“The final test of a gentleman is his respect for those who can be of no possible service to him.” – William Lyon Phelps

The final test of a gentleman is his respect for those who can be of no possible service to him. – William Lyon Phelps

Saya masih ingin berterima kasih untuk semua orang atas doa dan ucapan yang diberikan saat ulang tahun saya. Sebuah kalimat doa mungkin terlihat kecil, tetapi hal itu bisa menjadi begitu sangat bermakna bagi seseorang. Ada satu hal yang saya temukan, bukan ucapan atau pun perayaan yang sebenanrnya membuat seseorang bahagia, tetapi ketika seseorang menunjukkan kepedulian mereka terhadap kita, when they care to us, when they respect us.

Kamis lalu, saya menghadiri sebuah dharma wacana (ceramah) yang sangat berkesan tentang generasi muda dan spiritualitas. Biasanya, orang-orang akan berkata bahwa kehidupan spiritual itu sebaiknya dimulai saat tua saja. Namun, pertanyaannya apakah kita masih hidup ketika kita menginjak usia tua? Bahkan hari esok pun tidak pasti. Beliau juga menyatakan, pemuda-pemudi yang memiliki spiritual quotient  akan mampu menyadari hakikat dirinya dan tentu mengarahkannya pada kebaikan.

Ada satu cerita menarik yang disampaikan saat ceramah tersebut, tentang raja dan menteri-menterinya.

Dahulu kala, ada seorang raja yang sangat bijaksana. Suatu hari ia berkeinginan berjalan-jalan ke hutan bersama para menterinya. Di tengah hutan, rombongan raja dan menteri bertemu dengan seorang pendeta.

[courtesy]

Saat melihat seorang yang suci, raja ingin menghormat, menakupkan tangan dan menundukkan kepala pada pendeta tersebut. Saat perjalanan pulang ke kerajaan, seorang menterinya mendekati raja dan berkata, “Yang mulia, Anda adalah orang yang besar dan terhormat. Mengapa Anda harus menundukkan kepala pada pendeta tua itu? Bukankah seharusnya ia yang menghormat pada Anda?”

Raja yang bijak hanya tersenyum. Ia kemudian meminta pada menterinya itu untuk mencarikannya berbagai jenis kepala, mulai dari kepala hewan hingga kepala manusia. Tak pelak, menteri itu segera mencari apa yang diinginkan rajanya. Keesokan harinya ia telah kembali dan membawa kepala kerbau, kepala kijang, kepala singa, kepala gajah dan kepala manusia yang didapat dari mayat musuhnya.

“Sekarang, bawalah kepasar dan jual semua kepala itu, berapa pun  harganya asal terjual habis.” kata sang Raja.

Menteri tidak mengerti dengan sikap raja, tetapi karena itu adalah perintah raja, maka ia tetap mematuhinya. Ia membawa semua kepala itu ke pasar dan menjualnya pada orang-orang. Sang menteri menjual hingga malam hari, semua kepala terjual habis, hanya satu yang tersisa: kepala manusia.

Menteri kembali ke kerajaan dan melaporkan hasil penjualannya pada raja begitu juga, ia menyampaikan bahwa hanya kepala manusia yang tidak berhasil ia jual. raja bertanya mengapa demikian.

“Semua kepala hewan terjual habis, bahkan kepala kerbau, rusa dan gajah terjual tinggi. Namun, tak ada yang mau membeli kepala manusia, bahkan meskipun telah saya berikan secara cuma-cuma. Sebagian mengatakan takut, yang lainnya mengatakan kepala ini tidak bisa dimasak seperti halnya kepala kambing.” ungkap sang menteri.

Sang Raja kembali tersenyum. “Kau lihat? Kepala manusia  sama sekali tidak berarti, bahkan ketika ia tidak memiliki nyawa, kepala ini hanyalah benda yang tak berharga.”

Raja ingin mengajarkan kepada menterinya bahwa manusia adalah tidak jauh lebih berharga bila ia tidak mampu menghargai makhluk/orang lain. Hanya dengan penghargaan yang ia berikan kepada yang lain, manusia dapat meningkatkan nilai-nilai dalam dirinya. dan semasih kepala ini atau badan ini memiliki nyawa yang membuat ia dapat bergerak, bertindak dan berucap maka pergunakanlah dengan sebaik-baiknya.

Melihat video itu, saya jadi teringat bahwa saya pun pernah bersikap cukup buruk pada seorang teman satu kelompok kecil yang sudah banyak membantu saya. I am sorry brother.

Dan sebagai seorang mahasiswi kedokteran (dan sebentar lagi resmi dokter), pasien dan keluarganya adalah orang-orang yang patut mendapat kepedulian dari tenaga medis. Terkadang, karena tugas, jaga, sesekali fisik kita lelah. Sesekali, kita terlalu berfokus pada profesi dan lupa bahwa di sana kita ada untuk melayani.

Saya berharap, saya bisa lebih menghargai siapa pun.. dan melihat video tersebut, saya sadar bahwa saat saya mengetahui sebuah penyakit pada diri pasien, ada rasa bangga seperti sudah berhasil memecahkan sebuah teka-teki. Namun, bagi pasien tidak demikian. Disinilah, mengapa tenaga medis memerlukan empati.

My mother once said to me, “when you treat your patient, think, how will you treat she/he if she/he is your mother or your father”

Baiklah… video terakhir dari Everyone matter, semoga menginspirasi kita semua 🙂

Selamat berakhir pekan semunya 🙂

with love,

cahyani dwy

Read more quote at http://www.brainyquote.com/quotes/topics/topic_respect.html#KrmF2PoYQAZkCm8o.99

Advertisements

3 thoughts on ““The final test of a gentleman is his respect for those who can be of no possible service to him.” – William Lyon Phelps

  1. I will definitely share this story and your reflection to my spiritual son, so that he always remembers that he’s here (in this world with the profession he has as a doctor) to serve people. thanks cahyani for the sharing 🙂

    1. Mba Evy,let me to say my humbly thank you for your appreciation 🙂 it was my pleasure, that this post could help. I also have a spiritual teacher, she tough me many things 🙂 I’m glad that I meet another spiritual teacher 🙂 Nice to meet you Mba 🙂

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s