SANUR – Bahagia itu Mengikuti Hati

“Kyu, tebak aku datang darimana?” ucap saya di pagi itu kepada salah seorang teman kos saya. Ia baru datang dari jaga malam dan hendak menutup gerbang ketika saya datang.

“Pasti dari Renon. Ya, kan?” tebak Kyu. -Kyu tahu saya sering jogging di Lapangan Renon pagi-pagi kalau hari libur. Tetapi kali ini tebakannya meleset.

“Salah! Aku baru saja dari Sanur. Hahaha” sanggah saya dengan tawa menang. Seperti mendapat kopi hangat di pagi hari.

“Sanur???”

Ya. Pagi ini saya pergi ke Sanur, ke Pantai Sanur tepatnya. Tadi pagi saya bangun pukul 5.00 wita, melihat HP untuk mengetahui berita KKN yang didiskusikan di grup line. Tidak ada banyak chat. Saya bergegas membasuh muka lalu memulai doa saya di pagi hari. Cukup lama hingga pukul 7.00 wita. Entah kenapa saya merasa ada yang kurang di pagi ini. Saya ingin sesuatu yang baru, suasana baru -terinspirasi setelah kemarinnya menonton film Manusia Setengah Salmon yang ditulis Raditya Dika-. Biasanya saya akan memilih ke Lapangan Renon, jogging untuk membakar lemak. Namun, pagi itu saya merasa enggan. Saya ingin pantai. 

Pikiran saya langsung tertuju pada Pantai Sanur, pantai yang terdekat dengan kos. Namun, dengan jarum jam pendek yang sudah di angka 7 dan hari yang telah terang saya tahu sudah terlambat untuk menyaksikan sunrise –satu-satunya yang saya tunggu bila datang ke Pantai Sanur-. Namun, hati tetap ingin pergi. “Ayo Cah kita pergi, ayo pergi..”. Hati ini seolah merengek bak anak manja, hahaha. Akhirnya, tanpa pikir panjang lagi saya segera menstarter Bio lalu menuju Pantai Sanur. “Paling tidak, bisa mendengar deburan ombak lah ya..” begitu pikir saya.

Saat menunggu si lampu merah diganti lampu hijau, tiba-tiba seseorang memanggil saya dari samping. Ternyata….

Ternyata orang asing yang menanyakan jalan ke Ubud lewat mana. Saya menunjukkan jalan ke kiri, menyampaikan padanya agar mengikuti plang berikutnya menuju arah Gianyar. Si orang asing berterima kasih. Saya pun mulai berpikir, jika saya tidak pergi pagi itu, siapa yang akan ditanya oleh orang asing tersebut? Tentu dia akan salah jalan kan? Bisa-bisa nyasar ke Sangeh, Goa Lawah atau ke kutub utara. Hahaha -ya kali-. Pasti ia akan bertanya pada orang lain dan mungkin saya tidak memiliki kesempatan untuk menolong orang yang tersesat di pagi itu. 🙂

Setelah menerobos lampu hijau dan menyerahkan utpeti tarif parkir sebesar dua ribu rupiah, saya akhirnya diijinkan lewat oleh Pak Pecalang berkumis tipis-tipis yang sedari tadi sudah menagih pengemudi-pengemudi lain di depan saya.

Saya memarkirkan si Bio di tempat yang aman dan mudah untuk nanti saya keluarkan. Mata saya terperanjat pada barisan sepeda cantik dengan tulisan “SEWA Rp. 5000”. Saya segera menghampiri bapak pemilik sepeda dan menyewa satu sepeda berwarna hijau ukuran anak remaja. Penjelajahan Sanur on bicycle dimulai.

hanya dengan 5 ribu rupiah, sepeda cantik ini bisa dipinjam selama 1 jam.
hanya dengan 5 ribu rupiah, sepeda cantik ini bisa dipinjam selama 1 jam.

Saya pun memulai persepedaan saya dari tempat sewa sepeda, mengikuti jalanan setapak dan orang-orang yang bersepeda di depan saya- maklum, belum tahu jalur-.  Tak terasa saya melewati halaman depan Inna Grand Bali Beach Hotel (IGBBH), Pantai Sindu sampai lewat dari Grand Hyatt dan saya tidak tahu lagi namanya. Saya hanya bersepeda kemana kaki ini mendayung, hahaha.

 

Inna Grand Bali Beach Hotel

 

Permata raksasa itu saya dapatkan di IGBBH. Mungkin pembangunannya sekitar tahun 2008 karena tahun 2008 waktu saya ikut Asean Science Camp di IGGBH, bangunan tersebut masih dikerjakan. Waktu itu saya belum tahu mau dibuat apa konstruksi tiang-tiang dengan kaca berwarna biru. Saya kira mau dibuat bangunan bertema “piramid yang terguling”. Konon katanya tempat ini kini sering dijadikan sebagai lokasi untuk menyelenggarakan wedding.

setapak pantai sanur

 

Saya tidak tahu nama tempatnya apa. Sepanjang jalan ini di sebelah kanannya adalah hotel, restoran atau bar bahkan kuburan. Waktu saya lewat masih ada bongkahan pohon pisang yang digunakan untuk kremasi mayat. Serem. Sengaja tidak saya foto untuk menghindari ter-capture-nya sesuatu yang tak kasat mata. Saya masih belum berencana mengirim foto untuk acara dimensi lain atau bukan dunia maya.

sanur Seashore ini telah menjadi hak milik dari salah satu hotel. Ada papan disana dengan tulisannya yang kurang lebih artinya “kalau mau sewa, mesti bayar 50.000 rupiah.”

sanur Perjalanan saya terhenti sejenak saat melihat ada kepala mengambang di pantai. Tenang, itu adalah nelayan yang sedang mencari ikan.

sanur Saya mendekati laut, membiarkan ombak yang lembut membasuh kaki kecil saya. “Dear Neptunus.. saya tidak bisa berenang, jadi saya hanya berdiri di sini memandang ke arah lautan. Kemana hatiku akan berlabuh Nus? Kirimkan agen yang bisa berenang agar bisa menyelamatkanku bila aku bermain jauh ke laut.” -mulai  bersandirawa menjadi Kugy Kamaleo, Maudy Ayunda dalam film Perahu Kertas. -hahaha. ya kali-

sanur footprint Lihat, apa lagi yang saya temukan. Jejak kaki Mahadewi !! Sayang sekali bukan. Jika dianalisis dari ukurannya yang kecil, kemungkinan itu adalah jejak kaki seorang anak kecil. Tapi, sayang sekali saudara-saudara. Tidak ada anak kecil di tempat saya berdiri. Si Nelayan juga masih berendam dengan kail dan ikan-ikan. Satu-satunya ya, saya. Iyaa, saya. -gaya Dodit Mulianto-. Tekanan di jejak itu mengisyaratkan bahwa saya mulai mengalami peningkatan kurva berat badan. Bagaimana mau seperti Ninja Hatori yang bisa berjalan di atas air kalau jalan di atas pasir saja sampai nuncep. -hahaha, yuk diet-

Akhirnya, karena keterbatasan waktu dan juga uang yang saya bawa tinggal 8 ribu -yang tadinya 10 ribu- saya memutuskan untuk memutar sepeda saya kembali ke tempat penyewaan. Ya, saya sebaiknya pulang daripada nanti diminta mencuci piring oleh si bapak pemilik sepeda. Hm, padahal rute itu belum habis saya telusuri. Next time kali ya. Saat kembali, saya sempat memfoto beberapa buah lukisan. Cantik ya? Secantik pantai yang membuat saya merasa bahagia di pagi itu.

sanur painting

Oya, di perjalanan pulang saya bertemu dengan teman saya. Siapa kah dia?? -untuk tahu jawaban, lihat paragraf ketiga dari atas, yang bergaris bawah-. Ia bertanya apakah saya pergi sendiri. Tentu saja saya jawab “Yaaaa” sambil berlalu dengan sepeda dan meninggalkan ia yang sedang berfoto-foto dengan orang terkasih. Hahaha.

Saya merasa bahagia pagi hari ini dan masih bahagia saat saya mengetik ini di sore hari. Satu hal yang saya petik hari ini adalah : manusia memiliki kata hati yang memang tak bisa dibantah oleh logika berpikir, dan mengikutinya, meskipun ada banyak ketidakmungkinan yang dicuatkan otak, ternyata seketika itu juga menuntun kita pada kebahagiaan.  Pergilah.. kemanapun hatimu membawa dan saat kita memutuskan untuk pergi, pergilah dengan sepenuh hati 🙂

-maaf bukan lagu D’massiv-

Oya selama saya menaiki sepeda, lagu yang saya dengarkan adalah “Happy” dari abang Pharrell Williams.

“Happy”

[Verse 1:]
It might seem crazy what I’m about to say
Sunshine she’s here, you can take a break
I’m a hot air balloon that could go to space
With the air, like I don’t care baby by the way{Uh}

[Chorus:]
Because I’m happy
Clap along if you feel like a room without a roof
Because I’m happy
Clap along if you feel like happiness is the truth
Because I’m happy
Clap along if you know what happiness is to you
Because I’m happy
Clap along if you feel like that’s what you wanna do

[Verse 2:]
Here come bad news talking this and that, yeah,
Well, give me all you got, and don’t hold it back, yeah,
Well, I should probably warn you I’ll be just fine, yeah,
No offense to you, don’t waste your time
Here’s why

[Chorus]

{Hey
Go
Uh}

[Bridge:]
(Happy)
Bring me down
Can’t nothing
Bring me down
My level’s too high
Bring me down
Can’t nothing
Bring me down
I said (let me tell you now)
Bring me down
Can’t nothing
Bring me down
My level’s too high
Bring me down
Can’t nothing
Bring me down
I said

[Chorus x2]

{Hey
Go
Uh}

(Happy) [repeats]
Bring me down… can’t nothing…
Bring me down… my level’s too high…
Bring me down… can’t nothing…
Bring me down, I said (let me tell you now)

[Chorus x2]

{Hey
C’mon}

 

 

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s