MANUSIA 100% SALMON

Sudah pernah nonton filmnya Raditya Dika yang judulnya “Manusia Setengah Salmon” ?. Saya baru menontonnya kemarin, di tivi pula. Hahaha.

Seperti film-filmnya yang sudah pernah saya tonton, “Kambing Jantan”, “Cinta Brontosaurus” semua film Raditya Dika berhasil membawa saya pada dimensi baru kejenakaan cerita hidup dari seorang Bang Radit alias Bang Dika. -sok-sok akrab-. Selalu ada yang buat ketawa! Selalu ada sesi romantisnya dan selalu ada adegan dimana Bang Dika akhirnya sampai pada titik kesimpulan makna hidup yang bijaksana.-vvovv-.

Jika ada yang belum nonton, pertama, saya akan menertawai anda karena lebih parah dari saya, kedua, saya sarankan SEGERA NONTON DEH. Supaya cerita kita nyambung. Jika ada yang sudah nonton, saya juga akan tetap menertawai anda. Hahaha. -karena tertawa bisa melepaskan endorfin yang mampu membuat kita merasa nyaman-

Jadi, berawal dari editor Bang Dika yang menyarankan Bang Dika untuk memperbaharui isi ceritanya yang konon terlalu biasa, berdebu dan usang -album biru kali ya-. Dalam film tersebut Bang Dika baru putus dari pacarnya Jesica (Eriska E). Bang Dika yang mencoba move on bertemu dengan Patricia (diperankan oleh Kimberly R). Tetapi, karena masih ingat dengan sang mantan, Bang Dika berantem dengan Patricia. Tapi, well siapa berani kalau Bang Dika udah ngegombal. “..dan ternyata rumahku itu kamu. Aku boleh ngga tinggal di hati kamu?” -eeaa-

Pada saat yang sama juga, Bang Dika baru dapet seorang Supir baru yang bau keteknya minta ampun. Setelah upaya memberi deodoran gagal, si supir mau dipecat, Tetapi, akhirnya setelah Bang DIka jujur kalau si bapak bau ketek, si bapak berjanji untuk berubah. Apakah Supir tersebut berhasil berubah dan bisa bersama Bang Dika selamanya? 

Pada saat yang sama, Bang Dika juga dibujuk oleh sang Ibunda untuk bersedia pindah rumah. Setelah mencari-cari hingga sempat melihat rumah yang aneh, rumah yang dulunya tempat pembunuhan, akhirnya Bang Dika sekeluarga menemukan rumah yang sesuai.

Bagian yang paling saya sukai pada film ini adalah bagian dimana Bang Dika menarik pelajaran atas apa yang ia alami. Pindah rumah dan move on.

Awalnya, beradaptasi dengan sesuatu yang baru memang sulit, tetapi kita harus bersedia memulai sesuatu yang baru untuk kebaikan diri kita dan orang-orang di sekitar kita. 🙂

Bagian lainnya yang membuat saya terpingkal-pingkal adalah Kehadiran sang editor dimana-mana bak Jin seperti dalam sinetron “Jin dan Jun”. Tiba-tiba di tukang pijet samping tempat parkiran, lalu di tempat bilyard samping lapangan futsal dan yang tidak masuk akal adalah kemunculannya di kolam renang di rumah baru Bang Dika untuk ngasi selamat atas kepindahan ke rumah baru. Kapan ya saya bisa dikejar-kejar editor seperti itu? Tetapi serem juga sih. Bayangin kalau saya lagi bersepeda ria di Sanur terus dari belakang ada orang nyapa “Cah, inget dateline ya” ujarnya sambil gigit jagung bakar. 

Jika perpindahan menjadikan separuh dari diri Raditya Dika menjadi salmon, mungkin saya sudah menjadi 100% salmon. Ini saya alami setelah 3 kali pindah-pindah kos. 

Kos saya yang pertama di jalan Tukad Languan. Waktu itu untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup saya menjadi anak kos. Harga kosnya 275 k perbulan. Murah ya, sudah termasuk listrik, air, kamar mandi dalam dan dapur. Tetangga kos saya juga ramah-ramah. Namun, seorang tetangga saya adalah penggemar lagu rock dan kadang metal, dan sering kali ia sangat senang bila orang lain ikut mendengar lagu kesukaannya. Hahaha. Saya sudah mencoba memakai headset agar bisa belajar, tetapi rupanya perangkat tersebut tidak mempan dengan kekuatan desibel musik rock metal tersebut. Hahaha. Tiap malam saya berdoa, semoga suatu nanti bisa pindah ke kos yang suasananya lebih tenang untuk belajar.

Ketika semester 3, bersamaan dengan sepupu saya yang baru masuk kuliah, saya akhirnya pindah ke kos baru di Jalan Rencong. Suasana kosnya tenang. Bahkan terlalu tenang alias sepi, padahal di sana banyak sekali orang yang tinggal. Harga kosnya pertahun 4 juta, harus dilunasi di awal. Kata si pemilik kos, kalau tidak dilunasi di muka kosnya akan dilimpahkan ke yang lain yang juga memesan kos. Ya, mau tidak mau ya dibayar juga. Namun, saya hanya bisa di sana selama 2 minggu. Kemalangan menimpa kami sekeluarga. 

Saat sedang panik mencari tempat baru untuk tinggal, saya bertemu seorang teman SMA saya yang paling dekat. Setahun tak bersua, ia masih dengan sifat yang ramah, Novia. Saya senang dengan kos baru di samping kamar Novi. Kamarnya bersih, sudah isi tempat tidur -maklum, sebenarnya ini kamar yang disewakan untuk turis-. Harganya 450 K perbulan. Namun, setelah setahun karena Novi pindah praktek dan pindah kos, tetangga-tetangga kos saya hanya pria-pria, orang tua khawatir dan saya dibujuk untuk pindah. 

Akhirnya, saya berada di kos saya sekarang. Sebuah kos di lantai 2, jendelanya menghadap langit, angin segar selalu berhembus, tetangga kos yang seperti saudara, pemilik kos yang seperti ayah dan ibu, harganya pun 355 K sudah termasuk listrik, air dan kamar mandi dalam. Kos yang nyaman dan harganya juga murah untuk ukuran harga kos di Denpasar. Ruangnya memang agak sempit, tetapi nyaman, nyaman dan seperti rumah sendiri. Ternyata, setelah 3 kali pindah, akhirnya saya bisa tinggal di kos idaman. Saya ingat isi doa yang saya tulis tentang kos  pada kertas dan tiap hari saya mohonkan itu pada Tuhan. Ternyata, Tuhan mendengar dan doa saya sudah terkabul. Terima kasih banyak Tuhan 🙂

Mungkin, pedamping hidup begitu juga kali ya. Berdoa aja dan biarkan Tuhan yang mengaturnya. Kita tinggal ikuti jalan yang Tuhan sediakan. God knows the best for us.

Sebagai penutup, satu quote by Paman Mario Teguh

“Kalau mau berubah untuk kebaikan, jangan setengah-setengah, tetapi  100%.” -Mario Teguh

 

 

 

Advertisements

2 thoughts on “MANUSIA 100% SALMON

  1. Ini film pengen banget nonton tapi kelupaan mulu 😀 di sini banyak banget TV series seru jadi keblablasan malah nonton TV series…terimakasih review-nya Eka..weekend ini aku tonton, kebetulan sudah punya film-nya 😉

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s