REKLAMASI TELUK BENOA : Setuju atau Tidak?

Reklamasi Teluk Benoa sampai saat ini rupanya masih menjadi topik pembicaraan hangat yang sangat menarik untuk diperdebatkan di warung kopi atau di media sosial. Salah seorang teman saya dari jurusan Hukum sampai mengganti display picture BBm-nya dengan foto yang bertuliskan undangan bagi para mahasiswa  untuk datang dalam diskusi penolakan reklamasi. Mungkin masalah ini juga dirasa sedemikian hebohnya sehingga teman saya yang kuliah di luar Bali secara khusus men-chat saya tentang duduk perkara masalah tersebut. Saya yang tadinya hanya mendengar sekedar angin lalu (karena sudah cukup ruwet dengan per-coass-an) mulai merasa terpanggil untuk memilah benang kusut di antara mahasiswa dan pemerintah yang berseteru di Pulau Bali tercinta.

Sebelum kita memutuskan untuk setuju atau tidak setuju terhadap suatu permasalahan, bukankah ada baiknya kita telaah dulu ? Terutama jika anda juga merasa baru melek pada masalah ini dan masih puyung  alias tidak tahu-menahu. Tujuannya agar kita insan-insan yang aware terhadap masa depan Bali tidak grasa-grusu ikutan demo atau malah tidak ikut peduli padahal hal tersebut sangat krusial.

 Pengertian dan Tujuan Reklamasi[1]

Kata reklamasi konon berasal dari bahasa Inggris yaitu to reclaim yang berarti memperbaiki sesuatu yang rusak. Menurut Maskur (2008) dikatakan bahwa kegiatan reklamasi pantai merupakan upaya teknologi yang dilakukan manusia untuk merubah suatu  lingkungan alam menjadi lingkungan buatan, suatu tipologi ekosistem estuaria, mangrove dan terumbu karang menjadi suatu bentang alam daratan. Sedangkan, menurut UU No 27 tahun 2007 dinyatakan bahwa reklamasi adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rangka meningkatkan manfaat sumber daya lahan ditinjau dari sudut lingkungan dan sosial ekonomi dengan cara pengurugan, pengeringan lahan atau drainase.[1] Tujuan utama reklamasi ini adalah untuk menjadikan kawasan berair yang rusak atau belum termanfaatkan  menjadi suatu kawasan baru yang lebih baik dan bermanfaat untuk berbagai keperluan ekonomi maupun untuk tujuan strategis lain. Kawasan daratan baru tersebut dapat dimanfaatkan untuk kawasan permukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pelabuhan udara, perkotaan, pertanian, jalur transportasi alternatif, reservoir air tawar di pinggir pantai, kawasan pengelolaan limbah dan lingkungan terpadu, dan sebagai tanggul perlindungan daratan lama dari ancaman abrasi  serta untuk menjadi suatu kawasan wisata terpadu.[1] Sedangkan menurut Max Wagiu 2011 tujuan dari program reklamasi yaitu:

  1. Untuk mendapatkan kembali tanah yang hilang akibat gelombang laut
  2. Untuk memperoleh tanah baru di kawasan depan garis pantai untuk mendirikan bangunan yang akan difungsikan sebagai benteng perlindungan garis pantai
  3. Untuk alasan ekonomis, pembangunan atau untuk mendirikan konstruksi bangungan dalam skala yang lebih besar.[1]

Jadi, berdasarkan uraian tersebut secara singkat yang saya tangkap adalah reklamasi merupakan suatu kegiatan pembuatan lahan baru buatan dengan merubah lingkungan alam dimana bertujuan untuk membentuk suatu kawasan baru yang lebih baik dan bermaanfaat dari segi ekonomi maupun segi lainnya. Sekilas, rencana reklamasi ini terlihat seperti sebuah ide cemerlang untuk menyelamatkan suatu lingkungan dan menambah daya gunanya.

 PENDAPAT GUBERNUR

Diskusi Terbuka dengan Gubernur Bali telah sempat dilaksanakan Bulan Agustus 2013 lalu. Pokok-pokok yang disampaikan Beliau kurang lebih sebagai berikut:[2] [3] :

1. Realisasi reklamasi akan menambah luas wilayah Pulau Bali dan menambah luas hutan sekitar 50% dari 838 hektare yang dijadikan lahan baru dan sebagai upaya mitigasi bencana tsunami.

2. Realisasi ini akan menambah lapangan kerja yang diharapkan dapat menampung ribuan lulusan universitas yang siap kerja.

3. Realisasi ini akan menjadi alternatif baru untuk destinasi pariwisata.

HASIL KAJIAN RENCANA REKLAMASI

Tim Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana (Unud) telah sempat melakukan kajian terhadap rencana reklamasi. Beberapa tulisan yang saya jumpai saat searching tentang hasil kajian[4][5][6] [7]  tidak secara gamblang menyatakan pokok-pokok yang menyatakan ketidaklayakan reklamasi ini. Hanya disebutkan bahwa tidak layak dari segi lingkungan, teknis, sosial, budaya dan ekonomi finansial [7]. Bahkan pengkajian ini sempat dihentikan karena adanya pra studi kelayakan atau feasibility study dari tim LPPM.

Berita lainnya menyatakan bahwa reklamasi ini layak bersyarat secara teknis.[8] Investor diijinkan mereklamasi teluk tersebut tetapi harus memenuhi berbagai persyaratan di antaranya dengan melakukan penambahan ruang terbuka hijau, penataan lahan di daerah pasang surut dan penyediaan tempat evakuasi bila terjadi bencana tsunami.  Jarak minimal pulau hasil reklamasi dengan jalan di atas perairan (JDP) adalah 80 meter dan alur pelayaran minimal 80 meter, pulau reklamasi tidak boleh menyinggung DLKr dan DLKp Pelabuhan Benoa dan tidak menyebabkan pendangkalan alur pelayaran.[8] Namun, hasil studi kelayakan dari aspek lingkungan, sosial budaya dan ekonomi finansial tidak dinyatakan secara rinci.

Something to think about?

Seperti yang telah disampaikan oleh Gubernur Bali, dengan adanya reklamasi ini akan tercipta lahan baru yang multiguna yaitu memperluas wilayah Bali, menambah lahan hijau dan upaya terhadap mitigasi bencana tsunami. Namun, meskipun wilayah Bali ini diperluas apakah hal ini akan dapat mengimbangi kepadatan penduduk Bali yang bertambah?

Lahan reklamasi seluas 50%nya akan menjadi lahan hijau. Hal ini sangat baik, namun apakah ini akan membawa manfaat yang lebih atau paling tidak sebanding untuk menutupi dampak negatif dari segi lingkungan yang nantinya bisa muncul setelah reklamasi ini terealisasi?

Lahan reklamasi ini akan membuka lapangan kerja bagi ribuan lulusan universitas yang siap kerja. Namun, ditengah era AFTA yang membuka peluang kerja bagi siapapun, apakah lulusan-lulusan kita telah siap bersaing? Hal ini tentu bagus, karena para lulusan akan dipaksa untuk meningkatkan kualitasnya. Namun, seberapa persenkah dari lulusan-lulusan tersebut yang mampu meningkatkan kualitasnya agar dapat mengisi posisi disana? Apakah lapangan kerja yang baru akan cukup mampu menampung ribuan lulusan yang ada?

Realisasi reklamasi ini akan menciptakan destinasi baru bagi pariwisata. Pembanguan galeri, art centre disana diharapkan akan dapat menarik wisatawan untuk kembali berkunjung. Hal ini sangat baik, namun bagaimana dengan wilayah lain di Pulau Bali yang masih belum terjamah? Apakah ada rencana lainnya sehingga tercipta destinasi pariwisata di Bali Timur atau Bali Utara atau di Bali Barat? Bagaimana art centre dan galeri-galeri lainnya yang sudah ada, apakah ini akan ditinggalkan setelah tercipta destinasi pariwisata yang baru?

Apabila reklamasi ini tidak terealisasi, apakah kita akan ketinggalan dalam hal pariwisata? Apakah kita tidak akan mendapat cukup penghasilan daerah jika tidak ada pajak dari investor yang mengisi lahan reklamasi tersebut?Apakah realisasi ini akan tetap dapat mempertahankan nilai-nilai yang ada di Pulau Bali?

Untuk menentukan apakah reklamasi ini baik atau tidak baik tentu kita harus menimbang-nimbang baik sisi positif maupun sisi negatifnya dan perlu peninjauan dari segala aspek. Pertimbangan atas konsekuensi yang mampu kita terimalah yang akhirnya membuat kita memutuskan suatu tindakan dijalankan atau tidak. Sampai saat ini artikel saya hanya bisa ditutup dengan pertanyaan-pertanyaan menggantung yang saya sendiri masih mencari jawabannya. Saya hanya berharap bahwa para orang besar yang memiliki kekuasaan atas Bali dapat mengambil keputusan sebijak-bijaknya demi kepentingan seluruh rakyat Bali.

Advertisements

Leave a comment

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s