The Sweet Green Mass Transport

Pagi ini saya pergi ke Puskesmas yang berjarak kurang lebih 20 km dari kost. Jalanan pagi itu tidak begitu macet meski saya berangkat pada jam anak-anak mulai sekolah. Seperti biasa jalan Sudirman selalu dipenuhi bermacam kendaraan baik jenis maupun merek. Satu mobil angkot berwarna hijau muda dengan tempelan stiker “GRATIS” di kaca belakangnya. Angkot berwarna manis ini namanya “trayek pengumpan”. Mungkin cuma bisa ditemukan di sekitaran Denpasar. Ya, seperti halnya bus Trans Sarbagita.

Feeder_dan_ATCS_009211

Satu yang menarik dari angkot itu (selain warnanya tentu) adalah saat naik angkot gratis, turun angkot pun juga ngga berbayar. Stiker GRATIS di kaca belakang itu benar adanya. Keberadaan kata GRATIS, apalagi di tengah kenaikan BBM saat ini tentunya dapat menjadi magnet yang membuat si hijau muda itu ramai. Tetapi, pagi itu si hijau yang saya lihat tampak hanya membawa satu penumpang sekaligus pengendara : Bapak Supir.

Hal tersebut telah menciptakan tanda tanya besar di kepala. Apakah karena masih terlalu pagi? Tidak juga.. karena saya melihat sudah ada banyak anak berbaju sekolah baik yang diantar maupun bawa motor sendiri. Pegawai, karyawan dan bahkan saya sendiri juga membawa kendaraan sendiri. Hehe. Padahal, jika kita mau memanfaatkan keberadaan si Hijau yang notabene gratis ini dapat menghemat pengeluaran dompet.

Namun, faktanya pagi itu masih ada yang menggunakan kendaraan pribadi (termasuk saya). Mungkin, perlu dilakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang membuat masyarakat kurang memanfaatkan si Hijau dan lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi. Kalau saya pribadi, alasan saya memilih menggunakan kendaraan sendiri :

1. Jadwal saya pergi ke tempat tugas tidak menentu. Kadang harus berangkat subuh pukul 5.30. Sampai saat ini TP baru mulai beroperasi dari pukul 6. Tentu untuk menghindari keterlambatan waktu, saya lebih memilih pakai motor.

2. Kadang saya juga harus berhenti untuk ngeprint sebelum ke tempat tugas. Ya, karena saya tidak menyediakan printer di kost ditambah tugas-tugas yang kadang baru bisa selesai dini hari atau subuh, kesempatan ngeprin adalah saat berangkat. Tidak mungkin Pak supir bersedia menunggu saya selesai ngeprint di tempat fotokopi, kecuali jika pak supir mau berhenti dari pekerjaannya.

3. Kadang saya terlambat bangun tetapi tetap harus sampai di tempat tugas tepat waktu. Jika saya naik TP tentunya saya harus benar-benar mengatur waktu, setidaknya menyediakan waktu cadangan karena saat naik angkot, pak Supir pasti akan berhenti sebentar-sebentar untuk menaikkan atau menurunkan penumpang. And, ya, it will take time dan bisa-bisa saya melarikan diri dari angkot.

Yup, dari saya itu saja alasannya, tetapi alasan orang lain yang pagi itu memilih menggunakan kendaraan pribadi mungkin berbeda. Apakah dari pihak individu atau kah berkaitan dengan TP tersebut.

Kondisi TP sendiri menurut saya sendiri cukup lumayan. Saya pernah naik sekali. Enaknya ya itu, tidak perlu bayar hehe. Kondisinya juga cukup bersih dan menurut saya sampai saat ini masih aman (however, it doesn’t mean you can be not aware) Namun, seperti halnya duduk di angkot, ya anda tentu duduk tanpa sitbelt. Jika pak supir memiliki sense musik yang bagus, mungkin anda bisa mendengarkan lagu-lagu dari radio. Oh ya, Pak supir juga punya kartu pengenal seperti supir taksi. jadi, jika terdapat keluhan (semoga tidak) mungkin kita bisa berkata, “Pak..(menyebut nama yang tertulis di kartu pengenal).. nanti saya berhenti di depan ya..” So modesty of you isn’t it?

TP mungkin dapat menjadi salah satu moda transportasi massal yang kelak nantinya dapat memudahkan masyarakat. Seperti di luar negeri, penggunaan transportasi massal berjalan optimal. Hal tersebut tentu karena terdapat kedisiplinan waktu antara si calon penumpang dan moda transportasi tersebut. Transportasi adalah perpindahan individu dari suatu dimensi ruang ke dimensi ruang lainnya dengan menggunakan moda. dan setiap perpindahan ruang, selama kita masih di bumi, diperlukan waktu. So, when you move from one place to another, consider that it will take some time.

Ok, begitulah cerita singkat mengenai si hijau yang saya lihat pagi ini. Semoga kelak Indonesia memiliki moda transportasi yang dapat mengakomodasi dan mentransportasikan kita secara aman, nyaman dan tepat waktu. 😀

Berikut adalah web dari dinas perhubungan Denpasar yang bisa diakses untuk mengetahui lebih jelas seputar si Hijau :

http://feedersarbagitadps.wordpress.com/jadwal-dan-rute/

Advertisements

3 thoughts on “The Sweet Green Mass Transport

      1. Iya..soalnya naik mobil lebih mahal lagi 😀 :D..tapi memang beda banget sih public transport di sini, semuanya ada dan terjamin dari kebersihan sampai jam waktunya…jadi banyak yg milih naik public transport karena cepat.. 😉

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s