from “CA Beranak Dalam Kubur” to “TBM.0919622”

Jika anda menemukan blog ini karena tertarik pada judulnya, saya berharap anda tidak berspekulasi untuk menemukan sebuah cerita horor atau cerita misteri. Sungguh, meskipun ada banyak misteri yang saya sembunyikan dalam tulisan saya kali ini. -backsound anjing melolong-

Hari ini saat sedang membereskan baju-baju di lemari, saya menemukan satu jaket berwarna biru tua. Sebuah jaket yang saya perjuangkan untuk mendapatkannya sekitar 4 tahun silam. Namun, sebenarnya bukan jaket itu yang paling penting. Jaket itu hanya tanda bahwa saya telah menjadi bagian dari salah satu BSO (Badan Semi Otonom) di fakultas kedokteran.

Pertama kali saya mengenal BSO ini adalah saat PKKMB SD -semacam ospek- di fakultas kedokteran. Waktu itu ada perkenalan organisasi-organisasi yang ada di FK. Salah satunya perkenalan BSO TBM (Tim Bantuan Medis). Ketika sang ketua -saat itu dijabat oleh Kak Tocip, yang saat ini sudah bergelar dr. Agus Suryantara P- tengah memberi informasi seputar sejarah TBM, tiba-tiba ada seorang maba (mahasiswa baru) yang ditarik ke depan karena ketahuan ngantuk. Si maba yang malang, kurus dan tampak lelah tak berdaya itu dikerubungi senior untuk mendapat sedikit petuah-petuah. Namun, apadaya, si maba yang mungkin tak kuasa menerima nasib naasnya saat itu, seketika tersungkur.

Seisi ruangan kaget, apalagi saya yang duduk di depan. Di tengah kepanikan tersebut, para anggota TBM dengan sigap melakukan pertolongan pertama. Sampai akhirnya si maba sadarkan diri- Ah, syukurlah kawan-. Itulah pertama kalinya saya merasa takjub pada BSO ini dan saya melihat anggota TBM seperti kumpulan dari para superhero.

Sang Ketua akhirnya menjelaskan bahwa peristiwa yang barusan berlangsung di depan mata kami adalah sebagian kecil dari kegiatan TBM. TBM ini memiliki 2 bidang kegiatan besar yaitu bidang medis dan alam. Kegiatan medisnya seperti jaga saat kegiatan kampus, tenda tensi dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan pelayanan kesehatan. Bidang alam meliputi kegiatan-kegiatan outdoor seperti mendaki, rafting, climbing dan masih banyak lagi. Kegiatan lainnya ya berupa kegiatan yang berhubungan dengan organisasi dan pendidikan medis seperti diklat dan seminar. Saya merasa kegemaran saya dalam medis dan alam akan tersalurkan di BSO ini.

Pada akhir perkenalan BSO TBM diputarlah slide foto tentang kegiatan-kegiatan yang pernah dilaksanakan.Tampak gagah, seru dan seperti ada ikatan yang kuat diantara anggotanya. Cuma satu kata: KEREN.

“Seperti yang adik-adik lihat, kami disini adalah keluarga. Jadi, siapa yang ingin bergabung dengan keluarga besar TBM?”

Saya bersama teman-teman lainnya yang mungkin sama terkesimanya, mengancungkan tangan. Tekad saya bulat, saya ingin menjadi seorang TBM. Saya ingin menjadi bagian dari keluarga besar TBM.

Saya memulai keinginan saya itu dengan mengambil form di tempat fotokopi di lantai 1. Saat itu fotokopi ramai dan saya melihat banyak maba yang juga mencari form ini . Teman satu SGD (Small Group Discussion) saya yang ikut mendaftar, melihat ke arah saya.

“Ikut Cah? Yakin?”

“Ikut.. kenapa memangnya?”

“Diklatnya berat lho,” ujarnya menakuti.

“Tuh kamu ikut.”

“Duh, kecil-kecil ikut TBM?”

Saya memilih untuk tidak menanggapi. Apa yang salah dengan badan yang kecil. Saya akui ia memang memilki ukuran tubuh yang lebih besar dari saya, tetapi toh di form ini tidak ada tulisan “YANG BERBADAN KECIL, DILARANG IKUT”. Akhirnya saya tetap mendaftar.

Technical Meeting pun diadakan. Senior menjelaskan tentang diklat yang akan kami laksanakan. 

“Ada diklat, pralatsus dan latsus. Yang merasa tidak kuat bisa berhenti sekarang”

Terdengar berat. Ternyata menjadi anggota tidak bisa hanya dengan mendaftar saja. Ada diklat-diklatnya. bahkan latsusnya didahului pralatsus. Saya melihat sekeliling, ada hampir sekitar 90an orang. Apakah kami semua mampu bertahan?

Saat pertama kali TM, saya sudah merasakan kegetiran itu. Kegetiran yang hampir mirip dengan getirnya ospek. Namun, saya melihat diantara senior saya di TBM ada Kak Adit -yang sekarang sudah dr. Adit-, kakak kelas saya waktu SMA. Jika ia bisa, kenapa saya tidak?

Selalu itulah kalimat yang saya ucapkan bila dihadapkan dengan kegetiran menjalani TM dan diklat TBM. Ada 6 diklat dan tantangannya naik bertahap. Pendidikan medis, latihan mental dan latihan fisik. Satu per satu peserta berkurang dan mereka mengatakan merasa lebih tenang dan bebas setelah mengurungkan niat menjadi anggota TBM. Bahkan teman-teman yang ukuran tubuhnya lebih besar dari saya juga mundur dari diklat. Kadang-kadang saya berpikir, “Kuatkah saya menjalani ini?”

Para calon anggota (CA) mulai berkurang bahkan hingga separuh dari jumlah awal. Kak Tocip dan juga ketua latsus, Kak Moo serta senior-senior lainnya selalu menyemangati para CA.

proses-metamorfosis-kupu-kupu
metamorfosis kupu-kupu by kak Tocip

 

Semua ada prosesnya  Dik. Seperti proses metamorfosis, telur dulu,baru ulat, jadi kepompong baru menjadi kupu-kupu. Kami yang disini ini sudah menjadi kupu-kupu, sekarang giliran kalian. Jangan menyerah begitu saja.”

Kalimat-kalimat itu selalu saya repetisi dalam hati tiap kali lelah saat lari, tiap kali lengan dan paha pegal saat kuda-kuda, tiap kali lengan ngilu saat push up, tiap kali hati terasa teriris sembilu saat laithan mental. -maaf untuk kelebaian yang tidak disengaja-

Semua diklat berkesan. Namun, pengalaman yang tak akan pernah kami lupakan selama menjadi anggota TBM adalah saat pralatsus dan latsus. Waktu pralatsus, saya ada di kelompok climbing bersama desi AS, Indra W, Komar, dan Dwijoe. Kemudian, saat latsus saya ada di kelompok Fraktur bersama Agus Lelo (Ketua), Dwipa Geg, Ayik, Kak Jung Anom (sekarang sudah dr. AAA Anom P), Gung Jo dan Giri.

Mungkin, saat-saat Latsus (latihan khusus) yang sungguh melekat di benak kami. Waktu angkatan saya lamanya 4 hari, lokasinya di PP (Pondok Pemuda) di Jimbaran. Tempatnya bagus, dekat pantai berpasir putih. Kegiatannya off the record. Hahaha. Mirip diklat, tetapi lebih banyak seru-seruannya. Hahaha.

Oya, salah satu tradisi latsus adalah pemberian nama CA. CA harus memperagakan namanya bila dipanggil senior. Entah apa yang membuat koor acara kak Gus Indra -dr Agus Indra- memberi saya nama CA Beranak Dalam Kubur-kelebihan kretifitas kali ya?-. Jadi, tiap saya dipanggil, saya mesti nyari parit, lalu posisi litotomi dan berteriak seolah sedang mengedan. Hahaha. Parah.

Namun, rupanya nama itu menguntungkan saya. Kalau malam tidak ada berani senior yang memanggil saya. Kalau ada coba-coba memanggil, takutnya ada lebih dari 1 CA yang beraksi. Hii. Serem juga. tetapi tenang, masih banyak CA-CA lainnya yang menghibur kami semua. Favorit saya adalah CA bahagia. Saya selalu kena push up kalau CA bahagia dipanggil. Ya, maklumlah, saya tidak bisa menahan ketawa. Selain CA bahagia ada CA radio, CA Samantha, CA Lawar, CA kredit panci dan masih banyak lagi.

Setelah perjuangan yang cukup berat, penuh derai air mata, keringat, baju penuh lumpur dan pasir serta permasalahan yang membingungkan batin.. singkatnya, setelah perjuangan yang melelahkan itu akhirnya kami mendapatkan NIA alias Nomor Induk Anggota.

Saya masih ingat bagaimana haru birunya perasaan saya saat mendapat papan NIA itu dan meneriakkan nama saya. Cuma satu kata. AKHIRNYA…

“Nama….(nama kami).. NIA TBM …(menyebutkan NIA kami)”

nia tbm
papan nia saya

 

Setelah melewati musang (musyawarah anggota), kami resmi menjadi anggota, lebih tepatnya keluarga besar TBM. Kami menjadi angkatan ke-19. Saat musang juga dilakukan pemilihan Ketua TBM dan yang terpilih waktu itu adalah Kak Moo.

Saat masa pemerintahan Kak Moo, saya berada di divisi time table. Ya, tugasnya buat timetable tiap bulan. Oya, saat pemerintahan Kak Moo kami menyelenggarakan kegiatan yang sangat besar, yaitu menjadi panitia “Musyawarah Nasional ke IX dan Jambore Nasional ke XV”. Saat itu, salah seorang senior wanita yang saya kagumi, -karena jiwanya yang tangguh dan kedisiplinan yang patut diacungi jempol, senior berdedikasi tinggi- Kak Sangayu (sekarang dr. Sangayu) memilih saya untuk jadi sekretaris II mendampingi beliau. Terima kasih Kak Sangayu.. Meskipun saya merasa tidak banyak membantu beliau.

Setelah Kak Moo lengser, pemerintahan jatuh pada Aswin, NIA 0919621. Saat Aswin menjabat ketua, saya berada sebagai kadiv sekre. Namun, saya banyak dibantu oleh atasan saya Dwijoe (waka TBM), Komar (kabid), dan tentunya Dwipa Geg (sekretaris) serta anggota divisi sekre  dari adik-adik angkatan 20.

Selama menjadi anggota TBM banyak manfaat yang saya peroleh:

1. Ilmu medis dan skill medis

Terutama pertolongan pertama dan kegawatdaruratan yang seharusnya baru dapet di semester 7 tapi kami sudah lebih dahulu mempelajarinya. Apalagi sebagai mahasiswa FK, bila di jalan atau di lingkungan sekitar terjadi sesuatu, masyarakat selalu berekspektasi kalau kita sudah mampu mengobati. At least, dengan ilmu TBM kami memiliki bekal dalam kehidupan sehari-hari. 🙂

2. Outdoor activity

Pada jadwal-jadwal tertentu, TBM selalu mengadakan acara outdoor seperti mendaki gunung, rafting, tracking, bersepeda santai dan aktivitas lainnya yang berkaitan dengan lintas alam. Berkat ikut TBM, saya akhirnya pernah mendaki Gunung batur, Puncak Mangu, Abang.. Jika saya tidak di TBM mungkin saya tidak akan pernah tahu yang namanya mendaki, yang namanya puncak gunung atau melihat matahari terbit dari puncak gunung. 🙂

3. Kepedulian pada Sesama dan Pengalaman

Menjadi anggota TBM, kami sering kali ikut dalam pelayanan kesehatan, donor darah, tenda tensi, jaga saat ospek atau acara-acara kampus seperti HIPPOCUP, kersos, baksos, dan masih banyak lagi. Dulu saya takut donor darah, tapi setelah di TBM, ternyata tidak seserem itu. Saya malah senang bisa ikut donor darah. Jaga ospek.. selain bisa menolong adik-adik maba yang pingsan, histeria, kejang, asma, hipotermi, malingering, kami juga menambah banyak teman dari fakultas lain. Oya, pernah juga ada kegiatan tingkat nasional dari fakultas hukum. waktu itu jadwalnya “jalan-jalan delegasi”. Berkat menjadi anggota TBM yang jaga waktu itu, saya JJ ke Bali zoo, Tanah Lot dan tempat-tempat menarik lainnya for free.  Pengalaman menarik lainnya adalah PETANI (Pelayanan Kesehatan Sehari) ke Nusa Penida, ke Subaya, Kintamani dan tempat-tempat lainnya di Bali yang jarang terjamah orang. 🙂

4. Kepedulian pada Lingkungan dan Tirta Yatra

TBM tidak hanya bergerak dalam bidang kemanusiaan. TBM juga sangat peduli pada lingkungan dan alam tempat kami dibesarkan. Kami sering mengadakan kegiatan sejenis clean and green. Ya..seperti pembersihan ke Pura Puncak Mangu, Pura Candi Dasa dan pura-pura lainnya di Bali. Kami juga mengadakan penghijauan mulai dari kampus bukit sampai ke pantai menanam Mangrove. Kami juga sempat tirta yatra ke pura Besakih sampai Pura Giri Putri di Nusa Penida saat PETANI.

5. SKP

Hm, masih jaman ya? Hahaha. Waktu jaman saya di kampus, ada persyaratan tiap-tiap mahasiswa minimal punya 40 SKP (Surat Tanda kePanitiaan). Wah. Kalau sudah ikut TBM, tidak perlu memikirkan SKP lagi. Pasti full. Bahkan overload.

Well. That’s all the benefit that i got. Sebenarnya ada yang lebih dari itu dan saya tidak ingin mengatakannya sebagai manfaat.  Maanfaat bisa saja hilang ketika kita telah tidak disana, tetapi yang satu ini akan selalu ada bahkan meski kita sudah menjadi angkatan lawas, jarang berkumpul, jarang bertemu. Itu adalah: KELUARGA.

TBM 19 Wanen

Ya. Saya mendapatkan keluarga di sini. Keluarga 19, one-nine (baca:Wanen). Seperti bintang, tidak selalu terlihat (tidak selalu bisa ketemu) tapi selalu ada. 🙂

Satu hal lagi yang membuat saya merasa bangga pada diri saya, saya berhasil mengalahkan diri saya sendiri, mengalahkan ketakutan, mengalahkan ketidakpercayaan atas kemampuan.

“Karena kebanggaan itu adalah saat semua orang memilih untuk mundur, tetapi kamu tetap percaya pada dirimu untuk terus maju” -cahyani 2010.

Seorang CA Beranak dalam Kubur

Seorang TBM NIA 0919622

 

Advertisements

One thought on “from “CA Beranak Dalam Kubur” to “TBM.0919622”

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s