Karena kemudian saya sadar bahwa semua yang kami jalani ini adalah sebuah proses. Seperti sebuah Mug. Sebelumnya ia hanya tanah liat kotor. Baru setelah ia dibersihkan, dibentuk, dibakar di bara api yang panas, terciptalah mug yang indah. Mungkin, suatu hari inilah yang akan kami kenang, bahwa ternyata kami pernah melalui masa-masa yang sulit. Namun, mungkin nanti disanalah letak kebanggan karena tidak semua orang bersedia memilih jalan yang sulit itu, tetapi kita tetap menjalaninya.

Seorang pendaki ulung, bukan karena seberapa tinggi puncak yang pernah ia capai. Tetapi seberapa dalam jurang yang harus ia daki, seberapa tajam semak belukar yang ia lewati dan seberapa kuat angin yang menerpa ketika pendakiannya ke puncak, dan ia memilih bertahan hingga ia mencapai puncak.

Pada akhirnya, usaha dan doa yang terpanjat, semua kami kembalikan kepada Tuhan kami.

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s