“Holding on to anger is like grasping a hot coal with the intent of throwing it at someone else; you are the one who gets burned.” Buddha

Saya hampir saja melupakan bahwa hari ini adalah hari Sabtu. Kesibukan dan persiapan UKMPPD ternyata cukup membuat saya disorientasi waktu. Hahaha.

Seperti Sabtu-sabtu sebelumnya, hari ini saya ingin berbagi cerita yang semoga saja dapat menyejukkan. Terutama bagi anda yang mungkin saat ini sedang merasa panas hati. Sebagai seorang manusia yang normal, memiliki rasa marah adalah hal yang wajar. Menurut para ahli psikologi modern, kemarahan adalah sebuah emosi primer, alami dan matang yang dialami oleh semua manusia pada suatu waktu. Kemarahan memiliki nilai fungsional untuk kelangsungan hidup yaitu dengan dapat memobilisasi kemampuan psikologis untuk tindakan korektif. Namun, kemarahan akan dapat merusak kualitas hidup dan hubungan sosial apabila kemarahan itu menjadi tidak terkendali.(dalam Raymond W. Novaco, Anger, Encyclopedia of Psychology, Oxford University Press, 2000)

Ada banyak hal yang bisa mencetuskan kemarahan pada diri seseorang. Hal itu terjadi terutama saat terdapat ketidaksesuaian antara harapan dan kenyataan atau hal-hal lainnya yang bersifat tidak menyenangkan. Sering kali kita lihat bahwa kemarahan yang berujung pada gangguan hubungan sosial adalah kemarahan yang timbul saat kita berinteraksi dengan orang lain. Hal ini bisa terjadi karena tiap-tiap manusia memiliki pola pikir dan kebiasaan yang berbeda.

Terkadang, kemarahan kita muncul karena sikap, perkataan atau tindakan orang lain yang mungkin “menyakiti” perasaan kita, sengaja atau tanpa disengaja. Ketika kita menanggapi dengan kemarahan, sebenarnya wajar. Namun, lebih sering kita tidak mampu mengendalikan kemarahan sehingga timbul lah kekerasan fisik maupun emosional. Contohnya, memukul, mencerca dan saat ini yang tampaknya sedang tren adalah kemarahan yang diungkapkan melalui jejaring sosial.

Jujur saja, saya pun juga pernah mengalami masa itu. Meskipun teman-teman mengenal saya sebagai pribadi yang tidak bisa marah sesungguhnya mereka salah. 🙂 Kalau saya tidak bisa marah, berarti saya tidak normal dong?  Saya ingat sebuah kalimat dari Pak Mario Teguh,

“Kedewasaanmu dapat dinilai dari caramu marah. Jangan marah, atau marahlah dengan elegan.”

Berikut adalah cara marah ala Pak Mario Teguh..

https://www.youtube.com/watch?v=me4E4rHMaJY

Saat anda ingin marah, ingatlah selalu untuk tetap menghormati diri anda dan orang yang akan anda marahi. Bayangkan bila kita membentak atau mengeluh/menyindir di media sosial, bukan hanya orang lain yang menjadi objek kemarahan tersebut yang akan malu, tetapi diri kita sendiri yang lebih awal mendapat malu.

Seperti halnya yang dikatakan oleh Buddha,

Memiliki amarah sama halnya dengan menggenggam bara yang panas, sebelum bara itu terlempar dari tangan kita, justru tangan kita lah yang lebih dulu terbakar

Ketika kita memberikan kemarahan kepada orang lain, atau bahkan menyimpannya ternyata hanya akan merugikan diri kita sendiri. Ada sebuah cerita yang pernah saya dengar di Radio Phoenix,

Ada seorang anak yang memiliki kebiasaan buruk. anak itu dengan sangat mudahnya melampiaskan kemarahannya kepada orang lain dengan kata-kata yang kasar.

Suatu hari, ayah anak yang mengetahui hal itu ingin menghilangkan sikap buruk anaknya tersebut. Sang ayah memberikannya paku dan palu. Ia berkata, “Nak, bila engkau ingin marah kepada seseorang, gantilah dengan memaku satu batang paku di pagar rumah kita, dan kita akan lihat seberapa banyak paku yang bisa kau tancapkan di pagar ini setiap kali kau marah”

Anak itu patuh dan setiap kali ia ingin memarahi orang lain, ia menahan dirinya lalu menuju pagar dan segera memaku batang paku di pagar. Hari pertama, banyak paku yang bisa ia tancapkan. Saban hari, jumlah paku yang ia tancapkan semakin berkurang. Ia merasa lebih mudah untuk menahan diri daripada memaku batangan-batangan paku pada kayu-kayu pagar. Hingga akhirnya ia berhasil menahan diri sama sekali tanpa perlu menancapkan paku.

Sang ayah yang melihat hal itu, kembali berkata, “Bila engkau berhasil sabar dan menahan diri, cabutlah paku yang sudah kau tancapkan,”

Dan seperti perintah ayahnya, anak itu mencabut setiap paku setiap kali ia berhasil menahan diri. Akhirnya, tiba waktu semua paku berhasil ia cabut. Ia dengan girang mengatakan hal tersebut pada ayahnya. Sang ayah kemudian mengajaknya ke pagar dan menunjuk pada lubang bekas tusukan paku.

“Kau lihat? Seperti inilah bila engkau bertengkar atau berselisih dengan orang lain. Setiap kali engkau bertengkar atau berselisih, kau menciptakan luka di hati mereka. dan meskipun kau sudah memohon dan meminta maaf, mengatakan menyesal, luka itu akan tetap membekas di hati mereka.”

Jadi, aturan pertama adalah ketika kita marah, sedapat mungkin jangan dibalas dengan kata maupun tindakan yang kasar. Mungkin kita ingin membalas, namun bagaimana kalau membalasnya dengan cara yang elegan?

Cerita lainnya adalah cerita yang saya peroleh dari Buku Si Cacing dan Kotoran Kesayangannya, karangan Ajahn Brahm tentang seekor keledai. (Mungkin anda sudah tahu). Kurang lebihnya seperti ini..

Ada seekor keledai yang tengah bermain di hutan. Saat itu ia sedang kehausan dan tepat saat ia haus ia menemukan sebuah sumur. Si keledai yang saking hausnya tidak menyadari bahwa sumur itu dalam dan akhirnya ia terperosok ke sumur. Untunglah sumur itu kering sehingga ia masih selamat.

Namun, jika ia terus terperangkap di sana maka lama kelamaan ia bisa mati kelaparan. Si Keledai ribut, “eo eo eo” berharap ada yang akan menolongnya.

Suara keledai didengar oleh seorang petani. Petani itu sangat membenci si keledai karena keledai sering mencari makan di ladangnya. Timbulah keinginan si petani untuk membunuh keledai dengan menguburnya hidup-hidup di sumur itu.

Petani kemudian mencangkul tanah dan melemparkannya ke sumur. Namun, si keledai cerdik. Setiap tanah yang menimpa tubuhnya, si keledai akan menggoyangkan dan menjatuhkan tanah itu lalu menginjakknya. Petani tidak menyadarinya dan terus melempar tanah ke sumur. Tetapi keledai terus menggoyangkan badannya, menjatuhkan tanah dan menginjaknya. Begitu terus menerus, hingga tanah semakin menumpuk dan meninggi, sehingga keledai bisa melompat keluar dari sumur.

Aturan kedua, jika ada sesuatu hal yang membuat kita marah, lepaskan. Take it easy. Justru gunakanlah setiap pemicu kemarahan sebagai pijakan agar kita menjadi lebih baik.

Oya, dari cerita keledai itu ternyata ada lanjutannya.

sebelum si keledai meninggalkan si petani, si keledai menggigit dulu bokong si petani baru kemudian melompat pergi.

Aturan ketiga, Humor. Akali setiap suasana marah menjadi humor. Jika anda ingin merubah amarah jadi tawa, mungkin anda bisa membaca buku karangan Mas Andrias Harefa “Ubah Amarah Jadi Tawa”. Dalam buku itu ada banyak fakta-fakta tentang amarah plus joke-joke segar yang bisa membuat terpingkal. 🙂

Aturan keempat, maafkan bila ada yang perlu untuk dimaafkan. Kesalahan orang lain bisa membuat kita marah. Namun, siapa di dunia ini yang tak pernah buat salah? So have a big soul. Tuhan saja bisa memaafkan kita, masa kita tidak mau memaafkan orang lain?

Tidak selalu mudah sih, tapi bukan berarti tidak mungkin. 🙂

Okey de, itulah cerita sabtu hari ini. Happy weekend.

Mohon doa para good people untuk saya dan teman-teman agar bisa melaksanakan UKMPPD dengan lancar, lulus tepat waktu dan bisa menjadi dokter yang berguna bagi nusa dan bangsa 🙂

Terima kasih Tuhan atas hari ini, terima kasih Tuhan atas segalanya 🙂

With love,

Cahyanidwy

Advertisements

4 thoughts on ““Holding on to anger is like grasping a hot coal with the intent of throwing it at someone else; you are the one who gets burned.” Buddha

  1. Refleksi yang menarik sekali 🙂 suka banget dengan ide mengatasi suasana kemarahan dengan humor..walaupun kadang ada beberapa orang yang malah tambah senewen tapi setelah reda pasti menyadari dan bisa anggap lucu juga suasana tersebut..

    1. haha.. saya juga kadang begitu mba Indah, eh.. setelah reda baru ngerasa lucu sendiri wkwkwk 😀 makasih ya mbaa.. baru on ini 🙂

    1. It’s Okay Sree.. sometimes, become angry is human 🙂 we only need how to control it.. thanks for your comment 🙂

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s