Ring Tua di Halaman Rumah

image

Ring tua ini telah berdiri kokoh di halaman rumah saya sejak 13 tahun yang lalu. Waktu itu saya masih kelas 4 SD. Saya memiliki seorang sepupu yang seumuran. Dia sangat disayangi oleh ayahnya, uwak saya. Saking sayangnya, Uwak membangun sebuah ring basket agar sepupu saya bisa bermain basket.

Ketidakcukupan lahan di tempat Uwak akhirnya membuat Uwak membangun ring basket di halaman rumah saya. Kebetulan juga karena jarak rumah Uwak dan rumah saya dekat. Ring ini menyimpan banyak cerita. Saya ingat dulu sepulang sekolah menyapukan halaman agar saat sore saya, sepupu saya dan teman-teman bisa bermain basket di sini. Kami bermain tanpa pelatih. Benar-benar amatir kelas berat. Hanya sepupu saya yang sudah dapat pelajaran olah raga yang mengajarkan bagaimana mendrebbling bola, mengoper dan men-shoot.

Hal yang paling menjadi kenangan adalah saat-saat dimana saya dan teman-teman berlarian, melompat dan berseru saat bola masuk atau malah terpental. Kaki yang melepuh karena bermain tanpa sepatu. Jari yang terkilir karena terkena bola. Kulit yang gosong diterpa matahari. Baju kaos yang basah keringat dan bau badan menyengat. Masa kecil yang menyenangkan.

Hal yang membuat saya begitu dekat dengan salah satu jenis olahraga ini bukan karena saya kemudian menjadi pemain basket wanita, bukan. Saya tak pernah mengikuti pertandingan basket mewakili sekolah. Hanya bermain sesuka hati. Tertawa riang saat bisa melempar bola dari jauh lalu masuk atau sedikit cemberut saat si bola mental dan kena genteng tetangga.

Ring tua ini juga berjasa besar bagi saya. Saya memiliki teman-teman yang dekat. Ada rasa persatuan saat memiliki tim dan saat tim menang. Mungkin itu pula yang dirasakan para olahragawan yang bermain dalam tim. Rasa “kita adalah tim”. Manis. Ring ini juga telah membantu saya ketika saya akan ujian olahraga saat SMA. Sehari sebelum ujian, saya berlatih dan well, tiada usaha yang sia-sia. Nilai yang sempurna.

Ring tua di halaman rumah. Sore ini teringat kembali tahun-tahun yang telah berlalu. Ring ini sudah usang, karatan bahkan tak ada talinya. Kawan-kawan sepermainan sudah dengan tugas dan pekerjaan masing-masing. Saya masih memandangi ring yang masih kokoh. Seperti layar lebar, beberapa anak bermain basket dengan gaduh di halaman ini. Saya dan teman-teman beberapa tahun yang lalu.

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s